#179: PLN: Lighting Our Life, Enlightening Our Heart

Dibaca 1,482 kali

 

Sepertinya listrik sudah ditakdirkan menjadi bagian dari kehidupan manusia bahkan jauh sebelum manusia menyadari kalau listrik itu memang ada dan bukan hanya sekedar fenomena aneh. Ketika seorang ilmuan Yunani, Thales (635-545 SM) menggosok-gosokkan batu ambar ke permukaan kain sampai batunya terasa agak hangat dan ternyata batu tersebut bisa menarik bulu unggas yang ringan dan halus, Thales belum menyadari kalau itu adalah listrik.

Terbentang masa yang sangat jauh dari awalnya listrik hanya dikenal sebagai sebuah fenomena sampai dipergunakan untuk membantu manusia untuk hidup lebih baik. Di tengah bentangan masa itu, bisa kita masukkan kisah Benjamin Franklin yang nekat main layangan di tengan hujan hanya untuk membuktikan kalau petir juga mengandung listrik—dan untungnya dia gak mati kesamber. :cutesmile:

Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya kalau di jaman sekarang ini kita hidup tanpa listrik sementara sebagian besar barang-barang di rumah kita memerlukan listrik untuk bisa bekerja.

Bahkan di kampung nenek saya, di pedalaman Riau di tepi Sungai Rokan, yang belum terjamah oleh PLN karena membutuhkan usaha yang lebih untuk membawa listrik sampai ke sana dengan menyeberangi Sungai Rokan yang lebar itu, kehidupan masyarakatnya bahkan sudah sangat tergantung pada listrik. Mereka—walaupun masih bisa dibilang agak terpencil—tapi tetap bisa menikmati siaran televisi dengan bantuan genset dan parabola, punya DVD player, punya kipas angin, dan alat-alat elektronik lainnya.

Sebelum saya mulai menuliskan harapan saya untuk PLN, ada baiknya kalau saya membahas dulu tentang PLN dan sejauh apa perubahan positif yang sudah dilakukan PLN sampai sejauh ini. Jadinya saya bisa melihat dengan jelas mana yang masih bisa diharapkan dan mana yang sudah tidak perlu diharapkan lagi—karena PLN sudah memenuhinya dengan baik. :cutesmile:

Kenapa Sih PLN Menjadi Satu-satunya Penyedia Layanan Listrik di Indonesia Raya Ini?

Benar sekali. PLN adalah satu-satunya penyedia layanan listrik di negara kita. Kelihatannya seperti monopoli yang menyenangkan ya? Padahal gak lho, tanggung-jawabnya berat. Keberadaan PLN sebagai satu-satunya pemasok listrik di negeri ini sudah diatur dalam UUD 45. :cutesmile:

Syahdan, pasal 33 UUD 45 sudah mengatur bahwa:

(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Ayat kedua dari pasal inilah yang menjadikan PLN sebagai satu-satunya penyedia layanan listrik di negara kita. Status PLN adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BUMN adalah badan usaha—karena statusnya badan usaha maka dengan jelas usahanya ditujukan untuk mencari keuntungan—yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan (UU No. 11 Tahun 2003).

Dengan statusnya sebagai BUMN, maka keuntungan PLN pun akan menjadi milik negara. :cutesmile:

Gambar mobil pelayanan PLN di Kepulauan Selayar. 

Emang Ngapain Sih Negara Pake Ngediriin BUMN Segala?

Indonesia tidak menyerahkan semua urusan pengelolaan sumber daya alamnya ke swasta untuk memaksimalkan SDA itu untuk kepentingan rakyat. Teorinya sih begitu…. :cutesmile: Tapi saya masih optimis negara kita dan pemerintahnya—terlepas dari sebaik atau seburuk apa kinerjanya—masih melakukan hal ini. PLN misalnya, walaupun di masa lalu PLN terkenal sebagai BUMN yang mempunyai banyak masalah, tapi semakin ke sini, saya melihat PLN juga semakin banyak berbenah. Kita memang tidak bisa melihat hasilnya secara cepat karena untuk BUMN yang menangani kebutuhan listrik dari Sabang sampai Merauke, tentulah dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.

