#533: Fedora

#533: Fedora

Satu hari menjelang 17 Agustus kemarin–yang berarti 16 Agustus *plaaak*–saya ke pasar. Yah, saya emang ke pasar mulu sih, kalo pagi. Tapi di tanggal itu Pasar Munjul sungguh istimewa; istimewa macetnya, penuhnya, dan sesaknya. Saya jalan di dalam pasar dengan gaya saya yang biasa; kasual, santai, belum mandi (tapi saya udah memastikan kalo saya wangi dan rapi). Di kondisi pasar yang sesak dan penuh kayak gitu, mending gak mandi dulu deh, sebelum ke sana. Percuma soalnya pas pulang juga keringetan dan baunya udah campur-campur. Saya pun merayap-rayap ke bagian belakang pasar untuk nyari kangkung. Waktu saya lagi bengong nungguin antrian di kios kangkung, saya ngeliat ada pemandangan yang aneh. Ada cowok tinggi (saya kira lebih 180 cm soalnya Tuan...

Read More

#532: If Only I Don’t Bend and Break

#532: If Only I Don’t Bend and Break

  If only I don’t bend and break I’ll meet you on the other side I’ll meet you in the light If only I don’t suffocate I’ll meet you in the morning when you...

Read More

#531: Just Another Relationship Lesson (From Me)

#531: Just Another Relationship Lesson (From Me)

Menemukan seseorang yang mau ada di dalam hubungan dengan kita itu sulit, berada dalam hubungan itu sulit, dan menjaga hubungan itu sulit. Tapi saya tidak tahu mana yang lebih sulit. Begitu pula hubungan saya dan Tuan Sinung. Entah mengapa sedari awal saya selalu saja merasa bahwa hubungan ini tidak akan berjalan baik. Saya membayangkan akan menghabiskan hari dengan lelaki yang membacakan Keats atau Neruda. Yang akan menemani saya membicarakan tentang bintang dan romantisme penyair ketika mereka melihat senja. Saya selalu berkata, Hon … if you’ve got love you’d better hope that that’s enough. Bahwa cinta saja tidak pernah cukup, itu saya pelajari dari tahun ke tahun pernikahan kami. Sayangnya, kami jarang bertengkar. Kami lebih banyak berdebat. Membunuh ide...

Read More

#530: Mixed Feelings

#530: Mixed Feelings

  Saya selalu aja merasa kesusahan untuk memahami perasaan saya sendiri. Makanya kadang kalau saya lagi ngebaca novel apa gitu dan ada penjelasan kalau karakter ini, misalnya, lagi sedih atau marah, saya suka mikir; enak banget kali ya jadi orang yang punya satu atau dua perasaan sekali waktu. Dan berusaha memahami apa yang saya rasakan itu hanya akan ngebikin saya makin gak paham sama apa yang sebenernya saya rasakan. Misalnya kemarin, saya ngerasa sedih. Tapi saya juga merasa marah karena saya merasa sedih–harusnya saya gak perlu sedih. Dan itu ngebikin saya ngerasa makin marah sama diri saya sendiri karena saya udah marah sama diri saya sendiri yang lagi sedih. Terus itu ngebikin saya ngerasa gak berdaya. Karena saya gak bisa berbuat apa-apa dan...

Read More

#529: Beauty and Strangeness

#529: Beauty and Strangeness

Seperti yang saya tulis di post sebelum ini; saya sedang mencoba ganti jadwal dari menulis hingga dini hari jadi menulis sejak dini hari. Dari jam dua atau tiga dini hari sampai menjelang subuh. Hasilnya, lumayan … banget. Kalo dihitung dari kecepatan saya nulis, yah, dari dulu juga gitu-gitu aja. Tapi karena target harian cuma 500an, jadinya kalo ada hari yang saya lagi kesambet dan udah ngelebihin seribu kata, saya bakalan berhenti sebelum menyentuh angka 1.500. Sisain buat besok. Bukan karena saya highly motivated procrastinator yang punya moto; buat apa mengerjakan hal yang bisa ditunda besok hari ini…. Tapi karena kalo udah lebih dari 1.500, biasanya, yang saya ketik itu ceracauan gak jelas, yang bakal saya sesali dan hapus keesokan harinya....

