#112: Kitsch, Mr. Bean KW, dan Segala Bentuk Ke-KW-an Lainnya

Dibaca 2,795 kali

Contoh kitsch painting.

Seandainya tidak ada gonjang-ganjing Mr. Bean KW beberapa hari belakangan, mungkin saya gak akan menulis tulisan seperti ini. Walaupun saya udah punya niat juga buat nulis masalah tas branded KW entah sejak kapan dan gak pernah saya realisasikan. Jadi, saya tumplek-blek aja deh semua di sini. Sekalian saya tambahin tentang masalah kitsch biar tulisan ini gak cuman misuh-misuh doang isinya. :cutesmile:

Yak, baiklah.

Mulai dari mana yak? :?:

Dari kitsch dulu deh.

Ada yang pernah denger kata kitsch? Secara sederhana, kitsch diartikan sebagai barang tiruan yang dibuat secara massal dari barang-barang aslinya yang memiliki seni tinggi atau harganya mahal. Karena dibuat secara massal dan konsumennya adalah golongan menengah ke bawah yang ingin tampil berkelas, maka harga dan kualitasnya pun biasanya jauh di bawah barang aslinya. Sayangnya, walaupun di Indonesia ditemukan banyak sekali kitsch, Bahasa Indonesia belum mempunyai padanan katanya.

Ini pengertian menurut kamus Merriam-Webster.

Kitsch pertama kali muncul, menurut Wikipedia, di akhir abad ke-19. Awalnya hanya digunakan untuk menyebutkan lukisan-lukisan tiruan yang dijajakan di pasar-pasar kota Munich yang sangat disukai oleh golongan menengah atau orang kaya baru. Lukisan-lukisan itu banyak dibeli untuk menaikkan gengsi dan status mereka agar “terlihat” setara dengan para bangsawan dan elit di masa itu. Dari sanalah asalnya kata kitsch kemudian berkonotasi sebagai tiruan atau pantomim estetis yang biasanya dikaitkan dengan upaya untuk menunjukkan status sosial seseorang.

Kitsch sangat mudah ditemukan di sekeliling kita. Tas branded KW, baju-baju yang meniru desain para desainer ternama dan dijual dengan harga jauh lebih murah, rumah-rumah bergaya Eropa di perkampungan yang tampak mencolok dibandingkan tetangganya, wajan Lolly Call (saya nemu merek aneh ini di sebuah toko perkakas di Makassar) yang jelas-jelas meniru Happy Call dengan kualitas yang patut dipertanyakan, dan banyak lagi. Hampir semua hal bisa ditemukan kitsch-nya. Bukan cuman barang-barang dan sesuatu yang tampak. Produk budaya non-fisik seperti lagu, tarian, teater, dan lainnya pun bisa ditemukan kitcsh-nya.

Tidak semua kitsch itu artinya sama dengan pembajakan. Pembajakan software misalnya, yang diperbanyak dan di-crack itu adalah versi yang sama dengan aslinya. Bukan membuat versi baru dengan kualitas dan harga di bawah software aslinya. Begitu juga dengan pembajakan lagu, film, dan barang-barang digital lainnya.

Teoretikus Theodor W. Adorno mengangkatnya menjadi sebuah diskursus dan mengemukakan argumen yang secara implisit menganggapnya sebagai semacam kesadaran palsu (false consciousness) yang, dalam pengertian tradisi kritik Marxisme, dimaknai sebagai kesadaran yang lahir sebagai akibat dari struktur kapitalisme yang membuat masyarakat tidak dapat mengenali lagi apa yang dibutuhkan dan diinginkannya. Kebutuhan dan keinginan masyarakat dibentuk oleh segerombolan orang yang mengendalikan pasar. Masyarakat hanya menjadi konsumen yang kemudian membeli barang-barang itu karena adanya dorongan yang membuat mereka “merasa” barang-barang itu memang dibutuhkan dan memang mereka inginkan.

Gambar Furla yang saya suka banget modelnya.

Barang-barang KW adalah contoh kitsch yang paling mudah ditemui. Dari mulai tas, sepatu, baju, dan lainnya. Yang paling heboh saat ini mungkin tentang tas branded KW. Saya tidak paham bagaimana awalnya sampai-sampai Hermes, Channel, Gucci, Furla, Louis Vuitton itu punya tingkatan kasta ke-KW-an di sini. Dari mulai KW3, KW 2, KW 1, KW super, sampai ke KW premium yang katanya nyaris gak bisa dibedakan dari tas aslinya kalo gak berpengalaman dan harganya pun jutaan.

