#115: Tentang Cinderella, Pangeran, dan Teori Jodoh dalam Dongeng

Dibaca 2,483 kali

 

Seminggu kemarin, saya ditinggal Sinung ke Makassar. Awalnya (seperti biasa) saya dan anak-anak diajak pergi berbondong-bondong. Tapi karena Baby-Thaariq masih agak demam sehabis imunisasi, jadilah saya memilih untuk tinggal. Karena itu seminggu kemarin saya tidak bisa melakukan apapun selain mengurus anak-anak itu dan beberapa pekerjaan rumah tangga ringan. Menulis pun terpaksa diundur. Tapi ada bagusnya juga. Jadinya, saya bisa mengumpulkan ide-ide baru selama seminggu belakangan dan memikirkannya baik-baik. Dari sekian banyak ide yang muncul, beberapa harus dibuang karena saya anggap terlalu dudul, klasik, dan klise. :die:

Salah satu ide saya adalah membuat cerita dongeng semacam Cinderella. Tapi, bukannya memikirkan konsep, eksekusi, dan blablabla-nya yang perlu, saya malah mikirin: mungkin gak sih rakyat jelata macem si Cinderella itu nikah sama Pangeran? Atau jangan-jangan….

Trus, setelah itu saya malah mikirin teori kalo jodoh kita itu pasti se-kufu’ sama kita (pada saat kita berjodoh sama dia).

Trus saya pernah baca buku yang menceritakan kalau jodoh kita itu biasanya berasal dari jejaring kita. Pokoknya gak mungkin jauh-jauh dari kehidupan kita deh.

Trus saya malah nyoba mengembangkan teori baru tentang asal-usul Cinderella….

Jadi, saya bikin tulisan setengah-curhat-setengah-berusaha-memecahkan-teori-asal-usul-Cinderella ini deh. :lol:

Ah, baiklah. Begini ceritanya.

Saya sepaham dengan pendapat yang mengatakan bahwa jodoh kita itu pasti se-kufu’ (atau bahasa sederhananya: berimbang) dengan kita. Tapi, ukuran imbangnya itu bukan cuman yang kelihatan lho. Semua yang ada di diri kamu dijumlahkan, nah hasilnya itu akan hampir sama atau mendekati hasil penjumlahan dari jodoh kamu juga. Makanya, ada orang yang jodohnya jauuuh lebih cakep secara fisik, tapi dia punya banyak kelebihan non-fisik dari jodohnya itu.

Saya juga menganggap kalau pernikahan itu adalah usaha “menjodohkan” diri selamanya, maka, urusan keseimbangan ini tidak hanya pas awal-awal nikah aja dan menjadi alasan untuk menikah. Sederhananya: orang yang menikah itu akan tetap berjodoh selama keduanya se-kufu’. Kalo udah gak se-kufu’ mungkin akan terjadi perpisahan atau perceraian. Oleh karena itu, sebenarnya, tanpa disadari oleh pasangan yang menikah, mereka akan naik atau turun kualitasnya disepanjang pernikahan itu tergantung dari turun-naiknya kualitas pasangannya juga. Seperti timbangan yang selalu mencoba untuk seimbang, begitulah kira-kira penggambarannya. Kalo salah satu timbangannya terlalu ringan atau terlalu berat, siap-siap aja amblas. :lol:

Katenye, Lo Mau Ngehubungin Ini Sama Cerita Cinderella? Maksud Lo Pigimanah?

Iya-iya. Sabar dulu ngapah? :die:

Kebanyakan dari kita yang jomblowan dan jomblowati (dengan national anthem: I’m Single but I’m Happy), membayangkan bahwa suatu saat nanti akan menikah dengan pangeran atau puteri. Gak salah sih. Kita kan bebas-bebas aja pengen mengharapkan apapun, apalagi harapannya baik kayak gitu. Tapi, sadarkah kita kalau semuanya itu sebenarnya tergantung dari kita juga?

