#549: Life Is Strange, So Are You

#549: Life Is Strange, So Are You

Saya suka cerita, bercerita, membaca cerita, mendengarkan cerita, dan melihat cerita. Gak pilih-pilih, saya suka cerita di media apapun; buku, film, foto, dan games. Masalahnya, saya suka mikir gitu kalo mau beli games RPG. Mahaaal banget, kan. Satu-satunya games RPG yang saya mainkan itu Parasite Eve. Itu juga udah lama banget di PS 1 punya adek saya. Setelah itu, saya lebih banyak main time management dan games apapun yang perlu mikir tapi gak buru-buru. Makanya saya suka banget The SIMS. Saya mainin dari masih SIMS 1 sampai terakhir, waktu Black Friday kemaren, saya beli The SIMS 4. Yang saya cari di The SIMS bukan hanya gameplay-nya, tapi juga ceritanya–yang mana saya bikin sendiri. Kadang kalo saya suka pundung, saya bikin yang gak gak sama sims-nya....

Read More

#548: Ngomongin Masak, Masakan, dan Cinta

#548: Ngomongin Masak, Masakan, dan Cinta

Adalah hal yang gak terbayang sebelumnya kalo sekarang saya suka masak karena duluuu … sekali, sebelum saya menikah–bahkan beberapa tahun setelah saya menikah–saya gak suka masak. Saya baru belajar masak sewaktu saya ikut pindah ke Makassar bersama Tuan Sinung. Itu pun masih masak yang sederhana saja. Bagaimana mencuci ayam, memotong bawang (iya, memotong bawang itu ada caranya ternyata), dan hal-hal lain yang lebih sulit dibanding masak bening bayam dan telor ceplok, saya gak bisa. Setelah pindah ke Selayar, punya dapur yang alakadarnya, dan mulai punya budget untuk membeli peralatan dapur, saya pun berusaha untuk belajar masak sendiri. Jadi bisa dibilang, setengahnya dari semangat saya untuk belajar masak itu datangnya dari …...

Read More

#547: Inertia

#547: Inertia

Dua hari yang lalu, cuaca sangat menyenangkan. Dua puluh derajat, sungguh, itu membuat gembira–setidaknya buat saya. Tapi mungkin juga buat semua orang karena di bike trail di belakang apartemen saya, banyak orang jogging atau sekedar membawa anjingnya berjalan-jalan. Lalu kemarin, suhu turun lagi ke tiga derajat. Dan di suhu seperti itu–ditambah angin yang kencang pula–saya malah jalan-jalan ke Walmart. Keputusan yang agak bodoh karena malamnya, saya meriang. Pagi ini, setelah segelas kopi, beberapa potong coklat, dan dua butir paracetamol, saya pun merasa jadi agak bego. Tapi memang begitulah efek obat itu di badan saya. Yang paling terasa; saya jadi susah mikir. Tambahan lain; saya jadi malas. Sebenarnya, setiap hari saya juga malas. Tapi...

Read More

#546: Ngomongin Kata Sapaan, Kedekatan, Keramahan, dan Kesantunan

#546: Ngomongin Kata Sapaan, Kedekatan, Keramahan, dan Kesantunan

Saya lagi gegoleran di tempat tidur sambil nungguin Tuan Sinung pulang kuliah waktu ngebaca sebuah status update di Facebook yang di-share seorang temannya si Tuan. Dan ya, benar sekali, Facebook si Tuan sekarang diojekin ke saya karena dia sok sibuk dan saya menawarkan diri untuk me-maintain image-nya dia. *halah* Tapi saya gak bales messages dari temen-temennya dia, loh ya. Saya hanya update status, terus share link, dan ngebales message di Facebook doi yang emang ditujukan ke saya. Sebenernya, saya tertarik dengan konsep bahwa media sosial bisa di-share penggunaannya. Kayak telepon rumah jaman dulu. Kadang saya kepengen buat bikin satu akun Facebook yang namanya Tuan dan Nyonya Nugroho karena … kenapa gak? Selain itu, saya merasa bahwa sosial media kayak...

