#122: Just Stop Talking about It!

Dibaca 955 kali

Gambar minjem dari sini.

 

Tengah malam begini saya bangun niatnya mau menulis. Tapi, ketika saya membuka website berita langganan saya (maklumlah, saya gak punya tivi, gak langganan koran, satu-satunya cara untuk mendapatkan berita terkini ya dengan melihat website berita), saya langsung facepalm melihat headline-nya. What the…. :die:

Hancurlah semangat menulis saya, berganti dengan semangat nge. :lol:

Betewe, saya gak mau ngasih tau berita yang bikin saya facepalm itu apaan. Soalnya, sesuai dengan judul post saya kali ini: saya tidak akan membicarakannya. Tapi saya akan memberikan penjelasan kenapa kita harus berhenti membicarakan hal-hal seperti itu.

Jadi lo mau ngomongin apaan sih? Bingung deh….

Saya mau  ngomongin media, cara penyebaran berita, mungkin sedikit tentang viral marketing, semangat, cara pandang, ayakan, timbangan, mixer, dan oven.

Tambah bingung?

Yuk kita mulai bahas aja satu-satu.

Saya teringat kata-kata salah satu dosen penyutradaraan saya ketika kuliah dulu. Beliau ini memang mengajarkan penyutradaraan dasar, ngajarin gimana caranya nyutradarain film. Tapi karena beliau juga suka filfasat dan memang kurikulumnya tentang filsafat (karena filsafat mengajarkan bagaimana berpikir dan mengambil kesimpulan), beliau suka bercerita di kelas tentang tokoh-tokoh filsafat yang terkenal.

Gambar minjem di mari.

Salah satu cerita beliau yang paling saya ingat adalah tentang media. Beliau mengatakan bahwa Plato pernah bilang bahwa akan datang masanya dimana orang-orang akan mengambil informasi bukan dari buku (buku dalam konteks penelitian, jurnal, dan sejenisnya) tapi dari media massa—selebaran yang dibagikan di jalan-jalan. Yang mengandung informasi gamang antara bisa dan tidak bisa dipercaya. Walaupun saya percaya bahwa jurnalisme sangat menjunjung tinggi kebenaran, tapi, sekali lagi tapi, kebenaran itu sangatlah relatif. Yang benar menurut saya, belum tentu benar menurut yang lain. Apalagi, yang benar menurut saya dan menurut yang lain itu belum tentu pula benar yang sejatinya benar. Nah lo!

Maksud lo, apapun yang tertulis di media itu belum tentu benar?

Ho-oh, begitu.

Itulah pentingnya kroscek. Jangan langsung percaya pada apapun sebelum menelitinya lebih lanjut. Peribahasa “jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakannya” itu juga tidak berlaku di sini. Kita harus melihat siapa yang bicara. Lha wong perawi hadist aja dilihat dari siapa dan bagaimana riwayat kebohongannya kok. Jadi jangan takut mencurigai apa-apa yang belum jelas kebenarannya. Tiap informasi baru yang saya terima, biasanya saya lebih suka menanggapinya dengan skeptis. Diterima gak, ditolak juga gak. Pokoknya dicek dulu.

Trus hubungannya sama judul apaan?

Nah, judul post ini mengarah pada berita yang tidak baik, bukan yang benar atau yang salah. Tapi, sekali lagi, yang tidak baik. Bisa saja hal itu benar tapi tidak baik. Dan bisa juga berita itu salah dan tetap tidak baik.

Misalnya saja berita tentang perceraian orang yang terkenal. Kalau itu benar terjadi dan mereka benar-benar bercerai, berita itu tidak baik. Kalau pun berita itu kemudian disanggah dan ternyata mereka tidak jadi bercerai, itu pun tetap tidak baik. Intinya bukan di benar atau tidaknya berita itu, tapi di baik atau tidaknya berita itu untuk diketahui oleh pribadi dan orang banyak.

Nah, ketika berita tidak baik itu menyebar, sadarkah kita bahwa efeknya juga tidak baik? Apalagi kalau kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah hal itu?

Saya terpaksa kasih contoh berita yang lagi hot deh. :die:

Misalnya tentang seorang penyanyi terkenal yang akan keluar dari penjara dan kabarnya prosesi keluar dari penjaranya itu akan disiarkan secara langsung. Kurang facepalm bagaimana coba?

Ini kan contoh berita yang tidak baik.

Trus misalnya saya membaca berita itu dan berkomentar ini-itu yang intinya tidak menyetujui siaran langsung keluar dari penjaranya itu, apa itu bakalan merubah keadaan? Gak kan? Kalau saya tidak setuju, saya bisa langsung saja kirim email ke KPI dan menyatakan keberatan dengan alasan ini, ini, dan ini. Terus saya minta KPI untuk mengatakan keberatan saya (dan mudah-mudahan orang-orang lain juga) ke stasiun tivi yang kabarnya akan menyiarkan acara itu. Ini lebih baik. Membicarakannya hanya akan membuat … pengen tahu hanya akan membuat apa?

