#166: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 1/4)

Dibaca 966 kali

Ketika Orde Baru diruntuhkan di tahun 1998, korupsi adalah salah satu hal yang ingin diberantas setelah kolusi dan nepotisme. Pemerintahan Orde Baru dianggap punya masalah dengan ketiga hal itu—dan akhirnya membuat kehidupan masyarakat menjadi sangat menderita ketika krisis ekonomi terjadi.

Tapi ternyata, meruntuhkan pemerintahan Orde Baru saja tidak cukup untuk melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pemerintahan yang ada setelah tahun 1998 sampai sekarang masih berjuang dengan hal yang sama. Ketika KPK didirikan sebagai lembaga yang mempunyai kewajiban untuk menyelidiki kasus korupsi, mulailah satu per satu kasus muncul ke permukaan. Kasus korupsi yang membuat masyarakat terbelalak: sebanyak itulah jumlah uang yang diambil oleh oknum pelaku korupsi untuk memakmurkan dirinya sendiri? Sementara masih banyak masyarakat Indonesia yang bahkan masih kesulitan untuk makan.

Di tulisan ini, saya hanya akan membahas masalah korupsi saja. Kolusi dan nepotisme juga sama mengerikannya seperti korupsi, hanya saja, beberapa tahun belakangan dengan mulai diterapkannya profesionalisme di badan dan instansi pemerintahan, dua hal tersebut sudah mulai terlihat berkurang—walaupun tidak bisa dikatakan benar-benar habis. Khusus untuk korupsi, sampai hari ini masih merupakan masalah besar yang sepertinya kasusnya masih saja banyak. Itu pertimbangan saya.

Sebagai ibu rumah tangga biasa, tindakan nyata saya untuk mencegah korupsi bisa dibilang tidak banyak. Tidak sebanyak orang-orang yang memang langsung berkecimpung di lingkungan badan atau instansi pemerintahan atau orang yang punya hubungan kerja dengan mereka. Menulis tentang korupsi bisa dibilang sebagai tindakan nyata yang bisa saya lakukan. Semoga orang-orang yang membaca tulisan saya bisa mendapat pemahaman baru. :cutesmile:

Selain itu, karena suami saya PNS dan saya otomatis menjadi anggota Dharma Wanita, korupsi juga bisa dicegah dari sana. Misalnya dengan tidak menggunakan uang kantor untuk mensubsidi kegiatan Dharma Wanita yang sebetulnya tidak terlalu penting, contohnya: jalan-jalan dan makan-makan. Dharma Wanita sendiri sudah mempunyai dana yang dialokasikan dari keuangan kantor dan itu sangat cukup untuk membiayai kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan agenda Dharma Wanita sendiri. Saya merasa senang menjadi anggota Dharma Wanita yang ketuanya sangat hati-hati dan tegas dalam hal ini.

Menulis tentang korupsi–pengertian dan segala yang ada di dalamnya–buat saya sangatlah perlu. Bagaimana kita bisa memberantas sesuatu yang kita tidak tahu dengan pasti sebenarnya itu apa. Dengan memahami bentuk dan pengertian korupsi, orang akan lebih mudah untuk menghindarkan diri dari korupsi. Apalagi di lingkungan yang sudah terlalu banyak tindak korupsinya, kadang terjadi kebingungan mana yang korupsi mana yang tidak.

Semoga tulisan saya ini bisa membantu…. :cutesmile:

Korupsi: Definisi dan Pengertian

Saya pikir, ada baiknya kita mulai dengan pengertian korupsi. Ketika kita mengatakan kata “korupsi”, kita tentu harus paham dengan benar apa maknanya sehingga kita bisa memilah antara korupsi dan bukan korupsi. Tidak semua hal yang berhubungan dengan pengambilan uang untuk memakmurkan diri sendiri untuk disebut korupsi lho. :die:

Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio. Corruptio sendiri berasal dari kata dari bahasa latin yang lebih tua: corrumpere. Dari bahasa latin ini, kemudian diserap oleh bahasa Eropa lainnya. Misalnya saja di bahasa Inggris disebut: corruption, corrupt. Di bahasa Perancis: corruption. Di bahasa Belanda: corruptie, korruptie. Kata korupsi yang dipakai di Indonesia itu pertama kali diambil dari bahasa Belanda karena hukum pidana yang dipergunakan di Indonesia adalah warisan Belanda.

Arti korup menurut KBBI: busuk, palsu, suap.

