#555: Relativitas Ingatan

#555: Relativitas Ingatan

  Beberapa hari yang lalu, di perjalanan dari menjemput anak-anak pulang sekolah, saya melewati bangunan SD saya dulu. Angkot yang saya naiki berhenti beberapa waktu di depannya karena ada penumpang yang turun. Saya melihat ke bangunan sekolah itu. Seingat saya … dulu bangunan itu tinggi, besar, angkuh, dan menyeramkan. Apalagi di waktu saya baru pindah ke sana di kelas 3. Tapi kemarin, ketika saya melihatnya lagi, bangunan itu tampak kecil–terlalu kecil, malah. Pagar di depannya tampak pendek, padahal di ingatan saya, pagarnya itu tinggi dan mengintimidasi. Apalagi kalo saya terlambat datang di hari Senin dan terpaksa menunggu upacara bendera selesai di depan pagar. Mungkin ingatan saya menjadi berubah. Relatif terhadap tinggi badan saya?...

Read More

#554: Nyeritain Apartemen

#554: Nyeritain Apartemen

Sebenernya saya bingung gimana mau nyeritain apartemen ini waktu saya masih ada di dalam apartemennya. Mau ngambil foto … barang-barang berceceran di mana-mana. Ada aja deh, halangannya. Tapi karena saya udah gak di sana lagi, trus semacam udah ada jarak sama apartemennya, mungkin (mungkin loh, ya) bakalan lebih mudah nyeritainnya. Tapi, baiklah. Jadi memang hal yang paling penting ketika kamu sampai di suatu tempat itu adalah memastikan kamu bisa tinggal di mana. Waktu si Tuan pertama kali datang, dia ditampung di apartemen temannya. Trus beberapa hari kemudian, dia dapat roommate orang Pakistan dan pindah ke apartemen baru. Gak lama kemudian, dia pindah lagi karena saya mau datang. Pertimbangan memilih apartemen ini sebenernya banyak, sih. Tapi yaaa...

Read More

#553: Hati-hati di ATM

#553: Hati-hati di ATM

Pagi ini, saya ke ke ATM dengan Tole. Tujuannya bukan ke ATM aja, sih. Mau ke pasar juga, trus mau beli lontong sayur juga, trus mau nyari shampoo juga, trus itu juga sambil mikir mau belanja apa di pasar karena yaaah … biasanya emak-emak begitu gak, sih? Baru tahu mau masak apa pas udah di depan tukang sayur? Bayangkan betapa riweuhnya pikiran saya. Saya ke ATM bukan mau ngambil uang, tapi mau bayar tiket untuk Emak saya balik kota dari kampung. Karena pembayaran tiket lewat ATM itu ada batas waktunya, jadi saya prioritaskan. ATM yang saya tuju itu ada di dalam Indomaret. Ada dua ATM di situ, bersebelahan; Mandiri dan BRI. Saya mau pakai yang BRI. Sampai di Indomaret, Tole langsung ngajak milih shampoo. Yang ini gak mau, yang itu gak mau, maunya yang...

Read More

#552: Sekolah di Luar Negeri; Semacam Tips Hidup dan Curhat dari Bini Rewel

#552: Sekolah di Luar Negeri; Semacam Tips Hidup dan Curhat dari Bini Rewel

Iya, saya emang bini yang rewel. Saya gak malu mengakui itu soalnya itu yang paling disuka si Tuan dari saya. Hahahaaa…. *kepedean* Beberapa kali saya diminta untuk menulis pengalaman hidup di luar negeri. Tapi bukan yang sekedar cuma curhatan tentang kisah panjang saya sampai akhirnya saya bisa naik sepeda atau resep. Boleh deh, resep. Tapi–ada tapinya–resep masakan Indonesia tradisional yang dibuat dengan bahan-bahan yang ada di sana. Entah kenapa saya nggak nulis-nulis. Biasanya saya suka nulis kalau ada hal yang menyentuh atau gimanaaa … gitu. Apa Amerika kurang menyentuh, ya? Sekarang saya nulis, deh. Tips hidup di luar negeri dari kacamata istri mahasiswa. Maafkan kalau tips ini berlumur curhat. Yah, namanya juga cewek. 1. Buat...

