#149: The Blink Moment

Dibaca 1,416 kali

 

Saya sedang menyusui Baby Thaariq ketika perempuan itu datang, jadi ibu saya yang kemudian membukakan pintu. Ketika ibu saya menyuruhnya masuk dan menyilahkan duduk, ibu saya lalu ke belakang untuk membuat minum. Saya mendekati ibu saya dan bertanya siapa yang datang. Ibu saya malah berkata, “Ada yang aneh di orang itu. Caranya aneh. Orangnya tinggi hati, pengatur, gak mau kalah. Dia bisa bikin masalah sebentar lagi. Kamu gak akan cocok sama dia.” Itu pertama kalinya ibu saya bertemu dengan perempuan itu. Saya gak percaya. Menurut saya dia manis, ceria, dan walaupun memang kelihatan lelah dan agak terlalu dibuat-buat kalau bicara.

Sampai beberapa waktu kemudian, memang ada masalah dan ketahuan karakter aslinya perempuan itu. Baru deh saya beneran percaya sama kata-kata ibu saya. :cutesmile:

Dua atau tiga tahun sebelum kejadian ini, saya sempat membaca buku Malcolm Gladwell yang berjudul Blink—dan sekarang bukunya hilang entah kemana. Di buku itu diceritakan tentang kesan pertama yang dialami semua orang (tergantung sensitifitas, pengalaman, dan database informasinya terhadap objek sejenis) yang membuat mereka mengalami “blink moment”: moment di mana orang bisa merasakan sesuatu—beres atau tidak—dari sebuah objek hanya dengan melihatnya beberapa detik saja.

Kamu pasti pernah juga mengalami yang kayak gitu deh. Misalnya kamu pertama kali liat orang, trus tiba-tiba hati kecil kamu merasakan sesuatu tentang orang itu. Tapi biasanya gak terlalu kamu gubris. Tapi biasanya lagi, itu memang benar. Kayak semacam firasat kali ya…. :cutesmile:

Kalau kamu penonton setia acaranya Oprah Winfrey, kamu pasti tahu ada istilah “oh moment” yang pernah dibahas panjang-lebar di salah satu episodnya Oprah Show. “Oh moment” ini adalah saat di mana seseorang bisa mencium sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Misalnya aja kamu kenalan sama cowok di Metromini yang duduknya sebelahan sama kamu trus kamu ngerasain “oh moment” kalau cowok ini cowok gak beres. Mungkin tukang hipnotis, tukang mesum, atau tukang copet. Pada saat itu kamu langsung pindah duduk.

Tapi, dalam kehidupan percintaan—halah—kita suka mengabaikan “oh moment” ini. Misalnya kita udah ngerasa cowok ini bakalan gak baik, kasar, agak aneh, atau punya kebiasaan buruk lainnya tapi tetep keukeuh macarin atau nikahin dia demi cinta. Yang mana pada akhirnya pas sifat aslinya kebuka, kita malah menerimanya sebagai “kekurangan” yang mau gak mau harus diterima. Padahal, kalau mau, kita bisa menghindari “kekurangan” itu dengan menghindari orangnya sekalian—yang juga akan membuat kita terhindar dari masalah. Tapi yaaa … kadang cinta bersuara lebih keras daripada suara hati sendiri. :cutesmile:

Jadi “Oh Moment” Sama “Blink Moment” Itu Sama Aja Gitu?

Sepertinya demikian.

Tapi “oh moment” lebih mengindikasikan saat di mana kita harus waspada karena ada sinyal bahwa ada yang gak beres, sementara “blink moment” lebih ke sekilas informasi yang kita terima—sadar gak sadar—tentang suatu subjek tertentu. Gak harus informasi jelek lho. Yang bagus juga bisa. :cutesmile:

Waktu nulisin tentang pengalaman saya dan ibu saya di atas, saya jadi keingetan Miss Marple. Itu lho, perawan tua yang ada di novelnya Agatha Christie. Miss Marple ini kerjaannya cuman ngeteh sore-sore sambil ngobrol di sana-sini, tapi biasanya dia punya sense tertentu sama orang-orang yang dijadikan bahan gosip. Saya paling suka membaca deskripsi orang-orang yang dia temui. Biasanya dia akan menyamakan orang yang satu dengan orang yang lain. Misalnya waktu melihat Miss A untuk pertama kalinya, dia teringat akan seseorang dari desanya yang punya kisah hidup seperti Miss A. Trus nanti dia menyama-nyamakan antara kedua orang itu.

