#162: Pada Awalnya dan Akhirnya Semua adalah Cerita, Takita (Membalas Surat dari Takita)

Dibaca 2,875 kali

Surat ini saya tulis untuk membalas surat dari Takita. :cutesmile:

Dear Takita…. :cutesmile:

Takita Apa kabar? Semoga baik-baik dan sehat selalu di sana ya.

Membaca surat yang berisi mimpi dan harapan Takita itu seperti membuat saya tersadar bahwa banyak hal kecil yang sebenarnya sangat menyenangkan tapi sudah lama hilang hanya karena kita menganggapnya tidak keren lagi atau karena tidak punya waktu. :T.T:

Pada awalnya semua adalah cerita, Takita. :cutesmile:

Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia bercerita rencana-Nya kepada para malaikat. Tuhan pun mengajarkan kita dengan cerita yang dikisahkan di kitab suci. Menjelaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Memperlihatkan akibat dari setiap perbuatan melalui cerita tentang kaum-kaum terdahulu.

Pada awalnya semua adalah cerita, Takita. :cutesmile:

Ketika saya kecil dulu, saya ingat Ayah saya suka bercerita tentang burung-burung puyuh yang berusaha mencari jalan pulang kembali ke sarangnya setelah pepohonan di hutan ditebangi. Itu hanyalah cerita karangan beliau. Tapi saya tahu, Ayah saya mengharapkan itu jadi lebih dari sekedar cerita buat saya dan adik-adik saya. Beliau berharap saya akan menjadikannya pelajaran bahwa kita tidak boleh mengganggu tempat hidup makhluk lain.

Setelah saya besar, saya menyadari bahwa apa yang ingin Ayah saya sampaikan lebih besar dari itu: beliau ingin saya juga tidak mengganggu hidup sesama saya, bukan hanya hidup burung puyuh.

Cerita sederhana itu kemudian menjadi membekas-berakar menjadi lebih dari sekedar cerita.

Pada awalnya semua adalah cerita, Takita. :cutesmile:

Ketika begitu banyak orang-orang yang mempunyai imajinasi tentang hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang lain dan menuliskannya. Mereka mengawetkan cerita itu menjadi tulisan agar bisa disimpan lebih lama.

Apapun yang kita baca, kita dengar, bahkan yang kita lihat adalah cerita.

Kita membaca buku—walaupun bukan buku fiksi—juga merupakan cerita. Buku nonfiksi itu juga menceritakan sesuatu. Hanya saja karena bukan cerita yang dikarang, dibuat, dan disusun berdasarkan kejadian fiksi dengan naratif dan kaidah sastra, bukan berarti tidak menceritakan sesuatu. Buku fisika menceritakan tentang perjalanan elektron di sebuah atom juga merupakan cerita.

Kita mengobrol dengan orang lain saja sudah merupakan kegiatan bercerita. Kita menceritakan sesuatu. Kita mengatakan kata-kata dan kalimat yang dirangkai menjadi sebuah cerita padu yang akhirnya dimengerti oleh orang itu.

Kita melihat sesuatu juga seperti menyerap cerita. Misalnya kita melihat pemandangan yang indah. Kepala kita akan merangkai pemandangan yang indah itu menjadi kata-kata dan pemahaman yang mungkin hanya kita sendiri yang merasakannya. Tapi itu tetaplah sebuah cerita.

Terkadang cerita tidak perlu diceritakan dan menceritakan sesuatu, Takita. Kadang dia hanya cukup dirasakan saja….

Pada awalnya semua adalah cerita, Takita. :cutesmile:

Dan cerita yang sudah mulai dilupakan itu—seperti yang tertulis di surat Takita—adalah cerita yang diceritakan oleh Ayah dan Bunda kita dengan kasih sayang. Yang mereka ceritakan karena mereka ingin kita mengetahui suatu hal dengan bimbingan mereka. Cerita seperti ini kadang tidak bisa kita temukan dimana-mana. Bukan tentang ceritanya, Takita. Toh ceritanya banyak yang sudah dituliskan kembali di buku-buku dongeng dan bisa dibeli oleh siapa saja. Tapi tentang kasih sayangnya. Tentang kehangatannya. Tentang cerita itu yang maknanya bercampur dengan cinta karena mereka yang menceritakannya.

Bukan tentang ceritanya sendiri, Takita. Tapi karena mereka, orangtua kita, yang menceritakannya.

Seperti saya yang belajar tentang burung-burung puyuh dengan kasih sayang ayah saya, tentu rasanya akan beda bila saya hanya mempelajarinya dari buku dongeng dan buku biologi. Tidak ada suara ayah saya di sana. Tidak ada perhatiannya. Tidak ada keinginannya yang saya pahami—dia ingin saya jadi anak yang lebih baik dan manis.

Saya sendiri berusaha merencanakan waktu mendongeng untuk anak-anak saya, Takita. Bukan meluangkan waktu lho. Waktu luang itu kan kesannya sisa waktu yang tidak dipakai untuk pekerjaan lain yang dianggap lebih penting. Sementara mendongeng saya masukkan di aktifitas yang sama pentingnya dengan hal lain seperti membaca buku atau belajar.

Dongeng yang saya ceritakan hanya dongeng biasa saja. Kadang saya mengambil dari dongeng yang sudah saya hafal atau menciptakannya sendiri selagi menceritakannya.

Yang saya harapkan ketika bercerita mungkin sama dengan apa yang diharapkan oleh ayah saya dulu ketika mendongeng untuk saya: saya ingin anak-anak saya belajar sesuatu dengan kasih sayang dan akan mengingatnya sampai mereka besar.

Karena, Takita….

…pada akhirnya semua adalah cerita. :cutesmile:

Kita juga hanya akan menjadi cerita yang akan diceritakan kembali oleh anak-anak kita kepada anak-anak mereka kelak. Kita hanya akan meninggalkan cerita. Kita hanya akan menjadi cerita….

Dan kalau waktu itu datang Takita, saya ingin menjadi cerita yang baik, unik, lucu, menyenangkan, penuh kasih sayang, lembut, dan mengagumkan untuk anak-anak saya. Saya ingin mereka mengingat kalau ada malam-malam di kehidupan mereka ketika saya menceritakan tentang kisah-kisah petualangan yang indah kepada mereka. Ketika mereka mengingat itu, saya juga ingin mereka mengingat betapa saya menyayangi mereka.

Maaf ya kalau surat saya kepanjangan, Takita.

Salam untuk Ayah dan Bunda Takita. Semoga mereka sehat selalu ya. :cutesmile:

2 Comments

  1. dapurhangus
    Sep 24, 2012

    Suratnya bagus banget mbak :)

    • octanh
      Sep 25, 2012

      Makasih, Mbak. Mau ikut dukung Takita juga? :cutesmile:

Trackbacks/Pingbacks

  1. Surat dari Takita: Mimpi-mimpi Takita - Blog Indonesia BerceritaBlog Teman Takita - [...] Pada Awalnya dan Akhirnya Semua adalah Cerita, Takita dari kak Octaviani Nurhasanah (Sulawesi Selatan) [...]
  2. Surat dari Takita: Mimpi-mimpi Takita | Blog Teman Takita - [...] Pada Awalnya dan Akhirnya Semua adalah Cerita, Takita dari kak Octaviani Nurhasanah (Sulawesi Selatan) [...]
  3. Surat dari Takita: Mimpi-mimpi Takita - Blog Indonesia Bercerita - [...] Pada Awalnya dan Akhirnya Semua adalah Cerita, Takita dari kak Octaviani Nurhasanah (Sulawesi Selatan) [...]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)