#268: Then I Learn How to Love

Dibaca 771 kali

IMG_2397edit

Mungkin kita (terutama saya) sudah terlalu terbiasa dengan commonsense bahwa ketika kita menjadi seorang ibu, ketika itu pulalah kita mencintai anak kita. Apa adanya. Bagaimanapun keadaannya. Saya percaya bahwa hati seorang ibu itu memang dibentuk untuk diisi oleh cinta untuk anaknya. Alami. Tanpa usaha apapun. Terjadi begitu saja. Ini gak sama dengan proses menyusui yang sulit itu: dimana saya dan bayi saya berjuang bersama agar ASI bisa keluar dan jumlahnya cukup. Cinta gak begitu. Cinta itu sudah cukup, mulus, sempurna, tanpa diusahakan….

Tapi, punya tiga anak dengan perjuangannya masing-masing membuat saya menyadari bahwa cinta seorang ibu itu sama saja seperti cinta yang lain: perlu diusahakan, dirawat, dan diperbaharui setiap kali. Akan ada banyak yang gak setuju pastinya dan bilang bahwa cinta di atas darah ini take it for granted—udah dari sononya. Setiap ibu pasti mencintai anaknya. Benarkah?

Kalau saya membaca berita tentang aborsi, anak yang ditelantarkan, bayi yang dibuang, child abuse … apa itu terjadi karena ibunya tidak mencintai anaknya? Ataukah cintanya masih kurang banyak untuk anaknya? Ataukah keadaan menekan sedemikian rupa sampai dia memilih dirinya sendiri dibanding anaknya? Atau apa?

Saya membesarkan anak-anak saya sambil belajar mencintai mereka. Kedengaran aneh dan sangat tidak keibuan memang….

Saya tidak dibesarkan oleh orangtua saya. Ketika saya berusia lima tahun, saya tinggal dengan adik dari ibu saya yang saya panggil Mama. Beliau tidak punya anak dan mengangkat saya jadi anaknya. Saya tidak benar-benar mengingat bagaimana rasanya punya ibu kandung karena sepanjang ingatan saya, saya hanya tinggal dengan Mama. Mama yang merawat saya. Tapi, saya tidak pernah belajar tentang cinta di sana….

Selama masa itu, saya tidak berhubungan dengan orangtua saya walaupun saya beberapa kali pernah bertemu ketika liburan sekolah. Menjelang saya SMA, saya baru punya hubungan yang cukup intens dengan mereka walaupun hanya lewat telepon.

Saya gak mau detail menceritakan apa-apa saja yang saya lalui karena sampai saat ini pun—bahkan sambil menulis post ini—saya masih berjuang menyelamatkan diri saya dari banyak luka masa lalu. Intinya, iya ada kekerasan fisik dan verbal. Terjadi dari sejak saya SD sampai saya memutuskan dan berani untuk melarikan diri dari itu semua, kira-kira beberapa tahun yang lalu. Setelah saya menikah, saya berusaha menyembuhkan diri dari banyak hal, termasuk sisa-sisa kepedihan itu.

Yang dilakukan suami saya setiap hari—bahkan berulang-ulang setiap kali—adalah meyakinkan saya bahwa hal itu tidak akan terulang lagi. Setidaknya saya dan dia tidak akan mengulanginya. Setiap hari, Tuan Sinung selalu berkata kalau saya cantik, saya manis, saya istri yang baik, saya pintar, saya berbakat (entah bakat apa yang dia maksud :cutesmile: ) untuk membuat saya lupa bahwa hampir sepanjang hidup, dulu, saya mendengar kebalikan dari kata-kata itu, setiap hari.

Saya tidak pernah diajarkan bagaimana caranya mencintai karena saya tidak pernah merasakan bagaimana dicintai.

Hubungan saya dan orangtua saya kembali menjadi sangat dekat setelah saya melahirkan anak saya yang pertama, Aisha. Sejak itulah saya mulai belajar untuk mencintai. Waktu saya melihat Isha (panggilannya Aisha) pertama kali setelah SC di RS, saya tidak tahu harus bagaimana. Rasa cinta yang kata banyak orang otomatis dirasakan dari ibu ke anaknya itu tidak saya rasakan. Saya melihat seorang bayi, berusaha menyusuinya, tapi saya bingung dengan perasaan saya sendiri. Mungkin saya memang mencintainya karena saya harus mencintainya. Apa kata orang kalau saya tidak mencintai anak saya sendiri?