Saya ingin membuktikan bahwa Cinderella itu dan sang Pangeran se-kufu’. Saya punya keyakinan, walaupun hanya dongeng, cerita ini sebenarnya sangat rasional. Hanya saja selama ini kita menganggapnya terlalu berlebihan dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata, makanya namanya dongeng.

Syahdan, menurut ceritanya si Cinderella ini kan anak tiri yang dimusuhin dan diperlakukan dengan kasar oleh ibu tirinya dan akhirnya dia menikah dengan sang Pangeran. Trus dengan mudahnya, nilai moral cerita ini jadi: gadis baik hati nan rajin dan sabar akan mendapatkan seorang pangeran. Really? Are you kidding me?!

Kebanyakan dari kita sewaktu kecil dulu mengabaikan fakta-fakta penting dan langsung terbuai pada kisahnya yang mendayu-dayu itu. Secara logika, bisa saya katakan bahwa tidak mungkin seorang pangeran bisa jatuh cinta begitu saja pada seorang rakyat jelata seperti Cinderella. Pasti si pangeran mikir-mikir lah kalo mau nikah sama rakyat biasa. Apalagi suatu saat nanti dia bakalan jadi raja. Orangtuanya si pangeran juga pasti mikirin bibit, bebet, bobot, dan bubu dari calon mantunya.

Singkatnya, saya yakin kalo si Cinderella ini bukan rakyat jelata.

Buktinya Apaan?

Orangtua Cinderella itu jelas orang kaya raya karena ibu tirinya kaya. Ketika ayahnya meninggal, tentu harta ayahnya diwariskan ke ibu tirinya dan juga si Cinderella itu. Dan hartanya banyaaak! Rumah ibu tirinya aja segede gambreng begitu. Si Cinderella ini keliatan kayak pembokat bukan karena dia rakyat jelata, tapi karena ibu tirinya benci sama dia. Makanya dia disuruh-suruh dan diperlakukan dengan tidak manusiawi. Ketika datang undangan pesta dari kerajaan, keluarga Cinderella ini mendapatkan undangan. Gak semua orang (apalagi rakyat jelata) dapat undangan pesta di istana seperti itu. Pasti yang diundang hanya para bangsawan dan orang-orang kaya. Mereka memang berada di lingkungan pergaulan kerajaan. Kalau semua orang diundang, termasuk para rakyat jelata itu, istana pasti gak cukup buat menampungnya. Tapi, di dongengnya diceritakan bahwa pesta itu terjadi di dalam istana dengan tamu-tamu yang memakai baju mewah. Bahkan si Cinderella naik kereta kuda ke sana (yang mana merupakan simbol status sosial, walaupun boleh dipinjemin sama ibu peri).

Di istananya si pangeran itu, pasti ada semacam intel yang mengamati gerak-gerik para tamu. Jadi, gak mungkin ada tamu yang bisa seenak udelnya datang tanpa diundang. Si Cinderella ini kan gak punya undangan (yang diundang kan ibu tirinya) dan dia dalam keadaan menyamar, kok dia dibolehin masuk? Ibu Peri gak dudul kaleee…. Makanya dia dikasih baju semewah itu dan kereta kuda sebagus itu. Jadi, secara gak langsung itu bisa jadi penegasan status sosialnya. Makanya dia dengan mudah bisa masuk ke istana itu.

Akhirnya si Cinderella ini pun menghabiskan malam dengan sang pangeran, trus jam dua belas malam sihir peri hilang, sepatu kaca ketinggalan (saya curiga si Ibu Peri punya andil di urusan sepatu ketinggalan ini atau ini trik si Cinderella sendiri?), pangeran mencari pemilik sepatu, dan seterusnya sampai akhirnya mereka menikah. Pernikahan mereka pun langsung mendapat restu karena yaaa … orangtua si pangeran kan udah tau dengan jelas asal-usul si Cinderella ini.

Cinderella itu bukan gadis jelata, ingat itu ya anak-anak. :cutesmile:

Secara tidak langsung, Cinderella ini memang sudah ada di lingkungan pergaulan kerajaan karena dia memang bangsawan atau orang kaya raya di negeri itu.

