#294: Ada Waktu yang Tepat untuk Setiap Ide

Dibaca 405 kali

IMG_3317edit

Beberapa hari belakangan, saya membaca novel fantasi berjudul Eldar yang ditulis oleh K.A.Z_Violin. Namanya syusyeeeh ya disebutnya. Tapi pas ngeliat pengumuman PSA tahun lalu, saya ngintip ding nama aslinya. Gak sesusah nama penanya ternyata. *plak*

Saya bukan lagi mau ngomongin nama pena….

Jadi, ada yang saya sadari setelah mencoba menulis begitu lama—lumayan lama karena saya belajar nulis dari SD. Bahwa ada waktu yang tepat untuk setiap ide. Ini baru saya sadari ketika saya menulis Everald selama seminggu terakhir.

Everald ini bisa dibilang pengantar sebelum saya menulis Faschel. Semacam proyek pemanasan sambil nyelesein riset dan ngebangun universe-nya Faschel. Ide tentang Faschel ini sudah ada sejak saya SMA, sekitar kelas 2 kali ya. Saya lupa-lupa inget. Pokoknya pas pertengahan saya SMA. Ketika dulu ide itu muncul, saya mulai menuliskannya. Jadilah itu draft pertama Faschel yang sampe sekarang masih jadi acuan saya menulis. Hanya saja, semakin ke sini draft itu buat saya jadi makin hancur. Jadinya saya gak pernah lagi ngeliat draft itu sebagai acuan penting. Cuman yaaa … buat ngeliat gimana perkembangan plotnya (dulu pernah) saya kerjakan.

Menulis Faschel itu sangat sulit buat saya ketika saya SMA. Sewaktu saya mencoba menulis ulang sekitar 2-3 tahun yang lalu, itu juga masih terasa sulit. Bukan masalah nulisnya, tapi saya merasa belum bisa menulis sebaik yang saya harapkan. Saya belum bisa menyusun plot serapi yang saya perkirakan. Jadilah tulisan-tulisan saya itu tidak pernah selesai. Jadi saya tidak pernah lagi menulis Faschel. Saya pindah proyek ke menulis tentang Everald. Ternyata … kesulitan yang saya hadapi dulu itu udah gak terlalu berasa lagi sekarang.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin karena selama 2-3 tahun belakangan saya lebih banyak membaca tentang teknik menulis dan berlatih. Berlatihnya bukan dengan menulis ulang, tapi dengan nyoba-nyoba nulis di proyek lain. Saya juga banyak membaca. Bukan hanya membaca buku fantasi, tapi juga buku non-fiksi.

Sesuatu yang dulu saya anggap sulit menjadi mudah dengan sendirinya karena saya—sadar atau tidak—sudah berusaha menemukan pemecahannya. :cutesmile:

Atau bisa dibilang, gap antara visi saya tentang tulisan itu dan dengan kemampuan menulis yang saya punya sudah tidak tinggi lagi. Masih ada, tapi tidak terlalu membuat saya tertekan.

Saya juga terkejut ketika membaca draft tulisan saya yang Everald. Betapa saya merasakan bahwa saya sudah mulai bisa menulis seperti yang dulu saya harapkan (sayangnya dulu baru harapan, belum benar-benar bisa). Proses menulisnya pun gak menakutkan lagi. Saya bisa menulis dengan santai … seperti menulis post ini. Tanpa banyak merasakan tekanan. Mengalir tapi tetap bisa saya kendalikan arahnya.

Balik lagi ke novel Eldar.

Dulu, saya tidak pernah sekali pun ingin menulis novel fantasi remaja seperti Eldar ini. Dan itu sangat saya sesalkan. Saya langsung ingin melompat membuat sesuatu yang dewasa, berisi, begini dan begitu. Tanpa saya sadar bahwa saya belum punya bekal dan kemampuan untuk menuliskannya. Jadi saya menunggu. Saya belajar. Saya membuat diri saya sampai ke tahap bisa menuliskannya.

Itulah yang saya sadari: ada waktu yang tepat untuk setiap ide….

Ketika ide itu siap ditulis, berarti antara ide, visi, harapan, dan kemampuan menulis kamu sudah sinkron. Semua sudah siap. Dan ide itu pun bisa dilahirkan.

Bayangkan betapa hancurnya kalau saya memaksa menuliskan Faschel ketika saya SMA atau 2-3 tahun yang lalu itu. Walaupun saya tetap memaksa sih. Tapi saya masih menganggapnya draft percobaan.

