#222: Review Film: Chronicle (Sci-Fi, Action, 2012)

Dibaca 878 kali

chronicle-poster

Yah, posternya pake bahasa Prancis begini yang ketemu…. Ya sudahlah. :D

Whilst attending a party, three high school friends gain superpowers after making an incredible discovery underground. Soon, though, they find their lives spinning out of control and their bond tested as they embrace their darker sides. (Sinopsisnya di IMDB)

 

Sebagai orang yang kesulitan menikmati film superheroes, saya tidak keberatan untuk melewatkan gegap-gempita parade film-film superheroes sepanjang tahun kemarin. Saya melewatkan hampir semuanya, bahkan The Avangers yang kabarnya, menurut Tuan Sinung keren mampus! Saya cuman ngelirik sebentar doang waktu Tuan Sinung nonton. Trus pas saya ngeliat cowok-cowok keren itu berganti kostum, langsung bawaannya pengen maskeran…. :( (Gak ada hubungannya ding, tapi biarlah….) :D

Bahkan, saya juga gak nonton The Dark Night Rises PADAHAL SAYA GAK PERNAH MAMPU MELEWATKAN FILM-FILMNYA NOLAN! :D Tapi khusus yang satu ini, saya gak keberatan juga buat melewatkannya. Apalagi menurut review-nya Om Piring, ini adalah film Nolan yang gak sebagus film-film dia yang sebelumnya. Jadi yaaa … saya gak terlalu ngerasa gimana-gimana gitu walopun kabarnya Tuan Sinung sampe melotot-melotot nontonnya. :|

Saya gak bisa menikmati film superheroes bukan karena kualitas cerita, skenario, editing, musik, atau yang lainnya. Saya cuman gak tahan gitu ngeliat cowok-cowok (yah, kadang ada juga ceweknya) yang membela kebenaran dan menyelamatkan dunia tapi make kostum yang aneh-aneh trus selalu saja superpower-nya gak “realistis” digambarkan. Ini realistis menurut saya loh ya. Kadang mereka fashion statement-nya juga menggenaskan. Walopun saya akui kostumnya Spiderman itu seksi, tapi tetep aja rasanya kok gimana gitu ya.

Yah, begitu deh. Namanya juga selera…. :D

Tapi, weekend kemaren itu, saya sama Tuan Sinung sempet nonton dua film di dua malam berturut-turut. Yang satu horor, yang satu film superheroes.

05chronicle-480

LAH, KATENYE LO KAGAK SUKA NONTON FILM SUPERHEROES?

Iya. :D

Tapi superheroes yang ini gak ada yang make topeng sama celana dalem di luar…. :D

Sebenernya film horor yang saya tonton, Sinister, lebih menarik sih buat di-review. Tapi entah kenapa saya pengen nge-review film ini dulu….

Saya juga nontonnya antara mau sama gak mau. Tapi karena dari awal saya ngeliat kalo konsepnya “found footage” kayak Cloverfield, The Blair Witch Project, dan [Rec.], saya pun nonton. Soalnya dari bentuknya aja (kalo mau mengistilahkan dengan lebih oke: film form-nya) udah sangat menarik. Walaupun found footage-nya bukan yang kemudian ditemukan oleh seseorang dan dikuak misterinya, tapi lebih ke faux-doc filming (aktornya seolah-olah mendokumentasikan adegannya sendiri), tapi tetep aja menarik. Karena, pertama: di film-film superheroes, kamera itu punya tugas besar untuk memperlihatkan dan mengeksplorasi superpower yang dimiliki tokohnya. Kamera ngambil angle begini, pan begini-begitu, di-track kesini-kesitu, itu udah biasa di film-film superheroes. Superpower itu gak bisa cuman didengerin suaranya soalnya (kayak yang terjadi di film Seeking a Friend for the End of the World¬†(pengen nge-review juga deh, setelah bayang-bayang wajah Keira Knightley ilang dari pikiran–aktingnya jelek soalnya), yang mana meteor yang katanya mau menabrak bumi dan bikin kiamat itu hanya disebut-sebut di berita dan kedengeran suaranya tapi gak pernah keliatan wujudnya).

Di film ini, kamera gak bisa diharapkan banyak memberi impresi yang menguatkan si superpower ini. Tapi, itulah menariknya.

Salah satu tokohnya, Andrew (Dane DeHaan), punya hobi mendokumentasikan kehidupannya di kamera. Dia merekam apa-apa yang menarik buat dia. Ketika akhirnya dia punya kekuatan telekinetik, dia kemudian membuat kamera yang dia punya mengambang dan membuat dia bisa mendokumentasikan dirinya juga, bukan hanya orang lain. Di awal-awal film, ketika dia belum punya kekuatan ini, dia gak banyak muncul di kamera karena dia kan yang megang kameranya. Paling yang kedengeran suaranya doang.

