#304: Writing: Cerita dan Plot

Dibaca 497 kali

IMG_3828edit

Buku ini isinya rangkaian plot dan adegan, tapi yang ada di kepala kamu pas udah selesai membaca buku ini, itu cerita loh!

“Narrative is a fundamental way that humans make sense the world.” –Bordwell

Naratif (narrative) atau cerita (story) adalah hal yang gak bisa kita lepaskan dari keseharian. Kita selalu ada dalam keadaan menceritakan atau diceritakan sesuatu. Misalnya aja pagi ini saya membaca portal berita dan mendapatkan cerita bahwa seorang pesohor baru saja melangsungkan pernikahan. Itu adalah cerita. Kamu ngobrol sama temen kamu; menceritakan sesuatu. Kamu nonton film, kamu sebenernya melihat cerita yang diceritakan dengan medium audi0-visual. Kamu melihat lukisan, tanpa kamu sadari sebenarnya kamu juga sedang melihat cerita, cerita yang dimampatkan ke medium dua dimensi dan multi-interpretasi. Duh, semoga penjelasan saya gak mumet ya….

Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya menyadari bahwa yang namanya penulis itu pekerjaannya adalah menulis cerita. Bentuknya bisa apa saja; cerpen, novel, novelet, puisi, atau bahkan flash-fiction. Apa yang ada di dalam bentuk itu adalah cerita. Penulis menceritakan sebuah cerita dalam tulisannya, itu aja sebenernya yang perlu dilakukan kalau kamu mau jadi penulis.

Masalahnya, gak semua cerita itu bagus. Gak semua orang mau mendengarkan sebuah cerita. Hal itu bergantung selain dari seberapa kerennya si penulis menceritakan ceritanya, juga dari seberapa bagus, membuat penasaran, patut diikuti, dan menariknya cerita itu.

Coba diingat lagi berapa kali kamu gak nyelesein baca novel, misalnya, dengan alasan ceritanya gak bagus? Atau berapa kali kamu ngebela-belain gak tidur semaleman karena lagi baca novel yang ceritanya bener-bener bagus?

Yang mau saya bahas di sini belum sampai ke masalah cerita itu bagus atau gak atau gimana cara ngebikin cerita yang bagus karena itu urusannya panjang dan lama. Barangkali kita bakalan sampai juga ke sana kalau saya gak males-malesan nerusin bikin catetan tentang kepenulisan seperti ini. Tapi, untuk pertama banget, saya bakalan ngejelasin gimana caranya membedakan antara cerita dan plot. Ketika hal ini sudah bisa dibedakan, kamu bakalan ngerti kalau cerita yang bagus itu gak dateng dari inspirasi apalagi wangsit. Kamu bakalan ngerti kalau di untuk membuat cerita yang baik, diperlukan kemampuan menyusun plot yang baik pula. Cerita yang bagus bisa dikonstruksi, dibuat, direncanakan, dan diperhitungkan. Seperti kayak kamu bikin rumah.

Beberapa penulis yang baru belajar menulis banyak yang mengira bahwa menulis itu adalah bakat. Saya katakan sekali lagi (dan saya gak akan capek buat bilang) bahwa menulis itu bukanlah bakat. Menulis itu bisa dipelajari. Semakin kamu menguasai teknik dan mengerti apa dan gimana cara menulis, tulisan kamu bakalan tambah bagus. Itu aja sebenernya. Gak ada rahasia.

Narrative is a chain of events in cause-effect relationship occuring in time and space. (Bordwell)

Cerita (naratif) adalah rangkaian kejadian yang mempunyai efek kausalitas dan terjadi dalam ruang dan waktu.

Jadi ada tiga unsurnya: kausalitas, ruang, dan waktu. Kalau kamu mau bikin cerita, ketiga hal ini harus ada. Harus ada kausalitas antara apa yang dilakukan tokohnya dan menyebabkan apa. Cinderella melupakan sebelah sepatunya, karena itu Pangeran melakukan sayembara. Malin Kundang durhaka pada ibunya, karena itu dia jadi batu. Kausalitas ini membuat cerita kamu jadi make sense, jadi masuk akal. Kausalitas ini yang bakalan melekatkan plot demi plot, membuatnya maju, dan pada akhirnya mendorong klimaks terjadi. Ketika kamu ngasih kausalitas yang kurang masuk akal atau kurang kuat, di situlah muncul plothole. Plotnya jadi punya lubang karena “lem” kausalitasnya kurang.

Cerita yang besar itu, dibuat dengan merangkaikan plot yang banyak dengan lem kausalitas dan meletakkannya dalam ruang dan waktu. Atau dibalik, plot itu adalah potongan kecil dari cerita besar yang bakalan kamu buat.

