#123: Plato’s Allegory of the Cave (Ngomongin tentang Persepsi Kenyataan dan Tuhan)

Dibaca 3,057 kali

Gambar minjem di mari.

 

Di post saya sebelum ini, saya sempet menyinggung masalah pelajaran filsafat. Salah satu topik dari buku Republic-nya Plato yang paling saya ingat adalah tentang allegory of the cave. Dari dua semester belajar filsafat, gak banyak yang nyantol di otak saya. Hehe…. Yang dipelajarin bukan filsafat yang gimana-gimana gitu sih, hanya pengantar filsafat. Tapi menurut saya, itu sangat menyenangkan.

Dari pengetahuan saya yang sedikit itu, ada baiknya saya bagi-bagi. Daripada dipendem sendiri, gak ada manfaatnya. Siapa tahu kalo dibagi-bagi ntar pemahaman saya ditambahkan sama Allah. Yaaa … itung-itung sedekah di bulan Ramadhan. Gak ada duit, sedekah pake ilmu yang sedikit. *ngarep*

Allegory of the cave ini adalah salah satu topik yang paling terkenal dari Plato. Intinya sih ngomongin tentang persepsi seseorang tentang kenyataan dan ini sangat menarik!

Plato. Gambar dipinjem dari sini.

Tapi sebelumnya, saya minta maaf dulu kalo saya penjelasan saya kurang lengkap, kurang dapat dipahami, atau kurang jelas. Saya jarang-jarang nulis tentang filsafat di (atau ini yang kali pertama ya?). Jadi, tulisan saya mungkin gak sebaik ketika saya menulis tentang make-up, resep, atau curhat. :lol:

Plato ini anak kampung mana yak?

Kalau manteman ada yang suka baca filsafat, pasti pernah mendengar nama Plato. Dia hidup antara tahun 427-347 SM. Kebanyakan dari karyanya berupa tulisan yang menggambarkan dialog antara Socrates dan orang-orang lain. Sebenarnya, tentang dialog Socrates dalam tulisan Plato sendiri masih merupakan perdebatan apakah benar Socrates yang melakukan dialog itu ataukah dialog itu hanya fiktif belaka. Kalau benar dialog itu pernah terjadi dan Socrates benar-benar melakukannya, maka Plato bisa disebut hanya menyalin omongan dan ajaran Socrates.

 

Socrates. Gambar minjem dari sini.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan mana yang benar sih. Kita serahkan saja pada ahli sejarah untuk menelitinya karena mereka lebih ahli dalam masalah itu. Peninggalan Plato sendiri, yaitu catatan-catatan pemikirannya, mempengaruhi banyak bidang ekonomi, pemerintahan, bahkan etika dan seni.

Kenapa sih dia bikin catetannya pake dialog gitu? Gak bikin kayak semacam paper kuliah aja gituh?

Plato membuat catatan dalam bentuk dialog untuk mempermudah orang memahami apa yang ingin disampaikannya. Dialog itu sendiri kadang melibatkan lebih dari dua orang sehingga membacanya mirip seperti membaca obrolan orang-orang di warung kopi. Untuk menjelaskan ide-idenya, Plato juga menggunakan analogi dan ilustrasi untuk memudahkan penyampaian ide itu ke orang-orang yang tidak terbiasa mendengar konsep-konsep filsafat.

Salah satu ilustrasi yang paling terkenal adalah tentang allegory of the cave ini. Ilustrasi ini digunakan untuk menjelaskan persepsi manusia tentang kenyataan. Setelah memahami tentang ilustrasi ini, kita akan mengerti dari mana datangnya sudut pandang kita yang berbeda-beda tentang suatu hal. Mungkin juga kita akan paham kenapa para utusan Allah itu selalu saja (pada awalnya) didustakan. Mungkin juga kita akan mengerti kalau tiap orang punya persepsinya sendiri, maka sia-sia saja memaksakan ide dan pemahaman tertentu kepada orang itu kalo dianya sendiri gak mau dipaksa.