Read More

#528: Toko Buku Paling Sepi yang Pernah Saya Datangi

#528: Toko Buku Paling Sepi yang Pernah Saya Datangi

Kemarin siang, saya pergi ke mall dekat rumah untuk … jalan-jalan. Saya gak terlalu suka jalan-jalan ke mall sih, sebenarnya. Berkali-kali saya ke mall dan jalan lurus langsung ke tempat yang ingin saya tuju–misalnya toko buku atau bioskop–dan setelah belanja atau nonton, jalan lurus lagi ke pintu keluar. Gak pake tengok kanan-kiri. Gak pake cuci mata. Tapi khusus kemarin, saya jalan-jalan memang karena lagi kepengen banget ke mall. Pengen liat mall yang deket rumah itu kayak apa sekarang. Jadi saya pergi sekitar jam sebelas setelah mengantar makan siang ke sekolah Isha dan Inda, trus ke mall sama Thaariq. Mungkin karena hari Senin dan siang-siang pula, mall-nya sepi banget. Karena saya bingung mau ke mana, saya pun dateng ke toko bukunya. Satu...

Read More

#527: Tentang Ganti Jadwal, Produktivitas, Kualitas, dan Soto

#527: Tentang Ganti Jadwal, Produktivitas, Kualitas, dan Soto

Udah semingguan ini saya berhasil mengubah jadwal dari tidur tengah malam jadi; tidur cepat (sekitar jam delapan), bangun cepat (sekitar jam 2-3 dini hari), menulis sampai pagi, dan menambah tidur di siang hari (sekitar 3 jam). Saya pernah baca di mana gitu yaaa–lupa–kalau mau mengubah jadwal itu setidaknya harus bertahan selama dua minggu. Setelah itu semua akan jadi kebiasaan, gak akan susah lagi buat melakukannya. Kemarin pagi, saya sempat baca-baca blog–sayangnya gak ninggalin komen karena kadang susah buat nulis komen kalau baca dari Reeder–dan ada satu post blog dari penulis yang membuat saya terhenyak (duileeeh … bahasanya, hahahaaa). Jadi si penulis ini bilang kalau dia jarang sekali membaca dan itu sama sekali tidak...

Read More

#526: Once in a Blue Moon

#526: Once in a Blue Moon

Gambar dipinjam dari sini Menurut salah satu tante saya yang dulu waktu saya kecil ikut mengasuh saya, saya-kecil sangat suka melihat bulan. Sampai sekarang saya masih suka, sih. Itu yang ngebikin saya masih berharap bisa membeli teropong suatu saat nanti. Beberapa kali saya melihat peneropongan di Planetarium Jakarta. Bukan cuma melihat bulan, tergantung waktunya, kadang ada peneropongan Jupiter, Saturnus, Mars, dan lainnya. Suatu ketika saya melihat peneropongan Venus, saya baru tahu kalau Venus itu seperti bulan yang bentuknya berubah-ubah; dari bulat sampai seperti sabit. Hari itu saya melihat Venus yang bentuknya nyaris seperti bulan-separuh. Saya tidur cepat malam ini dan bangun cepat juga. Sekarang hampir jam tiga dini hari dan saya sudah terjaga sejak...

Read More

#525: Jalan Setapak di Atas Meja

#525: Jalan Setapak di Atas Meja

Jalan ini penuh cerita buat saya Saya sudah kembali dari liburan, kemalasan, dan leyeh-leyeh. Horeee~ Mulai hari ini, saya udah menjadwal kalo saya harus mulai nulis lagi. Masih dengan target 500 kata perhari. Tapi sebenarnya, saya udah nulis sejak beberapa hari yang lalu. Karena udah jadi kebiasaan, saya gak tahan untuk gak nulis ternyata. Suatu ketika–saya lupa tepatnya–saya pernah bermimpi duduk di meja bulat, mungkin meja kafe, dan mengobrol dengan seseorang. (Satu-satunya tempat dengan meja bulat yang pernah saya kunjungi adalah kafe yang menyatu dengan Breadtalk dan J.Co di Tamini Square.) Saya bicara tentang jalan, tentang rumput, tentang pohon-pohon. Trus sambil mengobrol saya dan teman mengobrol saya yang entah siapa itu (maap Tuan Sinung,...

