#192: Purple Anatomy (Cerita Patah Tulang Sinung yang Lupa Di-Post)

Dibaca 2,492 kali

Pagi tadi, waktu saya lagi bebersih file di laptop, saya nemu tulisan lama yang kayaknya saya bikin gak lama setelah kejadian kecelakaan motor saya dan Sinung di Jeneponto. Saya lupa nge-post tulisan ini. Saya juga udah lupa kenapa saya sampai lupa buat nge-post…. :die:

Yah, daripada gak sama sekali, mending di-post sekarang aja deh. :D

—oOo—

Cerita ini tidak fiksi. Nama dan karakter tidak diubah. Cerita ini dibuat agar kami tidak perlu menjelaskan lagi detail kecelakaan yang menimpa kami.

Cuaca cerah ketika kami berangkat pagi itu, jam 4.00 sebelum subuh. Kami memutuskan perjalanan ke Makassar kali ini dengan menggunakan sepeda motor karena jadwal ferry yang tidak stabil karena cuaca berimbas pula pada jadwal bis Selayar-Makassar yang tidak jelas. Tanggal 12 Januari kami berangkat dari Selayar dan hari ini kami akan kembali ke Selayar, 19 Januari 2011. Di Makassar saya melakukan pemeriksaan kandungan rutin (saya tidak hamil, hanya pemeriksaan kandungan rutin saja) dan juga memeriksakan gangguan sesak nafas yang sudah dua minggu saya derita. Tapi ternyata itu hanya alergi cat karena kebetulan dua minggu yang lalu kami baru mengecat rumah.

Cuaca masih cerah ketika kami berhenti di Takalar untuk sholat subuh. Kecepatan rata-rata hanya 50 km/jam karena jalan masih belum terang. Memasuki kabupaten Jeneponto, kami berhenti untuk membetulkan helm. Saya mengencangkan ikatan helm ketika itu, entah kenapa, padahal biasanya saya memakai helm hanya asal pakai saja.

Kami melanjutkan perjalanan dan sesaat kemudian di depan kami ada sebuah truk peti kemas yang berjalan sangat lambat. Lambat sekali sampai-sampai saya mengira kecepatannya hanya sekitar 10-15 km/jam. Di depan jalan kosong. Sebuah truk pasir mendahului kami. Kami pun berinisiatif untuk mengikuti truk itu dari belakang. Tak sampai satu detik kemudian, saya terhempas ke tanah. Hal pertama yang saya ingat: ada sebuah Panther di belakang saya. Saya bisa saja terlindas! Saya pun berteriak. Saya merasa tubuh saya terseret maju bersama motor yang menindih badan saya. Ketika tubuh saya berhenti bergerak, saya sadar bahwa saya tidak terlindas. Panther itu sudah berjalan mendahului saya.

Saya mengangkat kepala dan darah keluar dari hidung saya. Saya merasa seseorang berusaha mengangkat motor dari atas badan saya. Itu Sinung. Tapi tidak berhasil. Sepertinya dia tidak bisa menggerakkan tangan. Saya berteriak kesakitan karena motor itu malah semakin menindih saya. Lalu hitam, saya pingsan.

Saya sadar ketika seorang perempuan mengangkat saya dan berusaha membawa saya ke rumahnya. Dia mendudukkan saya di kursi depan rumah panggungnya. Sinung ditolong seorang laki-laki, saya tidak bisa jelas melihat mereka karena kacamata saya berlumuran lumpur.

Kami duduk berdua di kursi itu. Perut saya sakit sekali. Mata saya kembali gelap. Saya pingsan di pangkuan Sinung. Ketika sadar, saya merasa darah masih mengalir dari hidung saya. Perempuan itu mengangkat saya naik ke atas rumah panggungnya untuk ditidurkan. Saya diberi bantal, ditidurkan di atas lantai kayu yang dialas sarung lusuh, dan diberi minum madu dan telur ayam kampung. Kemudian saya menggigil. Saya melihat Sinung duduk di bangku di samping saya, memegangi tangannya. Saya baru tersadar, kami kecelakaan dan saya harus menelepon seseorang secepatnya.