Membuat orang bakalan semakin penasaran sama beritanya!

Itu intinya. Semakin orang penasaran sama beritanya, semakin orang bakalan mencari tahu lebih banyak, dan semakin banyak orang yang lebih mengerti kalau artis itu begini dan begitu. Artisnya makin terkenal, stasiun tivinya dapet kue iklan, artisnya mungkin akan mengeluarkan album dengan pertimbangan musiknya masih diminati dan dia tetap populer. Kita dapet apa? Gak ada! Kita cuman dapet capeknya doang udah ngomongin atau dengan kata lain: kita ini jadi pelaku viral marketing.

Viral marketing itu sederhananya bisa diterjemahkan sebagai usaha menjual sesuatu dengan mengandalkan kekuatan mouth to mouth, rumor, dan berita yang bikin penasaran.

Contoh elegannya sih yang paling saya inget waktu sebuah perusahaan games ingin mengeluarkan games terbarunya. Mereka menggunakan teknik viral marketing ini dengan membuat website (dadakan) tentang makhluk-makhluk mitologi (yang kabarnya) fosilnya berhasil ditemukan. Gegerlah dunmay sana. Gak geger-geger amat sih. Yang ngeh aja yang geger. Yang gak ngeh mah ya gak geger lah…. :lol:

Orang jadi semakin pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi. Website saja belum cukup. Mereka juga membuat ilmuan-ilmuan palsu yang kabarnya menemukan fosil itu, membuat foto fosilnya, dan semua yang diperlukan untuk membuat kabar ini seolah nyata. Ketika orang-orang sudah rada ngeh dengan makhluk mitologi itu, mulai ngomongin, mulai nyari tahu … diluncurkan deh itu games. Baru deh pada sadar kalo selama ini mereka ngomongin para villain di games itu. Asyik toh? :lol:

Gue kagak ngerti games, contoh yang laen ngapa!

Baiklah. Bagaimana kalo saya kasih contoh teknik viral marketing yang mungkin aja kamu jadi korbannya. :cutesmile:

Masih inget rumor kiamat 2012?

Masih dong yaaaa …

Tahukah kamu kalau rumor itu mulai ditiup-tiupkan di sekitar tahun 2007? Ketika produksi sebuah film baru saja dimulai?

Sebenarnya, para ahli suku Maya sudah ngeh dari kapan tau masalah kalender Maya yang diukir di batu dan katanya meramalkan kalau kiamat itu akan terjadi tahun 2012. Tapi gak pada ribut tuh. Nah, ketika sebuah film dengan tema itu akan diproduksi, tim marketing-nya dengan briliannya (ho-oh, saya bilang ini sangat brilian) menyebarkan isu itu dengan sangat halus dan bikin penasaran. Website-website yang menjelaskan itu mulai dibuat. Gak perlu banyak-banyak lah, kan ntar kalo udah pada rame ngomongin, bakalan banyak yang bahas dan nulis. Para ahli suku Maya yang dari dulu anteng-anteng aja pun terpaksa bicara. Hasilnya? Semua ribut.

Dan apa yang terjadi sodara-sodara? Film itu pun diluncurkan dengan penuh kegembiraan karena modalnya balik berkali-kali lipat. Iya dong, kan orang udah pada penasaran. Pengen liat dong kayak apa itu kiamat 2012.

Mau contoh yang lebih facepalm tapi membumi? :lol:

Gosip-gosip tentang para artis itu juga bentuk viral marketing kelas dudul. Mereka membuat isu ini-itu, rumor ini-itu, biar diwawancara dan masuk tivi. Nama mereka pun akan disebut-sebut oleh masyarakat. Karena mereka (keliatannya) terkenal, para produser (sinetron) pun akan tertarik buat bekerjasama dengan mereka.

Atau kebalikannya: para artis itu membuat isu ini-itu, kasus ini-itu, dan rumor ini-itu untuk mendongkrak penjualan tiket film yang mereka bintangi. Film cupu tentu saja. Film yang bagus tentu tidak akan menggunakan cara seperti itu untuk marketing-nya.

Trus hubungannya dengan judul yang “Just Stop Talk about It!” apah?

Hubungannya?

Stop talk about it adalah cara yang paling mujarab buat membendung viral marketing yang tidak baik. Bukan cuman viral marketing sih, berita yang tidak baik pun bisa dibendung dengan cara ini.

Ketika di luar sana terlalu banyak berita yang tidak menyenangkan tentang korupsi, politik kotor, kejahatan, dan lain sebagainya, saya memilih untuk stop talk about it! Bukan karena saya tidak peduli. Saya peduli, karena itu saya memilih untuk tidak membicarakannya.

Lho emang ngapa? Bukannya membicarakan hal itu malah menunjukkan kepedulian?

Iya. Menunjukkan kepedulian pada masalahnya, bukan pada solusinya. :cutesmile:

Ketika terlalu banyak berita tentang korupsi misalnya, membicarakannya hanya akan membuat kita depresi dan tidak percaya pada para pemimpin negeri ini. Kalo gak percaya aja sih gak apa-apa, kalo sampe membicarakan beliau secara pribadi dan menuduhkan kesalahan yang kebenarannya belum dibuktikan, itu kan namanya jadi fitnah.

