#567: Tetaplah Berani

#567: Tetaplah Berani

Aku lupa malam itu hari apa—mungkin Sabtu atau Minggu. Entahlah. Kamu bercerita tentang tugas-tugas kuliahmu dan aku duduk di depanmu. Aku melihat layar laptop-ku. Aku tidak ingin melihatmu karena cukuplah mendengar suaramu. Kamu tertawa. Aku tidak. Tidak lucu. Kita sudah sejauh ini, kataku malam itu. Aku juga sudah lupa, setelah atau sebelum kamu tertawa. Kita terbang separuh dunia untuk sampai di sini. Kamu bertanya, apa aku ingin pulang. Aku jawab, tidak. Aku berkata, aku akan tetap di sini, menemanimu bergelut dengan waktu. Dengan kode-kode yang tidak pernah aku mengerti, yang kamu ketik di komputermu. Ketika kamu bertemu denganku, tiga belas tahun lalu, kamu tahu kalau kepalaku lebih keras dari batu. Aku selalu saja menentang. Menantang. Kalau kemudian kamu...

Read More

#566: Confidant dan Side-kick

#566: Confidant dan Side-kick

Sepatu ini ada di mana ya, sekarang? *lupa* Bulan lalu sampai awal bulan ini, saya maraton Orphan Black. Kapan-kapan saya tulis review-nya karena sekarang saya enggak mau ngomongin itu. Kebiasaan saya yang lain selama ngikutin series atau film; dengerin after show discussion-nya di podcast. Soalnya kadang, ada yang lebih seru dibanding ngebahas ceritanya. Misalnya aja untuk Orphan Black ini, di salah satu podcast langganan saya, dibahas tentang confidant dan side-kick-nya dan hubungannya sama character’s arc MC-nya (main character). Ini yang mau saya bahas sekarang. Orphan Black ini ceritanya tentang clones. Jadi ada percobaan untuk membuat kloning manusia dan berhasil di tahun 80-an. Kloningnya ini diambil dari human chimera (orang yang punya dua set DNA...

Read More

#565: Hari Wisuda

#565: Hari Wisuda

Foto di stadion kampus udah jadi tradisi, konon kabarnya demikian.  Saya enggak banyak cerita tentang urusan sekolahnya Tuan Sinung, ya. Ini sebenernya porsi cerita yang sengaja disisakan biar si Tuan sendiri yang cerita nanti, di blognya. Sekalian dengan cerita pengalaman dia di kampus dan urusan beasiswa. Tapi dia sibuk terus, sih. Cuma ini kayaknya kata yang kurang tepat. Dia enggak sibuk yang lari-larian sana-sini, tugas kurang ini-kurang itu. Dia udah punya jadwal dan di jadwal itu jelas kegiatannya apa, di mana, dan kapan. Tidur pun dijadwal–karena tidur itu penting dan dia harus tetap fresh tiap hari. Di jadwal itu, sayangnya, enggak/belum ada pembagian waktu untuk nulis-nulis ringan atau sekalian ngeblog yang panjang. Tapi saya mau cerita tentang...

Read More

#564: Ngomongin Karakter Fiksi

#564: Ngomongin Karakter Fiksi

Ini proyek kolaps, eh, kolab yang baru aja akan dimulai.  Satu hal tentang membaca fiksi yang akhir-akhir ini rutin saya lakukan adalah; mempelajari karakter. Katanya–kata penulis-penulis keren itu–karakter fiksi seharusnya ‘bulat’, ‘utuh’, multidimensi, dan enggak boleh Mary Sue/Gary Sue. Saya menemukan satu hal lagi–setidaknya–yang harus mereka punya; harus bisa disukai. Kadang kita–karena saya termasuk di dalamnya–lupa bahwa cerita tidak hanya masalah plot. Atau sederhananya; kejadian-kejadian yang cool dan keren. Bukan juga hanya masalah ide-ide bagus dan yang tidak terpikir sebelumnya. Sebelum ini, saya membaca novel yang idenya luar biasa keren, baru, dan saya suka. Sayangnya, saya enggak bisa suka...