Read More

#524: Tangan-tangan yang Ganteng

#524: Tangan-tangan yang Ganteng

 Ini tangan Tim Rice-Oxley dan cincin kawinnya (sekarang dia udah gak pake karena udah bercerai). Saya punya kebiasaan aneh; suka ngeliatin tangan cowok. Kalo saya lagi jalan ke manaaa … gitu, atau lagi ngobrol, atau lagi ngeliat video wawancara, pokoknya ngeliat cowok gitu lah, yang pertama saya liat; tangannya. Saya suka ngeliat tangan cowok yang di salah satu jarinya ada cincin kawinnya. Hahahaaa…. Bukan buat ngecek apa dese bisa digebet atau gak, ya. Tapi menurut saya–menurut pemikiran aneh saya–tangan cowok yang ada cincin kawinnya itu seksi. Ngebikin cowok yang punya tangan keliatan lebih ganteng dan gagah. Ini terlepas dari perdebatan cowok gak boleh pake emas dan sebagainya. Saya gak mau bahas itu. Lagipula banyak cincin kawin...

Read More

#523: Kesan Pertama Apple Music

#523: Kesan Pertama Apple Music

credit Setelah semingguan saya mencoba Apple Music–gratisan, karena Apple mengratiskan penggunaannya selama tiga bulan–sepertinya saya merasa perlu untuk menuliskan review kesan pertamanya. Alasannya sih karena; ini pengalaman pertama saya menggunakan streaming music online. Jadi pengalamannya cukup berkesan. Eh, tapi sebelumnya saya pernah pake Microsoft MixRadio, sih. Yang mana saya pakai kalo kepepet aja. Misalnya kalo lagi bosen sama playlist di ponsel Microsoft saya. (Iya, saya pake ponsel Microsoft dan saya cinta padanyaaa~) Selain itu, kayaknya akhir-akhir ini saya males banget ngeblog, entah kenapa. Yang mau ditulis sih, banyak. Tapi gak ada yang selesai dan bisa di-publish. Kesan Pertama #1: Update Beberapa waktu yang lalu, saya di-message...

Read More

#522: [The Other Half] Love Story or Relationship Story?

#522: [The Other Half] Love Story or Relationship Story?

Beberapa hari yang lalu, saya baru aja nyelesein satu naskah dan rasanya legaaa … banget. Soalnya udah lama saya gak nulis dengan disiplin dan pas saya coba untuk mulai mendisiplinkan diri, setidaknya nulis 500 kata setiap hari, akhirnya naskah itu selesai. Agak sedih juga rasanya pas udah sampai di halaman seratusan dan mulai sadar kalau cerita ini harus dituntaskan. Ending-nya pun harus menggenapkan. Ini juga yang kadang ditanyakan ke saya; ending yang bagus itu yang kayak apa, ya? Saya cuma bisa bilang; yang menggenapkan. Yang bikin ceritanya utuh secara keseluruhan–terlepas itu sad atau happy ending.  Saya belum tahu naskah ini akan bagaimana nasibnya. Apa akan ada penerbit yang tertarik atau bagaimana. Karena penolakan itu udah jadi bagian dari...

Read More

#521: Temukan Sambil Jalan

#521: Temukan Sambil Jalan

Udah lama gak moto-moto yang emang diniatin buat blog, nih. Makanya pake foto-foto lama. Kadang, saya dapet pertanyaan yang bikin galau semacam; gimana caranya memulai? Pertanyaan ini menghantui karena jawabannya ada di dalam pertanyaannya sendiri –> yaaa … mulai! Saya ini mungkin tipe orang yang gak banyak mikir kalau ada kesempatan. Sekiranya saya bisa, mampu, dan gak akan menyulitkan di kemudian hari, ya udah, saya ambil. Gimana nanti, dipikirkan sambil jalan. Karena, apa sih yang pasti, yang stabil, yang selalu ada di sana kalau kamu perlu–selain Allah tentu aja. Ini juga yang kadang saya bilangin sama temen-temen yang mau ngerjain sesuatu tapi ragu melulu. Setidaknya memutuskan itu udah bisa dibilang melangkah, loh. Melangkah dari...