Ibu saya mengajarkan saya bagaimana merawat Isha. Saya melihat interaksi antara Ibu saya dan Isha. Berkali-kali Ibu saya mengatakan kalau dia menyayangi Isha, mencintainya, Isha sangat cantik, sangat pintar, begitu seterusnya mungkin sampai ribuan kali. Ketika itu, saya pun mulai belajar bahwa saya bisa mencintainya, perlahan-lahan. Membangun hubungan dengan perantaraan kata-kata, sentuhan, dan air susu. Saya belajar mendekap, menggendong, membelai, dan melakukan hal-hal lain yang mungkin seharusnya secara otomatis bisa saya lakukan dengan sendirinya tanpa diajarkan siapapun.

Ketika Ibu saya pulang kembali ke Riau, saya mengulang-ulang apa yang saya lihat dari beliau. Saya menyadari bahwa cinta itu bisa dibentuk dan ditanamkan. Sampai saya menyadari bahwa saya mencintai Isha melebihi apa yang saya bisa bayangkan. Waktu dia jatuh, yang menangis kesakitan itu saya, bukan dia. Sejak itulah saya tahu bahwa saya bisa mencintai lebih banyak dan lebih baik dari apa yang saya sangka.

Ketika saya melahirkan Inda, saya pun melakukan hal yang sama: saya belajar mencintainya. Tapi hal itu tidak terulang lagi pada Thaariq yang bahkan sudah saya cintai jauh sebelum saya tahu kalau saya hamil. Saya menunggunya. Setelah dua kali SC, saya tahu kalau saya hanya bisa SC satu kali lagi dan saya mengambil kesempatan itu. Saya menunggu kondisi fisik saya cukup bagus untuk hamil. Tapi, ketika Thaariq lahir, saya pun kembali belajar mencintainya sambil terus mencintai dua anak saya yang lain; Isha dan Inda.

Kalau di sepanjang hidup saya dipenuhi cinta, mungkin saya tidak perlu belajar bagaimana mencintai dengan baik dan benar. Saya hanya tahu kebalikannya. Saya hapal betul bagaimana bertindak kasar, memaki, menyakiti, tapi saya masih belum ingat betul tentang cinta. Itu yang saya hadapi setiap hari, sampai hari ini.

Ringan sekali rasanya tangan saya untuk memukul kalau saya mau. Saya sudah melihat banyak sekali pukulan, saya tahu bagaimana melakukannya. Tapi, saya berjuang untuk melupakan itu. Saya melepaskan diri saya dari bayang-bayang bagaimana saya dibesarkan.

Saya tidak punya contoh bagaimana membesarkan anak dengan cinta. Dengan kelembutan. Kenangan tentang Ibu dan Ayah saya hanya samar-samar saya ingat. Itulah kenapa saya selalu menelepon Ibu saya nyaris setiap hari untuk menceritakan tentang Isha, Inda, dan Thaariq. Saya dan Ibu saya akan membawa obrolan apapun tentang mereka sebagai hal yang menyenangkan. Bahwa mereka adalah anak-anak yang baik, pintar, dan sangat lucu. Bahwa saya bisa menemukan cara setiap kali, setiap hari, untuk menyempurnakan cinta saya untuk mereka. Bahwa (ini yang terpenting) kalau saya sudah terpikir untuk melakukan apa yang dulu Mama saya lakukan pada saya, saya bisa memikirkannya kembali dan mengingat betapa saya mencintai mereka. Satu pukulan sudah cukup keras untuk menghancurkan itu semua.

Pernikahan buat saya adalah usaha menyembuhkan diri saya sendiri. Tanpa diberitahu pun saya sudah paham bahwa apa yang saya alami dulu akan saya ulangi pada anak-anak saya kalau saya tidak berhati-hati. Saya punya kecenderungan seperti itu. Maka untuk menyembuhkannya, saya belajar mencintai mereka, setiap hari.

