#189: Curhat Penulis Wannabe tentang Tokoh di Tulisannya

Dibaca 1,673 kali

(Saya pengen banget ngasih kredit sama gambar ini, tapi saya gak tau siapa yang gambar. Buat saya, gambar ini brilian. Gambar ini kayaknya di-copy-in sama teknisi di tempat saya beli laptop bareng-bareng sama sejibunan wallpaper lain.)

Sebagai penulis yang belum keliatan kegagalan dan keberhasilannya, saya kadang suka males gitu nulis tentang pengalaman menulis saya. Soalnya, apa yang bisa didapat dari pengalaman penulis yang bahkan belum menunjukkan sejauh mana kemampuan dia menulis. Kayaknya kok ya kalo saya nekat nulis tips dan trik menulis kesannya gimanaaa … gitu. Kepedean. :lol:

Tapi saya beneran pengen ngebagi hal yang satu ini. Kali-kali ada yang penyakitnya sama kayak saya gitu. :cutesmile:

Ketika banyak teman-teman penulis saya yang meributkan plot dan ide, saya biasanya memulai menulis tidak dari keduanya. Iya, saya memikirkan plot. Saya memasak ide sampai matang. Tapi, itu bukan sesuatu yang mendorong saya untuk menulis. Saya menulis karena: tokoh.

Menciptakan tokoh itu lebih menarik dan menyenangkan buat saya dibanding mencari dan memasak ide. Setidaknya, tokoh itu tidak harus memiliki plot dan segala macam yang dibutuhkan untuk membuat cerita menjadi bisa dituliskan. Tokoh itu yang cukup menjadi dirinya saja, tepat seperti yang saya inginkan. Setelah itu, baru saya akan memikirkan kalau tokoh ini dengan segala macam embel-embel begini-begini, kalau dimasukkan ke kondisi seperti begitu, jadinya gimana ya? Atau tokoh ini kalau diketemukan dengan tokoh itu, jadinya gimana ya?

Menciptakan tokoh yang sempurna penggambarannya itu, buat saya, sangatlah sulit tapi menyenangkan. Biasanya saya mulai dari sesuatu yang unik dan berbeda dengan tokoh yang lain. Misalnya, saya ingin menciptakan tokoh perempuan yang bisa mencium wangi hati orang lain. Buat dia, hati itu ada baunya. Tergantung dari seberapa baik atau buruk hati itu. Lalu, saya akan menambahkan hal-hal lain, seperti: saya ingin dia menjadi penyendiri yang kesepian karena sudah terlalu banyak mencium bau hati yang busuk. Dia juga semakin lama semakin menyadari kalau tidak ada bau hati yang benar-benar wangi. Sesekali bau hati seseorang akan busuk juga. Tergantung dari apa yang dia rasakan.

Lalu, saya menambahkan detail lain: dia ingin mencium bagaimana baunya cinta…. (Eaaa….)

Setelah itu, saya baru akan beralih ke hal-hal yang lebih fisik, seperti: tingginya berapa, warna kulitnya apa, berat badannya berapa, sampai ke ukuran sepatu dan hal-hal fisik lainnya. Tapi saya gak suka pusing-pusing di bagian sini. Saya lebih suka mendetailkan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan fisik, seperti: dia suka wangi hujan yang jatuh di daun-daun kering.

Atau: dia suka berjalan melawan arah matahari karena dia suka melihat bayangannya sendiri karena itu membuatnya merasa bahwa dia sama seperti manusia lainnya di luar kemampuannya mencium wangi hati itu.

Atau: saya menambahkan detail makanan yang dia suka dan tidak dia suka yang dia putuskan dari baunya, bukan rasanya. Atau, saya membuat beberapa catatan tentang bau hati yang pernah dia cium. Setidaknya yang sederhana saja, seperti: bau kesedihan.

Toh, pada akhirnya, pembaca (dan saya sendiri sebagai penulis) akan lebih mengingat tentang sifat tokohnya dibanding fisiknya. Kecuali kalau bagian fisik itu diulang setiap tiga halaman sekali seperti yang terjad pada Edward Cullen. Tapi gak juga ah, saya lebih mengingat si Edward ini sebagai vampir kesepian yang main piano di waktu malam karena dia bingung mau ngapain lagi, vampir kan gak tidur. Kalau mengingat bagian ini, saya lupa kalau dia juga digambarkan sebagai cowok berkulit putih blink-blink yang kalo kena cahaya matahari jadinya sparkle (berusaha menggunakan kata asli di novelnya—sparkle).

Saya juga kadang lupa kalau jidatnya Harry Potter ada codetnya…. Saya lebih banyak mengingat dia sebagai penyihir yang kadang labil….

