#252: [Journey to Everton]: Day 4

Dibaca 460 kali

journeytoeverton4

Yah, lupa motong bagian bawah gambar yang putih ituh…. :die: Sebodo ah~ *ditabok*

Mari kita ngomongin orang, eh karakter.

Yeay~!

Kemarin, saya baru saja menyelesaikan plot sinopsis dan berniat untuk gak ngutak-ngatik lagi sampai semua bab selesai ditulis dan jadi draft 1. Yaaaaah, semua draft 1 itu gak ada yang sempurna. Pasti butuh editing ketat dan akan ada banyak perubahan juga. Tapi, yang namanya draft 1 itu harus ada bukan untuk jadi draft terakhir yang akan diperlihatkan ke publik: dia akan jadi draft utuh pertama yang bisa diliat, dicoret, dicabik-cabik, atau bahkan dibakar. :D

Satu hal yang masih saya kerjakan sambil menulis bab demi bab draft 1 ini adalah karakterisasi.

Kok ngerjainnya sambil jalan? Gak di-fix-kan di depan?

Karena tokoh-tokoh ini akan (dan harus berkembang) selama novelnya berjalan. Jadi, saya mengira-ngira seberapa banyak perkembangan ini kelihatan sambil menulis.

Waktu di novel itu kan berjalan terus. Terlepas dari bagaimana susunan plotnya. Tokohnya akan bertambah tua, beberapa pengalaman akan membuat dia sedikit-banyak berubah, bahkan beberapa hal kecil pun bisa membuat dia menjadi lebih berdimensi. Ini yang saya pikirin sambil menuliskan mereka.

Tokoh yang sempurna di sebuah novel itu tidaklah harus sempurna karena kalau sejak awal dia sempurna, dia akan membosankan. Karakter seperti ini disebut Gary Sue (untuk cowok) dan Mary Sue (untuk cewek). Kalau mau contohnya, bisa dilihat itu si Edward di Twilight Saga. Dari awal sampai akhir, dia selalu begitu. Tidak berubah. Tidak ada hal baru yang membuat karakternya tampak real. Semua oke. Semua sempurna. Membosankan. :|

Konflik yang dibuat penulis, seharusnya juga berimbas kepada para karakter. Entah itu membuat mereka tambah dewasa, tambah punya pemahaman yang dalam akan suatu hal, atau malah membuat mereka jadi ignorance. Semua harusnya sudah diatur.

Perkembangan karakter ini, sama menariknya dengan perkembangan plot karena kedua hal itu yang membuat tulisan kita seakan punya nyawa. Bayangkan Edward yang kena masalah apapun tetap cinta sama Bella dan begitu-begitu aja. Dari awal sampai akhir saga, cintanya begitu-begitu aja. Gak ada apa-apa yang baru. Setelah buku kedua (New Moon) yang mana diceritakan Edward akhirnya mengakui kekeliruannya sudah meninggalkan Bella dan membuatnya menyesal, saya sebagai pembaca gak menemukan perubahan apapun. Padahal, frankly speaking, hubungan mereka yang diuji dengan konflik seperti itu harusnya meninggalkan bekas dan membuat mereka jadi lebih … entahlah, lebih mikir, mungkin? Atau lebih dalam memahami cinta—yang sepanjang novel hanya saya pahami sebagai sentuhan fisik berulang setiap beberapa halaman sekali. :|

Karakter kuat, saya temukan di novel A Song of Ice and Fire. Karakternya tumbuh, berkembang, makin berdimensi. Misalnya saja Daenerys yang terasa perkembangannya sejak dia menikah dengan Khal Drogo, lalu sekarang jadi pemimpin pasukan Unsullied. Dari yang menye-menye ikut apa kata kakaknya Viserys sampai akhirnya keliatan bahwa dia punya bakat memimpin dan hilang sudah semua kemenyeannya. :D

Masalah yang kita (sebagai penulis) hadapkan ke para karakter harusnya membuat mereka berkembang. Kita aja begitu, kan? Hari ini saya ke pasar trus dicopet misalnya, besok-besok saya bakalan hati-hati. Itu contoh sederhananya.

Karakter yang saya suka?

Gak selamanya saya suka sama karakter protagonis saya…. :D

Betewe, sebelum lanjut lagi, saya mau tegaskan di sini kalau yang namanya protagonis itu bukan tokoh baik ya. Tokoh disebut protagonis kalau dia jadi tokoh utama dalam tulisan kita yang sedang berusaha melewati konflik yang kita ciptakan. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menghalangi keinginan tokoh protagonis mendapatkan apa yang dia mau.

Gak selamanya tokoh protagonis ini baik. Bisa jadi dia tokoh yang jahat. Kalau dia tokoh yang jahat, itu gak apa-apa loh. Tapi, kita harus bisa menjelaskan kepada pembaca kenapa dia bisa dikasih simpati dan diikuti ceritanya. Pernah liat kan film yang tokoh utamanya itu kerjaannya gak banget? Misalnya mafia kayak di The Godfather?

Beberapa hal perlu kita berikan pada tokoh protagonis agar pembaca bisa melakukan proses identifikasi (proses memahami dan bersedia menyelami si tokoh). Misalnya ada penggambaran walaupun dia mafia tapi dia sayang keluarga dan dia jadi mafia buat nyenengin anak-istrinya. Tokoh antagonis bisa jadi seorang polisi yang berusaha menangkap si mafia dan menjebloskannya ke penjara.