Tapi, saya sendiri menyisakan pertanyaan untuk diri saya setelah memahami ilustrasi ini: apakah saya adalah salah satu dari tawanan di gua yang menolak untuk dibebaskan? :?:

Gue mulai bingung….

Jangan bingung dulu! Mulai aja belon kitah. :lol:

Yuk ah, kita mulai.

Jadi, allegory of the cave ini diceritakan dalam salah satu dialog panjang antara Socrates dan Glaucon. Versi lengkapnya, silahkan baca di sini. Tapi, untuk memudahkan, saya ringkas saja ya. Ribet ah, kudu disalin semua. Banyak bok! :T.T:

Ringkasannya kira-kira begini:

Bayangkan ada sekelompok orang yang tinggal dalam gua. Kaki dan tangan mereka diikat sehingga mereka tidak bisa bergerak dan hanya duduk diam menghadap ke dinding gua. Di belakang mereka, ada api unggun. Di antara api unggun dan para tawanan itu, ada sebuah jalan. Apapun yang lewat di jalan ini akan dipantulkan ke dinding di hadapan para tawanan tersebut.

Di jalanan itu, ada dalang (dalam tulisan aslinya disebut puppeteers) yang membawa tiruan hewan dan benda-benda. Hewan dan benda ini dipantulkan ke dinding di hadapan para tawanan itu dan dilihat oleh para tawanan sebagai bayangan dari benda asli. Para dalang ini juga membuat suara-suara yang bergema di dinding gua sehingga penampakan bayangan hewan atau benda itu menjadi makin “hidup” di dalam pandangan para tawanan.

Ilustrasi allegory of the cave pinjem dari sini.

Para tawanan ini berpikir bahwa apa yang dia lihat di dinding gua (yang aslinya hanyalah pantulan hewan dan benda yang dibawa oleh para dalang) dan suara yang bergema (yang juga dibuat oleh para dalang itu) sebagai kenyataan yang sebenarnya. Meteka tidak mengetahui apa yang terjadi di belakang mereka (yang dilakukan pleh para dalang itu). Bila salah seorang melihat bayangan buku, misalnya, mereka akan menyangka itu adalah buku betulan. Padahal itu hanya banyangannya saja. Para tawanan itu kemudian mempunyai persepsinya sendiri tentang realita. Apa yang sebenarnya hanyalah bayangan (yang dibuat oleh para dalang melalui pantulan api unggun di belakang gua) mereka anggap sebagai buku yang sebenarnya.

Plato’s point: the general terms of our language are not “names” of the physical objects that we can see. They are actually names of things that we cannot see, things that we can only grasp with the mind. (Kutipan diambil dari sini)

Sampai di sini, Plato ingin menunjukkan bahwa apa yang kita sadari sebagai nama dari benda itu bukanlah berasal dari benda yang kita lihat di kenyataan, tapi berasal dari benda yang sama yang ada di kepala kita. Penamaan benda itu sebenarnya merupakan sebuah persepsi tentang apa yang kita bayangkan di kepala kita tentang benda itu.

Lalu, pada suatu ketika, seorang tawanan dilepaskan ke dunia di luar gua. Pada awalnya, dia akan merasa sangat kesakitan karena tangan dan kakinya yang selama ini hanya diam terikat sekarang terpaksa bergerak. Matanya yang selama ini hanya menatap ke dinding gua, harus beradaptasi dengan cahaya matahari yang begitu terang. Dia melihat bahwa kenyataan yang sebenarnya itu bukan hanya berupa bayangan yang selama ini dia lihat di dinding gua. Kenyataan itu lebih dari itu! Apa yang dia lihat di dinding gua itu hanyalah refleksi dari sesuatu yang lebih nyata, besar, dan tinggi.

Ketika si mantan tawanan ini kembali ke gua, apa yang terjadi?

Karena dia sudah melihat (dan membandingkan) bahwa dunia di luar sana lebih nyata daripada dunia yang “ditampilkan” di dinding gua, bisa jadi dia akan berusaha membebaskan teman-temannya agar ikut melihat kenyataan yang sebenarnya. Tapi, karena teman-temannya masih mempercayai bahwa apa yang ada di dinding gua itu sebagai kenyataan, maka si mantan tawanan ini akan mengalami kesulitan meyakinkan teman-temannya itu. Dia akan dianggap sebagai orang aneh dan mungkin juga orang gila.

