#255: [Prompt #12] Konde Usman

Dibaca 908 kali

Gambar Model Sanggul Tradisional

credit

Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul.

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini?

Aku mengambil konde itu dan meletakkannya di atas meja makan. Sepertinya benda itu memang tidak sengaja terjatuh dari meja ini karena aku melihat ada beberapa tusuk konde dan kembang goyang di atas meja. Usman keluar dari kamarnya. Sedikit terkejut melihat aku sudah ada di ruang tengah. Ini kedatanganku yang ketiga kali ke rumah ini. Di kedatanganku yang kedua, Usman memberiku kunci rumah agar aku bisa tetap masuk walaupun dia tidak ada di rumah. Aku menunggu beberapa lama tadi setelah mengetuk pintu tapi tidak ada yang menjawab. Aku pun menggunakan kunci itu.

Aku menyodorkan sekotak martabak bangka yang sengaja aku beli di perempatan untuknya. Dia membuka kotak martabak itu lalu duduk di bangku meja makan. Aku pun duduk di hadapannya.

Aku mengeluarkan amplop coklat tebal ketika dia mengambil satu potong martabak lalu mengunyah sambil memuji,” Enak!”

Dia mengambil satu potong lagi dan dengan cepat menghabiskannya.

“Kayak orang udah lama ndak makan enak,” komentarku sambil meletakkan amplop itu di hadapannya. Usman melihat amplop itu dengan pandangan nanar.

“Kata Bapak, kamu sebaiknya pulang saja. Di kampung masih ada yang bisa dikerjakan. Mengajar ngaji di mesjid, misalnya. Kamu kan lulusan pesantren. Sawah Bapak mas—“

Usman dengan cepat memotong kalimatku.

“Saya mau di sini, Mbak. Saya mau mengejar cita-cita saya jadi artis sinetron.” Aku masih merasakan nada optimis dan lugu, sama seperti yang aku dengar dulu ketika dia berpamitan hendak pergi ke Jakarta.

“Tapi keadaanmu sekarang ini? Beli makan saja kamu susah.”

“Aku baru dapet peran figuran minggu kemarin. Syutingnya mulai hari ini. Peran kecil tapi bakalan membuat namaku dikenal publik.”

“Setelah dua tahun, kamu baru dapet satu peran kecil ini….”

“Emang susah dapet peran, Mbak.”

Usman lalu meninggalkanku sambil membawa amplop yang aku berikan dan konde di meja. Tubuhnya yang semakin kurus itu menghilang di balik gorden kamarnya.

* * *

“Bagaimana kabar Usman?” tanya Bapak. Lelaki tua itu duduk disampingku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mendengar bunyi napasnya. Tanda paru-paru tidak sehat.

“Baik, Pak. Dia udah dapat peran. Tapi masih peran kecil.”

Aku melihat siaran di televisi. Acara lawak yang menurutku sama sekali tidak lucu. Mataku mengamati seorang banci yang menjadi sinden. Dandanan dan lawakan tidak bermutunya membuatku mual.

“Syukurlah kalau begitu.” Bapak mengambil kacamata dari saku kemejanya. Aku buru-buru mematikan televisi. Seandainya tida ada Bapak, mungkin sudah kulempari televisi itu dengan gelas.

“Kenapa dimatikan?” tanya Bapak bingung.

“Acaranya ndak bagus, Pak.”

Aku berjalan ke kamar sambil berusaha melupakan konde dan dandanan banci Usman yang menjijikkan.

* * *

Flash Fiction ini dibuat untuk Prompt #12 di Monday Flash Fiction. 

12 Comments

  1. nyapurnama
    May 19, 2013

    kunjungan pertamaaa.. ini keren banget loh maak, dan kayaknya langsung kepengen mengeksplor isi blog ini hahaha :twisted:

    • octanh
      May 26, 2013

      Selamat dataaaaaang. :D

      Doh, saya bikin FF kalo lagi ada ide doang. *tutup muka pake panci* Banyakan blank gak punya idenya…. :D

  2. latree
    May 10, 2013

    :ngiler: Comment

  3. fatwaningrum
    May 9, 2013

    setuju sama yang lainnya, tinggal dpadetin lagih :)

    • octanh
      May 26, 2013

      Iya, MBak. Nanti saya coba madetin. Tapi susah ya madetin cerita yang udah pendek begini…. *curhat* :D

  4. RedCarra
    May 9, 2013

    Udah keren. Plotnya dapet. Tinggal padetin. :D

    • octanh
      May 9, 2013

      Mbak Carra komennya duah!

      Iya, harusnya bisa lebih padet. Nanti aku coba madetin lagi mana-mana yang bisa dibuang (walopun rasanya sayaaaaang….). Hiks. :cry:

  5. RedCarra
    May 9, 2013

    Udah keren. Plotnya udah dapet. Tinggal dipadetin lagi :D

  6. Diah Kusumastuti
    May 8, 2013

    sependapat dengan mbak Kartika :)

  7. kartika kusumastuti
    May 8, 2013

    ini bagus mba, beneran! saya suka. tapi masih terlalu banyak sampiran menurut saya. coba penjelasan si “Aku” yg masuk rumah Usman trs bawain martabak, dsb, dsb itu dihilangkan saja, langsung ke dialog “kata Bapak, …” dst. trs amplop itu apaan ya mba? kiriman dari Bapak? kayaknya ga pake itu gpp kan? ga terlalu pengaruh ke cerita. IMHO :oops:

    • octanh
      May 9, 2013

      Saya selalu bermasalah kalo harus madetin gitu soalnya … soalnya saya gak tegaan. Penyakit banget sih emang itu. Karena ngerasa udah kadung ditulis trus sayang banget kalo dibuang. :( Tapi, saya mau nyoba madetin ini. :cutesmile:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)