Balik lagi, gak selamanya saya suka dengan karakter protagonis saya. Bisa jadi itu karakter yang saya gak suka karena satu dan lain hal yang sifatnya pribadi. Tapi, saya harus tetap menampilkan karakter ini sebagai karakter yang bisa disukai dan diingat oleh pembaca agar pembaca bisa mengikuti ceritanya. Karena itulah saya selalu suka dengan karakter abu-abu; gak jelas sebenernya baik apa gak tapi tetep bisa ngebikin pembaca simpati. Siapa sih yang suka sama kelakuannya Tyrion Lannister? Tapi juga, siapa yang gak simpati sama dia? :D Dia salah satu karakter kuat di A Song of Ice and Fire karena punya banyak hal yang membuat dia jadi berdimensi, gak flat kayak talenan, dan dia tumbuh, berubah, mencari dirinya, kehilangan dirinya, mencari lagi, berubah lagi. So awesome!

Bikin mati karakter, mikir dulu!

Saya selalu mempertanyakan kematian karakter di novel yang saya baca. Apa itu kematian yang mengesankan?

Kadang kalau sudah kepepet, penulis suka bikin mati karakternya. Misalnya kalau ada kisah cinta segitiga, dibikinlah itu salah satu tokohnya (yang emang perlu disingkirkan demi happy-ending) dibikin sakit kronis dan mati.

Gak apa-apa sih kayak gitu.

Tapi di dunia nyata, sakit kronis gak muncul gitu aja yang bikin orang ujug-ujug mati. Ada orang yang mati padahal gak ada yang nyangka dia bakalan mati. Ada orang yang banyak disumpahin biar mati tapi gak mati-mati juga. Walaupun penulis itu bisa mencabut nyawa karakter manapun yang dia mau, ingat: kematian itu besar urusannya. Kalau kematian itu hanya untuk menghindari konflik berikutnya dan ngebikin pembaca senang dengan ending-nya, pikir lagi! Karena kematian itu besar, gunakanlah untuk hal yang besar juga. Misalnya: untuk menyelamatkan manusia seperti di film Armageddon. Atau untuk ngasih twist yang bikin makjleb kayak di film Phenomenon. Kalau cuman buat menghindari konflik dan gak ngasih kontribusi sama klimaks cerita dan ending, mending biarin aja itu tokoh menikmati hidupnya. Kesian. :die:

Ya, Mas Gagah harus mati karena judulnya Ketika Mas Gagah Pergi. Kematian Mas Gagah ini membawa begitu banyak perubahan sama si tokoh utamanya. Perubahan itu pun membawa dampak dan terasa feel-nya sama pembaca. Kematiannya gak akan sia-sia….

Ya, bunuh salah satu tokoh favorit pembaca biar bikin cerita kamu makin geregetan kayak Ned Stark di Game of Thrones. Geregetan toh? :D

Karakter yang saya suka?

Hmmm…. Saya suka karakter yang terbuka untuk dikasih pengembangan apapun. Itulah alasannya kenapa saya suka karakter abu-abu. Walaupun saya selalu memastikan bahwa kadar keabu-abuan tiap karakter itu beda. Mereka bisa diapain aja dan kita selalu punya kesempatan untuk memberikan hal-hal baru yang membuat mereka lebih berdimensi. Itu menyenangkan.

Toh saya juga bukan orang yang sepenuhnya baik. Karakter kayak gini lebih bisa saya (dan mungkin kebanyakan pembaca) pahami dan identifikasi dibanding Mary Sue atau Gary Sue.

Kecuali kalau kamu mau nulis novel buat guilty pleasure….. :D

Segitu dulu curhat sotoy saya ini, manteman…. :D

Saya membuka bulan Mei ini dengan harapan bisa menyelesaikan novel ini secepat yang saya bisa. Mungkin satu atau dua bulan. Menikmati proses menulis itu juga penting loh. Buat apa kita nulis kalo gak untuk bersenang-senang dan mendapat pelajaran. Pembaca juga membaca untuk bersenang-senang dan mendapat pelajaran, kan? :D

Buh-bye~

3 Comments

  1. vay
    May 29, 2013

    Snape bukannya udah jadi karakter misterius dr buku 1-6? Dan sebenernya udah banyak clue yg nunjukin kalo dia itu baik, jadi pengungkapan di buku ke-7 ga terlalu mengagetkan… walaupun sedihnya tetep kena bangettt

  2. Milo
    May 3, 2013

    Saya paling bete sama tokoh yang too good to be true, makanya saya gak suka Fachri di Ayat-ayat Cinta. Kalo si Edward saya gak pernah baca.

    Dan karakter yang paling ngagetin dan nampol itu Snape. Dari buku pertama ampe keenam itu keliatannya antagonis banget. Eh, pas terakhirnya kok jebulnya so sweet. Gak keliatan maksa penjelasan sikap si Snape ini. Pinter gitu yg bikin cerita.

    Yah, kayaknya saya OOT lagi.

    • octanh
      May 4, 2013

      Aku juga gak suka Fakri (gimana sih nulis namanya). Plus semua tokoh di novelnya Kang Abik. Item-putihnya berasa banget. :| Padahal di cerpen/novel anak aja, kadang tokohnya gak seitem-putih itu. Misalnya ada anak yang berbuat salah tapi merasa bersalah dan minta maaf dengan cepat. Ini nunjukin kalo itu anak sebenernya abu-abu juga. Bisa salah juga…. *elus-elus dagu*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)