#153: Tentang Adaptasi Novel ke Film dan Sebaliknya (Singkat Ajah)

Dibaca 1,457 kali

Gambar dipinjam dari sini

Maksud hati pengen bikin judul yang memukau, apa daya bakat tak ada. :cry:

Lupakanlah judulnya yang lebih mirip dengan judul sinetron gagal. Kita langsung bahas saja apa yang sebenarnya pengen saya omongin di sini.

Saya sering membaca di beberapa review film, kalau ada film yang diadaptasi dari novel, si reviewer akan bilang: ceritanya tidak seperti novelnya. Atau: novelnya lebih bagus. Atau: Filmnya gak menggambarkan novelnya dengan baik. Dan yang sejenis dengan itu.

Memang itu pendapat pribadi. Apalagi kalau sudah membaca novelnya, maka sangat mungkin kalau menonton versi adaptasinya ke film, akan muncul komentar seperti itu. Film dibandingkan dengan novel.

Tau masalahnya?

Masalahnya adalah: film dan novel itu dua hal yang berbeda.

Kita tidak hanya bicara bentuk, medium, cara penceritaan, bahasa yang digunakan, atau pun unsur-unsur yang lain, kita juga bicara pada tahapan yang paling sederhana: film dan novel (atau sastra pada umumnya) adalah dua cabang seni yang berbeda. Membandingkannya dengan cara seperti itu tidaklah fair. Sama saja dengan membandingkan dua orang seniman yang sedang mengambil inspirasi dari setangkai bunga, misalnya. Seniman patung akan membuat patung bunga dan seniman lukis akan membuat lukisan bunga. Fair-kah kalau patung dan lukisan dibandingkan dengan tumplek-blek seperti itu walaupun sumber inspirasinya sama?

Bahasa film itu berbeda dengan bahasa novel. Mereka—walaupun sama-masa mendeskripsikan dan menceritakan—tapi bicara dengan cara yang berbeda dan punya kekhasan dan keunikan masing-masing.

Tau masalah lainnya lagi?

Masalah lainnya adalah: selera.

Tidak semua orang suka membaca buku. Tidak semua orang suka menonton film. Tidak semua orang juga suka membaca buku dan menonton film.

Orang yang lebih suka membaca buku dan kebetulan sudah membaca sebuah novel yang punya versi adaptasi filmnya kemungkinan akan lebih menyukai (menyukai lho ya, bukan lagi masalah bagus atau gak bagus) versi bukunya. Itu sudah keniscayaan kayaknya. Dan gak ada yang salah kalo udah ngomongin pilihan begitu.

Kalau ada yang suka dua-duanya—saya suka dua-duanya—yaaa … memang susah sih buat gak membanding-bandingkan. Tapi, melihat kedua medium penceritaan tadi (film dan novel) sebagai dua karya yang berbeda dan berusaha menilainya secara fair memang syusyeh! Paling fair sebenarnya, kalau mau membandingkan antara sebuah film, bandingkanlah dengan film sejenis, bukan dengan versi novelnya. Begitu pula sebaliknya.

Masalah selera ini, beneran deh, gak bisa diperdebatkan. :cutesmile:

Kalau saya gak suka jeruk dan demen bener ama duren, saya gak bisa—dan gak ada gunanya—mendebat temen saya yang cinta mati sama jeruk dan mual pas nyium bau duren. Mau didebat kayak apa juga, saya gak akan mau melewatkan duren di depan mata saya! *tekad*

Eh, kok kayaknya tulisan saya udah mencakup semua poin yang mau saya omongin yak? Singkat bener…. :T.T:

Yaudah deh yak. Pokoknya gitu deh…. *geje*

Saya pengen perpanjang lagi tentang film language dan gaya penceritaan dalam sastra, tapi kapan-kapan aja yak.

*ngeloyor pergi dengan tidak bertanggung-jawab*

9 Comments

  1. Muna Sungkar
    Nov 13, 2013

    Setuju… Masing2 punya kelebihan n kekurangan sendirian ku sih kl udh kadang baca novel nya kita udh punya imajinasi sdr, setelah nonton film yg tyt beda dgn imajinasi kita psti kecewa. Aku ga pernah baca novel harry Potter spy ga merasa :> kecewa pas nonton film nya (alesan pdhl xm pgn liar wsjsh Daniel Radclife) :>

    • octanh
      Nov 15, 2013

      Iya. Karena genrenya beda, gak adil juga kalo dibanding-bandingkan. :D

  2. Milo
    Sep 13, 2012

    Tanya Mas Amin, gih :p

  3. Milo
    Sep 11, 2012

    *tarik mb octa, iket, paksa lanjutin cerita pilem ama nopel*

    • octanh
      Sep 11, 2012

      Bok, kita di rumah lagi saling tular-menularkan penyakit ini. Si Sinung baru aja kena radang (ketularan aku). Aku baru aja sembuh tapi malah ganti jadi meriang. Si Sinung kemaren meriangnya gegara bikin video klip buat lomba nyanyi Mars BPS di tepi pantai di kala senja gitu deh….

      Jadi gak mood buat mikir berat-berat. *halah*

      Kami harus mikir gimana caranya ngebawa si Sinung ke dokter ntar sore. Aku gak bisa naek motor…. *malah curhat*

      • Milo
        Sep 11, 2012

        Naek becak, Qaqa.. Ato, kalo banyak duit yang ga kepake, sewa taksi.. Eh, ada taksi ga, sih, di sana? *dimutilasi mb Octa*

      • octanh
        Sep 11, 2012

        Dokternya jauh. Ada kali 2 km. Mau pergi semua ini, sekeluarga. 5 orang. Udah kayak mau tamasya. :lol:

        • milo
          Sep 11, 2012

          Pinjem mobil dines yang platnya *34* aja dah :D

          • octanh
            Sep 13, 2012

            *mikir lama*

            Itu mobil dinasnya sapah yang nomer 34? *lemot*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)