Arti korupsi menurut KBBI: penyuapan, pemalsuan.

Arti korup menurut Kamus Hukum, 2002: buruk, rusak, suka menerima uang sogok, menyelewengkan uang atau barang milik perusahaan atau negara, menerima uang dengan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi.

Arti korupsi menurut Kamus Hukum, 2002: penyelewengan atau penggelapan uang negara atau uang perusahaan sebagai tempat seseorang bekerja untuk kepentingan pribadi atau orang lain.

Menurut pasal 2 UU No. 20 tahun 2001, korupsi adalah perbuatan melawan hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri atau orang lain (perseorangan atau korporasi) yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara.

Kalau kita ambil garis besarnya, sebuah tindakan bisa dikategorikan sebagai tindakan korupsi, jika:

  1. Secara melawan hukum
  2. Memperkaya diri sendiri atau orang lain
  3. “dapat” merugikan keuangan negara

Secara melawan hukum maksudnya: walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan (atau bisa dikatakan melawan hukum formil), namun kalau perbuatan tersebut dianggap tercela oleh konsensus etika dan norma yang ada di masyarakat (atau bisa disebut juga melawan hukum materiil) dan tidak sesuai dengan rasa keadilan, maka perbuatan tersebut bisa dipidanakan.

Untuk poin ke-tiga, kata “dapat” ditandai karena apabila semua unsur yang disebutkan sudah terpenuhi, maka perbuatan tersebut sudah bisa dikatakan sebagai korupsi. Keuangan negara yang dirugikan bisa dianggap akibat dari perbuatan tersebut. Ada atau tidaknya akibat ini, tidak bisa menjadi patokan apakah perbuatan tersebut disebut korupsi atau tidak. Untuk beberapa kasus yang poin pertama dan keduanya sudah terpenuhi walaupun poin ketiganya tidak terpenuhi (atau harus melewati penyelidikan lebih lanjut) sudah bisa dianggap sebagai perbuatan korupsi—dan tentu saja sudah bisa dipidanakan.

Secara sederhananya, kita bisa mendefinisikan korupsi sebagai perbuatan penggelapan yang mengakibatkan kerugian negara. :cutesmile:

Haruskah mengakibatkan kerugian negara? Bagaimana dengan perbuatan penggelapan yang terjadi di perusahaan swasta yang tidak merugikan keuangan negara? :?:

Perbuatan tersebut bisa dipidanakan sebagai perbuatan pidana biasa. Korupsi menjadi lebih spesial karena adanya keterlibatan uang masyarakat yang dibayarkan lewat pajak dan kegiatan penggelapan uang masyarakat ini di bahan hukum atau instansi pemerintahan. Kerugian uang negara yang timbul dari korupsi tidak saja berimbas pada kegiatan pemerintahan, tapi juga kehidupan masyarakat di sebuah negara. Itulah mengapa tindakan korupsi bila dilihat dari sudut pandang ini bisa terlihat lebih jahat dan mengerikan dibandingkan kejahatan penggelapan lainnya.

Saya sendiri merasa bahwa korupsi dan koruptor sudah menjadi eufimisme dari kata perampok, pencuri, atau maling uang negara. Korupsi dan koruptor terdengar lebih halus dan seolah merupakan tindakan kriminal yang tidak lebih jahat dibanding mencuri uang tetangga. Padahal, bila dilihat dampaknya, korupsi yang dilakukan oleh koruptor jelas-jelas lebih jahat dan efeknya lebih besar.

Seandainya kata korupsi dan koruptor ini diganti saja jadi maling, perampok, atau pencuri uang negara untuk menjelaskan dengan lebih eksplisit sehingga para koruptor kasta kejahatannya bisa menjadi lebih rendah dibanding maling, pencuri, atau perampok biasa.

Lanjutan dari tulisan ini:

#167: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 2/4)

#168: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 3/4)

#169: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 4/4)

0 Comments

Trackbacks/Pingbacks

  1. #169: Korupsi: Dari Pekenalan sampai Putus Hubungan (bagian 4/4) | Octaviani Nurhasanah - [...] #166: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 1/4) [...]
  2. #167: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 2/4) | Octaviani Nurhasanah - [...] #166: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 1/4) [...]
  3. #168: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 3/4) | Octaviani Nurhasanah - [...] #166: Korupsi: Dari Perkenalan sampai Putus Hubungan (bagian 1/4) [...]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)