#250: [Journey to Everton]: Day 3

Dibaca 467 kali

journeytoeverton

Ide, Plot, dan (Takut) Mati Gaya

Seorang teman sesama penulis wannabe pernah menceritakan idenya pada saya: pengen bikin ini begini begitu trus begini begini begitu begitu….

…dan saya terperangah!

Itu ide yang hebat, segar, dan menyenangkan untuk dibaca.

Tapi, semua orang punya ide. Di situlah masalahnya.

Semua orang bisa punya ide. Kalau saya tanya sama Isha (5 tahun) apa yang dia pikirkan waktu melihat bulan purnama, dengan cepat dia bisa jawab: mau digoreng. Itu juga ide yang luar biasa. Bayangkan tentang bulan yang bentuknya kayak pancake itu digoreng di kuali yang besarnya kayak Jupiter plus dikasih taburan asteroid di antara lintasan Mars dan bumi. Keren toh? :D

Itu ide: sesuatu yang melintas di kepala dan kemudian ditangkap, diamplas, disisihkan untuk kemudian akan diwujudkan dalam bentuk karya.

Tapi, tahukah kamu bagian paling sulit dalam berkesenian (pada umumnya dan menulis pada khususnya) itu bukanlah di ide. Tapi bagaimana memindahkan ide itu ke medium seni yang kita inginkan. Jembatan antara ide dan hasil karya itu namanya: teknik. Ini saya pelajari waktu saya sekolah film dulu (untuk jadi filmmaker, bukan bintang film). Di Rusia, sekolah film bahkan gak dimasukkan ke cabang seni dan dipelajari di sekolah seni seperti umumnya di negara lain. Tapi masuk ke sekolah teknik, seperti halnya arsitektur dan teknik mesin.

Parahnya, kadang para seniman (dan penulis) wannabe itu meremehkan yang namanya teknik dan terlalu membesar-besarkan yang namanya ide. Saya punya ide begini begini begitu begitu…. Semua orang juga bisa punya ide seperti itu. Yang membedakan mana seniman yang oke dan gak oke itu dari tekniknya.

Bayangkan ada seorang pelukis yang punya ide melukis bulan lagi digoreng. Butuh teknik tertentu untuk menggoreskan kuasnya, butuh pemahaman tentang warna, bayangan, komposisi, dan lain sebagainya yang gak sedikit. Butuh banyak latihan untuk membuat bulan itu terlihat seperti bulan, bukan seperti pancake. Kalau kamu liat ada pelukis yang melukis abstrak kayaknya kok asal maen ceprat-cepret cat minyak trus jadi, itu bukan berarti dia gak tau teknik yang benar. Bisa jadi, dia udah mumpuni di teknik melukis yang standar dan pengen membuat sesuatu yang baru. Tapi dia bakalan tau hal yang dia kerjain itu baru kalau dia tau yang lama, kan? Jadi, itu bukan asal-asalan aja.

Lukisan abstrak pun punya sesuatu yang sangat indah tapi bukan di urusan keindahan apa yang dilukiskan itu mendekati bentuk yang sebenarnya (misalnya bulannya persis kayak bulan beneran). Tapi mungkin saja pelukisnya memasukkan kesan, melukiskan perasaan (sehingga yang kita lihat waktu bukan lagi “bentuk”, tapi rasa dan emosi). Itu tidak mungkin dicapai kalau si pelukis kagak ngarti urusan teknik melukis standar yang baik dan benar.

Teknik inilah yang kemudian harus dipelajari. Kalau di urusan menulis, teknik ini ada di kemampuan menuliskan kata dan kalimat sesuai dengan EYD, tau kapan harus bikin paragraf (kamu tau gak?), tau gimana nyusun plot, tau gimana cara ngebagi bab, dan lain sebagainya.

Ide yang keren itu, harus dituliskan dengan baik. Itu dulu deh. Kalau ada penulis yang nulisnya rada ajaib, jangan langsung dibilang dia gak ngerti teknik penulisan standar. Jangan-jangan dia udah jago banget sampe-sampe dia bosen ama yang standar dan pengen ngebikin sesuatu yang lebih dari sekedar oke.

Atau sederhananya: kalo kamu mau bikin gaun mewah, kamu harus mulai dari belajar membuat pola untuk daster. Jadi, kamu bikin gaun couture yang mewah bukan karena kamu gak bisa bikin daster, tapi kamu udah mumpuni banget kalo disuruh bikin daster sampe-sampe kamu bisa bikin daster sambil merem. Gitu. :D

Nah, kebanyakan penulis wannabe mulai dari pemikiran bahwa yang namanya belajar teknik itu gak perlu. EYD gak usah dihapal, toh ada editor. Yang penting IDE~! :D

Ide sekeren apapun cuman bakalan jadi ide kalo kamu gak bisa mengolahnya dengan teknik yang baik. Avianti Armand membuat cerpen yang luar biasa indah hanya dengan ide yang sangat sederhana. Tepung terigu bisa jadi cake yang luar biasa nikmat kalau tau cara mengolahnya. Coklat impor dari Swiss pun juga bisa berakhir jadi coklat leleh biasa.