 BUMN didirikan negara setidaknya untuk lima alasan:

  1. Memberikan sumbangan pada perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya.
  2. Mengejar keuntungan.
  3. Menyelenggarakan kemanfaatan umumberupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak.
  4. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi.
  5. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.

Sumber: Pedoman Good Corporate Governance PT. PLN (Persero)  

PLN yang Dulu Itu….

Karena PLN adalah satu-satunya BUMN di negara kita yang mempunyai tugas mengurusi ketersediaan listrik, maka sangat rentan terhadap korupsi. Korupsi inilah yang sedang diberantas dari dalam oleh PLN. Masalah dari luar juga banyak: pencurian listrik, keterlambatan pembayaran listrik oleh pelanggan, banyaknya wilayah yang belum terjangkau oleh listrik PLN, dan sebagainya.

Bagian depan kantor PLN Ranting Kepulauan Selayar.

Banyak ya yang harus dibenahi oleh PLN…. :mewek:

Tapi, PLN yang dulu itu memang berbeda dengan PLN yang sekarang. Setelah Dahlan Iskan menjadi CEO PLN  dan melakukan banyak perbaikan dari dalam, PLN menjadi lebih baik. Walaupun sekarang Dahlan Iskan tidak lagi menjadi CEO PLN, tapi PLN tetap bertekad untuk memperbaiki diri secara terus-menerus. Kita harus mendukung dan menghargai itu. :cutesmile:

Kok Bisa Sih Korupsi Menjadi Masalah PLN?

Menurut pasal 2 UU No. 20 tahun 2001, korupsi adalah perbuatan melawan hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri atau orang lain (perseorangan atau korporasi) yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara.

Jadi, korupsi hanya bisa terjadi (kalau melihat dari pengertian di atas) kalau keuangan atau perekonomian negara dirugikan, karena itulah BUMN rentan terhadap kasus korupsi. Dan ini tidak hanya terjadi di PLN saja. :cutesmile:

Korupsi akan membuat dana yang ada di dalam BUMN tersebut menjadi milik koruptor, padahal seharusnya dana tersebut digunakan untuk pengembangan dan perbaikan pelayanan kepada masyarakat. Inilah alasannya mengapa korupsi harus diberantas dan PLN sudah berkomitment untuk memberantasnya.

Pedoman Perilaku PLN (Sumber: Website PLN)

Gimana Cara PLN Memperbaiki Diri?

Menurut Al-Qur’an kan, sebaik-baiknya orang adalah yang memperbaiki diri. Nah, sebaik-baiknya BUMN adalah BUMN yang memperbaiki diri…. 8)

PLN membuat Good Corporate Governance (GCG) sebagai pedoman untuk perbaikan diri.

  Konsep mendasar Good Corporate Governance adalah agar perusahaan dikelola dan dijalankan secara bertanggung jawab agar memberikan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) terutama pemegang saham, karyawan, dan masyarakat secara keseluruhan di mana perusahaan beroperasi. Oleh karena itu, diharapkan agar seluruh anggota PT PLN (persero) menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan dan citra Perusahaan erat terkait dengan sikap, perilaku, dan kinerja seluruh jajaran PT PLN (Persero).

Sumber: Pedoman Good Corporate Governance PT. PLN (Persero)  

Jadi, PLN lebih dulu membentuk pedoman perubahan diri mereka. Dengan pedoman ini akan lebih mudah menggiring perubahan ke arah yang lebih baik dengan teratur dan terukur. Isi dari GCG ini adalah pedoman sikap menurut etika dan peraturan yang berlaku bukan hanya untuk pekerja di PLN, tapi juga untuk pimpinannya. Pedomannya juga tidak hanya mengatur tentang hubungan-hubungan di dalam PLN saja, tapi juga antara PLN dan orang-orang di luar PLN seperti masyarakat, media massa, dan pelanggan pada umumnya.