Tas branded yang asli memang bisa dianggap sebagai penaik status sosial. Kalau bukan orang yang kebangetan kayanya, mana mungkin mau membeli tas yang harganya bisa sama dengan sebuah mobil Jaguar. Orang-orang yang tidak sekaya orang yang kebangetan kaya tadi, kemudian menggunakan tas kitsch untuk menaikkan status sosialnya. Seakan-akan dengan menggunakan tas kitsch pengaruhnya akan sama, atau kurang lebih sama, dengan menggunakan tas branded yang asli. Padahal, itu semu saja.

Trus yang salah siapa?

Ya gak ada yang salah dan gak ada yang benar juga. Kitsch itu wilayah abu-abu. Susah buat nyalah-nyalahin atau ngebener-benerin. Cumannya, kalo saya pribadi sih lebih milih buat beli tas yang gak kitsch. Bukan karena gengsi atau apa. Tapi saya lebih melihat bahwa tas itu ya tas. Gunanya ya buat bawa barang-barang perintilan. Kalo saya mau tas yang mahalan dikit biar lebih awet dan gak cepet rusak, ada banyak sekali model dengan kisaran harga yang masih bisa diterima dompet saya. Masalah gengsi dan lain sebagainya, bisa dipikirin belakangan setelah semua barang-barang perintilan saya bisa masuk ke tas itu dengan selamat dan keluar dengan selamat pula. :cutesmile:

Trus lagi, hubungannya sama Mr. Bean KW apa?

Mr. Bean KW kan contoh kistch juga (dia tiruan dan honornya lebih murah). Cumannya, produser film membuatnya jadi contoh kistch yang gak banget. Banyak contoh artis yang meniru-niru artis lainnya (yang biasanya lebih terkenal dan punya ciri khas khusus). Misalnya tiruannya Gus Dur, tiruannya Jusuf Kalla, dan lainnya yang suka muncul di salah satu stasiun tivi swasta. Mereka sedari awal udah terang-terangan bilang kalo mereka cuman tiruan. Jadi penonton sedari awal pun sudah aware. Apalagi mereka memang lucu, script-nya bagus, semuanya pun jadi bagus dan bisa diterima dengan baik. Cumannya, untuk kasus Mr. Bean KW ini, semua berubah jadi norak. Walaupun produser dan sutradaranya sudah berkilah atas nama marketing, tetep aja buat saya itu viral marketing yang gak banget. Saya gak mau ngomongin kualitas cerita dan sebagainya yang berhubungan langsung dengan film itu karena semua juga udah tahu gimana ancurnya film-film mereka itu.

Ini Mr. Bean Ori

Jadi, intinya apa?

Hmm, intinya yak? Intinya: kitsch itu bisa ditemui di mana-mana. Kalau mau memakai barang-barang kitsch, ya gak apa-apa. Itu semua urusan selera. Kan bisa aja ada orang yang suka banget sama model tas Hermes tapi gak bisa beli yang asli. Tapi tetep sadari kalau itu kitsch dan hukumnya bagaimana. Soalnya saya pernah baca kalo di Paris ketahuan pakai tas branded KW bisa didenda, kalo di seputaran Indonesia Raya mah aman terkendali. :lol:

Kita ini hidup di kelilingi kitsch. Tinggal putuskan sendiri mau jadi konsumen kitsch atau mencari hal-hal baru yang original dengan standar yang affordable.

______________________________________________________

Ditulis sambil nyambi ngerjain FF2012. 

3 Comments

  1. simon
    Jan 3, 2016

    bahasan yang sangat menarik kebetulan saya sedang belajar mengenai hal ini, terimakasih ya atas tulisannya.

  2. Millati Indah
    Jun 13, 2012

    Saya, sih, nggak perlu beli yang kitsch ataupun yang asli. Gak tega duit saya dikeluarin buat beli tas mahal. Aneh rasanya kalo tas saya lebih mahal ketimbang barang2 yang ada di dalamnya. Tas saya pan palingan isinya buku, cemilan, sama bon belanjaan doang.

    • octanh
      Jul 14, 2012

      Asal cintahmu gak KW-an, boleh laaaah…. < – ngaco :evil:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)