Miss Marple punya prinsip bahwa sebenarnya orang-orang itu sama saja. Semua orang yang pernah dia temui akan ada versi lainnya di orang lain. Tidak sulit untuk menilai orang-orang baru dari database orang-orang lama yang pernah dia kenal.

Itu intinya: database.

Karena Miss Marple gak punya kerjaan lain selain pergi ke sana-sini untuk ngeteh di sore hari dan bergosip, dia jadi punya banyak database kisah dan sifat orang-orang. Biasanya sih, dari database dia yang banyak itu, pasti ada yang sama. Buat Miss Marple, gak ada hal yang benar-benar baru. Semuanya hanya versi baru dari apa-apa yang sudah ada.

Saya suka Miss Marple. :cutesmile:

Emangnya Si Miss Marple itu Mengalami “Blink Moment” Juga Gitu?

Iya.

Tapi dia sadar apa yang sedang terjadi dan bagaimana menggunakannya.

Kalau kayak kita-kita kan biasanya pas ngeliat sesuatu, bukan cuman orang lho ya—bisa rumah, barang-barang, mobil, apapun—dan punya perasaan tertentu yang terasa begitu saja pas pertama kali ngeliat, kita gak terlalu menyadari dan ngerti apaan itu sebenernya.

Ada contoh kasus lagi. Kali ini dari buku Blink, jadi saya gak bisa nyeritain persis sama karena bukunya gak ada. :T.T: Tapi saya masih inget-inget ceritanya.

Sewaktu petugas sebuah museum menerima patung yang katanya berasal dari masa Romawi Kuno, petugas museum itu melongo sebentar trus bilang, “Fresh.”

Dia  sendiri gak paham kenapa dia bilang begitu. Tapi perasaannya mengatakan kalau itulah yang pertama kali terasa dan terkesan ketika melihat patung itu. Dan ternyata setelah patung itu diteliti lebih lanjut, memang bukan berasal dari masa Romawi Kuno. Tapi dari sekitar awal abad ke 20—yang mana berarti museumnya kena tipu saking mirip dan sempurnanya patung tiruan itu. Tapi tetap saja, yang namanya perasaan gak bisa ditipu. Tinggal sesensitif apa perasaan itu sampai bisa aware sama hal-hal kayak gitu.

Gimana Caranya Bisa Aware?

Ini juga pertanyaan saya…. :die:

Tapi, kamu pernah gak meratiin kalau orang-orang tua biasanya punya feeling tertentu dan biasanya itu benar?

Misalnya saja ibu saya beberapa waktu lalu punya feeling gak enak tentang cowok yang menjadi pacar adik saya dan ternyata setelah beberapa bulan cowok itu emang gak beres. Dan itu tidak terjadi sekali saja. Selain kasus saya (yang saya ceritakan di atas tadi) dan kasus adik saya itu, masih ada beberapa kasus lain yang semua polanya sama: ibu saya sudah melihat ada yang gak beres sedari awal.

Tapi setelah saya tanya sama ibu saya sih, katanya feeling kayak gitu bisa ada karena dia udah lihat dan bertemu banyak orang, jadi bisa tahu mana yang beres mana yang gak beres. Just like Miss Marple…. :cutesmile:

Kurang ilmiah ya penjelasannya?

Ada penelitian ilmiahnya kok. Versi lengkapnya bisa dibaca di sini. Saya nyeritain singkatnya aja ya.