Pedoman Perilaku PLN (Sumber: Website PLN)

Good Corporate Governance dan Pandangan Saya sebagai Pelanggan

Saya mendukung apa yang ditulis dan dirumuskan PLN dalam CGC-nya. Semuanya bagus dan oke menurut saya. Saya harap apa yang sudah dirumuskan dengan begitu rapi dan baik ini juga dijalankan dengan rapi dan baik. Misalnya saja komitmen PLN untuk mengantisipasi kebutuhan pelanggan dengan baik, saya harap ini benar-benar dilakukan dengan baik. Misalnya dengan mengumumkan jadwal pemadaman listrik agar pelanggan bersiap-siap. Iya sih, pelanggan pasti bakalan ngedumel, tapi setidaknya bisa mempersiapkan segala sesuatunya sebelum pemadaman terjadi.

Tujuan Penerapan Good Corporate Governance bagi PT PLN (Sumber: GCG Manual PT PLN Persero)

Saya tinggal di sebuah pulau yang pasokan listriknya tidak merata. Misalnya saja, di daerah yang agak terpencil dan sulit dijangkau (karena jauh dan medannya sulit), listrik tidak sampai ke sana. Saya mengerti bahwa karena medan dan jarak membutuhkan usaha besar dan juga biaya untuk menyalurkan listriknya, sehingga usaha untuk menyalurkan listrik ke tempat itu juga butuh waktu lama. Tapi, setidaknya PLN menjelaskan kapan dan bagaimana rencana itu direalisasikan sehingga masyarakat melihat adanya harapan listrik akan masuk ke daerah mereka.

Di daerah terpencil itu, listrik didapatkan dari genset yang listriknya dialirkan ke rumah-rumah penduduk dengan jumlah yang kecil, sekitar 50 watt per rumah. Pemilik genset memungut biaya sekitar Rp. 50.000,- per bulan untuk setiap rumah. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana caranya hidup dengan listrik hanya 50 watt setiap hari dan hanya mulai dinyalakan selepas maghrib. Tapi itulah kenyataannya.

Saya kira hal seperti ini tidak terjadi di tempat saya saja. Masih banyak tempat-tempat di Indonesia Raya ini yang pasokan listriknya belum merata padahal dengan adanya listrik banyak sektor usaha yang bisa maju dan dikembangkan di daerah itu.

Itu harapan saya yang paling besar: pemerataan pasokan listrik.

Saya mendukung ajakan PLN untuk berhemat listrik—walaupun saya akui kadang saya masih sembrono menggunakan listrik di rumah. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk menghemat biaya pemakaian (dan ini menjadi keuntungan buat pelanggan), tapi juga bisa membantu mengurangi pemadaman bergilir dikarenakan pasokan listrik yang tidak memadai.

Tentang Pencurian Listrik Itu….

Karena mahalnya listrik dan kebutuhan listrik yang sangat tinggi, kadang oknum pelangan melakukan pencurian listrik. Saya beberapa kali menemukan hal ini. Saya sebagai pelanggan, merasa tindakan ini sangat tidak bisa dibenarkan. Pertama karena mencuri itu jelas-jelas perbuatan yang tidak baik. Yang kedua, pencurian listrik tentu saja akan merugikan PLN yang pada akhirnya akan merugikan pelanggan lain. Pendapatan PLN dari biaya langganan listrik, jadi berkurang karena pencurian ini. Padahal pendapatan PLN itulah yang akan digunakan untuk merawat pasokan listrik, membangun pembangkit listrik, memperbaiki aliran listrik yang terganggu, dan lain sebagainya.

Agak tidak adil kalau kita terus-menerus meminta PLN untuk berbenah diri dan melakukan pelayanan yang baik apabila kita sebagai pelanggan tidak melakukan hal yang serupa: jujur dalam penggunaan listrik (tidak mencuri listrik atau mengakali meteran listrik) dan membayar biaya langganan tepat waktu.

Sinergi antara pelanggan dan PLN dalam hal ini mudah-mudahan bisa membuat PLN bisa lebih cepat menyelesaikan masalah pasokan dan pemerataan pasokan listrik di Indonesia. PLN juga perlu didukung karena bagaimanapun, sebagai satu-satunya pemasok listrik di negara kita, PLN bisa dikatakan milik rakyat juga yang modalnya didapat dari uang rakyat.