Read More

#545: Ujung

#545: Ujung

mari sini, kita untai harap, cemas, dan rindumu satu satu lalu lihat; tidak akan pernah selesai dia memanjang merenggang sampai ke tempat di mana kamu temukan pintu yang dulu kau kenali mari sini, aku ceritakan tentang jantung yang detaknya menakutkanku seakan berkejaran dengan jam dinding yang mengusik laju waktu katamu; ini bukan karena kita lengah hanya saja, di perjalanan ini kita tidak pernah tahu ujung mari sini, kutemani menyusuri usia yang kita tahu ada batasnya dan hidup yang kita tahu ada akhirnya hanya saja, kita tidak pernah tahu di mana ujungnya mungkin saja, ketika berjalan kita temukan arah pulang atau bisa saja perjalanan ini akan selalu jadi rumah kita 21 Januari...

Read More

#544: Stories In A Frame

#544: Stories In A Frame

Apa yang kamu pikirkan ketika melihat lukisan? Atau foto? Atau sebuah pertanyaan lain yang ditanyakan Tuan Sinung kepada saya ketika kami ada di art gallery, di depan sebuah lukisan, di menit yang lebih dari hitungan ke sepuluh dan saya belum juga ingin beranjak, “Jadi bagaimana caranya melihat sebuah lukisan?” Dia tidak percaya ketika saya katakan bahwa sebuah lukisan, sama seperti sebuah buku, puisi, lagu, atau tarian; di dalamnya ada cerita. Hanya saja cara memahaminya yang berbeda. Ketika mengunjungi museum, yang pertama ingin saya lihat adalah art gallery-nya–kalau ada. Saya akan berjalan, mungkin sedikit cepat–di antara lukisan-lukisan yang dipajang di sana, melihat tata cahaya yang membuat ruang di galeri itu tampak dramatis, atau...

Read More

#543: Ngomongin Munjul dan Gang Cemara

#543: Ngomongin Munjul dan Gang Cemara

Kompleks apartemen saya dilihat dari tepi Leverett Ave Pagi tadi, eh … siang tadi, ding (soalnya saya tidur abis subuh dan baru bangun menjelang zhuhur) … saya iseng ngeliatin Google Maps daerah Munjul dan sekitarnya. Gak tau kenapa, lagi kepengen aja gitu. Trus saya ngeliat kalo Google Street View-nya ternyata baru. Terakhir saya lihat masih data tahun Agustus 2013, tapi tadi pagi udah jadi Juni 2015. Beuh, itu saat di mana saya sering berkeliaran di daerah Jalan Buni, Arundina, dan sekitarnya. Kepo-kepo lucu dulu dong, bentar. Siapa tahu ada gambar saya ketangkep gitu. Tapi seinget saya sih, saya gak pernah ketemu sama mobil Google yang ada kamera di atasnya buat ngambil gambar jalan itu. Jadi gambar saya gak ada. Tapi gambar tetangga-tetangga saya...

Read More

#542: Sunday Night Is Laundry Night

#542: Sunday Night Is Laundry Night

Satu hal yang sangat saya syukuri selama tinggal di sini; urusan nyuci jauh lebih sederhana dan mudah dibanding ketika saya tinggal di Indonesia. Punya anak tiga yang masih kecil-kecil dan suami yang kerja pakai seragam selalu aja membuat urusan nyuci ini jadi lumayan merepotkan. Apalagi mesin cuci yang saya punya itu model dua tabung yang mesti diurus setiap beberapa waktu sekali; mengisi air, mengisi sabun, mengeluarkan air, membilas (kadang saya membilas di luar untuk jenis pakaian tertentu), membilas lagi, membilas lagi (dan lagi), dan mengeringkan. Terakhir; menjemur. Ini pun masih diikuti dengan mengangkat jemuran, melipat, dan menyetrika. Karena urusan cuci-mencuci ini ribet, saya dan Tuan Sinung pun berbagi tugas. Ini pun masih terasa merepotkan. Pokoknya...

Read More

#541: Ngomongin Halal, Kosher, dan Pareve

#541: Ngomongin Halal, Kosher, dan Pareve

Halo, Manteman~ Sebenernya saya masih males ngeblog. Tapi setelah tiga bulan tinggal di sini–di Amerika sini atau kalo anak saya bilang ‘mamarikah’–saya ngerasa sudah saatnya saya nulis-nulis apa kek gitu tentang kehidupan saya di sini. Soalnya pas saya masih di Indonesia, saya suka baca tulisan-tulisan temen-temen blogger yang tinggal di luar negeri. Saya bingung juga sih, mau nulis apa. Padahal sebenernya mah banyak, ya. Termasuk salah satunya yaaa … urusan makanan dan bahan makanan. Oh, buat yang minta diceritain masalah culture shock, sayangnya saya dan Tuan Sinung gak ngalamin itu. Saya tinggal di kota kecil, bukan metropolitan besar dan pas nyampe sini saya biasa aja. Gak yang gimana-gimana. Kalo Tuan Sinung sendiri malah...