Sekelompok peneliti dari Universitas Iowa melakukan penelitian ini beberapa tahun yang lalu. Mereka melakukannya ke sekelompok orang yang biasa bermain kartu. Kartu yang digunakan dibagi menjadi empat tumpukan: dua tumpukan yang berwarna biru dan dua yang merah. Tumpukan yang berwarna merah adalah kartu “minefield”. Reward yang didapatkan dari kartu ini lebih besar dari kartu yang berwarna biru tapi kalau kalah, kalahnya juga besar.

Para pemain diperbolehkan bermain sampai kartu ke 50.

Menjelang kartu ke 40, para pemain ini sudah memperlihatkan bahwa mereka menyadari apa yang terjadi dengan mereka kalau mengambil kartu yang berwarna merah. Jadi, mereka lebih suka mengambil kartu berwarna biru yang lebih aman.

Percobaan ini diulangi lagi dengan menggunakan lie detector untuk mengukur produksi keringat di telapak tangan. Keringat di telapak tangan kita diproduksi lebih banyak kalau kita sedang stress atau sedang berbohong. Makanya dalam keadaan stress berat, kita suka merasakan kalau telapak tangan kita basah oleh keringat.

Lie detector menunjukkan bahwa stress mulai terjadi di kartu ke 10. Para pemain kartu itu sudah menyadari ada yang tidak beres dengan kartu di tumpukan merah sejak saat itu. Tapi mereka belum menunjukkan tanda bahwa mereka benar-benar yakin apa yang sebenarnya terjadi. Mereka benar-benar yakin di kartu ke 40 dan seterusnya. Di antara kartu ke 10 dan 40, mereka mempelajari apa yang terjadi.

“Blink moment” itu sudah terjadi di kartu ke 10. Tapi, kenyakinan bahwa “blink moment” itu benar, baru terjadi di kartu ke 40.

Udah keliatan kan?

Yang membuat kita yakin akan feeling kita kalau ada sesuatu yang gak beres itu tidak kita dapatkan begitu saja. Kita mempelajarinya. Miss Marple bertemu dengan banyak orang. Petugas museum itu sudah melihat begitu banyak patung sejenis.

Trus Hubungannya Sama Hidup Gue Apa?

Harus ya dihubungkan sama hidup kita?

Iya sih, ngapain bikin tulisan panjang-lebar kalo kagak ada manfaatnya…. :die:

Sebenarnya, kita sudah punya alarmnya, tapi kadang kita masih gak yakin bagaimana menggunakannya. Bahkan kadang kita gak yakin kalau alarmnya berbunyi di saat yang tepat.

Untuk orang seumuran saya, mungkin alarm ini gak sesensitif dan seoke punya ibu saya—apalagi punya Miss Marple. Tapi saya tahu bahwa dalam keadaan tertentu, sebenarnya saya bisa merasakan ada sesuatu yang gak beres dalam satu atau dua kali pandang saja. Yang saya perlukan sekarang adalah database yang memadai untuk membuat apa yang saya rasakan itu bukan cuman sekedar feeling tapi juga pertanda yang logis dan bisa diukur (dan ditarik referensinya) biar saya bisa terhindar dari hal-hal yang sebenarnya gak perlu terjadi.

Misalnya, kalau dalam pandangan pertama saya sudah melihat kalau seseorang yang baru saya temui itu punya “something fake on his/her”, seharusnya saya gak usah terlalu percaya. Atau ketika masuk ke sebuah rumah kosong yang mau saya kontak trus saya merasa rumah ini ada yang gak beres, sebaiknya saya gak usah ngontrak di sana karena ketika kuliah tingkat satu dan saya nekat ngontrak di situ dengan teman-teman saya, ternyata rumahnya berhantu…. :die:

Atau ketika ada barang tertentu dengan harga agak miring ditawarkan sama saya seharusnya saya mencari tahu lebih banyak lagi karena bisa jadi itu barang KW yang diaku-aku ori…. :die:

Atau untuk cewek-cewek yang galau akan cinta di luar sana, kalau kamu sudah menemukan hal yang gak beres dan emang terasa gak beres waktu kamu lagi penjajakan dengan cowok, coba deh untuk mikir lagi. Soalnya saya udah nemu beberapa kasus kalau sesuatu yang kamu anggap kecil (kalo dibandingkan dengan cinta) itu bakalan berdampak besar ketika kamu sudah menikah dan pernikahan butuh sesuatu yang lebih dari sekedar cinta.