Jangan sering-sering menghina orang lho … ntar salah-salah itu orang malah jadi mulia karena bersabar dengan hinaan. :lol:

Saya lebih suka kalau kita berfokus pada solusinya saja. Di luar sana banyak korupsi? Yuk ah, kita ngomongin tentang para pemimpin bangsa ini yang amanah seperti Pak Hatta. Kasih contohnya. Inspirasikan. Bikin orang-orang (dan kita sendiri) lebih terfokus pada hal-hal baik yang bisa dilakukan untuk mengubah hal-hal buruk yang udah kadung lengket di pikiran banyak orang.

Pak Hatta yang sederhana dan memukau.

Menginspirasikan itu lebih baik daripada ikut membicarakan hal-hal yang tidak baik.

Pernah denger jurnalisme positif? Baca deh tulisan Mas Yudha P. Sunandar ini. Tulisan ini memberikan penjelasan dan contoh yang gamblang tentang apa itu jurnalisme positif. Jurnalisme positif itu menginspirasi. Memberikan harapan. Kalau kita belum sampai ke sana karena satu dan lain hal, kita bisa memulainya dengan berhenti membicarakan hal-hal yang buruk.

Bagaimanapun, rantainya memang harus diputus. Just stop talk about it!

Itu kan untuk hal besar, buat hal kecilnya pigimana?

Sama aja. Kalau kamu gak suka dengan orang yang males-malesan, misalnya, ya jangan kemalasannya yang diomongin. Bicaralah tentang lawannya: bicara tentang tepat waktu, rajin, etos kerja. Bicara dengan nada yang positif dan penuh kekerenan juga dong. Bikin kalo kemalasan itu gak dapat tempat dan kedengeran gak keren lagi. Sederhananya gitu.

Lho, hubungannya sama ayakan dan timbangan? Di atas tadi lo ngomong ini ada hubungannya.

Ember cyyyn…. Ada hubungannya. :cutesmile:

Selama ini kan populer banget tuh ungkapan, “Ih, dese ngomongnya gak diayak!”

Sebenernya, menurut saya, omongan itu selain harus diayak, juga harus ditimbang. Gak semua yang lolos dari ayakan dan dianggap cukup positif untuk dibicarakan itu bisa diomongkan begitu saja. Ditimbang dulu dong ah. Apa itu perlu? Apa itu penting? Apa itu akibatnya akan baik? Kalo gak, ya balik lagi: just stop talk about it! Masih banyak hal-hal inspiratif, keren, dan baik lain yang bisa dibicarakan.

Seperti kata Ibu saya (saya harus ngasih kredit banyak banget nih buat Ibu saya karena omongannya sering banget saya kutip): semakin luas pergaulan, harus semakin sempit mulut kita.

Begitu.

Trus, hubungannya sama mixer dan oven?

Oh, kalo itu gak ada hubungannya. :lol:

Hari ini rencananya saya mau buat kue. Jadi, saya sudahi dulu post ngalor-ngidul saya kali ini. Kalo saya gak mulai ngejar target tulisan saya malem ini, bisa-bisa nanti siang saya gak ada waktu buat bikin kue.

Selamat hari Senin ya manteman. Semoga mulai Senin ini kita bisa mengurangi ngomong yang negatif. Apalagi sampai terlibat dalam viral marketing gak mutu.

Yuk ah, capcus.

Buh-byeee. :cutesmile:

 

2 Comments

  1. Milo
    Jul 22, 2012

    PERTAMAX LAGEEH!

    Baru tau loh kalo bakal ditayangin di tipi. Lagi tren yak? Kawin, ditayangin live, keluar penjara, ditayangin live.

    Jurnalisme positif? Well, bad news is good news. Lebih menjual, jadi lebih enak dikupas sedetail2nya. Biarpun kadang biasanya jadi gak proporsional dan gak objektif (jadi membentuk opini publik), yang penting banyak yang tertarik baca ato nonton.

    Tapi, kalo di blog, gapapa, kan, nulis nyang negatif.. Kan, buat curhat..

    • octanh
      Jul 26, 2012

      Yaaaah, curhat mulu. Sekali-sekali terima curhatan orang lah. Jadi konsultan kegalauan. :lol: Pasang tarif….

      Aku pernah nemu blog kayak gitu. Dia terima curhatan trus ngasih nasehat. Cumannya gak ngerti juga itu orang latar belakangnya gimana. Kalo ditarifin, lumayan kayaknya. Yang curhat di situ akeeeeh! :lol:

Trackbacks/Pingbacks

  1. #123: Plato’s Allegory of the Cave (Ngomongin tentang Persepsi Kenyataan dan Tuhan) | Octaviani Nurhasanah - [...] post saya sebelum ini, saya sempet menyinggung masalah pelajaran filsafat. Salah satu topik dari buku Republic-nya Plato [...]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)