Read More

#563: Jangka, Jarak, Jeda (dan Curcol Lainnya)

#563: Jangka, Jarak, Jeda (dan Curcol Lainnya)

Ini karena banyak yang nanyain; kenapa gak bikin cerpen/novela/novel dengan setting Amerika. Salahkan mereka. Gak sih, salahkan saya juga karena entah kenapa nggak tertarik untuk bikin yang kayak gitu…. Tapi karena saya perlu pengalih-perhatian dari draft yang sulit ditulis, jadi saya buatlah cerita ringan, romens, tentang mahasiswa di Amerika. Judulnya ‘Jangka’ karena cerita ini saya buat dengan rencana dan timeline; bahwa saya menulisnya dalam jangka waktu tertentu, untuk memberi jarak pada draft yang lain, dan sebagai jeda sementara waktu. Karena saya nggak bisa kalo nggak nulis. Karena itu pula, slogan semacam; nulis itu terapi, nggak berlaku buat saya akhir-akhir ini. Saya nulis bukan untuk terapi; kalo ada masalah baru nulis biar masalah...

Read More

#562: OMG, That’s Interesting!

#562: OMG, That’s Interesting!

Seperti biasa, saya mau menceracau. Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bilang sama saya kalo hidupnya membosankan sekali. Rutin. Plain. Begitu-begitu aja. Saya kan, orangnya sotoy gitu, yah. Suka ngasih nasehat walopun gak diminta. Suka sok bijak. Pokoknya saya ini macam motivator gitu, lah. Tapi dengan banyak aib yang terbuka lebar-lebar. Jadi kalo ada teman yang curhat, saya suka kepikiran gitu. Trus–kalo saya gak menemukan jawabannya atau penasaran banget gimana jalan keluarnya–saya browsing. Seperti yang udah saya bilang sebelumnya (entah di post yang mana), hidup tuh sebenernya sederhana. Hanya kita aja yang maunya ribet dengan segala macam pemaknaan. Dan sejarah udah membuktikan bahwa tukang nyari makna–misalnya...

Read More

#561: Bebenah di Sana-sini

#561: Bebenah di Sana-sini

Gak ngeblog bukan berarti gak nulis. Yah, gitu lah. BTW, saya lagi bebenah di Storial. Ini semacam platform bagi tulisan, cerita, cerpen, novel, atau apapun yang kamu mau. Saya mindahin beberapa cerita lama. Ngedit dan nyiapin cerita baru. Trus yaaa … sambil mbaca-mbaca juga di sana. Biasanya kalo lagi banyak yang ditulis, saya bawel. Tapi dua minggu belakangan, bawelnya bukan di sini, sayangnya. Tapi di Twitter dan Facebook. Trus saya juga sering banget pake Spotify sekarang. Kalo lagi nulis apa gitu, trus mood-nya nyambung sama lagu yang lagi saya denger, saya bisa ngulang-ngulang lagunya sampe seharian. Jadi saya bebenah playlist juga. Lagu-lagu yang lagi saya dengerin, suka saya share juga di Facebook. Saya pendengar segala, dari Ayu Ting Ting sampai...

Read More

#560: Kota dan Lagu

#560: Kota dan Lagu

Stok foto lama. Ada fungsi blog ini selain buat mendokumentasikan ceracau saya yang kadang gak jelas arahnya; buat oret-oret biar saya yang lagi nulis–sesuatu yang lain–bisa menulis apa yang tiba-tiba mengganggu. Ini mengganggunya gak kira-kira karena udah sejam lebih saya nyoba lanjut ngetik tapi gak bisa-bisa. Jadi saya tulis deh, bagian yang mengganggu ini. Mengganggu macam bekas gigitan nyamuk; kalo gak digaruk, gak selesai gatelnya. Huft. Jadi, malam ini seperti malam-malam lain, saya ngetik sejak jam sembilan atau sepuluh, saya lupa. Pokoknya setelah kafein berasa nendang dan mata saya gak sepet lagi. Sambil dengerin audiobook Eat Pray Love-nya Elizabeth Gilbert, saya ngetik lah itu halaman demi halaman. Bisa gitu ngetik sambil dengerin...

Read More

#559: Ngomongin Membaca, Buku, dan Hal Lain yang Bisa Dibaca

#559: Ngomongin Membaca, Buku, dan Hal Lain yang Bisa Dibaca

Gak punya foto laen yang sesuai tema, ih. Kemaren, saya baca link tentang minat baca Indonesia. Terus terang, artikel kayak gini tuh, banyak dan hasilnya ya gitu-gitu aja; minat baca Indonesia rendah, orang Indonesia gak suka baca, blabla … balabala … cik-acik-a-bumbum. Trus nanti di komennya, banyak yang mulai menyalahkan kurikulum pendidikan–plus menteri dan staf-stafnya biar greget–, mempermasalahkan harga buku mahal (kalo yang ini saya setuju), mengaitkan dengan Rapi Mamat, Japok, dan bala-bala jaer, eh maksud saya acara tivi gak berkualitas, dan di atas semuanya … tentu saja ini salahnya Jokowi! Saya gatel sebenernya dengan ini semua. Segatel saya selama bulan ini karena kamar saya direnovasi dan debu terbang ke mana-mana. Saya...

