#218: Your Camera is Powerful: Cerita tentang Food dan Craft Photography

Dibaca 1,464 kali

BaladoTelurEdit

I’m not really into photography…. *dikeplak pake kamera rusak*

Ya, itu benar. Saya tidak terlalu menyukai fotografi … tapi itu awalnya.

Saya lebih suka di dapur dan memasak. Saya kira ini bukan masalah saya perempuan jadi saya suka masak, tapi lebih ke urusan logistik rumah tangga saja. Sebagai istri yang baik *duileh*, saya harus memastikan keluarga saya terpenuhi kebutuhan gizinya setiap hari.Sebagai orang yang punya hobi masak, saya juga gak pinter-pinter banget masaknya. Saya hanya masak makanan yang memang disukai anak-anak dan suami saya saja. Kalau bisa, bahannya mudah dan waktu memasaknya pun singkat.

Karena kesukaan saya memasak ini, kadang ada beberapa teman yang bertanya tentang resep kepada saya. Dengan senang hati saya menjawab. Kadang resep ini juga saya tulis di . Masalahnya, kalau tidak ada gambar masakan jadi dan proses memasaknya, kebanyakan teman-teman saya agak-agak gak percaya gitu kalau beneran saya bisa masak resep tertentu…. Hiks. Jadi, mulailah saya memoto hasil jadi masakan saya dan juga (kadang-kadang) langkah-langkah proses memasaknya.

IMG_0626judulkompres

Awalnya saya hanya menggunakan kamera hape. Yang penting gambarnya jelas dan “terang”, begitu pikir saya waktu itu. Tidak perlu lah terlalu cantik dan gimana-gimana bak di buku resep. Pokoknya orang bisa liat kalo ini beneran masakan yang dibuat dari udang bukan sendal jepit. Heheheee….Saya gak terlalu menikmati juga prosesnya. Pokoknya difoto aja itu makanan, udah. Gak ada hepi-hepinya gitu moto makanan begitu.

Lalu, beberapa bulan kemudian, suami saya membelikan saya kamera saku. Sebenernya saya yang merengek-rengek minta dibelikan sih. Soalnya hape saya rusak, jadi gak bisa moto. Kamera saku ini harganya murah. Belinya juga pas diskon. Saya juga gak ngerti gimana makenya. Minggu-minggu pertama, saya belajar bagaimana mengambil gambar dan memasukkannya ke laptop untuk kemudian di-upload ke . Ribet yak? Embeeeeer…. Makanya saya pun belum bisa menikmati proses memoto makanan itu. Saya lebih suka waktu masaknya aja. Hiks. *menderita*

Tapi, lama-lama saya jadi mikir: ini saya udah punya kamera ditangan, masak saya mau make dengan cara kayak gini? Gak hepi pula! Akhirnya saya pun belajar sedikit-sedikit tentang fotografi. Dasarnya aja. Toh di kamera saku seperti punya saya, saya tidak bisa berharap banyak akan menghasilkan gambar yang cemerlang, indah, dan lickable untuk foto-foto masakan saya. Setidaknya, saya harus bisa mengambil gambar masakan dengan bagus sehingga nilainya naik sedikit dari sekedar gambar makanan menjadi gambar makanan yang cukup bagus.

Gambar makanan yang cukup bagus ini juga sebenarnya memperlihatkan rasanya. Foto kan emang gak bisa menyampaikan rasa makanan ke yang ngeliat. Tapi foto yang bagus bisa menyampaikan rasa yang “kelihatannya” enak. Itu bagian yang sulit dari food-photography sebenarnya dan sampai sekarang saya belum bisa melakukannya dengan baik.

10

Seperti yang banyak dikatakan oleh para fotografer yang buku dan artikelnya saya baca: foto itu harus bicara. Tapi…. Tapi … kalo foto makanan itu harusnya “bicara” apa? Pertanyaan itulah yang selalu saya coba jawab ketika saya belajar moto selama ini. Perlahan-lahan saya jadi tau kalau foto itu seharusnya bukan hanya urusan bagus atau tidak bagus, tapi juga punya pesan yang tersampaikan. Apa yang saya ingin katakan kepada orang yang melihat foto saya tenang objek yang saya foto? Apa saya mau menyampaikan kalau makanan ini enak? Atau makanan ini mouth-watering?