Read More

#551: Ngomongin Parfum, Cologne, dan Body Mist

#551: Ngomongin Parfum, Cologne, dan Body Mist

Lemon No. 1999 dari BBW. Ini punyanya si Tuan. Sebelumnya, dia pakai Kenzo Daun tapi pas sampe sini, gak nemu Kenzo di Sephora. Jadi tuker dulu parfumnya sementara. Top note-nya citrus (tapi bukan lemon kayak wangi sabun cuci piring). Lebih seger, kuat, dan ‘asem’ gitu. Base note-nya–saya gak yakin, sih–wood gitu. Mirip sama base note-nya Kenzo. Menurut saya ini wanginya unisex. Kalo cewek mau pake, bisa juga. Harganya $35,-. Sesungguhnya, saya baru ganti-ganti parfum itu sekitar yaaa … setahun yang lalu. Sebelumnya, saya pakai body cologne dari Dewi Sri Spa (kalo ada yang belum tau, ini lini produk perawatan tubuh dari Martha Tilaar *ngiklan*) yang wangi Blewah Temptation. Harganya sekitar Rp150.000,-. Mungkin ada lebih empat tahun...

Read More

#550: Bike Trail

#550: Bike Trail

Sebulan–atau mungkin dua bulan–yang lalu, Tuan Sinung bertanya, “What will you miss the most if we have to come back to Indonesia?” Saya berpikir … lama. Saya suka tempat ini. Sedikit mengherankan memang, entah mengapa kami selalu saja pindah dari satu tempat ke tempat yang lain tapi bukan kota besar. Saya memang sempat tinggal di Jakarta, tapi di tepiannya; di perbatasan Jakarta, Depok, dan Jawa Barat. Masuknya bukan kota, tapi kampung. Di mana sewaktu saya SD, masih ada sawah di sana. Kemudian kami pindah ke Selayar. Pulau yang bahkan tidak pernah saya dengar namanya sebelumnya–dan kemudian acara kontes dangdut di salah satu stasiun televisi memenangkan peserta dari pulau ini. Setelah itu, kalau saya bercerita tentang...

Read More

#549: Life Is Strange, So Are You

#549: Life Is Strange, So Are You

Saya suka cerita, bercerita, membaca cerita, mendengarkan cerita, dan melihat cerita. Gak pilih-pilih, saya suka cerita di media apapun; buku, film, foto, dan games. Masalahnya, saya suka mikir gitu kalo mau beli games RPG. Mahaaal banget, kan. Satu-satunya games RPG yang saya mainkan itu Parasite Eve. Itu juga udah lama banget di PS 1 punya adek saya. Setelah itu, saya lebih banyak main time management dan games apapun yang perlu mikir tapi gak buru-buru. Makanya saya suka banget The SIMS. Saya mainin dari masih SIMS 1 sampai terakhir, waktu Black Friday kemaren, saya beli The SIMS 4. Yang saya cari di The SIMS bukan hanya gameplay-nya, tapi juga ceritanya–yang mana saya bikin sendiri. Kadang kalo saya suka pundung, saya bikin yang gak gak sama sims-nya....

Read More

#548: Ngomongin Masak, Masakan, dan Cinta

#548: Ngomongin Masak, Masakan, dan Cinta

Adalah hal yang gak terbayang sebelumnya kalo sekarang saya suka masak karena duluuu … sekali, sebelum saya menikah–bahkan beberapa tahun setelah saya menikah–saya gak suka masak. Saya baru belajar masak sewaktu saya ikut pindah ke Makassar bersama Tuan Sinung. Itu pun masih masak yang sederhana saja. Bagaimana mencuci ayam, memotong bawang (iya, memotong bawang itu ada caranya ternyata), dan hal-hal lain yang lebih sulit dibanding masak bening bayam dan telor ceplok, saya gak bisa. Setelah pindah ke Selayar, punya dapur yang alakadarnya, dan mulai punya budget untuk membeli peralatan dapur, saya pun berusaha untuk belajar masak sendiri. Jadi bisa dibilang, setengahnya dari semangat saya untuk belajar masak itu datangnya dari …...

