#276: Balik dari Liburan Nulis

Dibaca 582 kali

IMG_2863edit

So … here I am.

Setelah sebulan lebih gak nge dan gak terlalu bersemangat buat ngerjain apapun kecuali masak-masak dan ngeberesin rumah, akhirnya saya memutuskan kalau saya harus mulai mengerjakan sesuatu selain mondar-mandir di rumah sambil bawa sapu.

Sebulan belakangan, selain karena Ramadhan, saya juga berhenti menulis karena saya bingung apa yang mau saya tulis. Kadang-kadang saya mikir apa gunanya saya nge. Apa hanya karena pengen nulis aja, pengen menyampaikan sesuatu, pengen keliatan pinter karena tahu sesuatu, atau gimana … saya juga bingung. Kalau tentang pengen menyampaikan sesuatu, saya pikir tidak semua hal yang saya ingin sampaikan itu perlu disampaikan atau diketahui banyak orang. Kadang gak ada gunanya. Kalau pengen keliatan pinter … entahlah, saya sekarang juga makin gak ngerti sebenernya saya pinter ngapain.

Kalau pengen nulis aja, rasanya nulis-nulis gak jelas juga bikin pegel. Saya gak bisa semena-mena pengen ngenasehatin orang karena bahkan saya sendiri masih butuh banyak nasehat. Apalagi gak semua orang pengen dinasehatin. Orang yang gak pengen dinasehatin, percuma aja dinasehatin. Nasehat itu cuman bisa sampe ke orang yang emang butuh nasehat. Kalau dia udah ngerasa bener, mau dinasehatin kayak apa juga gak ada gunanya.

Pengen berbagi pengalaman juga … apa ada gitu yang memang pengen baca dan tau pengalaman hidup saya?

Akhirnya, saya berhenti dulu deh ngenya…

…sambil mikir-mikir mau nulis apaan lagi kalo seandainya tiba-tiba pengen nge.

Tapi saya gak bener-bener berhenti nulis. Saya nulis fiksi dan mulai mendisplinkan diri buat nulis setiap hari walaupun sedikit. Tapi dua minggu sebelum Lebaran, saya juga berhenti karena banyak kerjaan dan saya udah kecapean duluan pas nyalain laptop buat ngetik.

Oh, tulisan fiksi saya bisa dilihat di sini: faschel.com

Kali-kali aja ada yang mau baca gitu. Kira-kira ada yang mau baca gak ya? :D

Sekarang saya lagi ngerjain satu calon novel yang gak terlalu panjang. Rencananya sih hanya sekitar 150-an halaman. Ceritanya tentang tiga orang cewek yang ngontrak rumah bareng pas lagi kuliah dan punya masalah dengan cowok yang tinggal di depan kontrakan mereka. Cowok itu pinter tapi nyebelin dan sayangnya, cowok itu dosen salah satu dari mereka itu. Ya, ini romens. :D

Kalau mau komen-komen di saya itu, silahkan aja. Tapi saya berharap kalau mau ngasih kritik, kasihlah kritik yang baik gitu. Pedes gak masalah selama yang dikritik adalah konten, teknik, atau idenya dan bukan saya pribadi. Dan please … jangan judging macem-macem selama tulisannya belom selesai. Apalagi nge-judge kepribadian saya berdasarkan apa yang saya tulis.

Iya sih, apa yang saya tulis itu bisa dibilang semacam cerminan dari apa yang saya pikirkan—hasil dari apa yang saya serap dan kemudian saya proses lagi sebelum kemudian daya tuangkan dalam bentuk tulisan. Tapi, gak semua yang saya tulis itu curhatan apalagi berdasarkan kisah nyata atau yang sejenisnya. Itu fiksi. Ketika saya menuliskannya, saya mengarang semuanya. Bahkan di beberapa cerpen, saya membuat dunianya sendiri (world building).

Tentang pesan moral juga demikian.

Saya agak-agak tidak suka ketika membaca fiksi dan “pesan moralnya” dipampang nyata-nyata di sana kayak pamflet. Bedanya antara fiksi dan non-fiksi (semacam essai) adalah: kalau fiksi, saya sebagai pembaca bisa mengambil pesan moral dari tulisan itu tanpa seharusnya penulis menjejalkannya pada saya. Karena saya gak suka disuapin, saya juga jadi gak suka nyuapin orang. Karena saya gak suka ngejejelin pesan moral di tulisan saya (karena kesannya saya lagi ceramah), saya juga gak mau dijejelin pesan moral ketika saya membaca. Itulah sebabnya saya gak membaca beberapa novel dengan tagline “novel inspiratif” atau “novel pembangun jiwa”. Saya tau saya bakalan diceramahin….