Tokoh yang paling saya ingat adalah tokoh cewek hopeless di salah satu cerpen saya yang suka dengan anak penjaga toko lampu. Saya sangat suka adegan ketika cewek ini menggambar hati di jendela toko lampu tempat cowok yang dia suka tinggal, yang berembun setelah hujan, sementara cowok itu sendiri sedang berdiri di lantai dua rumahnya, menunggu cewek itu lewat. Apa akhirnya cowok itu melihat gambar hati yang dibuat? Gak. Pagi harinya, dia membersihkan kaca jendela tokonya sambil membayangkan cewek itu lewat dan melihat ke arah dalam… Hopeless.

Tapi karena cowok ini menarik, saya memaksa dia untuk jadi tokoh utama lagi di cerpen saya yang lain. Kali ini, dia jadi cowok penjaga benteng di sebuah negeri yang sedang berperang. Salah seorang sahabat ceweknya (yang sebenarnya suka padanya, iya dong harus gitu), punya kebiasaan memainkan senter ke arah benteng yang sedang dia jaga untuk memastikan kalau dia masih hidup. Apa cowok itu melihat cahaya senter dari cewek itu? Sayangnya gak. Ada banyak cahaya di waktu malam. Cahaya senter itu hanya satu cahaya kecil yang tidak akan terlihat. Tapi sayangnya, cowok ini akhirnya mati. :lol:

Cewek yang suka sama dia itu mengetahui itu dari pelangi yang (menurut penglihatannya) ada ayunannya. Cowok itu pernah berjanji untuk mengikatkan sebuah ayunan di pelangi. Tapi sayangnya dia hanya bisa melakukan itu kalau dia mati. Ya gitulah…. Namanya juga cerita dengan genre fiksi-fantasi. :cutesmile:

Tokoh cowok inilah yang akhirnya saya pekerjakan lagi di cerita saya yang lain. Abisnya, dibanding dengan stok tokoh cowok saya yang lain, dia udah cukup oke dan segala sesuatu tentang dia sudah sangat komprehensif…. :lol: Dan dia bisa dipasangkan dengan cewek mana aja.

Saya ingat Anne of Green Gables karena sifatnya yang keras tapi ceria. Kesukaannya mengkhayal dan bercerita. Kadang saya lupa kalau rambutnya oren kayak wortel….

Saya ingat Tyrion Lanister karena sifatnya yang keras dan paling “waras” di antara semua tokoh yang ada di Game of Thrones. Setidaknya cukup waras lah menurut saya. Tapi untuk yang satu ini, saya gak bisa lupa kalau dia cebol…. *labil* Mungkin karena penulisnya selalu mengingatkan pembaca tentang kecebolan si Tyrion ini kali ya. Atau mungkin juga karena saya membaca novelnya sambil ngikutin series-nya juga. Jadi mau gak mau saya selalu keingetan itu. Tapi waktu membaca novelnya, saya lebih jarang keingetan sih. Kalo nonton kan terpaksa liat….

Saya ingat Sheldon Cooper karena sifatnya yang begitu itu (susah ngejelasinnya). Kadang saya lupa kalau dia lumayan cakep dibandingkan dengan tokoh cowok lain di The Big Bang Theory.

Betewe, waktu saya maksa mulai menulis ketika tokoh saya masih setengah jadi, tulisan saya malah gak kelar-kelar. Susah dapet feel-nya. Kadang saya nulis tanpa emosi, yang mana ngebikin tulisan saya jadinya emotionless. Datar kegaring-garingan…. :cry:

Tapi sekarang doi udah saya lengkapin sih segala sesuatu yang perlu buat bikin tulisannya bisa jalan. Setidaknya udah ada ikatan emosi antara saya dan doi kalo lagi nulis.

Menurut saya, karakter kuat itu adalah modal cerita yang bagus. Walaupun cerita yang bagus tetep membutuhkan ide yang cemerlang dan eksekusi yang baik, tetep aja kalau antara pembaca dan tokohnya gak ada keterikatan emosi, semua yang udah dibangun dengan bagus (termasuk plot yang nyaris tanpa lubang), tetep bakalan bikin ceritanya jadi gak membekas. Menurut kesotoyan saya sih gituuu…. :D

Makanya, selain punya plot-sinopsis, saya punya satu bekel lagi sebelum mulai nulisin sebuah cerita: character-sheet.

Yah, gitu deh.

Saya nulis ini karena lagi pengen meracau aja. Pengen curhat. Sapa tau yang mbaca ini juga suka nulis dan mau dengerin curhat saya. :D

Udah dulu ya, curhatnya….

