#242: [Flash Fiction] Printer

Dibaca 515 kali

print tangan

Gambar dipinjem dari sini.

Ketika Irma meletakkan tas di meja kerjanya, matanya menyapu gambar aneh yang ada di tumpukan kertas di dekat printer-nya. Dia mengambil kertas itu dan memperhatikannya: seperti gambar telapak tangan. Bukan, lebih tepatnya, hasil print telapak tangan yang di-scan dengan … mungkin dengan printer miliknya ini. Gambar tangan itu pastilah milik seorang perempuan karena kukunya tampak panjang terawat dan ada cincin di jari manisnya.

Irma berusaha mengingat kalau kemarin sore, ketika dia pulang kerja, gambar telapak tangan ini belum ada. Dia selalu membersihkan mejanya sebelum pulang dan memastikan tidak ada dokumen penting yang tercecer. Dia yakin kemarin gambar ini belum ada. Irma membuang kertas bergambar tangan itu ke tempat sampah. Tidak ingin terlalu memikirkannya karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini.

Windy, sekretarisnya masuk membawakan dokumen yang harus ditandatangani dan memberitahukan beberapa janji dan rapat yang harus dihadirinya hari ini.

“Ada orang yang masuk ruangan ini nggak kemarin setelah saya pulang?” tanya Irma sambil membaca sekilas dokumen yang disodorkan Windy dan menandatanganinya.

“Nggak ada, Bu. Setelah Ibu sama Bapak pulang, saya juga pulang. Ruangan ini saya kunci.”

“Yakin?”

“Yakin, Bu.”

* * *

18 Jam Sebelumnya

Bimo masuk ke ruang kerja istrinya diikuti Windy yang dengan terburu-buru menutup pintu agar tidak ada yang melihat. Windy duduk di meja kerja. Bimo berdiri di hadapannya.

“Irma rapatnya masih lama?” tanya Bimo.

“Masih, Mas.”

“Nanti malam aku ke apartemenmu, ya. Aku anter Irma pulang dulu.”

“Alasannya apa lagi?”

“Rapat mendadak di luar kota…. Banyak alasan kok yang bisa dibikin. Lagian dia gampang percaya.”

Bimo mengeluarkan kotak kecil dari saku celana panjangnya dan menyerahkannya pada Windy. Windy dengan senang hati membukanya. Sebuah cincin.

“Berlian. Cuma lima karat sih.”

“Wow. Makasih, Mas!” Windy tersenyum senang.

“Aku mau ke toilet dulu.”

Bimo keluar dari ruangan. Windy menghidupkan printer yang ada di meja kerja bosnya dan men-scan tangan kirinya. Di jari manisnya ada cincin berlian pemberian Bimo. Dia melihat hasil print tangannya dengan senyum puas dan sengaja meletakkannya di meja kerja itu.

“Bimo itu milikku. Kamu harus tau itu.”

* * *

Flash Fiction ini dibuat untuk HoR (House of Romance) Challange.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)