Kalau saya mau ceramah, saya akan nulis essai atau post curhat kayak gini. Bukan nulis fiksi. :D

Atau … saya bikin spanduk! :D

Selain itu, saya berharap juga pembaca fiksi saya bukan pembaca yang ompong, yang gak bisa mengunyah informasi sebelum menelannya.

Itulah juga yang membedakan antara menulis fiksi dan non-fiksi.

Ketika menulis fiksi, saya merasa seperti sedang memasak. Saya bisa memilih bahan baku, merancang tekniknya (mau direbus, digoreng, atau dibakar), bagaimana komposisi bumbunya, dan bagaimana memberikan garnish agar kelihatan lebih menarik. Padahal yang namanya tujuan dari masakan kan semuanya sama aja: buat bikin kenyang. Tapi saya akan mengenyangkan dengan cara yang berbeda dengan yang koki lain lakukan. So, let me….

Itu juga mungkin yang membuat saya masih menghindarkan diri dari cerpen atau novel anak: urusannya lebih ribet dibanding teenlit atau chicklit. Sama ribetnya kayak mengatur menu dengan gizi seimbang untuk Isha, Inda, dan Thaariq. Apalagi si Thaariq walaupun udah punya gigi, tapi tetep aja belum bisa mengunyah makanan yang agak keras. Saya harus memasaknya dengan cara yang beda.

Jadi, biarkan saya meracik so called pesan moral itu….

Untuk memasukkan pesan moral pun (kalau misalnya memang ada), perlu pemahaman teknik yang gak sedikit. Nulis gak bisa asal nulis aja. Masak juga gak bisa asal masak aja.

Coba aja masak cumi-cumi lebih lama dari 2 menit kalo gak rasanya bakalan kayak sendal jepit. Hal-hal yang kayak gini emang sepele tapi pada akhirnya bakalan mempengaruhi kualitas masakan juga.

Berapa banyak tulisan dengan ide brilian di luar sana yang pada akhirnya jadi lame karena teknik penulisannya kok ya malesin. Kalo gak percaya, baca aja Divergent. *plak*

Atau kebalikannya; berapa banyak tulisan di luar sana dengan ide sederhana tapi dengan teknik yang mumpuni jadinya gak bisa dilupakan. Coba aja baca salah satu cerpennya Avianty Armand kalo gak percaya. Ada yang yang bilang Avianty Armand ini menulis cerpen dengan struktur yang rapi dan alur yang smooth tanpa bahasa yang berat dan keliatan “berusaha pintar” karena dia sadar teknik. Dia arsitek. Tanpa dia sadari pun, mungkin kebiasaan dia untuk merancang bangunan terbawa ketika merancang cerita.

Ada guyon juga di kampus saya dulu kalau mahasiswa yang pinter matematika itu kalo jadi sutradara bakalan bagus karena dia sadar bilangan. Sadar angka, jarak, komposisi … mungkin dia juga bisa memvisualisasikannya secara tiga dimensi. Sesuatu yang banyak orang gagal ketika sampai di bab “Dimensi Tiga” sewaktu SMA dulu. Saya pun kesulitan di bab itu.

Logika, cara, dan struktur berpikir mereka (yang ditopang oleh matematika itu) kemudian membuat apa yang mereka kerjakan (misalnya menulis novel) lebih baik dibanding penulis yang lain.

Seni itu bukan hanya urusan inspirasi dan ide.

Kalau seandainya hanya butuh inspirasi dan ide, Michael Angelo gak akan belajar anatomi sama gigihnya dengan dokter bedah hanya untuk memastikan kalau dia bisa membuat patung sesuai dengan proporsi manusia yang benar. Gak ada yang namanya contrapposto yang dibuat dengan penuh perhitungan matematis itu….

Kalau di film, dua hal ini dipisah. Antara bentuk dan isi. Bentuk (form) ngomongin teknik dari mulai sinematografi, editing, sampai suara sementara isi (content) ngomongin ideologi, filosofis, psikologis, sampai ke sejarah. Saya pikir fiksi pun seharusnya begitu. Gak bisa maen asal tulis aja. Bisa sih, tapi kalau mau meningkatkan kualitas tulisan, yaaa … harus mau belajar.

Sementara itu, pesan moral hanya menempati sebagian dari isi (content). Banyak yang harus diurus walaupun hal itu juga gak bisa diabaikan. Tapi juga jangan dipandang berlebihan karena bukan hanya penulis yang harus belajar dan mencerdaskan dirinya. Pembaca pun demikian. Kalau gak, kita hanya akan terjebak di antara tumpukan novel gak mutu yang sekali baca bisa bikin orang lupa isinya apa. Atau novel yang punya cap macem-macem itu. Atau lebih parah lagi, novel yang isinya plagiat sana-sini seperti yang ramai dibicarakan beberapa bulan belakangan.