Menurut Nicholas A. Christakis sama temennya James H. Fowler di buku Connected, kita mendapatkan jodoh dari lingkungan kita, gak jauh-jauh. Doi berdua melakukan penelitian dan mendapatkan hasil bahwa pasangan yang menikah itu diperkenalkan atau dipertemukan: 15%-nya oleh keluarga, 35%-nya oleh sahabat, 6%-nya oleh rekan kerja, 6%-nya oleh teman sekelas, 1%-nya oleh tetangga, 32%-nya kenalan sendiri, dan 2%-nya dengan cara perkenalan lain. Jadi bisa disimpulkan bahwa jodoh kita itu berasal dari orang-orang yang ada di sekeliling hidup kita. Bukan dari mana-mana. Kalau kamu rakyat jelata di ceritanya Cinderella, yaaa … susah kalo pengen nikah sama pangeran.

Si Kate Middleton bukan bangsawan kok….

Iya. Tapi dia orang Inggris, dari keluarga kaya, satu kampus sama William, daaan … cantik luar biasa. Dia berasal dari lingkaran jejaring sosial si pangeran. Bukan rakyat jelata yang makbedunduk nikah sama pangeran.

Jadi Maksud Lo, Gue Gak Bisa Dapet Pangeran? :die:

Bukaaan…. Maksud saya, daripada ngeliat jauh-jauh ke mana-mana, coba liat ke sekitar kamu. Jangan-jangan di pojokan deket-deket sini juga jodoh kamu. Gak bakalan jauh-jauh. Terus, kalau mau dapet jodoh yang baik, yaaa … jadilah orang baik. Kalau mau dapet orang yang lembut dan pengertian, kamunya dulu dong yang jadi lembut dan pengertian. Teori jodoh itu tidak sama dengan teori magnet, yang sama itu akan tarik-menarik. Kita akan lebih suka dan tertarik dengan orang yang banyak kesamaannya dengan kita, bukan dengan orang yang jauh banget bedanya. Kalau kita suka baca buku, gak mungkin kita bakalan suka sama orang yang menganggap membaca buku itu buang-buang waktu. Sederhananya gitu.

Kalau menurut Om Mario Teguh, hal itu disebut kepantasan. Pantes gak kira-kira kita bersanding dengan orang itu? Atau kita lebih pantas dengan orang yang lebih dari itu? :cutesmile:

Jadi, daripada nunggu dan memimpikan jodoh yang baik, mendingan kita jadi baik dulu. Biar yang dateng nanti juga baik. Begitulah kira-kira.

Jadi lagi, saya bisa simpulkan kalau cerita Cinderella itu nilai moralnya bukan lagi tentang gadis manis dan baik hati yang mendapatkan pangeran. Tapi, gadis bangsawan manis dan baik hati yang mendapatkan pangeran yang juga manis dan baik hati. Dengan kata lain, saya mau bilang: kamu bisa mendapatkan siapa saja yang keren dan baik hati  yang kamu mau kalau kamu punya cukup banyak kekerenan dan kebaikan untuk “membayar” harganya. Kalo kamu merasa kurang keren dan kurang baik, yaaa … jadi keren dan baik dong! :cutesmile:

Begitulah kira-kira.

Gambar boleh minjem dari sini dan sini.

2 Comments

  1. Millati Indah
    Jun 25, 2012

    Jadi, kesimpulannya, kalo mau nikah sama pangeran, mesti jadi bangsawan, atau orang kaya, atau cantik banget.

    Hmm, gak jadi deh ngincer pangeran.

    Eh, betewe, saya udah celingak celinguk, liat ke pojokan juga, belum nemu jodoh tuh :die: Katanya biasanya gak jauh-jauh.

    • octanh
      Jun 29, 2012

      Jodohnya masih malu-malu kali. Coba dipancing pake ikan peda. *dikata kucing* :lol:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)