#512: Kopdar di Ranah Kopi, Depok

#512: Kopdar di Ranah Kopi, Depok

Akhirnya ketemu Devi! Awalnya saya pikir bakalan susah banget buat ketemu sama temen-temen yang hanya saya kenal dari Facebook (waktu saya masih aktif di sana) dan Twitter. Ternyata gak. Awal bulan ini, saya ketemu dengan Qaqa Fahri Dayni di Tamini. NNC (Ngopi-Ngopi Cantik) sambil ngobrol ke mana-mana. Trus kemarin, saya ketemu sama Devi di Ranah Kopi, Depok. Saya gak ngerti-ngerti amat wilayah Depok sekarang. Pas saya sama Adek saya, Sarah, jalan ke sana waktu saya baru sampe di Jakarta, busyeeet dah, itu Depok isinya gedung pencakar langit gitu, ya? Apartemen banyak banget. Depok yang saya inget kayaknya gak gitu, deh. Tapi itu Depok lima atau enam tahun yang lalu. Tapi tentang Depok yang punya banyak tempat makan enak, itu saya masih inget. Jadilah saya dan...

Read More

#511: Tentang Pembunuhan Itu

#511: Tentang Pembunuhan Itu

Ada kasus yang menarik perhatian saya beberapa waktu belakangan ini dan mungkin juga menarik perhatian Manteman. Tentang pembunuhan itu. Ini karena saya udah mulai nonton tivi kalo lagi ada waktu, jadinya saya sempet ngeliat berita pas siang-siang. Bukan tentang pembunuhannya sendiri sih, yang bikin saya merinding, tapi; Pertama, karena dari kasus ini, masyarakat–dan saya sendiri–jadi tahu kalo ada PSK yang menjajakan diri udah kayak OL Shop di lengkap dengan cara pesan dan testimonial. Harganya pun sangat bersaing. Selama ini saya cuma tahu kalo hal-hal yang gini ada di forum underground atau di tempat yang gak ngampang ditemukan oleh orang yang emang gak niat. Dan mungkin sekumpulan orang gak niat ini mulai nyari tahu tentang jualan begituan di...

Read More

#510: Lima Ratus

#510: Lima Ratus

Beberapa waktu kemarin, saya menganalisa (atau menganalisis–yang mana yang bener, sih?) masalah kenapa saya susah banget buat nyelesein satu project nulis. Satuuu … aja gak kelar-kelar. Trus pas yang ini belum kelar, saya udah pindah ke yang lain. Begitu seterusnya sampai saya punya entah berapa banyak calon novel yang terhenti di 20-30 ribu kata, atau cerpen yang hanya beberapa ratus kata, atau puisi yang hanya beberapa baris. Masalahnya (yang lain lagi); saya gak punya alasan buat gak nulis sekarang. Kalo kemaren oke lah yaaa … bisa bilang lagi rempong nganterin Isha periksa, ngurus ini-itu, sekarang? Saya punya waktu kosong yang tanpa gangguan. Saya gak punya alasan. Dan harus ada yang selesai tahun ini. Setidaknya satu. Saya masih punya...

Read More

#509: [Travel Journal] Dari Selayar ke Makassar; Pantai, Laut, dan Awan

#509: [Travel Journal] Dari Selayar ke Makassar; Pantai, Laut, dan Awan

Setiap kali saya disuruh memilih; mau ke pantai atau ke gunung, saya akan pilih pantai. Saya orang pantai. Saya suka air, matahari, angin, dan kaki telanjang. Hal-hal ini gak bisa dilakukan kalo saya jalan-jalan ke gunung. Pantai selalu lebih menyenangkan buat saya. Dilalah, di Indonesia ini banyak sekali pantai yang indah–dan juga gunung-gunung yang meminta untuk ditaklukkan. Musim liburan, saya mengajak anak-anak untuk ke pantai dan bersenang-senang di sana. Membawa anak-anak jalan-jalan itu memang lebih repot. Kadang saya membantin, “Vacation with children is not a real vacation. It just another busy day, with more mess.” Tapi hidup harus dinikmati. Perjalanan yang penuh kerepotan itu juga nikmat karena mungkin sepuluh atau lima belas tahun...

