#114: The Perfect Chapter One

Dibaca 1,171 kali

 

Saya selalu tertekan melihat halaman kosong di word-processor. Sama tertekannya seperti melihat dompet kosong di pertengahan bulan. :lol:

Dan yang lebih membuat saya tertekan adalah bab pertama. Lebih spesifik lagi: paragraf pertama. Saya bisa diam duduk di depan laptop berjam-jam hanya untuk mencari kata pertama, kalimat pertama, dan paragraf pertama yang tepat. Saya—selalu sepertinya—merasa harus menemukan sesuatu yang bisa menggerakkan dan membuat saya yakin akan apa yang saya tulis sejak dari kalimat pertama.

Kebiasaan buruk saya: kalau saya belum benar-benar yakin dengan bab pertama, sepertinya akan sangat sulit sekali buat melanjutkan ke bab selanjutnya. Pokoknya bab satu harus “beres” dulu, baru deh saya merasa bisa menuliskan bab dua, tiga, dan seterusnya.

Ketika saya membaca novel Ayat-Ayat Cinta, yang saya sukai hanya bab pertamanya saja. Banyak yang bilang penggambaran bab pertama di novel itu mirip dengan deskripsi Karl May di Winnetou. Saya kira bukan berarti Kang Abik meniru Karl May karena butuh jam terbang sangat banyak untuk bisa sebagus itu untuk mendeskripsikan sesuatu—dalam kasus Karl May adalah suku Indian Apache, tapi memang deskripsi Mesir di bab satu novel Ayat-Ayat Cinta itu nyaris seperti hidup. Setidaknya, memang nyaris seperti hidup di dalam kepala saya. Saya bisa merasakan panas dan berdebunya Mesir ketika membacanya. Tapi, ketika saya masuk ke bab dua dan seterusnya, saya merasa kekuatan deskripsi itu hilang entah kemana.  Sayang sekali….

Seperti katanya Eka Kurniawan di sini, menurut Gabriel Garcia Marquez:  “Kalimat pertama bisa menjadi laboratorium untuk mengetes gaya, struktur dan bahkan panjangnya novel.”

Tapi, lebih sederhananya, saya menganggap kalimat pertama, paragraf pertama, dan bab pertama itu lebih seperti ujung paku. Cukup tajam gak buat ditencepin ke kayu. Kalo udah tajam dan nancep, proses nancepin paku itu ke kayu yang berikutnya akan terasa lebih mudah karena polanya sudah ada.

Selain itu, saya juga punya kebiasaan buruk untuk memutuskan apakah saya akan membaca sebuah cerpen atau novel dari paragraf dan bab pertamanya. Kalau menarik, saya lanjutkan. Kalo gak, biasanya sih saya terlantarkan. Kebiasaan ini buruk sebenarnya, karena jangan-jangan cerpen atau novel itu bagus tapi kalimat, paragraf, dan bab pertamanya emang sengaja dibuat begitu. Tapi yah, gimana yak. Kebanyakan yang saya temui, kalo emang cerpen atau novelnya bagus, dari awal pun memang sudah bagus. Gak perlu nunggu baca setengah cerpen atau setengah novel buat tahu itu. Padahal, mungkin saja ada selai stoberi yang enak di tengah roti yang agak hambar. Tapi…. Ah, udah ah. Tapi-tapian mulu. :cutesmile:

Nah, menurut tulisan di sini, para redaksi majalah dan koran kadang juga melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan: membaca beberapa paragraf atau kalimat awal, setelah itu kalau gak menarik, delete. Sadis yak? :lol: Tapi para redaksi majalah itu kan banyak kerjaannya, banyak pula naskah yang masuk.

Jadi … begitulah. Saya pun belajar membuat kalimat dan paragraf pertama yang menarik.

Kalau di cerpen, karena saya merasa tidak banyak punya ruang dan kuota jumlah kata, biasanya saya langsung hantam aja ke pokok masalahnya. Gak perlu bertele-tele pada deskripsi. Apalagi kalo deskripsinya diniatkan hanya buat “menyanyikan” kalimat-kalimat indah dan gak ada kontribusinya pada cerita. Pokoknya hantam!

Masuk bulan ini, saya membuat janji pada diri saya sendiri untuk menulis cerpen setidaknya satu cerpen per minggu untuk dikirim ke koran dan majalah. Sampai saat ini, saya belum menemukan hal yang saya bisa lakukan dengan baik, benar, dan menyenangkan tanpa tekanan selain menulis. Jadi yaaa … saya mau menulis aja deh. Kalo nantinya jadi penulis ya syukur, kalo gak, cari profesi lain seperti tukang kue atau tukang roti. :lol:

______________________________________________________

Ditulis sambil memikirkan kalimat pertama yang tepat buat cerpen. Kalimat pertama itu sudah dipikirkan kira-kira, yaaa … dua mingguan lah. :die:

Gambar dipinjam dari sini.

4 Comments

  1. Nurin
    Jun 24, 2012

    Kalau aku, selain paragraf pertama, juga punya masalah pada paragraf terakhir. Aku suka kewalahan mengakhiri tulisan, dan suka gak fokus saat nulis, jadi kemana-mana :oops:

    • octanh
      Jun 25, 2012

      Kalo aku nulis cerpen, kalo bingung bikin endingnya, biasanya aku matiin aja tokoh utamanya. Habis cerita. :die: Tapi yaa … tambah ketauan lagi deh malesnya. :T.T:

  2. Millati Indah
    Jun 18, 2012

    Saya sih biasanya mencoba bersabar membaca sampai beberapa halaman. Dan biasanya lumayan lah. Banyak yang menarik di tengahnya meskipun awalnya gak menarik. Tapi, ada satu buku yang bisa bikin saya bener-bener bosen bacanya sampe emoh melanjutkan. Padahal itu novel yang katanya menang lomba dan best seller. Aneh.

    • octanh
      Jun 25, 2012

      Kadang kelamaan nunggu ampe beberapa lembar…. < – Ketauan banget malesnya. :ngikik:

      Menang lomba mah berarti entuh buku sesuai dan bagus menurut selera para juri. Best-seller, berarti entuh buku laris karena sesuai ama selera pasar. Kesimpulannya: buku itu gak sesuai sama seleranya Millati. Gitu, bukan? *sotoy*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)