Ketika saya duduk dan berusaha mengambil handphone di tas pinggang Sinung yang diletakkan di samping saya, saya melihat Sinung menggigil. Wajahnya pucat. Perempuan yang menolong kami sudah bertambah, ada tiga ibu-ibu, satu perempuan muda, dan seorang laki-laki muda. Sinung ditidurkan di sebelah saya. Saya berusaha menelepon Eko, tapi tidak diangkat, jadi saya SMS saja dia. Saya lalu menelepon Loi.

Kami lalu dibawa ke dokter di dekat rumah itu. Dokter memeriksa tangan Sinung dan terjata lengan atasnya patah. Tidak ada yang terlalu serius terjadi pada saya, hanya luka-luka yang ditutupi batu dan pasir, kaki saya bengkak, dan lebam-lebam. Beberapa saat kemudian kami dijemput oleh Bapak Abdul Haris (Kepala BPS Jeneponto), Untung, dan Pak Hasbi dan diantarkan ke RS. Bhayangkara Makassar.

Setelah beberapa waktu, saya baru sadar kalau kami masuk ke dalam lubang yang tertutup genangan air, jadinya lubangnya tidak kelihatan. Kata penduduk setempat, sebelum kami, ada tiga orang lagi yang juga kecelakaan di situ. Lubangnya sudah sering ditutup dengan pasir. Tapi karena hujan, lubangnya terbuka lagi. Cukup satu lubang untuk sekian banyak kecelakaan yang kebanyakan berakhir dengan kematian….

Sebuah pilihan sulit ketika saya memutuskan apakah harus menyetujui operasi atau membawa Sinung ke tukang urut saja. Saya pernah patah tulang kaki kiri sewaktu SD dan waktu itu saya dibawa ke tukang urut patah tulang di Cimande. Hasilnya, kaki saya memang tersambung lagi. Saya bisa berjalan setelah satu bulan. Tapi kaki kiri dan kanan saya tidaklah sama. Panjangnya sedikit berbeda dan kaki kiri saya tidak setegak kaki kanan. Dua tahun yang lalu, anak saya yang pertama juga patah tulang selangkanya (tulang selangka yang di atas dada). Kami membawanya ke tukang urut. Dia dibebat dengan perban selama satu minggu dan setelah itu normal lagi.

Saya pun ragu.

Hal pertama yang saya sadari dari dokter orthopedi yang menangani Sinung adalah: giginya berwarna ungu muda (menginspirasi saya untuk memberi judul cerita ini “Purple Anatomy” pelesetan dari “Grey’s Anatomy”). Namanya Dokter Christian. Dia menjelaskan panjang lebar tentang kemungkinan terburuk bila saya nekat membawa Sinung ke tukang urut. Ada syaraf-syaraf antara tulang yang patah itu yang bisa saja putus kalau dibawa ke tukang urut. Tanpa mengecilkan kemampuan para tukang urut itu, Dr. Christian mengatakan bahwa bagaimanapun para tukang urut bisa saja salah urut karena yang mereka tahu adalah anatomi tulang bukan ilmu syaraf. Saya pun akhirnya memilih jalan medis.

Sinung pun dirawat di kamar kelas dua (karena kamar kelas satu penuh semua). Awalnya kami sendirian sampai keesokan harinya datang seorang pasien usus buntu dari Palopo.

Banyak sekali yang datang menjenguk. Saya sendiri amazed dengan banyaknya orang yang datang. Beberapa teman dekat membawakan baju (karena baju-baju kami sudah belepotan lumpur). Ibu Nisa mengirimkan piring, gelas, karpet, pisau, sarung, baju…. banyak sekali sampai-sampai saya merasa seperti sedang pindah kos.

Dr. Christian datang kadang sehari dua kali untuk mengecek keadaan Sinung. Dia datang dengan tas Dagadu yang pas untuk membawa foto rontgent. Tangan Sinung bengkak, ada pendarahan dalam katanya. Setelah bengkaknya berkurang baru operasi pemasangan plate bisa dilakukan. Untuk mengurangi bengkak, tangan yang patah itu jari-jarinya harus sering digerakkan. Dr. Christian akan mengamati keadaan Sinung tiga hari sampai seminggu ke depan. Tapi ternyata keesokan harinya bengkak sudah berkurang. Mungkin karena tangannya sering bergerak-gerak waktu cekikikan sama teman-teman yang datang menjenguk kali ya.

