#119: Sometimes, Friends are not Forever

Dibaca 1,741 kali

 

Seharian ini saya stuck dan belum menulis satu kata pun. Gak punya temen ngobrol pula. Sinung lagi pergi ke Makassar. Tinggal saya dan anak-anak di rumah. Jadilah saya terbengong-bengong dari tadi siang.

Tulisan saya stuck di bab yang menceritakan tentang pertemanan. Sepele sih masalahnya: saya gak yakin kejadian tertentu bisa menghancurkan pertemanan tokoh saya. Apalagi kalau kejadian itu sepertinya terlalu dibuat-buat dan kondisi pertemanan mereka juga tidak terlalu bermasalah. Dalam kehidupan normal, harusnya hal itu bisa selesai hanya dengan saling memaafkan. Agak gak masuk akal kalau saya keukeuh memutuskan pertemanan mereka dengan cara itu karena kesannya jadi kelebay-lebayan. :die:

Cara untuk memecahkan writer’s block paling mujarab menurut saya adalah dengan memaksakan diri menulis. Menulis apapun. Jadi, saya pun menulis curhat. :lol:

Ngomong-ngomong masalah pertemanan dan persahabatan, saya sendiri adalah penganut paham: friends are not forever. Bukan karena saya gak percaya ada persahabatan yang kuat dan kokoh sehingga menembus ruang dan waktu (halah), tapi karena saya percaya bahwa teman-teman kita sebenarnya merepresentasikan tentang kondisi dan kualitas kita saat itu: mereka datang dan pergi.

Misalnya saja, baru-baru ini saya kehilangan teman karena pandangan kami yang berbeda. Saya menasehatinya untuk tidak terlalu banyak mengumbar kemesraan di depan umum (berpelukan, pegang-pegang pipi, mengelus kepala, dan sejenisnya) dan mengurangi menulis status di Facebook yang membuat orang lain risih, seperti: Sayang, aku ingin menciummu sampai kempes, dan lain sebagainya. Mereka memang sudah menikah, tapi menurut pandangan saya, itu tidak perlu. Kalau memang cinta dan mesra, yaaa … dikonsumsi sendiri saja. Tidak perlu mengumumkan ke seluruh pelosok dunmay dan memperagakan adegan yang seharusnya dilakukan di kamar di tempat umum. Tapi teman saya itu lebih memilih untuk mencaci-maki saya dan Sinung, setelah itu memutuskan semua komunikasi.

Awalnya saya sedih juga. Saya kan hanya menasehati agar mereka jadi lebih baik. Tapi karena dicaci-maki begitu (sebelumnya, tidak pernah ada yang mengatakan kata-kata sekasar itu pada saya—mereka berkata saya menjijikkan dan iri pada apa yang mereka lakukan karena saya tidak bisa mendapatkan apa yang mereka dapatkan: pasangan yang pintar, S2, kaya, sholeh, dll), saya pun jadi memilih mundur. Apalagi mereka mencaci-maki saya dan Sinung di depan Ibu saya. Ibu saya sedih sekali ketika itu. Ibu saya bahkan sudah menganggap mereka anak dan memperlakukan mereka dengan sangat baik. Tapi yang paling menyedihkan Ibu saya yaaa … karena melihat saya dan Sinung tidak melakukan apapun untuk membela diri. Habis, mau membela diri juga percuma sih ya. Yang ada nanti malah isi Ragunan yang keluar. Terus mereka malah tambah dosa.

Memilih untuk mundur itu ada hikmahnya juga ternyata. Setelah mereka memutuskan hubungan dengan saya, saya malah merasa hidup saya sedikit lebih lega. Saya tidak perlu memikirkan, membantu, dan hal lain yang seharusnya dilakukan seorang teman. Bisa cuek aja lah sederhananya. Hal lain yang lebih menenangkan saya adalah: karena mereka memutuskan hubungan dengan saya dan Sinung, kami jadi tidak punya teman yang seperti itu deh. Tidak berapa lama dari kejadian itu, saya mendapat ganti teman-teman yang lebih baik dan menyenangkan. Beberapa dari mereka juga membuat saya melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak berani saya lakukan. Jadi, saya sama sekali merasa tidak rugi.

Sewaktu kecil, saya banyak membaca cerita persahabatan yang membuat saya berpikir bahwa yang namanya persahabatan itu last forever. Seakan-akan mereka akan selalu ada. Padahal, setelah beberapa kali menemukan hubungan persahabatan saya putus karena masalah-masalah tertentu, saya merasa ungkapan itu tidak benar. Setelah menikah, misalnya, waktu untuk bertemu teman-teman jadi tidak banyak. Itu juga menjadi salah satu faktor yang membuat persahabatan menjadi renggang. Kalau di The SIMS, tidak menelepon atau bertemu dalam waktu tertentu bisa menurunkan status pertemanan dari friend menjadi acquitance. Di kehidupan nyata, seperti itu juga sepertinya.

