#271: Love: Ownership and Companionship

Dibaca 498 kali

IMG_2548edit

“A lot of people have trouble balancing the love of the Creator and the love of the creation. It is something I myself have struggled with much of my life. On the one extreme, there are people who love the creation as they should only love the Creator. On the other extreme, there are those who reject the love of the creation all together. I think the correct balance is to understand it this way: We have only one Owner over our hearts. That Owner is God. But our hearts also yearn for companionship. The heart searches for its’ companion in the creation. And finding that companion of our heart is one of God’s greatest gifts to us. It is the ‘coolness of the eyes’ that the Quran speaks about. The problem is when we confuse *Ownership* and *companionship*. We take the creation as Owners and take the Creator as only a companion. And God knows best.” (Yasmin Mohaged)

Sejak dulu, saya kurang sreg dengan istilah yang digunakan temen-teman saya untuk mengekspresikan cinta pada Sang Pencipta. Misalnya menggunakan istilah “bercinta dengan Allah” untuk menggantikan kata sholat. Atau menggunakan istilah “membaca surat cinta Allah” untuk menggantikan kata mengaji.

Bukan masalah niat teman-teman yang ingin membuat kata sholat dan mengaji itu menjadi aktivitas untuk menunjukkan cinta kepada Sang Pencipta. Tapi di sisi lain, saya (yang mendengar) malah melihat itu sebagai usaha menarik turun makna Cinta (dengan huruf C besar) menjadi cinta (dengan huruf c kecil). Mengandaikan antara Cinta dengan cinta itu seperti mengandaikan suami/istri dengan Allah. Saya takut melakukannya karena saya merasa itu kurang sopan (bahkan mungkin bisa dibilang kurang ajar). :(

Sejujurnya, saya sendiri masih dalam keadaan bingung dan terus berusaha mengartikan makna Allah itu di hati saya. Cinta pada Allah itu seharusnya tidak sama dengan cinta pada manusia. Saya ingin mesra dengan Allah, tapi tidak dengan cara saya mesra dengan manusia. Saya takut pada Allah, tapi tidak dengan cara saya takut pada manusia. Saya percaya Allah, tapi tidak dengan cara saya percaya pada manusia.

Kadang saya memahami perjalanan hidup ini seperti perjalanan menemukan Allah. Apa yang Allah kasih ke kita untuk kita hadapi, selesaikan, kerjakan, atau apapun … adalah perjalanan yang seharusnya membawa kita menemukan Allah.

Maka, ketika Allah berfirman di surat Ar-Rum ayat 21:

And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquillity in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought.

Termasuk suami/istri kita adalah teman kita untuk menemukan Allah, yang di dalam cinta pada suami/istri kita itu, diberikan banyak hal lain yang membuat perjalanan menemukan Allah tadi menjadi lebih menyenangkan: tranquility (kenyamanan). 

Tapi, saya melihatnya, mereka (suami/istri kita itu) diciptakan juga sebagai pembanding. Begitu pula dengan orangtua dan anak-anak kita. Sulit untuk orang seperti saya untuk menilai dan memahami satu hal tanpa melihat pembandingnya juga. Misalnya, saya gak cukup mengerti bagaimana rasanya kue yang enak kalau saya belum pernah makan kue yang gak enak. Atau, saya gak bakalan ngerti juga gimana rasanya kue yang sumpe’ enak buangeeeet kalo saya belum pernah nyobain kue yang enak dan kue yang gak enak.

Saya menemukan bahwa Cinta itu seharusnya tidak sama dengan cinta (pada suami/istri, orangtua, anak, dan kepada manusia lainnya).  Jadi, apapun yang saya rasakan dalam cinta itu, seharusnya tidaklah sama dengan Cinta. Yang mana sampai di sini, saya juga mengerti bahwa selama saya masih memahami Cinta itu sebagai cinta, maka dia belum jadi Cinta. Begitu. Ribet ya? :cutesmile:

Yasmin Mohaged di tulisannya di atas mendefinisikan bahwa Cinta kepada Allah itu adalah Cinta kepada yang Punya Hati (Ownership) sementara cinta kepada manusia itu adalah cinta yang ada karena hati kita menginginkan pendamping (companionship).

Kalo kita ngontrak rumah di satu pemukiman, sikap kita sama yang punya rumah harusnya beda sama sikap kita dengan tetangga-tetangga yang lain. Misalnya, kita harus lebih hormat sama yang punya rumah, kita punya kewajiban bayar uang kontrakan. Tapi kita tetep harus baik-baik sama tetangga biar gak dibilang tukang nyari ribut trus diusir. :D

Dari cinta yang banyak itulah, kita akan belajar tentang Cinta.

Tapi sebaiknya kita gak mencampur-adukkan, apalagi mengupamakan apa-apa yang ada di dalam cinta itu sebagai Cinta (seperti yang saya jelasin di awal tulisan ini). Karena Allah sebagai Pencipta kita dan Pemilik kita, berhak atas penghormatan yang lebih. Berhak untuk gak disama-samakan dengan hal-hal lain yang kedudukannya ada di bawah-Nya.

Saya gak mau dibilang makhluk gak sopan walaupun mungkin saya gak punya niat demikian…. :cry:

Sampai di sini, saya juga belajar bahwa di dalam Cinta kepada Allah itu, ada irisan-irisan cinta-cinta yang lain. Jadi kalo kita emang Cinta Allah, kita juga kudu cinta sama makhluknya dengan cara yang Allah ajarkan pada kita. Cinta kepada makhluknya akan menyempurnakan Cinta pada Allah dan sebaliknya, Cinta pada Allah membuat kita juga bisa mencintai makhluknya dengan sempurna.

Tapi di situ jugalah beratnya ucapan: saya mencintaimu karena Allah. Cinta kepada Allah lah yang seharusnya jadi penyebab cinta pada manusia. Bukan sebaliknya.

Kalau ada yang nanya: jadi, Cinta kepada Allah itu gimana ya?

…entahlah. Saya pun masih belajar dan berjuang menemukannya lewat cinta-cinta yang lain.

Wallahu a’lam bishowab…. 

2 Comments

  1. pritha
    Jun 21, 2013

    like this,,, super sekali ^^

  2. Ika Rahma
    Jun 21, 2013

    Pokoknya suka tulisan ini :)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)