Read More

#508: Nasehat Ira Glass untuk Pemula

#508: Nasehat Ira Glass untuk Pemula

Nobody tells people who are beginners — and I really wish somebody had told this to me — is that all of us who do creative work … we get into it because we have good taste. But it’s like there’s a gap, that for the first couple years that you’re making stuff, what you’re making isn’t so good, OK? It’s not that great. It’s really not that great. It’s trying to be good, it has ambition to be good, but it’s not quite that good. But your taste — the thing that got you into the game — your taste is still killer, and your taste is good enough that you can tell that what you’re making is kind of a disappointment to you, you know what I mean? A lot of people never get past that phase. A lot of people at that point, they quit. And the thing I would just like say to you...

Read More

#507: Lose Yourself, Chandelier, dan Sebagainya

#507: Lose Yourself, Chandelier, dan Sebagainya

Beberapa hari belakangan, saya lagi suka banget dengerin Sia–gak tau kenapa. Pertamanya, saya denger iklan di tivi. Waktu itu saya di lantai atas (di kamar) trus di tivi di ruangan bawah, kedengeran sountrack iklan apaaa … gitu (saya juga gak tau sampe sekarang karena gak pernah liat iklannya), pake lagu Titanium-nya Sia.  Liriknya lagu nancep di kepala saya dari awal saya denger dan saya sukaaa … banget. I’m bulletproof, nothing to lose Fire away, fire away Ricochet, you take your aim Fire away, fire away You shoot me down but I won’t fall I am titanium You shoot me down but I won’t fall I am titanium Tapi, pas saya dengerin Chandelier, malah nadanya doang yang nancep. Trus gak tau kenapa, saya keingetan salah satu artikel...

Read More

#506: Ngomongin Collective Creativity

#506: Ngomongin Collective Creativity

Linda Hill Beberapa hari yang lalu–saya lupa tepatnya–saya baca artikel di The Verge tentang menjadi yang pertama itu bukan hal yang paling penting; menjadi yang terbaik, itu yang penting. Kalo Manteman mau baca artikelnya, silakan di sini. Kalo males baca, saya kasih garis besarnya aja deh, ya. Intinya sih, itu artikel menceritakan tentang banyak produsen gadget yang mengklaim kalo produk mereka yang pertama punya ini dan itu, atau inovasi yang pertama di bidang ini dan itu. Masalahnya, itu semua jadi gak berarti ketika masuk ke pasar (konsumen) karena yang jadi pertimbangan konsumen sebelum membeli adalah; sebaik apa produknya–selain juga budget. Kalo kamu nyari perbandingan produk yang mau kamu beli, misalnya aja mouse (atau bahasa kerennya;...

Read More

#505: [Review Novel] Warna Hati

#505: [Review Novel] Warna Hati

Sebelumnya, saya merasa agak bersalah karena baru bisa menyelesaikan membaca novel ini beberapa hari yang lalu dan menulis reviewnya malam ini. Hiks. Novel ini dikirim ke alamat saya di Riau bulan lalu dan baru sampai ketika saya sudah pindah dari sana. Saya pun meminta adik saya untuk mengirimkannya ulang ke alamat baru saya di Jakarta. Jadi novelnya udah berkeliaran ke mana-mana ini…. Baiklah. Mari kita mulai. Buat yang baru sekali ini membaca review saya, saya peringatkan kalau review saya–biasanya–rada pedes. Tapi itu bukan tanpa alasan. Karena gak mungkin kan, kalo ada hal yang bagus trus saya tetep cabein juga. Di tiap cabe yang saya ulekin *halah* ada alasannya kok. Dan kalau saya bisa ngasih saran gimana cara memperbaiki hal-hal yang gak...