Read More

#558: Mencoba Menganalisa Hubungan antara Keributan Anak-anak dan Produktivitas Emaknya

#558: Mencoba Menganalisa Hubungan antara Keributan Anak-anak dan Produktivitas Emaknya

Menurut doi, ini gaya kodok kebalik Ini cuma analisa–yang bener analisa apa analisis, sih?–asal-asalan. Jadi jangan terlalu dipercaya. September tahun lalu, berbekal tekad dan semangat membara (sampe apa aja yang disenggol nyala), saya nyusul Tuan Sinung ke Amerika. Saya punya rencana, deadline, bahkan detail dalam bentuk grafik dan diagram pun saya punya. Saya mau nulis di sana. Saya membayangkan suasana tenang tanpa anak-anak dan waktu yang panjang buat melakukan ini-itu. Nyatanya sampai di bulan ke sembilan dan saya harus kembali ke Indonesia, saya gak punya satu karya pun. Menjelang berangkat, saya tinggal di Jakarta selama tujuh bulan dan di bulan ke empat–kalo gak salah–saya mulai menulis. Dan saya berhasil menyelesaikan satu draft...

Read More

#557: Selalu Ada Tumpukan Buku dan Proyek yang Belum Selesai di Meja Makan

#557: Selalu Ada Tumpukan Buku dan Proyek yang Belum Selesai di Meja Makan

Ini foto diambil di mana dan kapan, saya lupa…. Malam ini, di antara kopi yang belum habis, anak-anak yang berkeliaran–berisik dan membuat sulit konsentrasi, dan dua Beng-Beng yang masih saya pertimbangkan untuk dimakan sekarang atau nanti, saya mendengarkan podcast Elizabeth Gilbert tentang kreativitas dan ide; Magic Lessons. Karena saya mendengarkan sekelebat lalu, sambil membaca ebook di laptop, jadi saya gak bisa menceritakan ulang lebih detail. Tapi cerita ini–entah kenapa–ketinggalan di kepala saya. Jadi setelah saya mematikan laptop dan berniat tidur–yang mana sepertinya itu cuma rencana karena saya merencanakannya sekitar empat jam yang lalu, dan sekarang, menjelang jam satu dini hari, saya masih menulis post ini dan belum...

Read More

#556: Review Purbasari Matte Lipstick

#556: Review Purbasari Matte Lipstick

Saya udah lama sebenernya, denger dan baca tentang lipstik ini–sejak saya baca review-nya di blog Arum. Tapi baru tiga minggu belakangan saya nyoba pakai. Tiga hari setelah saya sampai di Jakarta, saya langsung ke DanDan di Lapangan Tembak dan saya seneng banget waktu liat lipstik ini ada di bagian depan, di pajang dengan cantiknya. Cumaaa … nomernya kok ya ada tiga doang; 85, 86, dan 88. Tapi karena udah kadung penasaran, saya ambil juga lah yang nomer 86 dan 88. Kayaknya waktu itu saya beli harganya sekitar Rp36.000,-. Di rumah, Sarah ternyata punya beberapa (saya gak inget nomernya). Mbak yang jaga DanDan bilang kalo lipstik ini emang bestseller banget. Apalagi yang nomer 81, 89, dan 90. Saya catet tuh, nomernya. Siapa tahu nanti ketemu sama nomer...

Read More

#555: Relativitas Ingatan

#555: Relativitas Ingatan

  Beberapa hari yang lalu, di perjalanan dari menjemput anak-anak pulang sekolah, saya melewati bangunan SD saya dulu. Angkot yang saya naiki berhenti beberapa waktu di depannya karena ada penumpang yang turun. Saya melihat ke bangunan sekolah itu. Seingat saya … dulu bangunan itu tinggi, besar, angkuh, dan menyeramkan. Apalagi di waktu saya baru pindah ke sana di kelas 3. Tapi kemarin, ketika saya melihatnya lagi, bangunan itu tampak kecil–terlalu kecil, malah. Pagar di depannya tampak pendek, padahal di ingatan saya, pagarnya itu tinggi dan mengintimidasi. Apalagi kalo saya terlambat datang di hari Senin dan terpaksa menunggu upacara bendera selesai di depan pagar. Mungkin ingatan saya menjadi berubah. Relatif terhadap tinggi badan saya?...

