#186: Sedikit tentang In Open Relationship, Open Marriage, dan Polyamory

Dibaca 3,573 kali

 

Beberapa waktu yang lalu, waktu saya baru aja bangun tidur dan gegoleran di depan laptop dengan tujuan mulia mau nulis tapi malah berakhir dengan buka Facebook, saya sempat melihat salah seorang teman Facebook saya mengganti statusnya dari in a relationship menjadi in open relationship.

Waktu itu sih saya ngeliatnya biasa-biasa aja. Saya tahu teman saya ini sepertinya sudah punya pacar, jadi kemungkinan dia mengganti statusnya itu karena baru putus dengan pacarnya. Yah, seperti biasa … apapun yang terjadi dengan kita, harus dilaporkan ke Facebook. Apalagi penggantian status seperti ini. Bisa aja kan, kalau statusnya gak diganti nanti malah akan menghalangi kisah cinta yang baru…. (Apa saya mulai terdengar agak sarcasm ya?)

Baiklah, masalah cinta dan status itu gak usah dilanjutkan ngebahasnya. :cutesmile:

Setelah beberapa lama, saya kemudian iseng baca-baca tentang pernikahan di sebuah forum. Ada salah satu anggota forum yang menjelaskan tentang model open marriage, yaitu dua orang yang terikat pernikahan tapi tetap bisa berhubungan dengan laki-laki atau perempuan lain sepengetahuan pasangannya. Awalnya saya gak percaya lho ada yang menjalani pernikahan dengan cara seperti itu.

Oh ya, saya tegaskan dulu kalau saya tidak akan membahas masalah ini dari sudut pandang agama karena kita semua sepakat kan kalau yang namanya “open marriage” dan sejenisnya itu dilarang dalam agama apapun. :cutesmile:

Lanjut ya….

Status in open relationship itu gak hanya dalam hubungan pacaran aja. Tapi dalam hubungan pernikahan juga. Jadi, ada baiknya kalau saya ceritakan dulu tentang open marriage ya.

Pasangan yang menjalankan open marriage ini punya perjanjian tertentu tentang bagaimana mereka menjalankan pernikahannya, termasuk bagaimana menghadapi kecemburuan kepada pasangan lain dari suami atau istri mereka. Atau, apakah pasangan ini bisa melakukan swinger—berganti pasangan dengan pasangan menikah lainnya? Mereka memilih open marriage karena dipandang lebih aman dibanding perselingkuhan. Yang namanya perselingkuhan tentulah suami atau istri yang melakukan perselingkuhan itu akan merahasiakan apa yang mereka lakukan dari pasangan mereka. Jadi, open marriage dipandang sebagai cara yang fair dan aman untuk mempertahankan pernikahan.

Apa open marriage tidak dipandang sebagai penistaan terhadap ikatan pernikahan? Kan kalo tuh orang pengen gonta-ganti pasangan, mendingan gak usah nikah sekalian?

Menurut para pelaku open marriage, punya hubungan dengan orang lain di luar pernikahan itu bukanlah bentuk perselingkuhan karena pasangan mereka tahu siapa-siapa saja—bisa aja lebih dari satu—yang berhubungan dengan suami atau istri mereka. Karena pernikahan mereka didasarkan pada saling percaya bahwa pasangan mereka boleh berhubungan dengan orang lain di luaran sana, mereka menganggap pernikahan mereka akan lebih awet. Gak ada rahasia. Gak ada main umpet-umpetan. Di beberapa kasus, open marriage ini dilakukan untuk mengurangi kebosanan dalam rumah tangga.

Nilai yang mereka pahami sebagai penistaan atau bukan penistaan itu berbeda dengan—yang mungkin—saya dan manteman anut.

Mereka memilih untuk tetap menikah karena ingin punya rumah tangga dan keluarga (termasuk anak-anak yang dilahirkan di dalam pernikahan itu) yang—menurut mereka—sehat. Pernikahan dan rumah tangga yang sehat ini termasuk juga di dalamnya mempunyai ikatan hukum yang sah, anak-anak dengan akta kelahiran dan dokumen lain yang sah, bukan anak-anak yang dibesarkan oleh single parent.

Dari mana sih asalnya “open marriage” ini?

