#246: [Journey to Everton] Day 1

Dibaca 621 kali

Print

 

 

Pekan ini, saya mulai menuliskan tentang Everton. Karena saya lumayan puyeng nulisnya dan mau curhat juga males karena gak ada waktu buat curhat juga, jadi saya menuliskan semua kepuyengan saya aja deh. Judul tulisan Journey to Everton, akan memuat curhat terselubung saya selama menuliskan novel ini. Saya perlu berkeluh-kesah, memikirkan kembali, mencatat beberapa hal penting selama menuliskan novel ini, jadi saya memutuskan untuk membaginya di . Syukur-syukur sih ada yang membaca dan ngasih tanggapan … dan ┬ájuga semangat. :D

Saya sempat libur dua minggu dari novel terakhir yang saya tulis karena lompat dari chicklit yang penuh cinta ke fiksi fantasi yang ada adegan pertarungan itu ngeset mood-nya lumayan susah juga. Apalagi selama nulis chicklit, saya biasa menggunakan bahasa ringan dan kata-kata di obrolan sehari-hari sementara di novel yang ini, saya gak bisa melakukan itu…. :die:

Trus….

Hal yang paling penting dilakukan sebelum mulai menulis adalah: memikirkan kamu mau nulis apa? *yaeyalah*

Cerita di novel ini adalah side-story dari cerita utama yang sampai sekarang belum selesai ditulis (dengan alasan puyeng, jenuh, dan sebagainya). Saya memilih untuk menulis side-story karena setidaknya saya bisa menggunakan universe yang sudah saya buat, kembangkan, dan sempurnakan. Saya juga bisa memakai karakter-karakter yang sudah kuat dan cukup saya kenali.

Saya memilih untuk mengambil cerita tentang Revleine Rafn karena karakter ini sangat menarik. Selain karena karakternya sendiri tidak pernah dijelaskan asal-usalnya sebelumnya, Revleine Rafn ini punya sesuatu yang lebih dari itu: dia punya kehidupan yang cukup complicated. Yang mana setelah saya hitung dan ukur, bisa dijadikan novel pendek sekitar 100-an halaman.

Berikutnya, saya membuat karakter-karakter lain yang mendukung ceritanya. Misalnya: orangtuanya, kakak-adiknya, teman-temannya, love interest-nya, musuhnya, dan sekedar acquitance. Saya juga memasukkan beberapa karakter yang sudah mapan dari sebelumnya, Seperti Daphrio Quenant, Rhea Zheph, Rheon Zheph, Kaikara, dan Zhephero Zheph. Beberapa dari karakter ini akan punya potongan cerita masa lalu di sini. Jadi, novel ini akan jadi penjelasan tentang masa lalu beberapa tokoh juga.

Tapi yang paling penting: side-story ini akan menjelaskan beberapa hal di main-story yang kalo pun gak dijelaskan sebenernya gak apa-apa sih, tapi kalo dijelaskan bakalan lebih jelas aja gitu. Dan akhir dari side-story ini adalah awal dari main-story. Demikian.

Setelah semua karakter dan setting universe sudah fix, butuh satu hal lagi: konflik. Konflik ini akan membuat cerita ini berjalan.

Masalahnya: dengan karakter kuat seperti ini, butuh konflik yang juga kuat atau karakternya akan sia-sia saja. Jadi, saya berpikir untuk memasukkan Revleine Rafn di konflik yang bukan hanya membuat nyawanya terancam (gak boleh sampe mati juga soalnya dia salah satu tokoh utama juga di main-story) dan mengubah pandangannya akan banyak hal. Konfliknya harus membuat dia tumbuh, menyisakan kenangan, dan membentuk dia seperti yang ada di main-story. Tapi terus terang, saya juga butuh beberapa tokoh harus mati karena … karena di side-story ini akan ada pertempuran dan akan sangat lame kalau tidak ada yang mati. Heheheee…. :D

Setelah konfliknya pas dan saya pun lumayan puas, tinggal menyusun plot.