Read More

#504: Akhirnya Datang Juga: Writer’s Block

#504: Akhirnya Datang Juga: Writer’s Block

Tempat di foto ini memorable banget buat saya. Saya udah jatuh cinta sama jalan ini sejak pertama kali saya melihatnya–sejak saya belasan tahun. Di awal musim penghujan, akan ada bunga berwarna orens, merah, dan kuning keluar dari pohon–entah apa namanya. Waktu saya ke sana kemarin, semua kelihatan hijau aja.  Selama ini saya gak pernah mengalami yang namanya writer’s block. Bukan karena saya mudah buat nulis apapun, tapi karena saya punya banyak hal yang bisa ditulis dan pengen saya tulis. Jadi saya selalu aja ada bahan. Tapi sebulan belakangan ini, saya sepertinya mengalami apa yang sebelumnya gak pernah saya alami: punya banyak bahan tapi gak tahu gimana harus menuliskannya. Bulan lalu diakhiri dengan drama bikin paspor, lalu pindahan ke...

Read More

#503: [Nulis Kamisan] Hi!

#503: [Nulis Kamisan] Hi!

Credit Dinda terkejut ketika cambuk kilat keemasan melecut di langit abu-abu yang menutupi kota ini seharian. Dia memegangi payung hitamnya dengan lebih erat. Setelah itu, beberapa detik kemudian, gemuruh terdengar di langit. Gemuruh yang selalu saja datang terlambat karena dia kalah cepat. Lampu-lampu jalan sudah menyala padahal sekarang baru saja jam lima sore. Jalanan yang basah memantulkannya sehingga seolah ada lebih banyak sumber cahaya daripada yang sebenarnya. Sesekali mobil lewat di depannya, pelan. Lampu depan mobil itu menembus hujan yang membuat tetesannya tampak lebih jelas; seperti jarum-jarum panjang yang menghujam ke tanah lalu pecah. Seorang laki-laki yang juga memakai payung hitam berjalan pelan dan berhenti di sampingnya. Dinda menoleh ketika...

Read More

#502: theUnlearn and The Four Agreements

#502: theUnlearn and The Four Agreements

Semalam, sebelum tidur–seperti biasa, udah jadi rutinitas–saya baca-baca forum. Ada satu post yang menarik banget buat dibaca, tentang gimana caranya biar hidup gak banyak drama. Silakan dibaca di sini (link ke kaskus). Saya pengen ngerangkum tulisannya, tapi saya takutnya malah jadi terlalu ringkas dan sulit dimengerti karena yang ditulis di sana udah sangat padat. Jadi Manteman baca di sana aja, ya. Kalo males baca, liat videonya aja di sini.  Sebenernya semua sederhana aja, sih … tapi gak mudah. Mungkin karena kita gak terbiasa, ya. Apalagi untuk poin pertama; Speak with integrity. Say only what you mean. Avoid using the word to speak against yourself or to gossip about others. Use the power of your word in the direction of truth and love....

Read More

#501: Ngomongin Selfie dan Ust. Felix Siauw

#501: Ngomongin Selfie dan Ust. Felix Siauw

Kirain setelah saya balik dari Pekanbaru, berita tentang Ust. Felix Siauw udah reda. Masih ye, bok? Gilingan sambel deh, cyyyn~ Jadi gini ceritanya. Minggu lalu kali ya, saya liat di twitter banyak banget yang nge-bully UFS. Bahkan sampe ada hestek #selfie4siauw. Setelah saya usut, eh riset, eh apalaaah itu–demi memuaskan kepo–saya baru ngeh kalo sepertinya orang-orang ini salah sasaran dan salah paham. Awalnya ini karena UFS nge-tweet ucapan terimakasih sama orang-orang yang udah ikutan acara Selfie Bersama Alila. FYI, Alila ini merek usaha jilbab punyanya istri UFS. Saya suka jilbabnya. Sayang belom kebeli juga ampe sekarang. *curcol* Trus abis itu ada yang mulai nge-bully UFS karena selfie ini. Alasannya ini: Masalahnya, selfie yang dimaksud sama...

Read More

#500: Bring Me The Night

#500: Bring Me The Night

  So bring me the night, send out the stars ‘Cause when I’m dreaming we don’t seem so far Darken the sky and light up the moon So that somehow you’ll be here with me soon Bring me the...

