#254: Different Dream

Dibaca 479 kali

Pancake, coffee, dan books

Ini salah satu mimpi saya: makan pancake, minum kopi, dan baca buku di pagi hari pas turun hujan. Alhamdulillah udah terkabul mimpinya pekan kemaren. :D

Semalam, sambil nungguin anak-anak tidur, saya -walking ke Mbak Alaika Abdullah tentang sesuatu yang indah pada waktunya. Trus saya mikir….

*masih mikir*

Saya mikir tentang mimpi-mimpi saya sendiri.

Saya memang gak pernah membayangkan diri saya bakalan kerja di luar rumah suatu ketika nanti. Bukan karena saya gak mau, tapi lebih karena saya ngerasa gak mampu. Saya gak bisa ngadepin rutinitas yang begitu-begitu aja setiap hari. Mungkin ada yang ngeliat kalau kehidupan saya sekarang mengikuti jadwal tertentu yang berputar dengan cara yang sama setiap hari. Sayangnya, itu gak tepat. :cutesmile:

Walaupun saya punya jadwal harian harus begini-begitu setiap hari, saya gak pernah melakukannya di waktu yang sama. Kemaren saya nyuci pagi-pagi, hari ini, agak sore, bisa jadi besok saya nyucinya siang atau malem. Saya gak tahan dengan jadwal yang diatur berdasarkan jam. Mungkin itu salah satu alasan kenapa saya berharap (harapan kan juga do’a ya) agar saya gak perlu bekerja di luar rumah setelah menikah. Membayangkan rutinitas itu membuat kepala saya puyeng…. :die:

Tapi, kadang kala saya juga mendapatkan komentar seperti:

Enak ya jadi ibu rumah tangga, bisa santai-santai di rumah.

Atau,

Aku pengen jadi ibu rumah tangga soalnya kayaknya gak sibuk gitu. (Oh ya? Yakin, gak sibuk?)

Atau,

Lo kagak kepengen keluar rumah apa? Kerja gitu? Sayang hidup lo cuman di rumah doang.

Satu hal yang ingin saya tegaskan tentang ibu rumah tangga: cukup sibuk tapi menyenangkan.

Banyak yang udah ngebahas hal ini, jadi saya gak mau ngebahas lagi. Tiap orang juga punya pendapatnya masing-masing yang dasarnya beda-beda, gak ada yang salah.

Tapi … ada yang manteman (dan orang-orang yang bertanya seperti di atas itu pada saya) lupa: bahwa saya begini bukan hanya karena keadaan yang memaksa saya menjalani hidup seperti ini. Saya memilih dan memutuskan untuk hidup seperti ini karena saya punya mimpi. Mimpi ini mungkin beda dengan mimpi orang lain, jadi jalan yang dipilih pun beda. Kalau dari luar, mungkin kelihatannya saya begitu-begitu aja. Tapi, siapa yang tau tentang skema besar hidup yang saya rancang dan impikan? Tentang hal-hal yang ingin saya kejar dan perjuangkan? Tentang hidup dan keindahannya yang saya bayangkan?

Everyone has different dream.

Itu intinya….

Ada satu hal rahasia yang mau saya ceritakan di sini: mimpi saya datang dan pergi. Bukan karena saya tidak punya satu hal yang saya benar-benar inginkan dan mimpikan, tapi karena mimpi itu juga adalah bagian dari skema besar dan ada di dalam peta realms hidup saya, saya menyesuaikannya dengan keadaan saya sekarang. Sehingga mimpi yang saya ingin saya capai itu bukan selalu hal-hal besar yang jauh di depan sana, entah kapan bisa terwujud. Bisa jadi mimpi saya adalah kumpulan hal-hal kecil dan sederhana yang saya jejerkan sepanjang jalan hidup saya. Sehingga ketika satu per satu mimpi itu terpenuhi, saya bisa lebih bersyukur sekaligus lebih bersemangat.