Dalam pandangan teman-temannya yang masih menjadi tawanan, membebaskan diri dan melihat dunia luar dianggap hanya kan mendatangkan kesakitan dan membuat orang jadi gila. Mereka mengambil kesimpulan seperti ini karena apa yang mereka lihat pada teman mereka, si mantan tawanan itu. Sementara si mantan tawanan itu melihat bahwa teman-teman mereka yang masih menjadi tawanan sebagai orang yang picik dan terus saja menerima apa yang tidak nyata. Yang kemudian terjadi adalah perbedaan pendapat yang tidak akan ada habisnya karena masing-masing punya persepsinya sendiri tentang apa yang nyata dan tidak, tentang apa yang benar dan yang tidak.

Sebenernya si Plato ini mau ngomongin apaan sih pake ilustrasi kayak begitu?

Pertama. Hal yang ingin disampaikan oleh Plato adalah tentang kenyataan tertinggi (form). Plato ini percaya bahwa ada kenyataan tertinggi yang mustahil kita persepsi secara langsung karena terpisah dari dunia nyata ini dan bentuknya hanya terbiaskan di dunia kita ini.

Misalnya saja sebuah meja.

Meja. Gambar minjem di mari.

Di depan kamu ada sebuah meja nih, misalnya. Meja ini dibuat oleh tukang kayu. Apa yang ada dipikiran tukang kayu ketika membuat meja ini adalah persepsi si tukang kayu terhadap “meja” yang ada di kenyataan tertinggi. Di dalam hatinya si tukang kayu sudah mengira-ngira bentuk meja yang ideal itu gimana dan dia berusaha membuat meja sesuai dengan apa yang dia persepsi sebagai meja yang ideal. Jadi, di sini kita menemukan tiga buah meja: meja yang ada di kenyataan tertinggi (yang bentuknya ideal dan hanya ada satu imaji), meja yang ada di pikiran si tukang kayu (yang merupakan persepsinya terhadap meja di kenyataan tertinggi yang antara satu tukang kayu dengan tukang kayu yang lain pasti lain persepsinya), dan meja yang sudah jadi—yang sekarang ada di hadapan kamu.

Kalau ada benda berbentuk segiempat atau lingkaran yang mempunyai kaki dan digunakan untuk tempat meletakkan sesuatu di atasnya, kita sepakat kalau itu adalah meja. Tapi bentuk meja yang sebenarnya, yang ada di kenyataan tertinggi, hanya Yang maha Tinggi lah yang tahu. Kita hanya menerima biasnya saja yang berusaha kita persepsi agar sedekat mungkin menyerupai meja di kenyataan tertinggi yang ideal itu.

Bayangan yang ada di dinding gua adalah perumpamaan dari meja yang dibuat oleh tukang kayu. Para dalang (atau puppeteers) itu adalah tukang kayu yang berusaha membuat bayangan yang menyerupai hewan dan benda yang ada di luar gua. Sementara hewan dan benda yang ada di luar gua itu adalah kenyataan tertinggi yang sebenarnya, yang berusaha dipersepsi oleh si dalang.

Jadi maksudnya apaan sih?

Kita kadang terjebak ketika memahami suatu hal seperti para tawanan di gua itu yang terjebak ketika mempersepsi apa yang mereka lihat di dinding gua. Mereka pikir itu adalah kenyataan, hal yang benar, hal yang mutlak, padahal itu hanya bayangannya saja dan bayangan itu pun hasil persepsi orang lain (dalang) tentang benda aslinya.