Read More

#547: Inertia

#547: Inertia

Dua hari yang lalu, cuaca sangat menyenangkan. Dua puluh derajat, sungguh, itu membuat gembira–setidaknya buat saya. Tapi mungkin juga buat semua orang karena di bike trail di belakang apartemen saya, banyak orang jogging atau sekedar membawa anjingnya berjalan-jalan. Lalu kemarin, suhu turun lagi ke tiga derajat. Dan di suhu seperti itu–ditambah angin yang kencang pula–saya malah jalan-jalan ke Walmart. Keputusan yang agak bodoh karena malamnya, saya meriang. Pagi ini, setelah segelas kopi, beberapa potong coklat, dan dua butir paracetamol, saya pun merasa jadi agak bego. Tapi memang begitulah efek obat itu di badan saya. Yang paling terasa; saya jadi susah mikir. Tambahan lain; saya jadi malas. Sebenarnya, setiap hari saya juga malas. Tapi...

Read More

#546: Ngomongin Kata Sapaan, Kedekatan, Keramahan, dan Kesantunan

#546: Ngomongin Kata Sapaan, Kedekatan, Keramahan, dan Kesantunan

Saya lagi gegoleran di tempat tidur sambil nungguin Tuan Sinung pulang kuliah waktu ngebaca sebuah status update di Facebook yang di-share seorang temannya si Tuan. Dan ya, benar sekali, Facebook si Tuan sekarang diojekin ke saya karena dia sok sibuk dan saya menawarkan diri untuk me-maintain image-nya dia. *halah* Tapi saya gak bales messages dari temen-temennya dia, loh ya. Saya hanya update status, terus share link, dan ngebales message di Facebook doi yang emang ditujukan ke saya. Sebenernya, saya tertarik dengan konsep bahwa media sosial bisa di-share penggunaannya. Kayak telepon rumah jaman dulu. Kadang saya kepengen buat bikin satu akun Facebook yang namanya Tuan dan Nyonya Nugroho karena … kenapa gak? Selain itu, saya merasa bahwa sosial media kayak...

Read More

#545: Ujung

#545: Ujung

mari sini, kita untai harap, cemas, dan rindumu satu satu lalu lihat; tidak akan pernah selesai dia memanjang merenggang sampai ke tempat di mana kamu temukan pintu yang dulu kau kenali mari sini, aku ceritakan tentang jantung yang detaknya menakutkanku seakan berkejaran dengan jam dinding yang mengusik laju waktu katamu; ini bukan karena kita lengah hanya saja, di perjalanan ini kita tidak pernah tahu ujung mari sini, kutemani menyusuri usia yang kita tahu ada batasnya dan hidup yang kita tahu ada akhirnya hanya saja, kita tidak pernah tahu di mana ujungnya mungkin saja, ketika berjalan kita temukan arah pulang atau bisa saja perjalanan ini akan selalu jadi rumah kita 21 Januari...

Read More

#544: Stories In A Frame

#544: Stories In A Frame

Apa yang kamu pikirkan ketika melihat lukisan? Atau foto? Atau sebuah pertanyaan lain yang ditanyakan Tuan Sinung kepada saya ketika kami ada di art gallery, di depan sebuah lukisan, di menit yang lebih dari hitungan ke sepuluh dan saya belum juga ingin beranjak, “Jadi bagaimana caranya melihat sebuah lukisan?” Dia tidak percaya ketika saya katakan bahwa sebuah lukisan, sama seperti sebuah buku, puisi, lagu, atau tarian; di dalamnya ada cerita. Hanya saja cara memahaminya yang berbeda. Ketika mengunjungi museum, yang pertama ingin saya lihat adalah art gallery-nya–kalau ada. Saya akan berjalan, mungkin sedikit cepat–di antara lukisan-lukisan yang dipajang di sana, melihat tata cahaya yang membuat ruang di galeri itu tampak dramatis, atau...

Read More

#543: Ngomongin Munjul dan Gang Cemara

#543: Ngomongin Munjul dan Gang Cemara

Kompleks apartemen saya dilihat dari tepi Leverett Ave Pagi tadi, eh … siang tadi, ding (soalnya saya tidur abis subuh dan baru bangun menjelang zhuhur) … saya iseng ngeliatin Google Maps daerah Munjul dan sekitarnya. Gak tau kenapa, lagi kepengen aja gitu. Trus saya ngeliat kalo Google Street View-nya ternyata baru. Terakhir saya lihat masih data tahun Agustus 2013, tapi tadi pagi udah jadi Juni 2015. Beuh, itu saat di mana saya sering berkeliaran di daerah Jalan Buni, Arundina, dan sekitarnya. Kepo-kepo lucu dulu dong, bentar. Siapa tahu ada gambar saya ketangkep gitu. Tapi seinget saya sih, saya gak pernah ketemu sama mobil Google yang ada kamera di atasnya buat ngambil gambar jalan itu. Jadi gambar saya gak ada. Tapi gambar tetangga-tetangga saya...