Manteman tau, menulis tanpa merencanakan plot itu seperti mau ke suatu tempat tanpa tau jalannya; kemungkinan nyasarnya lebih besar dan kamu gak akan tau kapan sampenya. Sulit menghitung biaya perjalanan, logistik yang dibutuhkan, antisipasi keadaan darurat dan sebagainya.

Naratif itu seperti peta Jakarta, misalnya. Itu keseluruhan naratif. Saya memutuskan untuk memperlihatkan hanya wilayah Jakarta Timurnya saja, lebih tepatnya wilayah Kecamatan Cipayung aja. Kecamatan Cipayung ini luas juga loh. Sebagai pencerita (story teller) saya akan membawa kamu melihat keindahan Cipayung (semacam tour kali yak), tapi rutenya udah saya tentukan. Dari Pondok Ranggon ke Cilangkap, ke Munjul, terus ke Lapangan Tembak, dan berakhir di Jalan Duren, Malaka.

Rute ini: Pondok Ranggon-Cilangkap-Munjul-Lapangan Tembak-Malaka adalah urutan plot yang saya pilih. Dengan urutan plot ini, kamu bisa melihat secara keseluruhan (di dalam kepala kamu, tentu aja) penampakan Kecamatan Cipayung. Walaupun gak detail banget, tapi setidaknya kamu bisa ada bayangan cukup jelas.

Rute ini bisa saya otak-atik dengan petimbangan tertentu. Misalnya: dramatisasi. Contohnya: karena Pondok Ranggon itu kuburan, saya sebaiknya ngebawa kamu ke sana tengah malem. Trus karena Lapangan Tembak itu banyak jajanan dan makanan enak yang mulai bukanya sore, saya ngajak kamu ke sana abis maghrib.

Otak-atik yang enak juga bisa seperti ini: saya ngajak kamu ke Pondok Ranggon tengah malem bukan hanya karena itu kuburan, tapi juga karena love interest saya sudah meninggal dan dikubur di situ.

Dan itulah yang saya kerjakan sesiangan ini: mengatur plot agar penceritaannya terasa baik dan lancar. Agar dramatisasinya bisa maksimal. Tujuan lainnya yang lebih penting: agar semua pekerjaan menulis ini ke depannya bisa lebih teratur. Gak cuman buka laptop-nulis-puyeng-nggames-puyeng-nulis-dan seterusnya. Tapi keliatan gimana alurnya, apa yang harus ditulis, urutannya gimana, dan saya juga jadi bisa mengira-ngira kalo gak ada force majeur, kira-kira kapan selesainya.

Kemaren saya juga nyari proofreader untuk plot-synopsis-nya karena saya udah berkali-kali baca dan gak nemu plothole. Padahal saya jago banget bikin plothole. Pasti ada yang gak beres kalo saya gak nemu plothole-nya. Jadi, saya minta tolong ke beberapa orang teman. :cutesmile:

Saya juga gak tau apa novel ini bakal diterbitkan atau gak. Yang penting selesai dulu deh. :D

Segitu dulu curhatnya…. :D

2 Comments

  1. warm
    Apr 20, 2013

    plothole itu opo toh mbak ?
    duh saya kuper sekalih :cry:

    • octanh
      Apr 20, 2013

      Plothole itu semacam ketidak-logisan di cerita gitu, Mas Warm. Misalnya ada adegan pembunuhan di sebuah kamar yang rapi dan bersih. Trus tiba-tiba si pembunuh bisa ngebunuh karena dia nemu pistol di laci meja di kamar itu. Padahal sejak awal gak ada keterangan kalau di kamar ada yang nyimpen pistol Pistolnya kayak muncul dari natah-berantah gitu. :D Kalo pun dijelaskan dan pembaca ngerti, tapi tetep aja perlu sesuatu yang logis buat ngebikin pembaca gak cuman ngerti tapi juga menganggap itu logis. Gitu, Mas Warm.

      Mas Warm mau nulis novel juga gak? :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)