Kalau melihat penulis yang di usia muda bisa menulis dengan baik, saya kadang suka iri. Tapi ada satu yang luput dari pandangan saya yang iri itu: tulisan mereka yang muda dan baik itu ditulis sesuai dengan umur dan perkembangan kemampuan mereka. Ketika mereka baru bisa membuat bangunan tiga lantai, mereka gak memaksa untuk membat bangunan setinggi Burj Dubai. Mereka menerima bahwa memang baru sampai di situlah kemampuan mereka dan mereka menggunakan apa yang ada untuk membuat sesuatu yang bagus, baik, dan indah. Rumah satu lantai pun bisa menjadi sangat artistik dan keren, kan?

Itu jugalah yang mau saya sampaikan kepada teman-teman yang usianya masih muda dan ngebet pengen nulis dengan kualitas sebaik penulis-penulis senior. Bersabarlah…. Selain jam terbang dan teknik menulis, ada lagi yang diperlukan ketika menulis: kematangan pikiran dan mental kamu ketika kamu menuliskan ide tertentu.

Saya pernah ngakak abis (duh, bukan mau meledek ya, but somehow it’s so funny) membaca cerpen yang ditulis remaja belum menikah tentang malam pertama. Di sitru diceritakan kalau kedua pengantin hanya duduk berhadap-hadapan dan saling bicara tentang cinta even … kedua orang ini—menurut cerita—udah pacaran lama. Hal itu mereka lakukan sampai beberapa malam dengan tujuan mengenal lebih dekat. Saya ngakak karena pertama itu lucu, kedua: really? Kalau kamu udah lama banget pengen mangga, pas ngeliat mangga udah dikupas ditaroh di depan kamu, kamu ngapain? Ngeliatin doang sambil bersyukur? :D

Saya sih ngeliat hal itu sebagai usaha penulisnya buat mengindari sex-scene. *plak* Karena sex-scene akan merusak semua tatanan moral yang ingin ditunjukkan penulisnya. Walaupun saya ngerasa gak ada yang salah dengan itu kalau terasa wajar. Bukan sesuatu seperti di novel Enny Arrow. Atau kalau gak pengen nulis tentang itu, hindari sekalian. Toh pernikahan lebih rumit dan besar dibanding urusan malam pertama. Walaupun kalau tetep mau, hal seperti itu bisa dituliskan tanpa vulgar dan tetap sopan. Misalnya seperti yang dilakukan Kuntowijoyo di novel Burung-burung Manyar.

Makanya saya setuju kalau kita sebaiknya menulis apa yang kita tahu. Atau ketika kita tidak tahu tentang apa yang mau kita tulis, kita mencari tahu sampai tahu. Bukan sok tahu….

Memang setiap orang punya visi dan misi ketika menulis. Tapi jangan juga jadikan visi dan misi itu sebagai beban yang membuat kamu dan tulisan kamu jadi gak wajar, gak believeable. Kalau pun kamu punya misi menyebarkan kebaikan dengan tulisan kamu, biarkan tulisan itu yang bicara tentang kebaikan itu, tentang visi dan misi kamu itu. Jangan kamunya. Jangan promosi besar-besaran bahwa tulisan kamu akan memberikan pencerahan, membangun jiwa, dan sebagainya.

Karena tulisan seperti itu selalu saja gagal membangun jiwa saya dan ngasih pencerahan.

Karena tulisan seperti itu juga gagal mengajarkan saya tentang kebaikan….

…saya lebih banyak belajar tentang hidup dari A Song of Ice and Fire…. *dilindes* Tapi itu memang benar adanya. Ketika tulisan itu humble, apa-adanya, memperlihatkan tanpa banyak tendensi apa-apa, tanpa menggurui, saya malah jadi teringat-ingat dengan banyak hal di dalamnya karena terasa wajar. Sebaliknya kalau saya baca tulisan yang menggurui, dari awal udah dibanderol dengan tulisan penuh moral dan kebaikan, saya langsung defense duluan. Soalnya kalo saya baca tulisan kayak gitu, bisa jadi saya gak baik (dan gak ada orang yang suka dianggap gak atau belom baik). Atau tulisan kayak gitu secara sadar dituliskan penulisnya memang untuk pasar pembaca yang kurang bermoral dan kurang baik? Yang jiwanya belum terbangun…. :D

Penulis perlu menghormati dirinya sendiri dan pembacanya.

Hormatilah pembaca dengan tidak menempatkan diri kamu—kalau kamu penulis—seolah lebih tinggi dan lebih tahu.