Read More

#540: Malam (Cerita Tentang A Lark And An Owl)

#540: Malam (Cerita Tentang A Lark And An Owl)

Dua hari lalu, saya bangun jam lima pagi, melihat ke luar jendela yang masih gelap karena waktu subuh masih sekitar satu jam lagi, dan kembali ke tempat tidur. Bukan untuk tidur–karena saya sudah cukup tidur dan kalau saya sudah cukup tidur, saya tahu–tapi untuk … sekedar tidur-tiduran. Seharusnya saya bisa menyalakan laptop, menulis, atau mengerjakan hal yang lain. Saya juga tahu beberapa saat yang lalu, di beberapa post sebelum ini, saya mencoba kebiasaan untuk tidur lebih cepat dan bangun lebih cepat juga untuk menulis. Hasilnya cukup baik. Saya menyukai ritme kerjanya. Hanya saja, itu tidak bertahan lama. Sepertinya saya berusaha untuk menipu diri saya dengan mengatakan bahwa bangun jam dua dini hari itu bukan bangun menjelang pagi, tapi...

Read More

#539: December’s Playlist

#539: December’s Playlist

Kalo udah masuk akhir tahun begini, bawaannya jadi mellow-mellow-galaw gitu, deh. Apalagi suhu makin dingin aja. Saya jadi kepengen makan melulu, kepengen bikin kue melulu. Padahal ngabisin banyak-banyak juga gak bisa. Kemaren saya sama si Tuan anniversary ke sembilan. Lumayan ye, bok. Udah sembilan tahun aja. Gak berasa. Biasanya saya suka bikin-bikin tulisan tentang anniversary gitu. Trus bikin kue. Trus yaaa … agak dirayakan gitu lah. Tapi entah mengapa tahun ini saya gak kepengen ngelakuin itu semua. Pas saya ulang tahun Oktober kemarin, saya juga males-malesan aja gitu bawaannya untuk ngebikin hari itu berasa spesial. Kayaknya ya, biasa aja gitu. Tapi karena si Tuan udah sok manis dari kemaren, yah, boleh lah saya buatkan doi bolu marmer kemarin dan...

Read More

#538: Tentang Musim Gugur

#538: Tentang Musim Gugur

Ketika saya sampai di sini awal September, musim gugur belum mulai; daun-daun masih hijau, udara masih panas. Hampir sama dengan keadaan di Selayar panasnya. Saya menunggu musim gugur datang setelah terlalu banyak membaca betapa romantisnya musim itu. Di mana–sepertinya–muda-mudi jatuh cinta ketika daun-daun berguguran dan udara mendingin. Daun-daun menjadi jingga kemudian coklat dan gugur, memenuhi jalan dan pandangan. Hari pertama musim gugur jatuh di tanggal 23 September dan tidak ada yang berubah; daun-daun masih hijau dan sepertinya saya masih harus menunggu sampai sebulan lagi untuk melihat daun-daun itu berubah warna. Saya pun menunggu lagi. Ketika daun-daun itu berubah warna dan saya lebih sering ke luar rumah sambil membawa kamera, saya belum...

Read More

#537: NaNoWriMo dan Beberapa Update Gak Penting Lainnya

#537: NaNoWriMo dan Beberapa Update Gak Penting Lainnya

Oh, November…. Bulan ini saya ikut NaNoWriMo lagi. Tapi males nge-update word count tiap hari, jadi yaaah … nulis aja gitu. Trus saya banyak masak. Saya udah bisa naik sepeda. Yeay! Pernah gak sih, kamu ada di kondisi di mana kamu punya banyak banget yang mau dituliskan tapi kamu gak tahu harus mulai dari mana dan bagaimana. Begitulah saya sekarang. Banyak banget yang pengen saya tulis. Banyak banget juga waktu untuk saya nulis. Tapi saya gak tahu harus mulai dari mana dan bagaimana. Jadinya saya mulai dari yang paling deket ada di depan mata; si NaNoWriMo itu tadi dengan proyek lama. Trus, pernah gak sih kamu pengen mengungkapkan sesuatu tapi merasa–seharusnya–ada cara lebih baik untuk menyampaikannya dan cara ini belum kamu temukan?...