Saya juga belajar menerima cinta dari mereka.

Saya menulis bukan untuk mengejar ketenaran atau uang, atau apapun. Saya menulis untuk membiarkan sisi baik dari diri saya keluar. Agar saya bisa melihat bahwa saya ini gak jelek, saya baik, saya cukup punya harga untuk dihargai.

Begitu juga kalau saya memasak, mengambil foto, atau melakukan hal lain yang saya sukai. Mungkin saya sudah rusak, saya retak, banyak bagian hati saya yang sudah lama patah, tapi saya bisa merenovasinya satu per satu. Membuat hati yang baru. Membuat diri saya yang baru.

Ini juga yang membuat saya menolak untuk bekerja di luar rumah. Saya ingin menjaga sesedikit mungkin konflik yang timbul dengan orang lain, apalagi dengan pekerjaan. Saya ingin melakukan hal-hal yang saya suka saja. Ternyata jadi Ibu Rumah Tangga adalah hal yang saya suka, selain menulis tentu saja. Saya di rumah untuk menjaga diri saya sendiri. Saya dekat dengan anak-anak, saya dekat dengan suami. Saya belajar mencintai mereka, saya pun belajar untuk dicintai. Begitu terus setiap hari.

Saya tidak ingin anak-anak saya mengalami apa yang saya alami.

Bukan hanya karena itu bisa membuat mereka hancur dan rusak, tapi juga karena butuh waktu dan kesabaran yang panjang untuk menyembuhkannya. Merekatkan satu per satu kepingan hati. Membuang satu demi satu kenangan buruk.

Kalau ada yang penasaran seburuk apa sih hidup saya dulu, saya bisa kasih gambaran singkat: buruk sekali sampai saya terpikir untuk bunuh diri sewaktu SMP. Sekali waktu saya pernah mencoba melakukannya, tapi saya terlalu takut sakitnya mati. Jadi, saya urungkan.

Bisa mencintai dan hidup dengan tenang seperti yang saya lakukan sekarang, adalah pencapaian tersendiri buat saya. Saya seperti bisa melihat hidup dari sisi yang lain. Saya menjadi merasa punya harga diri dan punya teman. Saya tumbuh kembali bersama anak-anak saya, belajar banyak hal baru lagi. Saya menjadi diri saya yang berbeda.

Saya membuka tulisan ini dengan menyama-ratakan semua ibu. Mungkin tidak semua ibu perlu belajar mencintai anak-anak mereka. Mungkin hanya ibu yang seperti saya….

Sekarang saya tidak lagi menyesali masa lalu. Memang seperti itulah jalannya. Saya hanya perlu mengingat bahwa saya tidak akan mengulangi apapun itu kepada anak-anak saya. Bahwa kehidupan yang sekarang ini harus berbeda. Untuk kehidupan yang dulu itu, saya berdamai dengan semua yang ada di sana, termasuk diri saya sendiri. Jadi ya, saya tidak menyesalinya. Sampai di sini, saya mungkin sudah sampai di tahap melupakannya. Karena itu pula saya mencoba tidak menuliskannya.

Tapi entah kenapa tiba-tiba saya merasa ingin menuliskan tentang ini sekali ini. Bukan tentang hal buruk di masa lalu itu, tapi tentang dampaknya di masa depan. Bahwa kekerasan, sedikit atau pun banyak, yang kita lakukan pada anak-anak kita akan membekas jauh sampai mereka dewasa. Bahwa menjadi ibu itu adalah belajar tentang kasih-sayang, cinta, kelembutan, dan kelapangan dada setiap kali, setiap hari. Karena itu, menjadi ibu itu tidak mudah. Tapi juga tidak sulit. Dan yang sudah sangat pasti: indah.

Kalau anak-anak itu bisa bertahan seperti saya…. Bagaimana kalau mereka menolak untuk memperbaiki apa yang sudah rusak atau bahkan benar-benar bunuh diri?

Satu pukulan hari ini, mungkin akan perlu ribuan hari untuk menyembuhkannya.