Yuk, dukung PLN…. :cutesmile:

Apa Aja yang Udah Dilakukan PLN untuk Meminimalisir Pencurian Listrik dan Kecurangan Lainnya?

PLN sudah meluncurkan Program Listrik Pintar. Seperti pulsa pra-bayar konsepnya: bayar dulu baru pakai. Dengan sistem ini, pelanggan bisa mengatur sendiri pemakaian listriknya dan sehingga jatuhnya memang lebih hemat. Kelihatannya memang agak repot ya, harus membeli voucher isi ulang dan sebagainya, tidak seperti langganan listrik konvensional yang membayarnya cukup per bulan saja dengan konsep pakai dulu baru bayar dan membayarnya pun sangat mudah: bisa lewat ATM. Hanya saja, dengan menggunakan Listrik Pintar ini pelanggan akan lebih menyadari dan berhati-hati pada pemakaian listriknya. Semua bisa dihitung dan direncanakan. :cutesmile:

Dan bukankah sangat menyenangkan kalau kendali pemakaian listrik itu ada di tangan pelanggan? :cutesmile:

Harapan yang Lain….

Saya benar-benar tidak bisa membayangkan hidup saya tanpa listrik—yang tidak langsung juag membuat saya tidak bisa membayangkan hidup saya tanpa PLN. Saya belajar, melakukan pekerjaan sehari-hari, bekerja, dan bahkan menulis tulisan ini dengan bantuan listrik. Ketergantungan saya pada listrik ini benar-benar sangat akut sampai-sampai kalau mati lampu sampai lebih dari dua jam saja, saya bingung mau melakukan apa…. :T.T:

Unit Gardu Bergerak PLN Kabupaten Kepulauan Selayar.

Karena listrik itu sudah seperti udara yang keberadaannya tidak disadari (kecuali ketika membayar tagihan listrik) penghargaan kita terhadap listrik menjadi sangat kurang. Kita menggunakan listrik semena-mena, menganggap penghematan listrik tidak ada gunanya (dengan mengatakan: toh saya bayar juga). Saya berharap PLN lebih banyak melakukan sosialisasi penghematan listrik dan melakukan edukasi kepada pelanggan tentang kesadaran untuk menggunakan listrik dengan bijak.

Pelanggan yang saya maksud ini bukan hanya pelanggan rumahan seperti saya. Tapi juga pelanggan besar seperti perusahaan yang berlangganan listrik untuk kantornya. Saya merasa sosialisasi penghematan listrik ini masih difokuskan hanya untuk pelanggan kecil seperti saya. Padahal, pelanggan besar juga perlu diajak untuk berhemat. Penghematan yang dilakukan oleh pelanggan besar hasilnya juga akan besar dan lebih signifikan, kan? Saya harap PLN tidak pilih kasih. :cutesmile:

Sebagai BUMN yang besar, saya juga berharap PLN membersihkan dirinya dari korupsi dengan lebih serius lagi sehingga pengembangan dan pembangunan infrastruktur untuk memasok listrik ke daerah-daerah terpencil bisa dilakukan secepatnya. Bila membangunan ini berjalan dengan baik (karena adanya dana memadai yang tidak dikorupsi), saya berharap pemadaman bisa dikurangi sampai tidak ada sama sekali.

Terakhir, mungkin PLN tidak terlalu menyadari ini. Tapi pernahkah terpikir berapa banyak pembangunan negara yang sudah ditunjang oleh PLN? Bukan hanya pembangunan fisik saja, tapi juga pembentukan generasi muda yang berkualitas. Saya membayangkan anak-anak kecil yang mengerjakan PR di rumahnya dengan bantuan lampu yang listriknya di-supply oleh PLN. Sekolah-sekolah yang bisa melakukan kegiatan belajar mengajar dengan dukungan pasokan listrik yang memadai, kampus-kampus yang bisa mendukung aktivitas mahasiswanya.

PLN tidak hanya menerangi kehidupan kita, tapi juga menerangi hati kita…. :cutesmile:

Selamat Hari Listrik yang ke-67. Semoga PLN makin baik ke depannya. :cutesmile:

Sumber:

www.pln.co.id

www.dahlaniskan.wordpress.com

CGC Manual PLN (Persero)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)