Jadi, ide itu baru sedikit dari banyak hal yang harus kamu tau dan paham kalau kamu mau jadi penulis. :cutesmile:

Penulis itu sama kayak profesi lain yang gak sekonyong-konyong bisa mengandalkan bakat. Perlu latihan, kerja-keras, terus mengembangkan teknik, dan selalu mau belajar. Mau jadi penulis itu gak bisa cuman membaca “kiat sukses jadi penulis hebat”. Sama kayak jadi dokter kan juga gak bisa sekedar membaca “kiat sukses jadi dokter hebat”. Jangan pernah tanya lagi sama penulis terkenal bagaimana cara untuk jadi penulis karena semua juga bakalan ngasih jawaban yang sama: ya menulis! Belajar menulis, menulis, belajar menulis, menulis … dan begitu seterusnya.

Penulis wannabe: Saya bisa kok bikin novel yang lebih keren dari punyanya Dewi Lestari.

Saya: Iya. Tapi si Dewi Lestari bisa ngebedain “di” awalan dan imbuhan. Dia gak pernah salah makenya. Kamu tau gak?

Trus, sekarang saya mau curhat masalah plot.

Plot ini sesuatu yang esensi kalau mau nulis, apalagi novel. Cerita sedahsyat apapun kalo plotnya kagak beres, kedahsyatannya bakalan berkurang banyak. Kesian kan? :D

Plot itu beda dengan naratif.

(Naratif itu juga beda dengan narasi. Narasi itu cerita. Naratif itu penceritaan atau pengisahan.)

Plot itu potongan kejadian (atau kalau di film namanya adegan atau scene) yang kalau disusun akan membentuk naratif.

Contoh paling enak itu ada di novel detektif.

Kalau di novel detektif, ambil contoh novelnya Agatha Christie, plot akan dimulai dari si Hercule Poirot mendapat kabar akan kejadian pembunuhan. Lalu dia mulai mencari petunjuk, dan berakhir dengan ketahuanlah siapa yang ngebunuh.

Jadi plotnya:

  1. Hercule Poirot makan malam trus ketemu temennya yang minta bantuan mecahin kasus.
  2. Hercule Poirot ke TKP ngider-ngider nyari petunjuk.
  3. Hercule Poirot menceritakan tentang pembunuh, motif, dan cara pembunuhan.
  4. Pembunuh tertangkap.

Tapi, naratifnya (kejadian aslinya yang akan disusun di kepala pembaca) gak kayak gitu. Pembaca secara sadar pas mulai membaca plot 1, tau bahwa sebelum plot ini terjadi, sudah ada kejadian pembunuhan. Jadi, mereka (pembaca) gak masuk ke novel itu (dan juga melewati plot demi plotnya) dengan kepala kosong. Mereka merangkaikan plot menjadi naratif.

Naratifnya jadinya begini:

  1. Seseorang punya motif pembunuhan (ini jadi latar belakang pembunuhan).
  2. Seseorang melakukan pembunuhan.
  3. Hercule Poirot makan malam trus ketemu temennya yang minta bantuan mecahin kasus.
  4. Hercule Poirot ke TKP ngider-ngider nyari petunjuk.
  5. Hercule Poirot menceritakan tentang pembunuh, motif, dan cara pembunuhan (menceritakan ulang poin 1 dan 2).
  6. Pembunuh tertangkap.

Keliatan kan, bedanya? Naratif (atau kisah atau cerita) yang sampe 6 poin itu bisa diceritakan ulang dengan menghilangkan poin tertentu sehingga jadi cerita detektif yang menyenangkan untuk dibaca. Bayangkan ada penulis yang menuliskan plot cerita detektif dengan cara yang sama dengan urutan naratifnya: sampe poin ke 2, pembaca bisa mati bosan. Ini juga yang membedakan antara teknik penulisan fiksi dengan non-fiksi. Non-fiksi selalu linier. Bayangin aja kalau kamu baca koran terus wartawannya nulis kejadian pembunuhan pake ngumpetin siapa pembunuhnya dan apa motifnya trus baru dikasih tau di paragraf akhir. (Wartawan seperti itu sebaiknya segera alih profesi menjadi penulis cerita detektif.) :D

Tugas mulia penulis adalah: membuat rangkaian plot yang bisa dirangkaikan pembaca menjadi naratif yang enak, menyenangkan, misterius, atau mendebarkan (pilih salah satu atau salah dua, jangan semuanya juga) di kepala mereka. 