Contohnya, gerombolan Hilda dan teman-temannya datang tanpa muka sedih. Mereka malah becanda-becanda, ribut sendiri, ketawa-ketawa ngakak. Setelah mereka pulang, Sinung mengeluhkan perutnya sakit. “Sakit banget perutku… kebanyakan ketawa.” Atau gerombolan Momon dan teman-temannya yang heboh mau ke KFC setelah pulang menjenguk. Atau Mail yang terlihat banyak bersyukur, “Untung bukan itunya yang patah….” Heh? Itunya?! “Maksudku, bukan kakinya….”

“Ini adalah operasi pemasangan plate. Plate akan dipasang mengelilingi tulang yang patah sehingga bisa membantu pertumbuhan sel-sel tulang yang baru di tempat patahan. Setelah dua minggu, tulang akan mulai tersambung. Plate-nya keren kok. Ntar bisa keliatan kayak Wolverine (???). Plate akan dilepas setelah delapan bulan.” Begitulah kira-kira penjelasan Dr. Christian (saya terus memandangi gigi ungu mudanya, I can’t help it!).

Saya sendiri diberi salep-salep dan segala macam obat minum yang membuat luka saya cepat kering. Batu dan pasir mulai keluar dari luka dan rasanya lega sekali ketika saya berhasil mencongkel keluar sebuah batu kecil di dekat pergelangan tangan saya. Batu itu membuat tangan saya sakit kalau digerakkan.

Selain Dr. Christian, ada seorang suster yang datang setiap pagi untuk mengecek tensi darah Sinung, namanya Suster Islamiyyah. Saya berharap petugas yang datang membawakan makanan tiga kali sehari namanya agak Hindu-Hindu sedikit, biar pas, ada nama Kristen, Islam, sama Hindu. Tapi ternyata namanya Rangga. Sayang sekali….

Eps 2: Fraktura Homerus 1/3 Mid (D)

Operasi dilakukan Jum’at jam tujuh. Tapi ketika kami sudah sampai di depan ruang operasi jam tujuh pagi, Dr. Christian masih asyik makan cilok. “Dokter-dokter yang laen lagi pada apel, tunggu bentar yaaa…. Banyak berdoa sama yang di atas.” Kami berdua memandang ke atas. Di atas ada lampu. “Sama lampu, Dok?” Dr. Christian tersenyum menyembunyikan gigi ungu mudanya, “Bukan sama Tuhan.” Eeee… bilang dong. Berhubung menurut kami Tuhan kami itu (Allah) lebih dekat dari pada urat leher, kami kan jadi bingung disuruh berdoa sama yang jauh di atas sana.

Jam delapan kurang sedikit, Sinung baru digeret masuk ke ruang operasi. Untuk menghabiskan waktu, saya mandi, rapi-rapi dan menjenguk pasien kanker hati di kamar sebelah. Sudah dari pagi beliau itu kondisinya kritis. Para kerabat, teman, dan rekan kerjanya sudah datang dan berdoa. Napasnya tinggal satu-satu. Tubuhnya kuning. Sedih sekali melihatnya. Ketika saya datang lagi sore harinya, beliau baru meninggal.

Jam sepuluh lewat, saya baru diberi tahu oleh Dr. Christian kalau operasinya sudah selesai. Saya pun masuk ke ruang di depan ruang operasi. Di sana ada tiga pasien, Sinung salah satunya. Dari depan pintu perasaan saya sudah tidak enak, saya mendengar suara yang sudah sangat saya kenal: suara ngorok Sinung! Bisa ya orang dibius ngorok gitu?! Malu-maluin aja. Tapi saya mendekat juga.

Dr. Christian, “Masih ngantuk berat dia. Bangunin aja.”

Saya pun membangunkan Sinung dengan memanggil-manggil namanya. Dia menjawab. Tapi sepertinya mengigau, belum sadar sepenuhnya, “Laptop aku mana…?”

Heh? Apa?! Laptop? Fine! *ngambek*.