Ini juga salah satu cara yang saya lakukan untuk menghindarkan diri saya dari perasaan iri kepada orang lain. Saya melihat apa yang sudah saya lakukan dan bersyukur. Itu saja yang penting. Kalau ada orang lain yang mendapatkan apa yang saya inginkan, saya jadikan itu pemacu buat saya untuk lebih bekerja keras. Selain itu, kalau ada orang yang bisa mencapai apa yang saya inginkan, itu juga pertanda kalau mimpi saya memang bisa dijadikan kenyataan. Bukan hanya mimpi-mimpi belaka.

Syahdan, sewaktu saya SMA, mimpi saya adalah bisa les di LIA. Itu tempat les mahal yang ketika saya kelas 1 SMA, saya tau bahwa orangtua saya tidak bisa membiayainya. Tapi saya bermimpi. Saya berharap, dan saya mempercayai bahwa yang namanya rejeki itu bisa datang kapan saja. Saya tidak perlu lama bermimpi karena setahun kemudian, saya disuruh (jadi, ini beneran disuruh, bukan karena saya yang minta) untuk les di sana. Rasanya waktu itu senang sekali. Walaupun saya harus jalan kaki dari depan Mall Kalibata ke LIA bolak-balik, dua kali seminggu. Saya bisa les di sana tapi uang jajan saya hanya ditambah sedikit untuk ongkos padahal saya harus naik angkot dua kali dan bis sekali dari Munjul. Jadi kalau saya naik ojek, artinya saya gak bisa makan siang. Saya pun memilih untuk jalan kaki saja. Jaraknya lumayan jauh juga. Mungkin sekitar 1 km. Kalau saya jalannya cepet, sekitar 20 menit baru sampai. :cutesmile:

Setelah mimpi les di LIA ini jadi kenyataan, saya pun menambah deretan mimpi saya. Ada yang jadi kenyataan, ada yang gak. Ada yang akhirnya saya keluarkan dari daftar mimpi karena saya merasa mimpi itu bukanlah hal yang benar-benar saya inginkan terjadi di dalam hidup saya. Ada mimpi baru yang saya masukkan ke daftar. Begitu seterusnya. Ini terjadi setiap hari, bukan hanya di awal tahun ketika membuat resolusi tahun baru.

Mimpi-mimpi kecil yang jadi kenyataan ini yang kemudian membuat saya lebih positif memandang hidup. Bahwa keajaiban itu ada, kerja keras kita gak akan sia-sia, do’a itu selalu ada jawabannya dan Allah selalu menjawabnya, dan saya merasa banyak yang harus disyukuri.

Makanya saya kadang agak bingung sama orang yang iri dengan orang lain. Bukan karena irinya, tapi karena saya merasa seharusnya mereka bisa menghitung betapa banyaknya mimpi kecil mereka yang jadi kenyataan. Hal itu harusnya membuat mereka merasa sama beruntung dan berharganya dengan orang lain. Kalau ada orang yang mendapat begitu banyak hal, sebaiknya kita lihat dulu. Jangan-jangan, mereka memang sudah bekerja keras dari waktu yang lama untuk mendapatkannya. Bukan makbedunduk tau-tau dapet aja gitu.

Pernah saya menulis di ini dulu bahwa saya percaya tiap orang itu dilahirkan untuk menunaikan tugas yang hanya mereka yang bisa melakukannya. Yah, bisa dibilang tiap orang itu superhero. Misalnya saya yang terlahir untuk menjadi ibu dari Isha, Inda, dan Thaariq. Itu tugas saya yang hanya saya yang bisa menjalankannya. Atau Tuan Sinung terlahir memang untuk ngurusin kecerewetan saya, itu tugas dia yang gak tergantikan. Jadi, itulah yang seharusnya jadi fokus tiap orang: menunaikan tugas yang dia terlahir memang untuk itu. Di sela-sela tugas itu, dia bisa menyisipkan mimpi-mimpinya, besar maupun kecil.

