#139: Review Anime: Another

Dibaca 2,462 kali

Saya sudah lupa kapan terakhir menonton anime. Berhubung saya tidak terlalu suka dengan anime yang banyak adegan battle-nya, jadi sepertinya saya gak berjodoh dengan Naruto atau One Piece.

Tapi, minggu lalu saya—akhirnya setelah sekian lama—menonton anime juga. Sekali-kalinya nonton, saya malah nonton anime yang ceritanya horor. :die: Awalnya saya agak gimana gitu membayangkan anime kok ceritanya horor. Padahal biasanya anime itu punya sesuatu selalu saya tunggu: unspoken love. Nah, ini gimana caranya nyambungin antara unspoken love dengan horor? Keliatannya kok ya mustahil.

Saya merindukan adegan cewek dan cowok yang dengan dialog yang minimalis tapi gesture dan tatapannya mengisyaratkan kalau mereka jauh cinta. Tipikal scene anime yang gak akan ketemu di film Hollywood. Saya menemukan adegan kayak gitu juga sih di Another ini. Hanya saja, itu setelah rentetan scene gore…. :die:

Ceritanya menarik menurut saya. Tapi yaaa … lagi-lagi, tipikal horor Jepang, ceritanya tentang kutukan. Ju-On juga bercerita tentang kutukan. Cumannya, Another ini menyampurkan antara kutukan, school-life, dan keistimewaan yang dimiliki salah seorang tokohnya: Mei Misaki.

Dari mana ya ceritanyaaa…. *mikirin cara nyeritainnya tanpa spoiler*

Hmm, baiklah.

Kouici Sakakibara baru saja pindah ke Yomiyama dan melanjutkan sekolahnya di sana ketika dia menyadari bahwa ada yang aneh di sekolahnya itu. Awalnya, ada beberapa anak yang mengunjungi Kouici di rumah sakit (Kouchi ini harus dirawat sehingga melewatkan beberapa hari pertama sekolah) dan mereka menanyakan berulang-ulang apakah Kouici pernah tinggal di kota itu sebelumnya. Ketika Kouici mengatakan bahwa itu pertama kalinya dia datang ke Yomiyama setelah dia dilahirkan di sana dan ibunya meninggal ketika melahirkannya.

Kondisi di sekolah pun membuat Kouici penasaran. Ada seorang anak yang sepertinya dikucilkan oleh anak-anak lain, namanya Mei Misaki. Kouici pernah bertemu dengan Mei Misaki di rumah sakit sebelumnya, ketika itu Mei Misaki ingin ke ruang bawah tanah rumah sakit untuk mengunjungi “sebagian dirinya yang lain”.

Mei Misaki akhirnya menceritakan bahwa dia adalah non-existent. Awalnya Sakakibara menganggap Mei seperti hantu yang berkeliaran di sekolah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya kecuali dia sendiri. Tapi ternyata bukan hanya itu. Ada rahasia besar antara Mei Misaki yang non-existent dengan peristiwa 26 tahun yang lalu. Ketika salah seorang murid yang sangat disukai guru dan murid-murid lain meninggal dan mereka tidak bisa menerima hal itu. Salah seorang murid bahkan mengatakan bahwa murid yang meningal itu amsih ada di kelas dan masih duduk di bangkunya. Semua orang pun akhirnya melakukan hal yang sama: menganggap dia masih ada. Bahkan keadaan itu dipertahankan sampai kelulusan dan sekolah tetap menyediakan bangku untuk murid itu di upacara kelulusan. Bagian yang paling mengerikan adalah: murid yang sudah meninggal itu muncul di foto bersama kelulusan bersama dengan murid-murid yang lain seolah-olah dia masih hidup. Hal ini mengawali kutukan yang terus-menerus menghantui kelas 3-3 di sekolah itu.

Ide dan plotnya memang cukup kuat. Hanya saja, buat saya, sub-plot tentang Mei Misaki dan ibu tirinya terlalu banyak memakan tempat tanpa memberikan kontribusi terlalu banyak pada ceritanya. Apalagi keistimewaan yang dimiliki Mei Misaki hanya digunakan diakhir saja. Padahal—lagi-lagi menurut saya—seandainya keistimewaan Mei Misaki ini dieksplorasi lebih dalam, bukan hanya bisa digunakan untuk membuat ceritanya lebih hidup, tapi juga lebih seram. Serius deh. :T.T:

Saya juga merasa motif pembunuhan di episode-episode akhir rasanya masih kurang kuat. Masak gitu doang sih? Dan rasanya kurang masuk akal kalau tiba-tiba saja seseorang yang lemah lembut bisa membunuh dan tega membunuh hanya karena alasan itu. Seharusnya ada pendorong yang lebih kuat. Menurut saya aja sih ini. Soalnya saya melihat hal-hal itu terlihat begitu “digampangkan” saja. Padahal, walaupun memang dasarnya anime ini horor dan gore, butuh lebih dari sekedar ketakutan untuk membuat tokohnya menjadi sadis. Harus ada pendorong yang lebih kuat sehingga saya—sebagai penonton—merasa terlibat lebih dalam dengan emosi para karakternya.

Di luar itu, anime ini bagus menurut saya. Saya rekomendasikan untuk ditonton penggemar horor, gore, dan anime. :cutesmile:

Saya belom nonton versi OVA-nya. Kalau saya udah nonton, bolehlah nanti post ini saya update lagi. Sekarang, segini dulu ya.

Buh-bye…. :cutesmile:

2 Comments

  1. Chaca
    Jan 2, 2013

    Aku nggak ngedong sama endingnya :T.T:

    • octanh
      Jan 2, 2013

      Sama. Endingnya kurang nampol. Padahal karakternya udah kuat. :cry:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)