Nah, di awal-awal film ini, saya menganggap ini akan jadi film yang menyakitkan mata karena kualitas kamera yang apa-adanya, gambarnya jelek, bentar-bentar nge-shake. Tapi ternyata gak begitu. Mulai ke belakang, kamera akan bergerak sehalus dan sebaik kamera film pada umumnya, bukan seperti yang ada di film found footage. Bagus tapi gak sebagus film-film superheroes lainnya karena untuk mempertahankan konsep found footage-nya, ya perlu sesuatu yang gak terlalu wah juga. Tapi saya bisa bilang kalau ini sama sekali gak mengecewakan. Gak bikin sakit mata (itu penting) dan gerakannya gak bikin kepala puyeng.

Dan si Dane DeHaan itu mengingatkan saya sama Leonardo de Caprio pas masih imut-imutnya di film Titanic! <– super penting! :D

Dan (lagi) adegan klimaksnya bener-bener bikin melotot!

Saya sama sekali gak mengharapkan film ini jadi sebagus ini. Tapi sekarang saya ngerti kenapa banyak review yang mengatakan kalau film ini bagus. Segala yang dibagun dari awal dengan pelan dan pasti itu akhirnya terbayarkan di klimaks yang bener-bener keren. Adegan terbangnya dan bagaimana si Andrew membabi-buta menghancurkan bangunan itu gak kalah dibanding sama adengan film superheroes lain. Malahan, saya pikir ini lebih berasa gregetnya karena eksekusi kamera dan angle-nya yang dari awal gak ada tanda-tanda mau menampilkan adegan sekeren itu. kayak kamu bayar seratus perak tapi dapet barang seharga seribu deh, kayak gitu rasanya nonton ini.

CERITANYA SENDIRI GIMANA?

Sebenernya ceritanya agak gak jelas sebab sih, ya. Apalagi ada adegan di awal film yang sampai akhir film pun gak terjelaskan. Bahkan salah satu tokohnya berjanji pada Andrew akan mencari tahu kenapa bisa begitu. Yah gitu deh. Ntar kalo saya ceritain, hancur deh review ini belepotan spoiler. :D

Nah, karena satu kejadian di dalam lubang, tiga tokoh utama film ini pun dapet kekuatan super yang akan semakin kuat kalau dilatih terus-menerus. Kekuatannya sama, telekinetik. Mereka bisa memindahkan benda-benda hanya dengan memikirkannya. Tapi kadar kemampuan mereka menggunakan kekuatan itu beda-beda. Misalnya saja, Andrew yang mampu menggerakkan kamera dengan kekuatan itu tapi Steve dan Matt gak. Tapi, mereka semua sama-sama berhasil ketika melatih diri mereka untuk terbang. Jadilah mereka suka terbang kesana-kemari. Bahkan sampai maen bola di atas awan.

Tapi, masalah dengan superpower itu realistis sekali digambarkan di sini. Film ini gak punya godzilla atau monster ikan bandeng raksasa yang mau menghancurkan kota. Atau ilmukan gelo yang mau menguasai dunia. Apalagi cewek seksi misterius berkostum kucing. Antagonisnya adalah ketidakmampuan untuk menahan diri dan menggunakan kekuatan itu dengan baik. Dan di sinilah menariknya. Film ini punya remaja labil dan itu cukup buat menghancurkan kota.

Tapi itu masuk akal deh kalo menurut saya.

Pernah kebayang gak sih pikiran buruk apa yang ada di kepala para superheroes itu yang bisa dia lakukan dengan kekuatannya? Pernah kebayang gak sih ngerinya punya kekuatan kayak gitu? Pernah ada yang menggambarkan gak betapa tertekannya para superheroes itu untuk gak melakukan apa aja yang mereka suka sementara mereka mampu?

Ketika tokoh di fim ini tau dan paham apa saja yang bisa mereka lakukan dengan kekuatan mereka, mereka gak langsung mbikin seragam lateks ketat trus pake topeng buat ngebantu nangkepin penjahat. Mereka masih harus bergelut dengan ego dan keinginan mereka masing-masing. Yah namanya juga remaja labil. :D

Kalau film superheroes lain ibarat dongeng Cinderella yang indah dan berakhir happy ending, nah bayangkanlah film ini kayak drama rumah tangga setelah Cinderella dan Pangeran menikah. Gitu deh kira-kira.

Betewe, saya pikir eranya film dengan konsep found footage itu sudah berakhir karena emang cepet ngebosenin. Tapi ngeliat film ini, saya malah berharap akan ada lagi film yang modelnya kayak gini.

Sinister juga pakai konsep found footage. Hanya saja, konsep itu ditarik sedemikian rupa jadi hal yang lebih menarik lagi. Kayak apa? Saya pengen ceritain nanti di review berikutnya aja.

Dan kayaknya kalo begini ending-nya, seharusnya bakalan ada sekuelnya. *hail Howood business*

Hikmah yang saya dapetin setelah nonton film ini: terbang bertiga itu lebih asyik dibanding terbang sendirian.

*buru-buru pergi sebelum nyemburin spoiler lain*

2 Comments

  1. Anisky
    Feb 18, 2013

    iya bintang muda itu unyu bgt ya, mirip leo di who’s eating gilbert’s grape….blogwalking, yaaa

    • octanh
      Feb 18, 2013

      Aktingnya juga bagus dia. Keliatan banget depresif sama “jahat”-nya sekaligus tampak lemah juga. Semoga ada filmnya yang laen secepatnya. Aku pengen liat dia lagi. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)