Kemampuan kita sebagai manusia diberikan Allah tentu bukan hanya sebatas sebagai pengamat dinding gua. Kita bisa menjadi tukang kayu yang mempersepsi apa-apa yang ada di kenyataan tertinggi (yaitu ilmu Allah) kalau kita benar-benar ingin belajar memahami itu. Perdebatan yang kadang terjadi antara satu aliran dengan aliran lain kadang, menurut saya, hanya memperdebatkan apa-apa yang ada di dinding gua. Saling berebut mencari pembenaran akan apa yang mereka lihat di sana. Padahal, mungkin saja kenyataan yang sebenarnya jauh dari bayangan mereka. Untuk itulah kita perlu belajar lebih banyak dan lebih dalam untuk hal apapun. Jangan karena sudah melihat satu hal yang mengagumkan di dinding gua lantas menganggap hal itu adalah hal yang paling benar.

Lanjut ya….

Kedua. Hal lain yang ingin disampaikan Plato adalah tentang adanya dunia lain di luar gua.

Ketika ada seseorang yang seumur hidup hanya melihat ke bayangan di dinding dan memahami itu adalah kenyataan yang sebenarnya lantas dilepaskan ke dunia luar, apa yang terjadi? Dia akan sangat merasa kesakitan. Akalnya akan menerima kenyataan baru itu sebagai sesuatu yang melampaui ilmunya. Kemungkinannya, kalau dia mau belajar beradaptasi, maka kesakitan itu akan dia terima dan berangsur-angsur menghilang sejalan dengan pemahamannya yang bertambah akan dunia luar yang baru itu.

Setelah dia memahami apa yang dia lihat di dunia luar sana, dia akan merasa mempunyai kewajiban untuk membebaskan teman-temannya yang masih menjadi tawanan di dalam gua. Dan itu bukan tugas yang mudah. Teman-temannya yang ada di dalam gua itu akan menganggap dia gila atau hilang akal karena menentang kenyataan yang ada di dalam gua (yaitu bayangan di dinding).

Contoh sederhananya sih terjadi pada para rasul yang awalnya didustakan padahal mereka sudah melihat kenyataan yang lain di dunia luar sana (melalui wahyu). Umat yang menolak untuk menerima persepsi baru dan memilih untuk mempertahankan keyakinannya yang salah itu seperti para tawanan gua yang hanya melihat bayangan di dinding dan merasa bahwa itulah kebenaran sejati. Semoga itu tidak terjadi pada kita.

Ketiga. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dijelaskan sekuat apapun kamu mencoba. Ini terjadi pada si mantan tawanan ketika kembali ke dalam gua. Bagaimana caranya menjelaskan tentang pohon yang berwarna hijau, ada daunnya, ada batangnya yang warnanya coklat, dan detail-detail lainnya pada para tawanan yang seumur hidupnya hanya melihat bayangan di dinding? Bayangan bahkan hanya mempunyai satu warna dan hanya punya dua dimensi?

Pohon dan bayangannya. Gambar pinjem dari sini.

Ketika kamu ngotot meminta penjelasan seperti apakah Tuhan itu, kamu tidak akan mendapatkan jawabannya karena Tuhan ada di dunia yang berbeda dengan kita. Tuhan ada di kenyataan tertinggi.

Tuhan menjelaskan tentang sifat-sifatnya di kitab suci untuk mempermudah kita memahami seperti apa Dia. Tapi, sekali lagi tapi, itu bukan Dia! Itu hanyalah sesuatu yang bisa kita persepsi sebagai sifat-Nya. Tuhan terlalu tinggi untuk dicapai dengan akal pikiran kita yang hanya selevel dengan para tawanan di gua.

Nah, trus gue harus gimana dong?

Kita ini adalah para tawanan di dalam gua itu. Ada beberapa dari kita yang dilepaskan dan melihat kenyataan tertinggi, dunia di luar gua. Mereka adalah para nabi dan rosul. Ketika mereka kembali ke dalam gua untuk membebaskan kita dari pemikiran sempit bahwa kenyataan hanyalah bayangan yang ada di dalam gua, kita bisa menolak dan bisa menerima. Tapi, kalau dilihat sekali lagi, yang menolak itu pastilah tawanan yang sangat rugi kan?