Awal tahun ini, suami saya (lagi-lagi) mengabulkan permintaan saya untuk membeli kamera. Kali ini saya minta DSLR. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi saya bener-bener ingin belajar fotografi. DSLR-nya juga bukan yang mahal banget sampai kita gak bisa makan sebulan. Hehe…. Saya hanya membeli DSLR entry level saja. Toh, selama menggunakan kamera saku saya jadi paham bahwa benar kata banyak fotografer bahwa yang penting itu bukan (hanya) alatnya, tapi bagaimana menggunakan alatnya dengan baik sehingga bisa memaksimalkan hasilnya.

Saya pun mulai menikmati proses moto yang dulu saya sebelin itu.Saya menikmati sewaktu saya mengamati cahaya yang baik, mengatur reflector, menghitung ISO, apperture, dan sebagainya. Bahkan saya sangat menikmati urusan sepele lainnya di seputaran urusan moto ini: menyiapkan properti. Saya percaya bahwa kalau saya benar-benar punya sesuatu yang ingin “disampaikan” lewat foto, saya harus melakukannya dengan gembira. Hati yang moody hanya akan membuat gambar menjadi gloomy karena tanpa saya sadari, suasana hati saya mempengaruhi bagaimana caranya saya merepresentasikan apa yang ingin saya sampaikan lewat foto itu.

Lama-lama saya mulai melihat bahwa selain untuk kesenangan pribadi, fotografi juga bisa digunakan untuk berbagi ilmu (masak), menyemangati yang pengen belajar masak lewat foto yang bagus … eh, serius lho ini. Foto hasil jadi masakan yang bagus itu ibarat memberikan secercah *halah bahasakuuu* harapan kepada yang membaca resep saya di bahwa masakan yang akan mereka buat dengan resep ini jadinya bisa oke dan menggairahkan. Jadi resep yang saya tulis pun naik sedikit kastanya dari sekedar resep menjadi resep yang artistik, enak dibaca, dan enak dilihat … hmmm, tentu saja rasanya juga enak.

Saya juga ingin ngasih tau (lewat foto-foto itu tentunya) bahwa masakan yang enak itu tidak cukup sekedar enak. Tapi juga harus punya penyajian yang oke. Setidaknya, sebelum dia benar-benar dimakan, orang yang melihat percaya kalau masakan itu benar-benar enak.Itulah yang dilakukan restoran-restoran mahal, kan? Mereka menyajikan makanan dengan cara yang bagus sehingga “sepertinya” rasanya memang enak. Walaupun untuk beberapa kasus, makanan di warteg jauh lebih enak sih. Tapi, kalau penyajiannya saja sudah menarik, orang akan tertarik membeli. Dan untuk kasus resep masakan: orang akan tertarik untuk mencoba membuatnya.

IMG_1084cover

Selain itu, saya juga ingin menunjukkan bahwa makanan rumahan itu bisa tampil sampai semewah makanan restoran bintang tiga. :DDan kegiatan fotografi itu menjadi lebih dari sekedar menyenangkan buat saya: saya bisa memberi manfaat walaupun sedikit. Kan sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Lewat fotografi dan tulisan, saya ingin bagi-bagi ilmu yang saya punya. Oleh karena itu, saya pun mencoba mengembangkan kegiatan fotografi saya ke craft-photografy. Saya membuat tutorial craft dengan foto yang tidak hanya jelas, tapi juga enak dilihat.

Craft-photography ini sepertinya belum seheboh food-photograpy ya. Mungkin juga karena penggemar craft belum sebanyak penggemar dan pencicip kuliner. :D

IMG_0973edit

Tapi itu gak membuat saya patah semangat. Saya terus menulis tutorial craft dan memperbaiki hasil foto saya.

Mungkin karena keinginan terbesar saya adalah untuk berbagi ilmu dengan menulis resep dan tutorial, maka saya sangat jarang menyempatkan diri untuk mengambil foto pemandangan alam atau bunga-bunga seperti yang banyak disukai oleh fotografer lainnya. Tapi kalau ada bunga atau pemandangan yang indah, saya menyempatkan diri mengambil satu atau dua foto untuk koleksi pribadi saja.