Kalau ada yang berpendapat bahwa nulis itu ya nulis aja. Gak usah mikir yang ribet-ribet. Ya itu juga gak apa-apa. Yang penting tulisannya jadi. Tapi yang namanya penulis profesional (atau penulis yang memang menjadikan menulis sebagai karir dan pekerjaan, bukan hanya kegiatan iseng) seharusnya melakukan hal yang sama dengan profesi yang lainnya: terus belajar untuk meningkatkan kompetensi.

Yah, begitulah….

Saya juga masih belajar.

Belajar itu bisa enak, bisa gak enak. Bisa susah, bisa gampang. Tapi kalau kamu suka apa yang kamu kerjakan, rasanya bakalan sama kayak pergi jalan-jalan sama orang yang kamu cintai: kemana tempatnya gak jadi masalah … yang penting sama mereka. Kemana aja bawaannya seneng.

Apalagi kalo belajar sesuatu yang kamu senangi dengan didampingi oleh orang yang kamu cintai, kan? :D

Saya juga mohon maaf lahir dan bathin ya kalau ada salah-salah kata atau ketik di ini. Selamat lebaran. :cutesmile:

Ada yang kangen gak sih sama tulisan saya? *kepo*

Gak ada ya?

Yaudah deh….

*pundung*

12 Comments

  1. Fardelyn Hacky
    Aug 13, 2013

    Saya kangrn tulisanmu mbak :D

    • octanh
      Aug 15, 2013

      Sa-saya baru dateng ke blognya Fardelyn soalnya baru tau. Makasih udah kangen saya. *terharu*

  2. Nurin Ainistikmalia
    Aug 13, 2013

    Saya…. kangen… :)

    • octanh
      Aug 15, 2013

      Nurin juga udah lama gak update blog ya…. :D

  3. rina susanti
    Aug 12, 2013

    wah saya juga pernah mikir tuch buat apa ya nulis di blog yang bikin semua orang tahu kita….pikiran yang bikin pakem nulis di blog tapi ternyata gak kuat lama-lama gan nulis jadi …nulis ya nulis aja…gak mikir macem2 selama tulisannya gak bikin masalah atau isu negatif….btw, welcome back mba… 8)

    • octanh
      Aug 15, 2013

      Mungkin emang fase mempertanyakan apa yang ditulis ini emang terjadi ke setiap orang ya? Jadi, ini giliran saya sekarang. Hahahaaa…. :D Besok-besok rencananya saya mau nulis yang bikin saya hepi aja. :D Biar gak terbebani. :D

  4. Millati Indah
    Aug 12, 2013

    kalo cerpen ato cerber saya ada pesan moralnya nggak ya? kayaknya saya nyerah deh nulis fiksi. mau nulis curhat aja. nggak bermanfaat juga biarin. *sia-sia mbak octa nulis panjang lebar kalo pembacanya malah ndableg kaya saya :D*

    betewe, ini kenapa kayaknya curhat ada yang nge-judge gitu di faschel?

    • octanh
      Aug 15, 2013

      Biarkan pesan moral itu meresap dihati sajaaaaa…. *nyanyik*

      Gak ada yang nge-judge. Cuman lagi curhat tentang pesan moral itu penting apa kagak. Pas pelajaran Bahasa Indonesia dulu kan kita juga sering tuh disuruh nulis pesan moral novel atau cerpen. Padahal, bisa jadi gak ada pesan moralnya. Bisa jadi pesan yang ketangkep beda-beda tergantung panjang antena pembacanya. :D

  5. Miss Rochma
    Aug 12, 2013

    fiksi yang ceramahin moral? mungkin motivator yang bikin :D
    btw, fotonya bagus mbak :)

    • octanh
      Aug 15, 2013

      Makasih. :cutesmile:

      Apa Om Mario Teguh juga punya rencana bikin novel ya?

  6. latree
    Aug 12, 2013

    novel motivasi yang nyeramahi itu pasti novel indonesia hahaha…
    ‘kite runner’ itu motivasi kiat tanpa ceramah sama sekali.
    aku ngeblog juga ga terlalu terbebani konsekwensi apa-apa tuh. nulis aja. orang lain mau nulis atau endak ya biar saja :)

    semangat!

    • octanh
      Aug 15, 2013

      Makasih, Mbak Latree. :D

      Aaaaaaargh! Novel Kite Runner saya ilang dipinjem-pinjemin trus gak balik. *gelindingan*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)