#193: Tak Sampai-sampai Aku, Kekasih [Poem]

Dibaca 938 kali

Gambar dipinjam dari sini.

 

/1/

pagi ini datang

dingin

beku

 

atau aku saja yang jatuh

hancur berbelah?

 

/2/

kenapa tak sampai-sampai aku, Kekasih?

tak kuat juga berdiri hanya untuk-Mu

 

tiap kali langkah berat

aku mengaduh tak kuat

 

aku mau di sana saja

di beranda menunggu gelap bersamanya

 

terdengar suara-suara malam

lalu siang yang jatuh terjerembab di belakang bukit

horizon pendar jingga-ungu

bintang berkelip

jemari kecilnya menunjuk:

satu

dua

tiga

…sejuta

 

lalu megah lantunan adzan

bumi diam, menunduk

 

tenang

 

tak ada apapun selain itu

tidak juga aku, tidak juga dia

karena semesta lenyap

dalam lemah-lirih dzikir malam

 

dia mengamit tanganku

aku menurut saja

di sepanjang jalan:

ditulisnya Allah di dadanya

dengan darah

entah mengapa jadi biru

bukan merah

 

tenang

setenang wajah dan binar matamunya

ketika saat itu aku bertanya di mana bisa dibangun

surga kecil kita

dia menunjuk dadaku

“Di sini,” katanya

 

tenang

 

ke sebuah tempat dia membawaku

yang di pintunya tergoreskan cinta

seluas angkasa

 

sekejap hampa

semua mengabur

lalu tinggal aku

sendiri

 

kenapa tak sampai-sampai juga aku, Kekasih?

 

/3/

subuh

sebuah kiriman itu datang lagi

isinya: cinta putih lembut-tenang

seluas semesta

dan secarik kertas kecil bertuliskan

“Kenapa belum kau balas juga cinta-Ku?”

 

2006

4 Comments

  1. Nurin Ainistikmalia
    Nov 21, 2012

    Mungkin karena lama gak ngasah kemampuan aja Mbak, soale aku juga gitu. Seperti pisau, mungkin pisau kita udah tumpul bin karatan kali ya… :oops:

    • octanh
      Dec 1, 2012

      Ada yang bilang kalo kemampuan puitis (atau bakat mbikin puisi) itu yang paling duluan keluar tapi yang paling duluan redup juga kalo gak diasah (lagi-lagi ngomongin asahan). Soalnya puisi yang ngomongin “panjang nafas” buat nulis kayak cerpen, novel, novellet, atau novella. Dia cuman urusan diksi sama rasa. Gak ngurusin teknik yang ribet pula…. :( Kayaknya emang udah gak gitu tertarik juga aku buat bikin puisi gitu, Nurin. Pengennya nulis sesuatu yang maksudnya bisa tersampaikan dengan baik tanpa ambigu dan kode-kode tertentu. Dulu suka bikin kode biar orang gak paham. Sekarang pengennya orang mbaca jadi paham aku ngomong apaan. :D Time flies, people change….

  2. Nurin Ainistikmalia
    Nov 20, 2012

    Aku seperti pernah membaca ini, :cutesmile:

    • octanh
      Nov 20, 2012

      Puisi lama ini, Nurin. Aku juga udah lupa pernah di-publish di mana aja. :D Sekarang-sekarang ini kayaknya aku susaaaah banget buat mbikin puisi. Entah apa pula sebabnya. :cry:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)