Saya keluar. Setengah sadar gitu yang dicari laptop! Saya mau cari makan aja lah. Nanti balik lagi kalau dia sudah sadar.

Sejam setelah operasi, Dr. Christian langsung menyuruh Sinung mengangkat tangannya yang patah. Harus banyak dilatih dan digerakkan, katanya, biar cepat kering dan tidak kaku jahitannya. Saya pun melihat foto rontgent yang memang mirip seperti Wolverine. Hal yang agak mengkhawatirkan saya hanya adaptasi plate yang membuat Sinung demam. Selama tiga hari setelahnya, dia selalu saja demam, sampai 39 celcius. Setelah diberi paracetamol, demamnya turun. Tapi kemudian naik lagi. Di hari ke-empat, di saat kami diperbolehkan pulang, demamnya sudah tidak datang lagi.

 Eps 3: Penguin Zombie

Kami numpang di rumah Bu Nisa selama penyembuhan. Yah, setidaknya sampai Sinung bisa naik bis pulang ke Selayar lah. Selama seminggu lebih kami di sana. Bosen juga kan yak, di rumah mulu seharian. Jadi, Sinung saya ajak main-main ke Mall Ratu Indah yang lokasinya emang deket banget sama rumahnya Bu Nisa. Bisa jalan kaki kalo iseng. :D

Saya ajakin Sinung belanja-belanja. Tangannya masih diperban, tapi itu kan sama sekali gak mengganggu acara jalan-jalan dan blanja-blenji. Paling kalo kesenggol orang dia baru meringis….

Tapi ada juga orang yang iseng abis nyenggol trus nanya tangannya kenapa. Mungkin karena dia liat ada perbannya kali yak. Jadi penasaran gitu. Sapa tau aja itu tangan diperban karena digigit istri hal lain.

Dua kali cek jahitan ke RS.  Bhayangkara, perban pun dibuka dan kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Lama-lama di Makassar gak enak juga. Selain karena gak ada kerjaan, saya juga gak bisa menahan nafsu ngehedon kalau di kota besar kayak gitu. Bentar-bentar belanja ini, belanja itu…. :T.T:

Jadi, pulanglah kami ke Selayar dengan bis.

Begitu ceritanya.

Sekarang harusnya sih plate-nya udah bisa diangkat. Tapi karena belum ada waktu (gak bisa cuti agak lamaan buat operasi ngangkat plate-nya), itu plate masih nangkring di tangannya Sinung.

Gitu ceritanya…. :cutesmile:

6 Comments

  1. ennykus
    Nov 19, 2012

    oooo…. nama dokternya Christian toh…. saya sering inget ama dokter ini lho, mbak.. inget kata mbak octa tentnag gigi ungu itu, soalnya salah satu boneka saya warnanya ungu :lol:

    trus anak-anak ama siapa, mbak? sama pengasuhnya? gak rewel mereka ya ditinggal lama? :?:

    • octanh
      Nov 20, 2012

      Waktu itu anak-anak masih dititip di siMbah-nya. Jadi belom pada ikut ke Selayar. Tiga bulan kemudian baru dijemput mereka. Pas tangannya Sinung udah kuat buat ngangkat berat. :cutesmile:

  2. milo
    Nov 19, 2012

    Sabar, ya, Mbak Octa… Biarpun Mbak Octa cuma cinta kedua Mas Amin (yang pertama laptop), tapi gapapa lah…

    Btw, kenapa gigi dokternya bisa ungu gitu yak?

    • octanh
      Nov 20, 2012

      Entahlah ya. Bisa jadi itu gigi kayak gitu karena kebanyakan makan cilok. :D

  3. Nurin Ainistikmalia
    Nov 19, 2012

    Lucu banget sih, :lol: orang yang lagi setengah sadar biasanya lebih jujur daripada yang sadar penuh lho. Jadi, aku gak bisa nahan ketawa waktu tahu hal pertama yang dipikirkan Mas Amin adalah … laptop …hadeuh…

    • octanh
      Nov 20, 2012

      Mungkin dia takut laptopnya ancur soalnya isinya kerjaan semua. Laptop dia gapapa sih. Yang babak belur itu laptopku, walopun masih bisa dipake ampe sekarang. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)