15 Comments

  1. MJK
    Jun 13, 2013

    Waduh harus disediakan banyak tisu di post ini. Padahal mungkin yang bikin post itu, malahan kayak pemeran utama Lara Croft Thomb Raider atau mungkin saja Speed hihi :cutesmile:

  2. lia rahmawati
    Jun 12, 2013

    #hugs#

    kata suami saya : “beginilah hidup, kalau lurus-lurus aja kita ga akan belajar” :cutesmile: :cutesmile:

  3. lieshadie
    Jun 12, 2013

    gak bisa ngomong nih Mak…yg jelas kita memang perlu belajar banyak hal dari masa lalu, entah pedih entah senang..

  4. Shinta
    Jun 12, 2013

    Makk, hmm #speechless

    #keluarairmata

    #eh apa karna backgroudnnya bawang merah ya

    #abaikan

  5. pitaloka
    Jun 12, 2013

    Terharu bacanya…hampir meleleh air mata, hampir mirip kisahnya dengan saya tp bedanya saya justru orangtua sendiri. Dan ternyata efeknya baru terlihat ketika mempunyai anak, perjuangan batin antara ingin berusaha mencintai anak2 tapi harus menahan emosi agar tidak melakukan tindakan kekerasan. Sering yg terjadi penyesalan…sampai berfikir haruskah meminta bantuan seorang psikolog?. Beruntung mbak octa memiliki suami Ɣªήğ membantu mensupport

  6. MJK
    Jun 11, 2013

    Tapi belajar mencintai kadang harus belajar keras
    Ketika mereka yang dicintai ke luar dari jalur
    Ketika mencintai membuat mereka tidak mandiri
    Ketika mencintai membuat mereka lupa diri
    Pandangan paling mulia dalam mencintai pun, memberikan pipi kiri ketika pipi kanan dipukul berubah setelah berakad abad
    Kalau belajar terus prakteknya kapan
    Belajarsambilpraktekprakteksambil belajar.com :music:

  7. rina
    Jun 11, 2013

    membaca tulisan mba menyadarkan saya, betapa saya begitu beruntung memiliki ibu yang begitu besar mencintai saya.

    btw, support yang diberikan suami mba luar biasa :) sepertinya itu salah satu yang membuat mba bisa berdamai dengan masa lalu :)

  8. uwienbudi
    Jun 11, 2013

    terimakasih… terimakasih…terimakasih. seandainya boleh menuliskan, sepanjang kolom komentar ini akan saya tulis “terimakasih” mak Octa :’)

  9. leyla
    Jun 11, 2013

    Nyaris sama kisahnya dg saya. Saya jg belajar mencintai anak-anak.

  10. Ety Abdoel
    Jun 11, 2013

    Hm, engkau tidak sendirian mengalami hal ini. Saya tahu luka dan kepedihan sakit masa lalu memang butuh waktu lamaaaaaa untuk sembuh. keep fighting n move on

  11. mak salma
    Jun 11, 2013

    mak …aku menangis disini…membaca postingan dirimu…mana jogja lagi hujan ini tambah melow…saya juga pernah mengalaminya mak..dan sekarang saya baru bisa lega setelah saya bisa menerima dan memaafkan ayah saya..:)

  12. rina
    Jun 11, 2013

    saya terharu banget, berusaha menahan supaya ngga terjadi hujan lokal di mata saya. terimakasih untuk tulisannya ya.

  13. Dewi Novianti
    Jun 11, 2013

    Salam kenal Mak. Terharu bacanya, semoga kita akan selalu bisa menebarkan cinta untuk anak-anak kita ya. Agar kelak mereka pun akan menebarkan cinta yang sama.

  14. MJK
    Jun 11, 2013

    Pendekar Sinung pasti bangga dengan Octa

  15. Niken Kusumowardhani
    Jun 11, 2013

    Terharu sekali saya membaca kisah ini. Terima kasih mau berbagi dan menasehati. Kekerasan memang menimbulkan luka yang dalam.
    Belajar mencintai dan menerima cinta anak-anak, semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bahagia.

    Saya mengundang mak Octa dalam GA saya:
    http://forgiveaway.blogspot.com/2013/06/give-away-menyemai-cinta.html

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)