Read More

#449: Nasehat Paling ‘Jleb’ yang Pernah Kamu Dapatkan

#449: Nasehat Paling ‘Jleb’ yang Pernah Kamu Dapatkan

Kemaren malem sambil ngetik-ngetik gajebo (gak jelas bok), saya denger podcasts langganan saya tapi diacak gitu. Jadi saya juga udah gak ngeh juga itu yang lagi didengerin podcast yang mana karena kebanyakan podcast yang saya suka temanya sama aja. Tapi saya masih inget salah satu podcast yang ngebahas tentang nasehat apa yang paling keren yang pernah kamu dapatkan, atau yang paling jleb, atau yang paling mempengaruhi hidupmu. Sebenernya saya rada udah imun gitu sama kisah penuh hikmah atau ceramah kayak Mario Teguh–gak tahu kenapa. Mungkin karena udah kebanyakan denger dan baca yang kayak gitu kali, ya. Dan yang dibicarain itu-itu aja. Jadi saya lebih suka ngebaca curhat-curhat orang di forum (yang anonim gitu). Jadi keliatan gitu sebenernya masalah orang...

Read More

#448: Ngomongin Move On dan Say Hi!

#448: Ngomongin Move On dan Say Hi!

Saya bingung mau nulis apa pagi ini. Trus saya baca-baca timeline twitter. Paling banyak emang komentar politik. Saya skip aja. Kedua terbanyak adalah; tentang move on. Ini hari apa, sih? Jum’at ya? Hooo … pantes. Sepertinya hari kerja terakhir di satu minggu itu jadi saat di mana timeline jadi mellow penuh dengan keluhan jomblo dan curhat tentang susahnya move on. Saya sendiri sebenernya bingung; sesusah itu kah move on? *disambit yang baca* Gimana kalo saya ikut ngebahas topik beginian?  Saya nyari pertanyaan yang bisa saya jawab. Pertanyaan pertama; Gimana caranya dapet pacar, calon suami, atau calon istri? Ini pertanyaan dari para jomblo. Jawaban saya; say hi~! Saya gak ngerti kenapa hal kayak gini jadi susah banget gitu. Kalo kamu cowok (cewek...

Read More

#447: Gak Sempet Sedih

#447: Gak Sempet Sedih

Mungkin beberapa Manteman tahu kalo saya nyoba daftar beasiswa CCIP di akhir tahun kemaren. Saya pikir, sebaiknya saya nyoba mumpung ada kesempatannya. Trus saya uruslah semua yang diperlukan. Abis itu udah. Saya semacam antara gak tahu mau ngerasain apa dengan gak tahu harus gimana. Ngarep pun, kayaknya gak bisa. Pokoknya yah, terserahlah nanti gimana hasilnya. Pagi tadi, saya baru inget kalo ini udah pertengahan Januari dan harusnya udah ada pengumuman kan, ya? Trus baru deh saya nyari-nyari tau di internet sambil nelpon si Tuan. Ternyata hari ini yang lolos panggilan wawancara lagi wawancara di Jakarta. Karena saya gak dapet panggilan, berarti saya gak lolos. Tapi sebelum saya tau itu, di luar udah ada seorang teman–temannya adek saya sih,...

Read More

#446: Banyak Maunya

#446: Banyak Maunya

Kelok Sembilan yang baru. Susah motonya karena banyak nikung dan panjang banget ternyata. Kadang saya suka bingung nanggepin komentar beberapa teman yang bilang, “Enak ya, kalo bisa segala macem.” Kadang (lagi) saya suka balik nanya, “Enaknya kenapa?” Salah satu jawaban yang saya rada gak setuju adalah, “Enak soalnya bisa ngerjain segala macem dan bisa bikin banyak hal.” Itu gak enak…. Beberapa tahun yang lalu–sekitar tiga atau empat tahun kali, ya–saya pernah nulis kalo menurut saya, bisa segala macem itu bakalan ngebikin kamu jadi Jack of All Trades. Sederhananya sih, dia itu orang yang bisa segala macem tapi bukan ahli segala macem. Bisanya yaaa … bisa bisa aja gitu. Definisi dari Urban Dictionary...

Read More
Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: