#274: The Art of Listening to Legal Music

Dibaca 851 kali

IMG_2442edit

Music as an Art

Musik adalah salah satu bentuk seni yang paling tua dan paling murni. Tidak seperti seni sastra yang membutuhkan kemampuan menulis dan membaca, musik hanya membutuhkan kemampuan mendengar dan menciptakan suara. Pada awalnya, manusia menggunakan tubuhnya untuk menciptakan bunyi, misalnya dengan mengeluarkan nada dan melodi lewat mulut atau bertepuk tangan. Setelah itu, baru manusia mulai menciptakan alat musik yang sederhana.

Pada awal penciptaan musik, manusia menggunakannya untuk keperluan peribadatan, misalnya nyanyian kepada dewa. Musik bisa menciptaan perasaan tenang, bersemangat, dan perasaan-perasaan lain sehingga bisa mendukung kegiatan peribadatan. Hal ini masih terjadi sampai sekarang.

Seperti cabang seni lainnya, musik juga punya hubungan yang erat dengan keindahan. Ketika kita mendengar kata musik, maka yang terbayang adalah alunan nada yang indah. Walaupun beberapa jenis musik malah menggunakan nada-nada yang menghentak dan keras sehingga untuk kebanyakan orang mungkin terdengar tidak indah, tapi bagi beberapa orang yang lain terdengar mengasyikkan. Sehingga sampai di sini, saya juga bisa bilang bahwa musik berkaitan dengan sesuatu yang lebih personal dibanding hanya keindahan: perasaan. :music:

Seperti halnya lukisan atau tarian, musik juga menggambar perasaan pelukis dan pemusiknya. Ketika perasaan pelukis dan pemusik ini sama getarannya dengan perasaan penikmat lukisan dan musik, maka akan ada hubungan antara keduanya yang membuat penikmat lukisan dan musik tersebut merasakan hal yang sama. Nyaris seperti empati. Dari sini, kita bisa simpulkan juga bahwa selain untuk menciptakan perasaan tertentu seperti yang digunakan untuk kepentingan peribadatan, musik juga bisa menjadi medium ekspresi pemusik dan penikmat musik.

Hubungan panjang antara manusia dengan musik ini lebih universal dibandingkan dengan hubungan manusia dengan seni lainnya, misalnya saja seni patung atau lukisan. Tidak semua orang bisa mengapresiasi patung atau lukisan. Tapi, seiring dengan banyaknya jenis aliran musik, alat musik, dan pemusik, membuat semakin banyaknya pilihan akan jenis musik yang bisa dinikmati. Membuat orang bisa memilih dengan mudah musik mana yang cocok dengan selera, perasaan, mood, bahkan bisa dicocokkan pula dengan kebutuhan: kalau sedang sedih, mungkin kita bisa memilih musik dengan nada yang ceria untuk mengurangi kesedihan. Atau malah sebaliknya: memilih musik dengan nada yang sedih agar kesedihan itu bisa dinikmati.

Selain itu, musik adalah seni yang paling mudah untuk dinikmati. Kita tinggal menyediakan telinga untuk mendengarkan. Tidak seperti sastra yang membutuhkan buku dan kemampuan membaca untuk menikmatinya (bahkan di beberapa kasus, dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan membaca: dibutuhkan juga kemampuan “membaca”), musik lebih sederhana karena terkait langsung dengan perasaan penikmatnya. Tidak dibutuhkan banyak hal lain. Kalau kamu mau mendengarkan musiknya, maka kamu bisa menikmatinya.

Musik di Era Digital

Di jaman dahulu kala, musik sama seperti seni yang lain: penikmatnya harus mendatangi pemusiknya untuk mendengarkan musiknya. Seperti halnya tarian yang harus ditonton langsung di gedung pertunjukan. Seperti halnya juga lukisan yang harus dilihat di galeri. Lukisan menjadi seni yang istimewa sampai sekarang karena karya lukisan itu hanya ada satu untuk setiap lukisan tertentu. Misalnya saja Monalisa yang hanya ada satu. Kita bisa melihat Monalisa yang direproduksi, misalnya saja di foto atau kita bisa dengan mudah mencarinya di internet, tapi Monalisa yang asli hanya ada satu.

Musik dan sastra tidak seperti itu. Walaupun pemusik atau penulis membuat satu karya, tapi karya itu bisa direproduksi dan dimiliki oleh orang banyak dalam bentuk buku dan kaset atau CD. Nilainya adalah apa yang ada di dalam buku itu (untuk sastra) dan apa yang ada dalam kaset dan CD (untuk musik). Antara medium dan karyanya sendiri bisa dikatakan terpisah. Tapi khusus untuk lukisan (dan seni yang punya sifat sama seperti patung) antara karya seni dan mediumnya sendiri menyatu sehingga sulit untuk direproduksi.

Reproduksi karya seni seperti musik ini sudah mengalami masa yang panjang, dari mulai menggunakan piringan hitam, pita magnetik (yang biasa kita kenal sebagai kaset), CD, dan dengan masuknya kita ke era digital, musik pun ikut masuk dan bisa direproduksi secara digital. Berbeda dengan buku yang masih punya penggemar fanatik buku yang berbentuk fisik—saya adalah salah satunya sehingga bisa disimpan di rak buku, musik lebih bisa masuk ke era digital ini tanpa ada banyak masalah. Ketika saya bilang tanpa ada banyak masalah, memang benar demikian. Masalahnya memang tidak banyak, satu tapi besar: pembajakan. :music:

Orang tidak mempermasalahkan harus mendengarkan musik dengan cara apa dan dengan alat apa. Tidak seperti buku yang kebanyakan orang belum terbiasa dengan ebook, banyak orang sudah sangat terbiasa mendengarkan musik melalui internet (streaming di Youtube), atau membeli musik dalam bentuk CD untuk didengarkan di CD-player, atau bahkan men-download musik agar bisa didengarkan di music-player yang biasanya sudah dibundel bersama dengan operating system di komputer kita masing-masing. Masalahnya, kebanyakan dari kita tidak lagi mempermasalahkan dari mana asalnya musik yang ada di music-player kita sampai-sampai sadar atau tidak, kadang kebanyakan dari musik yang kita dengarkan sehari-hari itu adalah musik bajakan.

Masalah? Untuk kita mungkin tidak. Tapi, untuk pemusik dan pekerja di industri musik, itu jadi masalah. :music:

Jaman tahun 70-90an, kita masih menemukan orang-orang yang mengoleksi musik seperti mengoleksi buku: mereka mengoleksi bentuk fisiknya berupa kaset. Pemasukan paling besar para musisi dan pekerja di industri musik tentu saja dari penjuakan kaset ini. Tapi, ketika industri musik mulai menggunakan format digital dan menyimpannya dalam bentuk yang mudah digandakan seperti CD, maka dengan mudah musik ini bisa dibajak dan disebarkan secara tidak bertanggung-jawab. Musik yang disebarkan dengan cara seperti ini tentu saja tidak memberikan keuntungan apapun kepada pemusik dan juga pekerja di industri musik. Yang mana bisa dikategorikan sebagai tindak kriminal pencurian dan pelanggaran hak cipta.

Masalahnya lagi, hal ini sulit diberantas karena kurangnya kesadaran dari penikmat musik, itu yang pertama. Yang kedua: kemudahan menggandakan dan mendistribusikan musik dalam format digital. Hal ini melenakan kita sebagai penikmat musik. Seolah, mendapatkan dan menyimpan musik yang tidak kita tahu dari mana asal-muasalnya dan bagaimana status kelegalannya menjadi hal yang biasa saja. Padahal dengan melakukan itu, kita secara langsung sudah mendukung pembajakan dan mengurangi hak para pemusik dan pekerja di industri musik yang didapat dari royalti dan juga melanggar hak cipta yang ada pada setiap karya musik itu sendiri.

Musik yang Asyik: Legal dan Mudah

Untuk urusan musik, saya tipe sangat pemilih. Kalau saya sudah kadung jatuh cinta dengan seorang pemusik, biasanya saya akan menyukai hampir semua karyanya. Saya suka lagu yang easy-listening tapi bukan yang “gampangan”. Saya suka lirik yang indah, tapi saya tidak selalu menuntut penyanyinya juga bersuara sangat indah, saya suka suara penyanyi yang khas. Untuk band lokal, saya suka Letto. Untuk penyanyi solo, saya suka Frau. Musik yang terlalu nge-beat, kadang saya suka juga … kadang-kadang. Soalnya saya pecinta ketenangan, hehe…. Musik nge-beat malah kadang membuat saya jadi tidak tenang. :|

Satu hal yang saya tekankan ketika mendengarkan musik adalah: legalitasnya. Hal ini menyangkut penghargaan saya–dan kita, semoga–kepada pemusik yang telah menciptakan, membuat, menyanyikan, dan mengaransemen lagu yang saya dengar. Tidak jauh berbeda dengan tulisan, saya kira. Kalau para penulis saya bisa sangat marah apabila tulisannya di copy-paste (diplagiat), tentu saya pemusik bisa sangat marah juga apabila lagunya dibajak.

Kebiasaan mendatangi toko CD sudah sangat lama saya tinggalkan. Apalagi ketika saya mulai berpindah dari menikmati musik di CD-player menjadi menikmati musik di laptop atau handphone. Kebanyakan orang saya kira juga sudah melakukan hal yang sama. Mendapatkan musik untuk disimpan dan dimainkan dengan di-gadget ini memang lebih mudah dan menyenangkan karena kita sudah sangat terbiasa membawa gadget kemana-mana. Tapi, kita harus lebih membiasakan diri untuk mengecek legalitas setiap lagu yang kita dapatkan untuk dimainkan di gadget itu.

Dengan menghargai hak cipta dan menghindarkan diri dari segala bentuk pembajakan musik, kita sudah menghargai para pemusik yang kita suka dan juga karyanya. Kita tidak merampas hak mereka.

Merampas hak para pemusik dan pekerja di industri musik dan juga melanggar hak cipta bisa dibilang sebagai tindakan yang tidak asyik…. :D

Banyak hal yang sudah dilakukan para pemusik untuk memerangi pembajakan ini. Salah satunya adalah dengan menjual musik dalam bentuk yang lain: misalnya saja membundelnya dengan paket makanan di restoran cepat saji, atau memberikannya secara cuma-cuma ketika ada konsumen yang membeli produk tertentu (misalnya saja Agnes Monica yang menjual album terbarunya dengan memberikan kode download-nya di kemasan kopi), dan yang terbaru adalah menjual musik dengan cara yang sangat mudah seperti yang dilakukan oleh LangitMusik.

fix-banner-1

LangitMusik adalah aplikasi download dan streaming musik yang legal. Aplikasinya bisa diunduh dan dijalankan di laptop, handphone, atau tablet. Kalau kamu tidak mau membeli lagu yang kamu inginkan, misalnya hanya sekedar mencoba mendengarkannya saja, kamu bisa streaming lagunya. Dan ini gratis. Kalau mau download, kamu harus membayar. Biaya langganannya cukup murah, hanya Rp. 10.000,- per bulan dengan jumlah download tidak terbatas.

Cara ini sangat memudahkan para penikmat musik yang mendengarkan musik melalui gadget, seperti saya. Tinggal download dan bisa langsung dimainkan di player yang disediakan. LangitMusik menyediakan player khusus untuk memutar lagu-lagu yang kamu suka. Kamu bisa buat playlist kamu sendiri, baik untuk lagu yang kamu download atau pun hanya sekedar kamu streaming saja. Asyik, kan?

Cara Asyik Menikmati Musik di LangitMusik

Untuk menikmati koleksi musik di LangitMusik, kamu harus registrasi dulu di http://langitmusik.com/register. Ada dua jenis layanan, yaitu:

1. Basic : Kamu akan berlangganan preview streaming Rp.0/30 hari.

2. Premium: Kamu akan berlangganan layanan Premium Membership dan bisa menikmati streaming dan download musik unlimited Rp.10.000 / 30 hari. (+ PPN 10 %)

Klik pada layanan yang kamu inginkan. Akan muncul jendela pop-up Konfirmasi Pembelian Layanan Telkomsel seperti berikut:

Konfirmasi Pembelian Layanan Telkomsel

Bila pop-up di atas tidak muncul, kemungkinan browser kamu memblokir pop-up tersebut. Maka klik pada tanda silang merah di kanan atas browser. Lalu klik link Konfirmasi Pembelian Layanan Telkomsel untuk menampilkan jendela pop-up tersebut. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar berikut:

popup blocking

Setelah selesai dengan registrasi, kamu akan mendapatkan password via sms. Setelah itu kamu bisa login menggunakan nomor handphone kamu dan password yang dikirimkan via sms tadi. Kalau sudah login, kamu bisa mulai streaming atau download lagu kesukaan kamu. Cara paling mudah dan cepat adalah dengan menggunakan kotak search di pojok kanan atas. Ketikkan saja nama artis atau judul lagunya. Lalu klik pada suggestion list yang muncul atau klik tombol search.

langit_musik_search

Misalnya, kita klik Bruno Mars pada contoh di atas. Maka kita akan dihadapkan pada profil Bruno Mars, daftar lagu terlarisnya (Top Hits), daftar album, dan biografinya.  Di sebelah kanan setiap judul lagu atau album ada tiga tombol. Masing-masing fungsinya adalah untuk play (streaming), download, dan menambahkan ke playlist atau share ke Facebook dan Twitter.

langit_musik_tophits

Bruno Mars is rock, baby! Lagu-kagunya selalu bisa bikin cewek kesengsem abis. Apalagi tipe hopeless-romantic kayak saya. :music:

Klik pada tanda plus untuk menampilkan ini.

Klik pada tanda plus untuk menampilkan ini.

Berikutnya, kalau kamu klik play, maka media bar di bawah akan menampilkan lagu yang sedang diputar. Kamu bisa melihat tombol standar untuk mengatur volume, pause, stop, jump to next/previous song.

langit_musik_streaming

langit_musik_playlist

Kalau kamu mau men-download lagunya (tentunya dengan LangitMusik Premium), ketika kamu klik tombol download, akan muncul pilihan bitrate alias kualitas lagu yang di-download. Ada dua pilihan, yaitu 128 Kbps dan 192 Kbps. Tinggal pilih antara kualitas atau bandwith.


langit_musik_download

Selanjutnya kamu bisa memilih di mana kamu akan menyimpan lagu itu di komputermu. 

langit_musik_download_simpan

Lagu yang kamu download memiliki format .dcf yang dilindungi dengan DRM (Digital Rights Management). Jadi lagu yang kamu download hanya bisa diputar menggunakan LangitMusik player yang harus kamu download terlebih dahulu. LangitMusik player saat ini tersedia untuk perangkat Android, Blackberry dan Windows (desktop).

langit_musik_download_player

Berikut ini penampakan dari LangitMusik Player.

langit_musik_player

Waktu saya melihat player LangitMusik ini untuk pertama kalinya, saya jadi inget player serupa yang saya punya, dari MelOn. Ternyata LangitMusik ini adalah kerjasama antara MelOn dan Telkomsel. Selama ini saya menggunakan MelOn untuk men-download lagu kesukaan saya karena di rumah saya pakai Speedy dan ada promo khusus untuk paket yang menggunakan Speedy.

Jadi, saya bisa bilang kalau LangitMusik ini bisa dibilang sebagai: the art of listening to legal music.

Semua sudah dimudahkan. Kamu bisa men-download secara legal lagu-lagu kesukaan kamu dengan harga yang bersahabat di kantong. Dengan demikian, kamu tidak menciderai UU HaKI dan juga hak pemusik yang kamu suka. Mereka akan tetap mendapatkan royalti dari pembelian yang kamu lakukan. Kamu juga punya akses ke 800.000 lagu tanpa batas. Ketika musik yang kamu dengarkan itu kamu dapatkan dari hasil membajak, musiknya jadi tidak asyik lagi. Setelah ada kemudahan seperti yang ditawarkan oleh LangitMusik, kamu tidak punya alasan lagi untuk membajak. Tinggal menyambungkan gadget yang kamu punya ke internet dan memencet beberapa tombol saja untuk men-download, saya kira itu tidak sulit sama sekali, kan?

So, musik yang asyik itu buat saya: mudah dan legal. :music:

Kalo menurut kamu, bagaimana?

_____________________________________________________

Tulisan ini diikut-sertakan dalam lomba menulis “Musik yang Asyik”. Kerjasama antara KEB dan Langit Musik.

4 Comments

  1. kartina ika sari
    Jun 27, 2013

    Mantab ulasannya mba, dukung musik yang legal ! Era digitalisasi sudah mustahil dicegah, dia akan terus menggelinding. Regulasi tentang pembajaka pun ibarat cuma pemanis saja, sulit diaplikasikan dalam dunia nyata. Tanggung jawab moral, memang tertuju pada kita yang peduli. Minimal kita mendengar musik dari sumber yang legal. Isnya Allah. Sukses tulisannya mba :)

    • octanh
      Jul 7, 2013

      Makasih. Tulisannya gak menang tapi saya seneng ikut meramaikan. :D

  2. Uniek Kaswarganti
    Jun 27, 2013

    yeay…tulisan mba keren, kumplit dan detail tutorialnya.
    semoga sukses blog contest-nya ya mba :)

    • octanh
      Jun 27, 2013

      Makasih. Sakseis juga buat Mbak uniek. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)