(Ilmu ini saya dapatkan dari Mbak Nan. T. Achnas di salah satu kelas Penyutradaraan Lanjutan. Semoga pahala yang berlimpah buat beliau karena sebelum saya masuk kelas itu, saya gak ngerti sama sekali bedanya plot dan naratif. :die: )

Menyusun plot ini perlu teknik. Ini yang bakalan ngebedain antara penulis bermodalkan “ide” sama penulis dengan pengetahuan teknik yang cukup.

Ada banyak teknik penyusunan plot. Salah tiga yang kita sering dengar adalah: linier (1-2-3-4), flashback (3-1-2-4, 2-1-3-4, dan komposisi mundur lainnya yang mungkin), dan flash-forward (1-3-2-4, 1-4-2-3, dan komposisi maju lainnya yang mungkin). Teknik lainnya hanya utak-atik teknik yang tiga itu.

Trus hubungannya sama mati gaya?

Merangkai plot ini sama susahnya kayak merangkai nama bayi … menurut saya. :D

Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, plot yang sukses dan nyaris tanpa bolong (plothole) itu udah setengah jalan menuju novel yang baik (bukan yang bagus loh, karena perlu banyak hal lain untuk ngejadiin novel itu bagus, misalnya: karakter, setting, dan lain sebagainya). Untuk ngebikin plot sebaik itu, memang butuh perjuangan dan banyak momen dimana saya ngerasa mati gaya:

…abis ini gimana lagi ya?

Pertanyaan ini bisa saya ucapkan ratusan kali.

…dan di sinilah saya sekarang: dengan keadaan tau tentang teknik plot bahkan bisa menuliskan post ini, tapi saya kebingungan dengan plot yang saya buat sendiri. :D

Mungkin memang ada penulis beruntung yang bisa bikin plot bagus tanpa pengetahuan yang cukup tentang teknik menulis. Tapi, penulis seperti ini biasanya gak bisa empiris: pas dia harus bikin plot bagus untuk novel lainnya, dia harus dapet inspirasi lagi dan inspirasi gak bisa diulang. Tapi teknik selalu bisa diulang dan disempurnakan. Hal inilah yang membuat menulis itu jauh lebih mudah kalau kamu mengerti tekniknya.

Sama kayak tukang bikin daster, kalau udah ada polanya, tinggal diulang-ulang dengan pola yang sama. Tapi kalau kamu gak tau tekniknya (polanya), kamu harus trial-error sampai kamu bener-bener dapet daster yang kamu inginkan. Bisa jadi dasternya jelek atau bisa jadi malah bagus, dan ini agak gambling jadinya.

…dan di sinilah saya sekarang: berusaha membuat plot dengan baik. :D

Tapi saya yakin bahwa belajar teknik itu gak sia-sia.

Bagaimana dengan harimu, manteman?

Hari ini saya sedih banget karena si Thaariq kejatohan kamera DSLR plus tripod. Kepalanya benjol gitu. Seharian saya nyoba ngompres pake handuk anget biar gak terlalu sakit. Tapi dia kayaknya lemes aja gitu. Nyusu gak mau, makan gak mau, maunya digendong-gendong doang. Barusan dia tidur, jadi saya bisa nulis post ini sambil mangku dia. Kalo ditaroh di kasur, langsung bangun trus nangis. Hiks. :cry:

Begitu ya kalo udah jadi ibu, anak yang benjol, ibunya yang ngerasa sakit. :cutesmile:

Semoga malem ini Thaariq gak rewel…. Saya nulis post ini juga sekalian curhat biar gak ikutan mewek kalo di Thaariq bibirnya udah mulai manyun-manyun. :mewek: Mengalihkan perhatian ke urusan lain biar tetep tenang dan siap nemenin Thaariq dengan ceria kalo dia bangun nanti. :D

Kalo penjelasan saya ada yang salah, tolong dibenerin ya, manteman. Pikiran saya rada berkabut sekarang. :cutesmile:

2 Comments

  1. Jihan Davincka
    Dec 1, 2013

    Ternyata sudah diposting dimari. Tadi pas googling bedanya plot dan naratif (yang eike tanyain di DM tempo hari), keluar link dari blogmu, Mak hihihihi :P. Thanks for sharing ;). Mau cepat-cepat praktik ah :music:

    • octanh
      Dec 4, 2013

      Ditunggu hasil prakteknya, Mbak Jihan. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)