Sangat benar sebuah hadist yang mengatakan bahwa kalau kita ingin mengetahui tentang seseorang, lihatlah teman-temannya. Orang baik tentu akan berteman dengan orang yang baik pula, dan sebaliknya. Orang yang suka menulis, akan berteman dengan sesama penulis juga. Banyak hal yang bisa membuat kita berteman dengan seseorang dan biasanya itu adalah faktor kesamaan, apapun itu. Bisa hobi, sifat, tempat, bahkan kesamaan penderitaan. :lol:

Kualitas diri juga menjadi faktor apakah pertemanan itu bisa bertahan. Ketika teman-teman saya menjadi begitu keren, misalnya, mereka kemungkinan akan punya waktu lebih sedikit untuk saya yang tidak keren karena mereka secara otomatis punya teman-teman baru yang lebih keren. Walaupun masih berteman, tapi saya rasa kualitas pertemanan itu akan mengalami penurunan.

Teman-teman itu bisa membuat kita jadi lebih baik atau sebaliknya karena pengaruhnya yang kuat. Di sini lah yang namanya memilih teman itu kemudian menjadi penting. Bukan berarti pilih-pilih teman itu membuat kita jadi memandang rendah orang yang satu dan meninggikan orang yang lain. Berhubungan dengan orang-orang yang tidak memberikan kontribusi pada peningkatan kebaikan kita boleh saja, tapi sekadarnya saja. Jangan sampai dijadikan teman dekat apalagi sahabat.

Jadi selain curhat, saya juga mau bilang: kalau kamu kehilangan teman atau sahabat, jangan sedih. Itu tandanya kalian memang sudah tidak sekufu’ lagi. Relakan saja. Teman-teman baru selalu akan datang dan juga pergi. Dan selalu ingat bahwa setiap orang hanya akan bertanggung-jawab pada dirinya sendiri. Jadi, bersikaplah yang baik agar teman-teman yang baik itu datang dan teman-teman lama yang baik tidak pergi.

Sampai sekarang kalau saya ingat-ingat semua cacian itu, saya masih sedih. Tapi yaaa … apapun yang mereka katakan pada saya, saya tidak perlu mempertanggung-jawabkannya. Biarkan saja…. :cutesmile:

Lebih sibuk memperbaiki diri aja yuk, apalagi sekarang sudah hampir Ramadhan. :cutesmile:

Saya mau balik nulis lagi. Kayaknya saya punya ide baru buat dituliskan. *ngeloyor pergi*

7 Comments

  1. bang opick
    Jul 17, 2012

    betul banget mbak waktunya kita memperbaiki diri kita sebelum ramadhan yah

    • octanh
      Jul 18, 2012

      Yo’i Bang Opick.Memperbaiki diri sendiri aja kayaknya gak bakalan ada habisnya. Banyak bok kekurangannya…. :lol:

  2. milo
    Jul 14, 2012

    warning: ini bukan komen, ini curhat!

    Dari dulu, saya berprinsip teman itu seperti angin. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk datang dan tidak bisa menahan ketika mereka mau pergi.
    Kadang, jarak dan perbedaan pengalaman (maksudnya kejadian2 yang dialami) bisa membuat pola pikir jadi berbeda. Sesuatu yang bagi kita penting, esensial, bisa jadi bagi dia itu sepele. eda pengalaman bisa mengakibatkan perbedaan prioritas dalam menilai sesuatu. Ujung2nya, jadi nggak klik lagi. Kalau sudah nggak klik, yah, alamat menjauh. Dan sifat jelek saya, kalau sudah dijauhi jadi lebih menjauh -__-”

    *yak, seperti biasa, komen saya OOT*

    • octanh
      Jul 14, 2012

      Milo, kamu kayak angin puyuh…. Kamu mengacaukan hatiku. #eaaa *dilempar tronton*

      Yak, entuh saiah setuju. Mangkanya saya juga percaya, temen-temen kita entuh cerminan diri kita juga. :oops:

  3. Devi
    Jul 14, 2012

    Kak Octa, mampir lagi, hoho. Bahasan yang ngena juga buat saya :'(. Dulu saya pernah merasakan hal ini. Kehilangan teman-teman dekat yang tadinya kemana-mana bareng saya. Ketawa bareng, ngegalau bareng (eaa). Saya pun cerita pada teman saya yang lain, bahwa saya merasa seperti ditinggalkan. Kata teman saya, “Yang penting kita tetep berbuat baik sama orang itu”. Dan saya rasa ia betulll sekali :). Waktu itu mungkin karena saya dan teman-teman dekat saya itu beda kegiatan selepas kampus. Dan akhirnya, seperti yang kakak ceritakan juga, pada akhirnya Allah seperti “memberi ganti” teman-teman baru pada saya. Ehm … meski nggak banyak sih. Tapi ada beberapa yang akhirnya sekarang saya sadar, mereka adalah mutiara yang baru saya temukan :). Meski bukan berarti yang kemarin-kemarin “kurang bagus” atau gimana, yah … mungkin emang nggak jodoh aja. Dan saya baru tau dari kultwit seorang ustadz, bahwa nggak dosa kalo hubungan persahabatan/pertemanan terputus. Yang dosa itu adalah silaturahim alias hubungan dengan saudara. Gitu katanya. Share more ya, kak ^o^. Anyway, saya juga ada proyek cerita tentang persahabatan. Dan setelah semua yang saya alami, mungkin pandangan saya akan persahabatan tokoh-tokoh saya akan berbeda :’).

    • octanh
      Jul 14, 2012

      Karena Devi juga dateng setelah kejadian itu, bisa aku anggep Devi termasuk “pengganti” yang lebih baik kan yak? :>

      • Devi
        Jul 14, 2012

        Saya seneng banget kak Octa :’).

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)