Jadi, definisi plot adalah: Plot itu potongan kejadian yang kalau disusun akan membentuk cerita.

Lebih mudah kalo ada contoh kali ya. Bentar saya cariin contohnya. *mikir*

Contoh paling enak itu ada di novel detektif kayaknya.

Kalau di novel detektif, ambil contoh novelnya Agatha Christie, plot akan dimulai dari si Hercule Poirot mendapat kabar akan kejadian pembunuhan. Lalu dia mulai mencari petunjuk, dan berakhir dengan ketahuanlah siapa yang ngebunuh.

Jadi plotnya:

  1. Hercule Poirot makan malam trus ketemu temennya yang minta bantuan mecahin kasus.
  2. Hercule Poirot ke TKP ngider-ngider nyari petunjuk.
  3. Hercule Poirot menceritakan tentang pembunuh, motif, dan cara pembunuhan.
  4. Pembunuh tertangkap.

Tapi, ceritanya (kejadian aslinya yang akan disusun di kepala pembaca) gak kayak gitu. Pembaca secara sadar pas mulai membaca plot 1, tau bahwa sebelum plot ini terjadi, sudah ada kejadian pembunuhan. Jadi, mereka (pembaca) gak masuk ke novel itu (dan juga melewati plot demi plotnya) dengan kepala kosong. Mereka merangkaikan plot menjadi cerita.

Ceritanya jadinya begini:

  1. Seseorang punya motif pembunuhan (ini jadi latar belakang pembunuhan).
  2. Seseorang melakukan pembunuhan.
  3. Hercule Poirot makan malam trus ketemu temennya yang minta bantuan mecahin kasus.
  4. Hercule Poirot ke TKP ngider-ngider nyari petunjuk.
  5. Hercule Poirot menceritakan tentang pembunuh, motif, dan cara pembunuhan (menceritakan ulang poin 1 dan 2).
  6. Pembunuh tertangkap.

Keliatan kan, bedanya? Naratif (atau kisah atau cerita) yang sampe 6 poin itu bisa diceritakan ulang dengan menghilangkan poin tertentu sehingga jadi cerita detektif yang menyenangkan dan membuat penasaran ketika dibaca. Bayangkan ada penulis yang menuliskan plot cerita detektif dengan cara yang sama dengan urutan naratifnya: sampe poin ke 2, pembaca bisa mati bosan. Ini juga yang membedakan antara teknik penulisan fiksi dengan non-fiksi. Non-fiksi selalu linier. Bayangin aja kalau kamu baca koran terus wartawannya nulis kejadian pembunuhan pake ngumpetin siapa pembunuhnya dan apa motifnya trus baru dikasih tau di paragraf akhir. (Wartawan seperti itu sebaiknya segera alih profesi menjadi penulis cerita detektif.) :D

Tugas mulia penulis adalah: membuat rangkaian plot yang bisa dirangkaikan pembaca menjadi naratif yang enak, menyenangkan, misterius, atau mendebarkan (atau apapun yang mereka inginkan untuk jadi hasil akhir cerita yang mereka buat) di kepala mereka menjadi nyata dan kemudian bisa dibaca. 

Jadi, ketika kamu menulis, setelah kamu membayangkan ide besarnya dan membuat sinopsis, berikutnya yang perlu kamu lakukan adalah memecah cerita dalam sinopsis itu menjadi plot. Bisa dengan membuat plot-sinopsis (seperti yang biasa saya lakukan). Plot sinopsis ini adalah urutan plot, bukan bab atau chapter. Setiap plot yang mau ditulis, dibuat daftarnya. Lalu daftar plot ini dipecah menjadi adegan-adegan kecil. Nanti ketika kamu akan membagi cerita kamu menjadi bab atau chapter, kamu bisa hitung ulang gimana enaknya.

Untuk dramatisasi cerita, kamu bisa membolak-balik urutan plotnya. Kamu bisa membuat cerita itu linier (maju terus), mundur (flashback), atau malah melompat ke adegan di masa depan (flash forward). Semua itu tergantung gimana maunya kamu aja dan gimana rencana kamu untuk membuat cerita itu menjadi menarik.

Apa ada teknik untuk menyusun plot? Ada dong. Untuk yang paling umum dipakai (dan menjadi standar) adalah struktur klasik namanya. Kalau di skenario dikenal dengan nama “Struktur Hollywood Klasik”. Ini adalah bentuk struktur yang umum dan sering banget kamu temui. Nanti kita bahas di tulisan yang berikutnya aja ya. Tuh kan, apa saya bilang, tulisan beginian tuh bakalan panjang urusannya. Belom lagi nanti ngomongin motif, karakter, setting, dan sebagainya…. *mumet duluan*

Tapi kalau kamu mau belajar sendiri, struktur klasik itu bentuknya begini:

final-revision_traditional-mountain-structure-handout_8-5x14

Credit

Klik ini buat ngegedein.