Open marriage ini mulai muncul sekitar tahun 70-an ketika gerakan feminisme mulai muncul dan perempuan mulai menyadari kalau mereka punya hak yang sama dengan laki-laki dalam pernikahan. Kalau laki-laki—di masa sebelumnya—bisa menikah sekaligus punya selingkuhan, kenapa perempuan tidak? Tapi mereka membawanya satu tingkat lebih teratur dengan membuat perjanjian dengan pasangan mereka. Jadi, open marriage ini tidak bisa dikategorikan perselingkuhan.

Kalo mau ditarik lebih jauh ke belakang sih, open marriage ini bisa ditemukan di masa Yunani Kuno ketika para laki-laki selain mempunyai istri juga punya simpanan laki-laki yang masih remaja. Selain mencukupi kehidupan laki-laki remaja yang menjadi objek cintanya, laki-laki yang lebih tua juga bertanggung-jawab untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang diperlukan agar si laki-laki remaja bisa menempuh hidup dengan lebih baik kalau sudah dewasa nanti. Ketika itu, istilah open marriage belum ada. Hubungan seperti itu disebut dengan polyamory.

Hati-hati kalau ganti status relationship di Facebook!

Ini yang mau saya bilang: hati-hati kalau ganti status relationship di Facebook. Facebook tidak menyatakan dengan eksplisit tentang satus hubungan open marriage ini. Dia bilangnya cuma: in open relationship, yang bisa jadi memang tidak terikat hubungan pernikahan, tapi hanya sekedar pacaran.

Saya juga mau bilang: hati-hati kalau ada orang yang status relationship-nya: in open relationship. Kalau yang bersangkutan sudah punya pacar, bisa jadi dia lagi nyari pacar laen. Tapi kalau yang bersangkutan sudah menikah, bisa jadi dia memang mencari pasangan untuk open marriage. :cutesmile:

Tapi gak gitu juga sih. Siapa tau memang yang bersangkutan memang hanya ingin menunjukkan pandangannya pada status hubungannya sekarang. Atau yang bersangkutan gak ngerti apa yang dimaksud dengan in open relationship. :T.T:

Apa poligami itu termasuk polyamory?

Kalau ngeliat dari konsep polyamory sih bisa dibilang gitu. Tapi karena semua yang terlibat terikat dalam pernikahan yang sah, poligami bukan open marriage.

Pendapat pribadi saya?

Saya gak punya pendapat pribadi yang gimana-gimana. Saya cuma pengen ngasih tau aja gitu, biar gak salah kaprah. Saya juga gak berhak men-judge orang-orang dengan paham open marriage atau polyamory. Biarkanlah Allah yang Maha Adil yang menilai mereka. Yang bisa saya lakukan (dan memang seharusnya saya lakukan) hanya hidup sebaik-baiknya. Toh, manteman sudah pada ngerti bagaimana hukumnya menurut agama dan kepercayaan manteman, kan? :cutesmile:

Tapi kalau masih penasaran, tanya sama yang lebih dalam ilmu agamanya agar manteman bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan dan komprehensif. :cutesmile:

Ilmu saya ini belum seberapa dan saya takut salah ngomong (saya masih harus lebih banyak belajar….).

Segini dulu ya, manteman. :cutesmile:

Semoga hari ini kita bisa menunaikan kewajiban dan melakukan hal-hal baik sebanyak dan semampu kita.

Buh-bye. :cutesmile:

Saya gak sempet gambar *fiuh*…. Jadi gambar saya pinjem dari sini. :cutesmile:

2 Comments

  1. Yona Krista
    Nov 3, 2012

    Ini topiknya dalem ya Mak… Tapi saya setuju banget dengan pandangan mbak, bahwa hanya Tuhan yang “boleh” menghakimi yaa… Kita manusia gak berhak utk menghakimi..
    Tapi kalo ditanya, apakah saya setuju dengan open marriage, poliamory, dan poli2 lainnya.. Saya pribadi sih gak suka..(terlepas dari kepercayaan yg saya anut, saya gak setuju dengan smua tipe hubungan di atas)..
    Dan menurut saya sih open marriage ini bisa jadi muncul sebagai pelampiasan dendam akan hal2 seperti perselingkuhan dan poli2 yang lain.. :cutesmile:

    • octanh
      Nov 10, 2012

      Padahal saya gak pengen ngebahas ampe dalem-dalem, lho. Cuman sekedar pengen sharing kalo ada yang model beginian ternyata. :cutesmile: Masalah penghakiman itu, saya takut aja gitu kalo nge-judge sesuatu. Takut salah menilai gitu. Kan penilaian saya pasti subjektif. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)