Read More

#542: Sunday Night Is Laundry Night

#542: Sunday Night Is Laundry Night

Satu hal yang sangat saya syukuri selama tinggal di sini; urusan nyuci jauh lebih sederhana dan mudah dibanding ketika saya tinggal di Indonesia. Punya anak tiga yang masih kecil-kecil dan suami yang kerja pakai seragam selalu aja membuat urusan nyuci ini jadi lumayan merepotkan. Apalagi mesin cuci yang saya punya itu model dua tabung yang mesti diurus setiap beberapa waktu sekali; mengisi air, mengisi sabun, mengeluarkan air, membilas (kadang saya membilas di luar untuk jenis pakaian tertentu), membilas lagi, membilas lagi (dan lagi), dan mengeringkan. Terakhir; menjemur. Ini pun masih diikuti dengan mengangkat jemuran, melipat, dan menyetrika. Karena urusan cuci-mencuci ini ribet, saya dan Tuan Sinung pun berbagi tugas. Ini pun masih terasa merepotkan. Pokoknya...

Read More

#541: Ngomongin Halal, Kosher, dan Pareve

#541: Ngomongin Halal, Kosher, dan Pareve

Halo, Manteman~ Sebenernya saya masih males ngeblog. Tapi setelah tiga bulan tinggal di sini–di Amerika sini atau kalo anak saya bilang ‘mamarikah’–saya ngerasa sudah saatnya saya nulis-nulis apa kek gitu tentang kehidupan saya di sini. Soalnya pas saya masih di Indonesia, saya suka baca tulisan-tulisan temen-temen blogger yang tinggal di luar negeri. Saya bingung juga sih, mau nulis apa. Padahal sebenernya mah banyak, ya. Termasuk salah satunya yaaa … urusan makanan dan bahan makanan. Oh, buat yang minta diceritain masalah culture shock, sayangnya saya dan Tuan Sinung gak ngalamin itu. Saya tinggal di kota kecil, bukan metropolitan besar dan pas nyampe sini saya biasa aja. Gak yang gimana-gimana. Kalo Tuan Sinung sendiri malah...

Read More

#540: Malam (Cerita Tentang A Lark And An Owl)

#540: Malam (Cerita Tentang A Lark And An Owl)

Dua hari lalu, saya bangun jam lima pagi, melihat ke luar jendela yang masih gelap karena waktu subuh masih sekitar satu jam lagi, dan kembali ke tempat tidur. Bukan untuk tidur–karena saya sudah cukup tidur dan kalau saya sudah cukup tidur, saya tahu–tapi untuk … sekedar tidur-tiduran. Seharusnya saya bisa menyalakan laptop, menulis, atau mengerjakan hal yang lain. Saya juga tahu beberapa saat yang lalu, di beberapa post sebelum ini, saya mencoba kebiasaan untuk tidur lebih cepat dan bangun lebih cepat juga untuk menulis. Hasilnya cukup baik. Saya menyukai ritme kerjanya. Hanya saja, itu tidak bertahan lama. Sepertinya saya berusaha untuk menipu diri saya dengan mengatakan bahwa bangun jam dua dini hari itu bukan bangun menjelang pagi, tapi...

Read More

#539: December’s Playlist

#539: December’s Playlist

Kalo udah masuk akhir tahun begini, bawaannya jadi mellow-mellow-galaw gitu, deh. Apalagi suhu makin dingin aja. Saya jadi kepengen makan melulu, kepengen bikin kue melulu. Padahal ngabisin banyak-banyak juga gak bisa. Kemaren saya sama si Tuan anniversary ke sembilan. Lumayan ye, bok. Udah sembilan tahun aja. Gak berasa. Biasanya saya suka bikin-bikin tulisan tentang anniversary gitu. Trus bikin kue. Trus yaaa … agak dirayakan gitu lah. Tapi entah mengapa tahun ini saya gak kepengen ngelakuin itu semua. Pas saya ulang tahun Oktober kemarin, saya juga males-malesan aja gitu bawaannya untuk ngebikin hari itu berasa spesial. Kayaknya ya, biasa aja gitu. Tapi karena si Tuan udah sok manis dari kemaren, yah, boleh lah saya buatkan doi bolu marmer kemarin dan...

Read More