Itulah juga kenapa banyak blogger yang kemudian lebih suka menggunakan istilah “sharing” atau “berbagi pengalaman”. Istilah itu terasa wajar dan humble.

Trus hubungannya sama judul?

Ada waktu yang tepat untuk muatan ide yang tepat.

Ketika kamu remaja, kamu tahu dengan jelas dunia remaja, akan sangat believable kalau kamu menuliskan tentang remaja. Itulah yang saya dapat dari Eldar. Ceritanya remaja sekali dan karena ditulis oleh penulis remaja, jadinya believable. Remajanya itu berasa banget gitu. :cutesmile:

Di umur saya sekarang, saya merasa tidak terlalu sulit menulis Everald, mungkin karena saya sudah melewati masa yang sedang dialami tokoh-tokoh saya. Tambahan lagi, saya tahu ke mana harus membawa perjalanan emosi dan kedewasaan mereka. Ini adalah sesuatu yang saya tidak tahu sewaktu saya SMA.

Jadi … bersabarlah.

Menjadi penulis di usia muda itu bukan pilihan buruk. Itu keren. Mulailah menulis. Tapi penulis-penulis akan matang sejalan dengan usia, pemikiran, teknik, dan pengalaman. Tulisan-tulisan yang matang inilah yang akan punya masa hidup lebih panjang.

Don’t cheat it. Bersabarlah….

Gak ada yang bagus dengan hasil karbitan. :D

Ada waktu yang tepat untuk setiap ide. Kalau kamu memaksa menuliskan ide besar ketika kamu sendiri belum bisa meng-handle ide itu, tulisan kamu gak akan bagus juga. Tulislah hal-hal yang kamu tahu. Ide-ide yang kamu suka, ingin kamu sampaikan, dengan cara yang sesuai dengan kemampuan kamu.

Menulis itu bukan selalu tentang menulis hal besar loh. Tapi tentang apa yang kamu rasakan, kamu temui, kamu alami. Tentang tetangga yang cerewet, tentang teman yang putus dari pacarnya, tentang pohon pisang kamu yang dicuri orang (teteup), tentang hal-hal sederhana di sekeliling kamu. Kamu menuliskannya ulang karena kamu tahu, hanya kamu yang bisa menuliskannya … karena—lagi-lagi—kamu mencintai itu semua.

enhanced-buzz-18530-1383065430-21

“Want to say something” dengan “have something to say” is a big different things! 

Seandainya ada yang ngomong kayak gini ke saya yang masih SMA, mungkin saya akan berhenti menganggap kalau saya gak berbakat. :cry: Sayangnya, saya kebanyakan baca buku tentang betapa mudahnya menulis. Menulis sih mudah … menulis yang baik, itu susah. :D

Selamat hari ketiga NaNoWriMo, Manteman…. :D

Udah dulu ah, curhatnya. Mau NaNo-ing lagi. :D

6 Comments

  1. Ila Rizky Nidiana
    Nov 6, 2013

    yang penting menikmati proses ya, mba. setiap ide menemukan kematangan seiring waktu. kalo pun suatu ide belum mendapat jodoh saat ini, bisa dimatangkan lagi. :D

    everald ni rada susah juga dieja pas awal baca. tapi unik, hehehe

    • octanh
      Nov 15, 2013

      Iya, bener. Menikmati proses itu penting tapi kadang kalo kita gak sabaran, susah juga. Kayak aku ini. :D

  2. Helda
    Nov 4, 2013

    Setuju Mak, pokoknya jangan buru2, tapi harus terus belajar, semangaattt. Masih bingung Nanowrimo itu apa? baru denger eyke :( :T.T:

    • octanh
      Nov 15, 2013

      Itu event tahunan nulis novel sepanjang 50.000 ribu kata selama bulan November, Mbak Helda. Seru tapi capek juga sih. :D

  3. sofi
    Nov 3, 2013

    Hohoho…betul-betul-betul.
    Tulisan yang temanya tidak dikuasai oleh penulis sendiri, terlihat seperti membawa beban. Tidak mengalir..
    Thanks mbak sudah berbagi :music:

    • octanh
      Nov 15, 2013

      Masama. Ya itulah … kadang saya juga ngerasa tulisan saya kayak ada bebannya gitu. Tapi menunda nulis juga selamanya berakhir dengan tulisan itu akan ditulis suatu saat nanti. Kadang malah gak pernah ditulis. :(

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)