Saya lagi on-fire buat nulis. Bukan karena NaNoWriMo sih, tapi karena saya pengen nyelesein satu tulisan ini sebelum akhir tahun. Setidaknya, kalau saya bisa menerbitkan satu tulisan saja yang berbentuk novel, saya bisa bilang sama orang-orang kalau saya emang penulis beneran. Bukan penulis bohongan atau orang yang ngaku-ngaku penulis.

Sekaligus buat membuktikan sama diri saya sendiri kalau saya punya pencapaian yang bisa membuat saya merasa berguna dan “ada”. :cutesmile:

Buh-bye…. :cutesmile:

______________________________________________________

Eh betewe, manteman jadi penulis itu diredhoin ama orangtua gak? Awal tahun kemaren saya minta diredhoin gitu jadi penulis sama Ibu saya. Trus saya bilang saya beneran mau serius nulis.

Trus kata Ibu saya: ya, itu bagus. Menulis kan juga pekerjaan. Sama terhormatnya dengan pekerjaan lain.

Dan setelah itu saya suka mendiskusikan tulisan saya sama Ibu saya.

Mungkin karena itu juga saya jadi semangat nulis dan lebih produktif akhir-akhir ini. Soalnya saya tau, saya gak umpet-umpetan gitu sama orangtua saya. Kalau sama Sinung sih, dia udah tau dari duluuuu … saya mau jadi apa. :cutesmile:

14 Comments

  1. Alia
    Jan 4, 2013

    Kredit foto
    Dicari dengan mengunggah gambar ke situs Google Images (ada ikon kamera kecil di pojok kanan kolom pengisian kata kunci), lalu mencari padanannya yang paling mirip.

    • octanh
      Jan 9, 2013

      Wah, makasih udah diajarin caranya. Besok-besok kalo aku mau nyari gambar berarti bisa pake cara ini dong ya. :cutesmile:

  2. Heru Setiwan
    Nov 25, 2012

    Saya redho kok kalo Mbak Octa jadi penulis :hohoho:

    Ini postingan yang inspiratiphs :oops:
    Beneran.
    Soalnya saya juga punya banyak stok karakter :sniff:
    Dari komik, tapinya :lol:

    Dan saya merasa karakter-karakter yang muncul dalam cerpen saya belakangan ini terlalu garing…
    Jadi bahan renungan, deh :-P

    • octanh
      Nov 30, 2012

      Om HerSet jangan kebanyakan merenung…. Sana nulis! *dorong-dorong HerSet* Stok karakter komik itu apa sekalian ama gambarnya gitu? Boleh dong aku dibagi barang 1 apa 2 gitu…. *ngarep*

  3. Nurin
    Nov 13, 2012

    Mau dong baca ceritanya secara lengkap, :oops:

    • octanh
      Nov 13, 2012

      Cerita yang mana? Aku nulis cerpen cuman kalo mau ikut lomba doang sekarang, Nurin. :D Banyakan nyinyir di blog sih. :D

  4. Samalona
    Nov 10, 2012

    Membaca ini untuk mendapatkan inspirasi. Saya masih belajar menulis.
    Terima kasih sharingnya :)
    Salam

  5. ennykus
    Nov 10, 2012

    saya juga gak pernah izin-izin buat ngapain.. izin tuh kalo mau bepergian aja…

    btw, mana cerpen-cerpen yang disebut itu, mbak?

    • octanh
      Nov 13, 2012

      Ada. Mau mbaca? Ada beberapa juga yang bisa didonlot di sini lho. :D

  6. Mayya
    Nov 10, 2012

    Mahir banget nih mbak bikin cerita cinta berliku-liku hehehe…awalnya ikut nanowrimo krn buat cerita romance eh ke sininya malah jadi fantasy #eaaaa *gak bakat di romance mungkin* :ngikik:

    • octanh
      Nov 13, 2012

      Hehe…. Gak mahir-mahir banget. Cuman iseng aja gitu bereksperimen. Aku dari awal emang suka nulis fiksi fantasi. Tapi ke makin ke sini, jadi lebih banyak yang di-mix sama genre lain. :D

  7. Milo
    Nov 10, 2012

    Saya jadi blogger gak minta restu ortu duluan..

    Btw, napa contoh cerita di post ini sad ending semuaaa?

    • octanh
      Nov 10, 2012

      Kebiasaan aja itu, Milo. Apa-apaa aku minta restu gitu. Minta dido’ain. Kalo Ibuku redho gitu, biasanya lebih enak ngerjainnya. Termasuk ngeblog sih. Aku cerita ama Ibuku kalo aku suka nulis di blog juga. :cutesmile:

      Gak sad-sad amat kok itu. Itu kan cuman cuplikan sedikit ceritanya. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)