#164: Suatu Hari di Persahabatan Kami Itu….

Dibaca 2,394 kali

Selasa itu, 10 tahun yang lalu, seperti berjalan seperti biasanya. Saya pergi ke sekolah dengan membawa buku SPP dan dompet yang berisikan semua uang saya. Saya memang biasa menyatukan semua uang jajan saya yang tidak seberapa itu di sebuah dompet agar mudah diambil kalau dibutuhkan. Saya juga membawa dompet itu kemana-mana.

Ketika jam istirahat, saya tersadar kalau uang bayaran dan semua uang di dompet saya hilang. Saya tidak tahu kemana perginya. Saya juga tidak paham bagaimana buku SPP dan dompet yang tersimpan di tas saya itu bisa ditemukan oleh orang lain.

Saya pun risau….

Saya tidak punya uang untuk ongkos pulang. Padahal saya harus menumpang angkot dua kali untuk sampai ke rumah. Setidaknya saya butuh uang sebanyak Rp. 1.000,- agar bisa sampai di rumah. Saya bingung. Saya tidak terbiasa meminjam uang. Jangankan meminjam uang, menceritakan kondisi keuangan saya saja rasanya risih.

Namanya Eny…. :cutesmile:

Dia duduk tepat di bangku di belakang saya. Kami sudah lama bersahabat. Dengan mudah dia bisa tahu kalau ada sesuatu yang mengganggu saya. Dia bertanya. Tapi saya menjawab kalau saya tidak apa-apa.

Ketika jam pulang sekolah, saya benar-benar cemas. Bagaimana saya bisa pulang ke rumah. Eny pun bertanya lagi. Saya pun menceritakan detail kehilangan uang saya. Saya sendiri sebenarnya tidak yakin uang saya dicuri. Jangan-jangan uang itu hilang secara tidak sengaja karena keteledoran saya sendiri.

Eny lalu mengeluarkan selembar uang lima ribuan dari saku roknya. Dia memberikannya pada saya. Dengan perasaan tidak enak, saya mengambilnya. Eny bilang, saya bisa mengembalikan uang itu kalau saya sudah punya uang untuk menggantinya. Bulan depan juga boleh, ketika saya mendapatkan kiriman dari orangtua saya di Riau. Saya merasa sangat tidak enak karena saya tahu kondisi keuangan Eny juga tidak lebih baik dari saya. Eny tinggal dengan kakaknya yang bekerja untuk membiayai sekolahnya. Tapi saya menerimanya juga daripada harus pulang jalan kaki. Saya pun berjanji untuk menggantinya secepat saya bisa. (Dari SD sampai SMA, saya tinggal di Jakarta dengan Tante sementara orangtua saya di Riau. Mereka mengirimkan uang sebulan sekali.)

Saya dan Eny pun berpisah di depan tempat menunggu angkot. Rumah Eny cukup jauh juga, tapi hanya perlu naik angkot satu kali dan arahnya berlawanan dengan angkot yang mau saya naiki.

Keesokan harinya, Eny tidak masuk sekolah. Saya kira Eny sakit.

Keesokan lusanya juga tidak…. :T.T:

Sementara saya menggunakan uang yang dipinjamkan Eny kepada saya untuk ongkos sekolah selama tiga hari sampai orangtua saya mengirimkan uang tambahan untuk mengganti uang bayaran dan ongkos selama sebulan.

Hari Jum’at Eny masuk sekolah. Saya bertanya apakah dia sakit. Eny bilang, tidak. Saya mendesaknya mengatakan kenapa dia tidak masuk karena saya memang cemas selama dua hari kemarin.

Eny bilang, dia tidak masuk sekolah karena tidak punya ongkos. Dia memberikan semua uang yang dia punya kepada saya. Dia bisa masuk sekolah hari ini karena kakaknya baru gajian. Dia melakukan itu karena dia tahu saya pasti harus menunggu kiriman uang dari orangtua saya selama beberapa hari.

Saya pun langsung memeluknya…. :cry:

Dia bilang tidak apa-apa. Toh dia bisa mencontek catatan saya agar tidak ketinggalan pelajaran dan selama tiga hari kemarin tidak ada ulangan.

Sampai sekarang, saya tidak bisa melupakan hari itu. Saya benar-benar baru paham kalau sahabat yang mau melakukan hal berat buat kita itu memang ada. :T.T:

Tapi sekarang saya sudah kehilangan kontak dengan Eny. Terakhir saya dengar dia sudah menikah. Kalau Eny atau siapapun yang mengenal Eny membaca tulisan saya ini, sampaikan pada Eny kalau saya mencarinya ya.

Saya ingin mengenang lagi suatu hari di persahabatan kami itu. Saya juga ingin berterimakasih lagi padanya. :cutesmile:

Coz friendship never ends!

5 Comments

  1. ennykus
    Nov 23, 2012

    namaku Eny *dilempar sepatu* 8)

    • octanh
      Dec 1, 2012

      Nama doi juga Enny Kusrini. N-nya dua. Orang yang namanya Eny (atau Enny) Kusrini emang baek-baek. *gak jadi ngelempar pake sepatu* *ganti ambil highheels* *asah dulu heels-nya biar tajem* :D

  2. octanh
    Sep 27, 2012

    Gak ada di FB ama twitter. Doi gatek kayaknya…. :cry:

    Yah, kagak seru itu mah diceritain. Gitu-gitu doang. Asyikan nyeritain Selayar. :lol:

  3. milo
    Sep 27, 2012

    Nama lengkapnya Eny siapa? Cari di Facebook atau Twitter atau Google. Kali-kali aja dia juga punya blog kaya Mbak Octa.

    Btw, kayanya Mbak Octa belum pernah cerita sejarah tinggal di Jakarta yak? *kepo*

    • Santi Artanti
      Sep 27, 2012

      Wah, Eny baik sekali ya. moga segera ketemu lagi sama sahabat lamanya :)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)