Read More

#536: Fayetteville Farmer’s Market

#536: Fayetteville Farmer’s Market

Saya ini tipe ibu-ibu banget; lebih suka ke pasar dibanding ke mall. Lebih suka masak dibanding beli makan–kecuali waktu tinggal di Jakarta karena jajanan pasar dan pinggir jalannya enak-enak dan murah. Tapi di sini, saya belum nemu jajanan yang enak. Atau gak akan pernah nemu, ya? Waktu pertama kali sampai di sini, saya mikir, “Ini bakalan jadi Selayar 2.0″. Saya harus masak sendiri apapun yang saya mau karena gak ada yang jual.” Jalan-jalan pertama saya; ke Walmart. Beli beberapa kebutuhan harian (shampo, sabun, dan sabun cuci muka karena saya gak bisa make produk yang sama dengan si Tuan–tipe kulitnya beda), piring (karena ternyata Tuan Sinung cuma punya dua buah piring), dan sayuran. Setiap kali saya mulai ngitung harga...

Read More

#535: CGK-DOH-ORD-XNA

#535: CGK-DOH-ORD-XNA

Hampir seminggu saya ada di Fayetteville, Arkansas tapi masih juga belum ada keinginan untuk ngeblog atau nulis. Saya gak ngaku kalau saya jetlag karena waktu tidur saya selalu aja kacau dari dulu. Jadi sepertinya, ini cuma semacam waktu tidur yang udah kadung kacau jadi bertambah kacau. Saya dan Tuan Sinung masih kayak beda time zone. Dia hidup normal; bangun pagi, siang kuliah, sore pulang, malam tidur. Sementara saya pun hidup dengan waktu normalnya saya; siang tidur, sore bangun, malam tidur cepat, dan tengah malam begini (waktu saya nulis post ini, udah hampir pagi, sih) bangun sampai siang. Dan dari dulu pun kami hidup begitu. Menjelang saya berangkat ke Arkansas, sekitar satu minggu yang lalu, saya ngegugling cerita perjalanan ke Amerika dari Indonesia dan...

Read More

#534: Garota

#534: Garota

Bulan yang melelahkan…. Kemarin saya datang ke US Ambassy untuk mengurus visa J2. Besok, insya Allah, visanya sudah bisa diambil. Sore-sore. Tengah malam, saya sudah terbang ke Fayetteville lewat Dubai. Yah, begitulah. Selama sebulan belakangan ini, dengan kerjaan yang segitu menguras pikiran dan hal-hal lain yang membuat mood naik-turun, saya dengerin Erlend Øye, Garota. Mewakili perasaan saya lah, pokoknya. Semoga saya selamat di perjalanan, sampai tanpa kekurangan suatu apapun, dan bisa mulai hidup seperti biasa lagi; bisa masak, bisa moto, bisa nulis. Aamiin. Minta do’anya juga ya, Manteman…. If you act upon it when theres no trace of doubt within When your heart is freshly stung You cannot fail, you cannot act...

Read More

#533: Fedora

#533: Fedora

Satu hari menjelang 17 Agustus kemarin–yang berarti 16 Agustus *plaaak*–saya ke pasar. Yah, saya emang ke pasar mulu sih, kalo pagi. Tapi di tanggal itu Pasar Munjul sungguh istimewa; istimewa macetnya, penuhnya, dan sesaknya. Saya jalan di dalam pasar dengan gaya saya yang biasa; kasual, santai, belum mandi (tapi saya udah memastikan kalo saya wangi dan rapi). Di kondisi pasar yang sesak dan penuh kayak gitu, mending gak mandi dulu deh, sebelum ke sana. Percuma soalnya pas pulang juga keringetan dan baunya udah campur-campur. Saya pun merayap-rayap ke bagian belakang pasar untuk nyari kangkung. Waktu saya lagi bengong nungguin antrian di kios kangkung, saya ngeliat ada pemandangan yang aneh. Ada cowok tinggi (saya kira lebih 180 cm soalnya Tuan...

Read More