Pernahkah manteman berpikir bahwa apa yang terbersit di pikiran kita dan kita harapkan, lalu kita jadikan mimpi itu diijinkan Allah bukan untuk menggoda kita. Bukan buat ngebikin kita stress atau jadi iri sama orang lain. Tapi karena Allah tau kita bisa mewujudkannya, makanya diijinkan untuk terbersit di sana. Tinggal kita mau gak mewujudkannya…. :cutesmile:

Saya juga merasa hidup lebih terasa menyenangkan ketika saya mulai sibuk mengejar mimpi-mimpi saya dan berhenti mengeluh. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain karena saya dan orang yang saya jadikan pembanding itu memang tidak bisa dibandingkan. Saya dan dia punya banyak faktor yang membuat kami sama-sama berharga. Jadi, membandingkan diri adalah jalan paling cepat untuk menyakiti diri saya sendiri. Ketika saya mulai menerima diri saya, berpikiran baik, bertutur-kata baik, berprasangka baik … hal-hal baik pun banyak terjadi. :cutesmile:

…dan hal-hal baik itu bukanlah hal kecil.

Banyak dari hal-hal baik itu adalah sebagian dari mimpi-mimpi besar saya.

Seandainya saya bisa mengatakan kepada diri saya sepuluh tahun yang lalu, saya mau bilang kalau kehidupan saya sangat baik sekarang. Jadi, saya yang dulu itu gak perlu kuatir…. Cukup melakukan apa-apa yang diperlukan sebaik mungkin aja. Sayangnya, saya yang sepuluh tahun yang lalu itu bukanlah saya yang seperti sekarang. Saya banyak ngedumel dan mengasihani diri sendiri. Belum lagi saya juga banyak mengeluh dan menyalahkan keadaan; dua hal yang sangat saya sesali pernah saya lakukan. :mewek:

Seperti kata Mbak Alaika: semua akan indah pada waktunya….

Sampai waktu itu datang, kita gak boleh diem juga. Banyak hal yang bisa diimpikan, bisa diwujudkan, bisa diperbaiki, dan bisa dilakukan. Jangan diam~!

Banyak hal juga yang menanti di depan sana untuk ditaklukkan, dijadikan mimpi, dan diwujudkan.

Saya ingin sekali jadi penulis sejak saya bisa menulis—mungkin sejak SD. Mungkin, sekarang hal itu jadi indah karena sekaranglah waktunya…. Sekaranglah waktu untuk mewujudkannya. Sekarang saya bisa menulis kapan saja saya mau, dimana saja saya mau. Jadi, gak ada juga alasan untuk ngebikin waktu ini, sekarang ini, menjadi gak indah. Mengejar mimpi, seperti halnya mimpi itu sendiri, sama indahnya. Kalau mimpi itu ada di ujung jalan sana, jalan setapak yang menuju ke mimpi itu juga indah…. :cutesmile:

Jangan membandingkan kehidupan manteman dengan kehidupan saya karena kehidupan kita sama indahnya. Jalan kita beda, jaraknya beda, kecepatan berjalan kita pun beda. Tapi satu hal, perjalanan itu bisa dibuat seindah yang kita inginkan. Saya pun gak mau membandingkan diri, mimpi, dan perjalanan mengejar mimpi saya dengan siapapun karena saya yakin saya punya nasib dan takdir saya sendiri.

Tapi, kita tetap bisa saling menyemangati…. :cutesmile:

Salah satu mimpi besar saya sama dengan mimpinya Mbak Alaika: jadi penulis novel. Bedanya, kalo Mbak Alaika udah ada novel yang terbit (dan dengan demikian sudah bisa dinisbahkan sebagai penulis novel), kalau saya belum. Semoga saya cepat berjodoh dengan penerbit. :cutesmile:

(Kenapa ya tulisan saya jadi gak runut begini? :cry: )

Pokoknya gitu deh. *lepas tangan* :lol:

Yah, gitu deeeeeeeh….

*menghilang di balik cucian*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)