Read More

#554: Nyeritain Apartemen

#554: Nyeritain Apartemen

Sebenernya saya bingung gimana mau nyeritain apartemen ini waktu saya masih ada di dalam apartemennya. Mau ngambil foto … barang-barang berceceran di mana-mana. Ada aja deh, halangannya. Tapi karena saya udah gak di sana lagi, trus semacam udah ada jarak sama apartemennya, mungkin (mungkin loh, ya) bakalan lebih mudah nyeritainnya. Tapi, baiklah. Jadi memang hal yang paling penting ketika kamu sampai di suatu tempat itu adalah memastikan kamu bisa tinggal di mana. Waktu si Tuan pertama kali datang, dia ditampung di apartemen temannya. Trus beberapa hari kemudian, dia dapat roommate orang Pakistan dan pindah ke apartemen baru. Gak lama kemudian, dia pindah lagi karena saya mau datang. Pertimbangan memilih apartemen ini sebenernya banyak, sih. Tapi yaaa...

Read More

#553: Hati-hati di ATM

#553: Hati-hati di ATM

Pagi ini, saya ke ke ATM dengan Tole. Tujuannya bukan ke ATM aja, sih. Mau ke pasar juga, trus mau beli lontong sayur juga, trus mau nyari shampoo juga, trus itu juga sambil mikir mau belanja apa di pasar karena yaaah … biasanya emak-emak begitu gak, sih? Baru tahu mau masak apa pas udah di depan tukang sayur? Bayangkan betapa riweuhnya pikiran saya. Saya ke ATM bukan mau ngambil uang, tapi mau bayar tiket untuk Emak saya balik kota dari kampung. Karena pembayaran tiket lewat ATM itu ada batas waktunya, jadi saya prioritaskan. ATM yang saya tuju itu ada di dalam Indomaret. Ada dua ATM di situ, bersebelahan; Mandiri dan BRI. Saya mau pakai yang BRI. Sampai di Indomaret, Tole langsung ngajak milih shampoo. Yang ini gak mau, yang itu gak mau, maunya yang...

Read More

#552: Sekolah di Luar Negeri; Semacam Tips Hidup dan Curhat dari Bini Rewel

#552: Sekolah di Luar Negeri; Semacam Tips Hidup dan Curhat dari Bini Rewel

Iya, saya emang bini yang rewel. Saya gak malu mengakui itu soalnya itu yang paling disuka si Tuan dari saya. Hahahaaa…. *kepedean* Beberapa kali saya diminta untuk menulis pengalaman hidup di luar negeri. Tapi bukan yang sekedar cuma curhatan tentang kisah panjang saya sampai akhirnya saya bisa naik sepeda atau resep. Boleh deh, resep. Tapi–ada tapinya–resep masakan Indonesia tradisional yang dibuat dengan bahan-bahan yang ada di sana. Entah kenapa saya nggak nulis-nulis. Biasanya saya suka nulis kalau ada hal yang menyentuh atau gimanaaa … gitu. Apa Amerika kurang menyentuh, ya? Sekarang saya nulis, deh. Tips hidup di luar negeri dari kacamata istri mahasiswa. Maafkan kalau tips ini berlumur curhat. Yah, namanya juga cewek. 1. Buat...

Read More

#551: Ngomongin Parfum, Cologne, dan Body Mist

#551: Ngomongin Parfum, Cologne, dan Body Mist

Lemon No. 1999 dari BBW. Ini punyanya si Tuan. Sebelumnya, dia pakai Kenzo Daun tapi pas sampe sini, gak nemu Kenzo di Sephora. Jadi tuker dulu parfumnya sementara. Top note-nya citrus (tapi bukan lemon kayak wangi sabun cuci piring). Lebih seger, kuat, dan ‘asem’ gitu. Base note-nya–saya gak yakin, sih–wood gitu. Mirip sama base note-nya Kenzo. Menurut saya ini wanginya unisex. Kalo cewek mau pake, bisa juga. Harganya $35,-. Sesungguhnya, saya baru ganti-ganti parfum itu sekitar yaaa … setahun yang lalu. Sebelumnya, saya pakai body cologne dari Dewi Sri Spa (kalo ada yang belum tau, ini lini produk perawatan tubuh dari Martha Tilaar *ngiklan*) yang wangi Blewah Temptation. Harganya sekitar Rp150.000,-. Mungkin ada lebih empat tahun...

Read More