Nah, sekarang kan kamu udah tahu bedanya antara cerita dan plot. Berikutnya, kalau mau mulai nulis (apalagi nulis yang panjang kayak novel) bayangan ide besar kamu, lalu bayangkan bagaimana ide besar itu dipecah menjadi rangkaian plot. Plot ini berisi adegan yang harus ada kontribusinya ke cerita dan ke adegan berikutnya. Jangan sampai membuat adegan yang sekedar karena kayaknya lucuk atau bagus aja gitu. Kalau seandainya kamu nemu adegan bagus yang gak cocok (dan gak ngasih kontribusi) ke cerita yang lagi kamu tulis, simpen! Bikin bank adegan! Siapa tahu nanti bisa dipake buat cerita yang lain.

Kamu bisa membuat adegan dengan pertimbangan: untuk memperlihatkan karakter tokohnya, memperlihatkan hubungan antartokoh, mendorong cerita lebih maju, ngasih tekanan ke tokoh utama kamu biar lebih menderita (tokoh utama itu harus sangat menderita, I told you), dan alasan lain yang berhubungan dengan cerita kamu secara keseluruhan. Ketika kamu bikin adegan, tanya sama diri kamu sendiri: ini adegan buat apa? Kontribusinya apa ke cerita? Ngapain kamu harus nulis adegan ini? Dengan begitu, kamu bakalan terhindar dari nulis adegan panjang yang gak ada gunanya dan cuman bikin cerita jadi bertele-tele.

Mungkin karena hal ini pula, saya suka belajar hal lain yang sifatnya nge-craft gitu. Biar saya bisa membayangkan dan lebih bisa melihat dengan jelas bagaimana sebuah cerita besar dibuat dengan menggabungkan potongan-potongan kecil plot. Saya belajar membuat, menyusun, membangun, dan menjahit. Hal itu juga yang saya lakukan ketika membuat cerita.

Nah, jadi kalo diringkes: yang kamu tulis itu plot (banyaaak dan dirangkai dengan baik), yang dibaca pembaca itu plot (yang banyaaak itu) tapi yang ada dikepala kamu dan kepala pembaca novel kamu adalah cerita. Gimana kamu memindahkan cerita yang ada di kepala kamu ke kepala pembaca itu yang disebut teknik menulis. Gimana cerita di kepala pembaca kamu itu sesuai dengan apa yang kamu inginkan, untuk itulah kamu belajar teknik menulis. Dan rangkaian plot ini kayak bata demi bata yang kamu susun untuk membuat rumah cerita kamu menjadi nyata. Baru rumah loh ya. Kita belom ngomongin cat, landscaping, ubin, genteng, jendela, pintu … tagihan listrik, internet, air, rawr~!

Udah kebayang kan, gimana dan apa yang harus kamu kerjakan kalo kamu mau nulis novel? Setidaknya, udah kebayang kan gimana novel itu ditulis dan dibentuk?

Sampe sini dulu ya. Berikutnya disambung lagi dengan … errr, dengan apaan ya?

6 Comments

  1. rina susanti
    Apr 2, 2014

    eh koleksi bukunya sama…*gak fokus*

  2. Ety Abdoel
    Dec 26, 2013

    Pengetahuanmu keren banget Mak :cutesmile: . Saya harus baca ulang nih, agak cenut-cenut, belum pernah nulis fiksi..tepatnya sih gagal melulu nulis fiksi. :oops:

    • octanh
      Dec 30, 2013

      Errr … pengetahuannya sih bisa keren, nulisnya belom tentu. Walopun saya tau yang beginian, tapi pas nulis kadang saya juga bingung, Mbak Ety. :mewek:

  3. Rantau Anggun
    Dec 19, 2013

    Comment :cutesmile: subhanallah ya, tidak semua yang pernah nulis novel itu bisa menterjemahkan teknik menulis mereka kayak you, mbak :lol: (nunjuk diri sendiri).

    Tetaplah tebarkan cahaya keilmuan dengan kerendahhatianmu, Mbak Octa sayang. Aku yakin, siapapun yang membacanya (baik terang-terangan ataupun silent), menemukan banyak manfaat di blog ini :cutesmile:

    • octanh
      Dec 21, 2013

      Pigimana ceritanya mbaca gelap-gelapan? :D Saya nulis buat catetan saya juga, Mbak Anggun. Sama biar kalo seandainya saya perlu, saya gak ribet gitu nyarinya. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)