Misalnya saja salah seorang kenalan saya nekat menikah dengan pria berumur 30-an tahun yang pas pertama kali saya lihat kayaknya agak gimanaaa … gitu. Benar saja, beberapa bulan kemudian baru ketahuan kalau pria itu sudah beristri dan punya anak. :die:

Atau salah seorang teman saya yang menganggap kalau dipukul dan dicaci-maki pacar itu biasa dan berharap pacarnya bisa berubah setelah menikah nanti akhirnya malah masuk ke masalah yang lebih besar: KDRT.

…dan banyak yang lainnya….

Kamu tahu kok kalo ada yang gak beres di situ. Kamu juga tahu kalau sesuatu yang gak beres itu memang bisa dilihat dari awal. Hanya saja, kadang kamu gak yakin. Tapi kalo gak yakin kan seharusnya diperiksa dan diteliti ulang, bukan dimaklumi dan diterima begitu saya.

Kita berhak atas hal-hal yang baik. Kita juga berhak untuk menghindari dan menjauhi hal-hal yang gak baik. Kita berhak untuk melindungi diri kita sendiri.

Yah, begitulah kira-kira…. :cutesmile:

Betewe, saya gak lagi ngajarin kamu biar curigaan dan berprasangka buruk sama orang-orang lho ya. Saya cuman pengen kamu tahu (cieee….) kalau perasaan kamu itu pun bisa dijadikan benteng pertahanan pertama kalau ada kejadian buruk yang mau datang. Kamu bisa menghindari kejadian buruk itu kalau mau. :cutesmile:

Udah dulu ya, semoga tulisannya jelas. Saya lagi agak sakit beberapa hari ini. Jadi males nulis sama ngapa-ngapain deh. Kerjaan saya cuman gegoleran doang. Semoga saya cepat sembuh…. *ngedo’ain diri sendiri*

See you.

Take care.

Jangan sampe sakit. :cutesmile:

Sakit itu gak enak. :die:

Buh-bye….

Gambar dipinjam dari Flower Story Community.

15 Comments

  1. Lusi
    Sep 6, 2012

    Wah, Blink itu salah satu buku favorite saya. Itu perkenalan sy dg Gladwell sebelum sy tertarik dg buku dia lainnya. Banyak hal-hal ajaib yg baru sadari mungkin terjadi setelah baca buku itu.

  2. ulie
    Sep 5, 2012

    nice post…
    kunjungan perdana Saya
    silahkan mampir ke blog saya dan tinggalkan komentarnya ya :-D

  3. nique
    Sep 2, 2012

    aku gak tau miss marple tetapi aku percaya dengan BLINK MOMENT (BM) dan sering mengalami, pernah juga tulis kejadiannya, tapi waktu itu gak tau klo istilahnya BM :)

    karena bapa saya juga sering mengalami hal yg sama, jadi kami sering bertukar cerita. dan menurutnya, setiap orang bisa mengasah kemampuan mendeteksi / mengasah rasa secara otodidak aja.

    • octanh
      Sep 5, 2012

      Miss Marple itu keren…. :cutesmile: Dia salah seorang tokoh detektif di novelnya Agatha Chistrie. Tapi ya gitu deh, gaya dia memecahkan kasus itu gak kayak detektif lainnya. Dia bukannya nyari barang bukti atau apa gitu, dia malah minum teh sambil ngegosip saban sore. :die: Nanti hasil gosipnya kadang dipake buat mengungkap siapa pembunuhnya gitu. :lol: Tapi hebatnya, biasanya Miss Marple lebih cepat dan tepat nyari pelakunya dibanding polisi.