Kamera buat saya sama seperti pena: powerful. Jadi, saya berusaha untuk menjadikan kamera saya sebagai alat pemberi manfaat bagi orang lain dan saya sendiri. Gak hanya sekedar jeprat-jepret untuk mendapatkan foto yang bagus dan selesai sampai di situ. Harus ada manfaat dari tiap foto. Setidaknya, harus ada rasa, pesan, dan semangat positif yang ingin disampaikan.

IMG_1373edit

Semoga ke depannya saya bisa terus berbagi ilmu dengan cara yang indah, menyenangkan, dan positif.Saya juga selalu camkan di kepala saya ketika memegang kamera bahwa: kamera ini powerful, bisa mendatangkan manfaat dan sebaliknya. Saya harus hati-hati menggunakannya.Apakah teman-teman juga pernah berpikir begitu? :cutesmile:

Kalo saya mbikin tutorial tentang food dan craft photography, kira-kira ada yang mbaca gak ya? :?:

Tulisan ini juga saya post di Kompasiana. Tapi yang di sana fotonya laen gitu soalnya buat ikutan lomba Jelang Satu Tahun Kampretos. :cutesmile:

12 Comments

  1. warm
    Mar 15, 2013

    foto2 sampeyan keren, bikin ngiler semua2nya
    padahal cuma pake canon 1100D ama lensa 18-55 ya?
    dan sering pake aperture pritority

    ah harus belajar sama ibu yg satu ini rupanya soal moto memoto makanan, atau

    ah sampeyan aja yg moto, saya bagian makannya aja deh :lol:

    dan ayo dibikin buku !

    • octanh
      Mar 17, 2013

      Iya, masih belom punya lensa tambahan. Ini cuman belajar-belajar sendiri aja, Mas Warm. Pas dulu kuliah, matkul fotografi saya rajin masuk cuman karena dosennya guanteeeeeng banget dan cara megang kameranya seksih. :D Ilmunya kagak ada yang nyantol. Jadi sebaiknya orang ganteng jangan jadi dosen deh. *ngaco*

      • warm
        Mar 23, 2013

        coba pake lensa fix 50mm 1,8 deh
        harganya murah tp hasilnya keren asli
        :-P

        • octanh
          Mar 29, 2013

          Saya baru ngecek harganya di Bhinneka tadi, Mas Warm. Ternyata emang gak gitu mahal yak. Kalo saya ke Makassar, pengen juga mbeli. Awalnya sih kemaren itu udah niat mau beli lensa macro buat moto kembang, tapi belom tau mau beli yang mana…. :cutesmile:

  2. Ina Rakhmawati
    Feb 12, 2013

    salam kenal.
    wahhh keren euy hasil jepretannya!
    menggoda lidah tuh foto masakannya.
    kalo ina gak gape motret :-(
    :D 8-O :cry:

    • octanh
      Feb 13, 2013

      Ayo belajar moto, Mbak Ina. Foto bisa ngebikin penampilan masakan keliatan lebih enak dari aslinya lho. Jangan tertipu. :D

  3. erika
    Feb 11, 2013

    Aku juga seneng liat foto-foto masakan gitu. Dan sekarang pun lagi belajar, meskipun pake aplikasi 360-nya android tetep ga bokeh patah semangat kan ya belajar moto makanan? Hehe

    • octanh
      Feb 11, 2013

      Iya, harus semangat~! Pertama kali saya belajar moto pake kamera hape Champ. Bener-bener sederhana banget hasilnya. :D

  4. Neyna Naya
    Feb 11, 2013

    Mau belajaaar juga, walaupun sekarang masih megang kamera saku aja…sering2 update ilmu foto2 nya embak, daku mau nyontek #eeh :lol:

    • octanh
      Feb 11, 2013

      Ayo belajar moto! Aku masih belom pede nulis-nulis cara moto gitu. Pengen belajar lebih banyak dulu biar gak salah nulis ntar. :D

  5. octanh
    Feb 10, 2013

    Yah, kelamaan itu mah. Kalo udah ada kamera, udah bisa belajar. :D

  6. JNYnita
    Feb 10, 2013

    Aku jg pengen belajar fotografi Mbak, tp lulus duluuuuu…. huhuhu…

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)