Read More

#520: Paper Town; Cerita Tentang Kota Fiktif yang Menjadi Nyata

#520: Paper Town; Cerita Tentang Kota Fiktif yang Menjadi Nyata

Judul di atas itu kayaknya judul paling panjang yang pernah saya tulis. Seminggu belakangan, di antara kerjaan serabutan dan hal-hal lain yang membuat pikiran saya susah fokus (kayaknya saya perlu Aqua, hahahaaa~), saya membaca novel YA (Young Adult) John Green, Paper Town. Saya baca yang versi bahasa Inggrisnya karena, entah kenapa, waktu saya baca The Fault in Our Stars beberapa halaman depannya di toko buku, saya ngerasa terjemahannya gak pas. Trus waktu saya ada di Bandara Adisucipto tahun lalu, saya sempet liat buku yang belum diterjemahkan, bentuknya lebih kecil dan halamannya lebih tipis, sayang … harganya lebih banyak. Trus saya gak jadi beli. Tapi karena kadung udah terlalu penasaran, saya beli ibook-nya juga akhirnya. Saya gak mau nge-review novel...

Read More

#519: Tanlines-Invisible Ways

#519: Tanlines-Invisible Ways

Seminggu belakangan, saya menulis seperempat bagian terakhir novel yang udah terbengkalai lama. Susah karena saya gak dapet feel dan emosinya. Mungkin karena udah lama diabaikan itu novel, kali ya. Tapi saya nemu lagu yang akhirnya saya dengerin sepanjang saya menulis. Saya suka lagu yang banyak gitarnya dan lagu ini membuat saya merasa agak mellow tapi juga optimis. Entahlah. Hahahaaa. Waktu saya menulis adegan terakhir siang ini, saya membayangkan—seandainya novel saya itu film—lagu ini akan jadi lagu penutupnya. Saya ngebayangin adegannya di kepala saya rasanya bakalan kayak lagu ini. Dan karena saya emang gak pengen nulis penutup dengan adegan cinta menye-menye, lagu ini banyak membantu mengembalikan emosi saya waktu nulis seandainya terbersit sedikit aja...

Read More

#518: Podcasts Bagus yang Saya Dengerin

#518: Podcasts Bagus yang Saya Dengerin

Ini kapulaga dan gak ada hubungannya sama post ini.  Udah setahunan belakangan saya punya hobi baru; dengerin podcast. Saya juga udah pernah nulis di post ini tentang hal cara langganan dan mendengarkannya. Tulisan saya yang kali ini cuma buat ngomongin podcast apa yang lagi saya dengerin doang, sih–selain karena harusnya saya bikin tulisan terakhir tentang travel journal ke Bali tapi pas saya nge-upload video gagal melulu. Saya udah cerita belum, sih? Saya suka dengerin podcast soalnya itu kayak dengerin radio. Bisa didengerin sambil ngerjain yang lain. Selain itu, karena podcast itu biasanya punya tema, jadinya saya bisa nyari podcast yang sesuai dengan yang saya mau denger. Misalnya saya pengennya denger podcast tentang kepenulisan yang dibuat oleh...

Read More

#517: [Travel Journal] Bali-Day2 (Part-3)

#517: [Travel Journal] Bali-Day2 (Part-3)

Katanya sih, ini gaya Dian Pelangi. Entahlaaah. Ini lokasinya di Plaza Kura-kura. Di tulisan sebelumnya, saya udah nyeritain tentang Lotus Pond, sekarang saya mau nyeritain lokasi lain di kompleks GWK. Jadi iya, GWK ini gede banget. Tapi gak yang bikin pegel kalo kamu jalan-jalan keliling. Cuma untuk ukuran taman budaya, cukup gede lah ya. Dari Lotus Pond, ada tangga menuju ke patung Garuda–yang masih setengah jadi–dan kalo kamu naik, kamu bakalan sampe di lokasi yang namanya Plaza Garuda. Patung Garuda dan Wishnu yang ada di sini, gak dibuat dari batu–walaupun pas pertama kali liat (apalagi ada kayak semacam penambangan batu di sekitar lahan GWK). Kedua patung ini (yang nantinya bakalan disatukan) dibuat dari lempengan tembaga dan kuningan yang...

Read More