    • octanh
      Sep 5, 2012

      Miss Marple itu keren…. :cutesmile: Dia salah seorang tokoh detektif di novelnya Agatha Chistrie. Tapi ya gitu deh, gaya dia memecahkan kasus itu gak kayak detektif lainnya. Dia bukannya nyari barang bukti atau apa gitu, dia malah minum teh sambil ngegosip saban sore. :die: Nanti hasil gosipnya kadang dipake buat mengungkap siapa pembunuhnya gitu. :lol: Tapi hebatnya, biasanya Miss Marple lebih cepat dan tepat nyari pelakunya dibanding polisi.

    • octanh
      Sep 5, 2012

      Miss Marple itu keren…. :cutesmile: Dia salah seorang tokoh detektif di novelnya Agatha Chistrie. Tapi ya gitu deh, gaya dia memecahkan kasus itu gak kayak detektif lainnya. Dia bukannya nyari brang bukti atau apa gitu, dia malah minum teh sambil ngegosip saban sore. :die: Nanti hasil gosipnya kadang dipake buat mengungkap siapa pembunuhnya gitu. :lol: Tapi hebatnya, biasanya Miss Marple lebih cepat dan tepat nyari pelakunya dibanding polisi.

  4. BlogS of Hariyanto
    Sep 2, 2012

    sepertinya blink moment ini kalau tidak disikapi dengan hati-hati bisa menjadi prasangka negatif kepada orang yang kita temui…, maka sebaiknya berhati-hati sajalah untuk bermain dengan blink moment…jangan sampai mengatakan ini adalah blink moment tetapi ternyata hanyalah prasangka saja, demikian juga sebaliknya :)

    • octanh
      Sep 5, 2012

      Ehmmm … Blink Moment itu memang prasangka, firasat. Saya juga menulis untuk hati-hati sama prasangka biar jangan jadi prasangka buruk. :cutesmile:

  5. and.i.try
    Aug 31, 2012

    Aku juga sukaaaa Miss Marple! Kalau mencoba ingat-ingat sisa ilmu waktu kuliah dulu, semua orang punya default scenario di otaknya. Skenario itu terbentuk berdasarkan “database” yang dikumpulkan selama ini dalam hidup. Semakin kenal banyak orang, semakin sering observasi, databasenya akan lebih kaya…
    mungkin ini yang orang bule suka bilang “trust your gut” (kenapa juga gut ya? Gut kan isi perut?) atau percaya sama “hati”…
    salam kenal yaa, nice post

    • octanh
      Sep 1, 2012

      Salam kenal juga! :cutesmile:

      Aku juga suka sama Poirot. Cuman kalo Poirot kayaknya detektif banget gitu. Kalo mbaca yang Miss Marple rasanya kayak mbaca novel biasa (bukan detektif) tapi ada yang mati. :lol:

  6. Nurin
    Aug 31, 2012

    Aku juga sering ngerasain kayak gini mbak. Seperti pas cari rumah kontrakan, kadang gak sepenuhnya berdasarkan logika. dI satu tempat aku ngerasain hawa aneh banget, meski tempatnya bagus dan ternyata gak ada apa-apa disana. Tapi ya itu, kalau udah perasaannya gak enak aku langsung gak mau. Dalam masalah cinta -halah- kadang belum tahu orangnya aja, dulu kalau udah ngerasa gak enak banget ya langsung tolak juga. Kayaknya tiap orang emang punya yang kayak gini ya?

    Eh iya, tadi pas beberes ruangan kantor, aku nemuin catatan yang dari mbak, tentang naskah Chocolate itu. Jadi buku mbak dan mas Budi itu pegimane kabarnya? udah dibukuin belum sih?

    BTW, semoga cepat sembuh ya. Cipika-cipiki –>

    • octanh
      Sep 1, 2012

      Tiap orang pasti punya kayaknya insting kayak gitu. :cutesmile:
      Gak ada kabarnya entuh naskah. Ditolak penerbit trus terbengkalai…. :T.T:
      Dicipika-cipiki ntar malah nular lhoooo…. *lap ingus*

  7. ray sastri
    Aug 31, 2012

    oh, begitu.. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)