Kesulitan kita (sebagai tawanan gua) adalah menerima kebenaran ketika kita sendiri tidak bisa membuktikannya secara langsung dengan mata dan kepala kita sendiri. Kita tidak bisa melihat Tuhan, melihat surga, melihat neraka. Di situlah dibutuhkan iman. Iman itu seperti jembatan yang menghubungkan antara bayangan di dinding gua dengan dunia luar sana yang merupakan kenyataan tertinggi. Tidak semua hal itu bisa dijangkau oleh akal.

Inilah yang mau saya sampaikan kepada orang-orang yang tidak percaya Tuhan atau masih meragukan keberadaan Tuhan: kalian yakin kalau selain bayangan di dinding yang selama ini kalian lihat, tidak ada dunia yang lain? Kalau ternyata ada, gimana? :cutesmile:

Trus, untuk yang sudah percaya walaupun belum bisa melihat dunia di luar sana dan masih harus menatap bayangan di dinding, hidupnya pasti dipenuhi harapan untuk melihat benda-benda aslinya, bukan hanya bayangan saja.

Rasulullah sudah mengajarkan kita bagaimana percaya pada Allah, pada hal-hal di luar jangkauan akal kita. Sudah seharusnya kita percaya karena beliau sudah dibebaskan, diperlihatkan, dijadikan sebagai pemberi peringatan agar kita tidak lagi hanya menjadi tawanan gua yang hanya percaya pada bayangan di dinding gua. Kita menunggu untuk dibebaskan juga….

Itulah kerinduan. Kita rindu pada rumah kita, dunia yang sebenarnya, di luar sana….

Yuk ah, Ramadhan begini kan saat yang paling tepat buat berbenah diri. Biar kita bisa ikut keluar dari gua dan melihat dunia yang sebenarnya bersama orang-orang yang diridhoi Allah. Kan gak enak kalo orang-orang udah pada dibebasin trus kita masih tetep jadi tawanan.

Oh, saya mau bilang juga kalau belajar filsafat itu menyenangkan. Tapi memang perlu guru seperti halnya ketika kita belajar tafsir. Hal-hal yang kita persepsi sebagai kebenaran itu belum tentu benar, dan di sanalah peran guru itu diperlukan. Beliau akan memberitahukan kita mana yang benar dan mana yang salah.

Kalau saya dulu menanganggap belajar filsafat itu sia-sia, tidak seperti belajar ilmu lain yang lebih langsung terasa manfaatnya (seperti menjahit atau memasak, hehe….), saya mungkin tidak akan bisa memahami hal-hal yang saya jelaskan di atas sampai sejauh ini. Kalau ada yang salah dari penjelasan saya di atas, tolong dikoreksi ya. Namanya juga newbie. :T.T:

Udah dulu ya manteman. Saya kelinyengan nih nulis sebanyak ini. Semoga bermanfaat…. :cutesmile:

 

 

4 Comments

  1. Nurin
    Jul 27, 2012

    paling gak ngerti dengan filsafat. yang kutahu, temen-temenku jadi banyak yang ‘kekirian’ karena belajar ilmu ini. Hmm, tapi mungkin salah orangnya kali yak, soale aku tak melihat itu pada dirimu,

    • octanh
      Jul 27, 2012

      Filsafat itu kayak ilmu-ilmu yang laen juga sih: bisa dipake buat mendekatkan diri pada Allah atau buat ngeyelan. Tinggal gimana orangnya mau make. :cutesmile:

      • milo
        Jul 29, 2012

        *nimbrung ah!* Kalo dipikir2, filsafat itu bahaya. Memang, dasarnya filsafat itu bagus. Mengajak manusia berpikir. Tapi, kalau nggak didasari keimanan, bisa menjerumuskan. Kalo memang dasar keimanannya kuat, belajar filsafat aman2 aja.
        Kalo saya sih pusing belajar filsafat. Mikirnya berat. Sesuai motto saya, “Kamu berpikir maka kamu ada, kamu terlalu banyak berpikir maka kamu gila”. Jadi, takutnya kalo belajar filsafat saya jadi gila.

  2. Nino
    Jul 26, 2012

    Halooo…

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)