#305: Paha Itu, Cahaya Itu (Emha Ainun Nadjib)

Dibaca 585 kali

IMG_3257edit

Bingung mau masang gambar apa. :(

Pengantar:

Jadi, saya ini memang penggemar tulisan-tulisannya Emha Ainun Nadjib. Perkenalan saya pertama kali sama tulisan-tulisan beliau itu waktu SMP. Saya membaca buku kumpulan sajak Cahaya Maha Cahaya. Dilalah saya dipertemukan dengan Tuan Sinung yang punya hobil mengoleksi bukunya Cak Nun dari mulai masih jamannya Markesot Bertutur. Sampai sekarang pun, kami masih suka membeli buku Cak Nun ini. Tapi, ada satu buku yang sampe sekarang saya belom baca dan belom nemu. Judulnya “Slilit Sang Kiai”. Buku ini terbitan lama dan muter-muter di toko buku gak pernah nemu. :(

Ada satu tulisan di buku itu yang khusus membahas tentang paha dan saya sangat suka. Tulisan ini akhirnya saya temukan di antara tumpukan email mailing-list sebuah komunitas. Daripada ntar ilang-ilangan, akhirnya saya pindahkan ke blog ini. Biar yang belom pernah baca, bisa baca. Syukur-syukur ada yang beli bukunya. Apalagi kalau beliin saya bukunya. Kabarin kalo ada yang liat bukunya, ya!

Jadi, inilah tulisannya. Enjoy.

___________________________________________________
Kiai Brodin selalu memberikan jawaban-jawaban berbahaya kepada setiap orang yang menanyainya. Misalnya tentang wanita, seorang lelaki bertanya, “Kalau memandang seorang gadis memakai rok mini, mengapa lelaki tergoda?”

Sang Kiai menjawab dengan suara tegas, “Karena lelaki silau menatap cahaya wajah Allah. Apalagi pada hakikatnya lelaki itu lebih lemah daripada wanita.”

“Wahai Pak Kiai,” sahut lelaki itu, “Satu kalimat saja aku tidak paham. Janganlah dua. Mohon jelaskan dulu yg pertama.”

Sang Kiai Brodin menumpahkan air mancur pemikirannya. “Dari paha wanita.” Katanya, “Memancar cahaya Allah. Terutama paha yang mulus warnanya. Jangan tersinggung dulu. Jangankan paha wanita, sedangkan matahari yang tingkat makhluknya dua tingkat lebih rendah dibanding dengan manusia pun diperkenankan oleh Allah untuk mewakili perwujudan cahayanya ke planet-planet serta ruang semesta di sekitarnya. Bahkan daun-daun menjadi hijau karena cahaya. Pada suatu saat warna hijau itu sirna, tetapi cahaya Allah tetap kekal adanya. Juga batu-batu, telaga, minyak bumi, sejarah dan peristiwa-peristiwa. Semua itu memantulkan cahaya-NYA.”

“Cuma harus dibedakan antara cahaya sebagai raga dengan cahaya jiwa. Cahaya jasmani dan cahaya rohani. Bedanya lagi, cahaya Allah yang dititipkan kepada matahari boleh memancar ke mana saja secara telanjang dan dengan begitu menjadi rakhmat kehidupan. Sedangkan cahaya yang dijatahkan kepada tubuh dan hakikat wanita, hanya boleh dipancarkan melalui Surat Nikah. Kalau tanpa tarikat pernikahan, cahaya itu menjadi mudarat alias malapetaka. Oleh karena konsep Tuhan memang demikian sejak semula, maka dalam hal zina Allah bukannya berfirman Jangan berzina! melainkan Jangan dekati zina! Artinya, segala kreativitas budaya yang mengorientasikan perilaku manusia menuju kemungkinan perzinaan, tidak diperkenankan oleh Tuhan. Larangan itu semata-mata agar hidup manusia tidak terlalu celaka. Kalau Tuhan sendiri sih tidak rugi apa-apa, cuek aja biar di depan mata-NYA melintas penari telanjang dari Filipina atau butterflies Ancol menyingkap-nyingkapkan roknya sambil menunjuk pusat kosmos-nya dan berkata, ini Seda loh Maaas! sekali lagi Tuhan gak butuh apa-apa, tidak tergiur, tidak menyesal, tidak untung, tidak rugi.”

Si lelaki penanya, karena merasakan semacam kerisian kultural jadi bukan kerisian religius, segera memprotes, “Mengapa Pak Kiai mencampur-adukkan tuhan dengan soal pornografis begitu?”

Sang Brodin tertawa, “Apa yg tidak diliputi Allah? Apa yg tak di dalam Allah dari segala semesta ini? Tuhanlah yang menciptakan paha wanita dan meninggikan derajat nilainya bagi dialog kudus antara lelaki dgn wanita. Tuhan pulalah yang merancang ide vagina, ovum dan sperma dan meletakkan sebagai kartu amat penting bagi kelangsungan sejarah umat manusia. Yang mana yg pornografis? Pornografis yaitu ketika engkau melakukan kekeliruan dalam meramu antara syariat dgn hakikatnya.”

“Begini, Nak. Hakikat ialah realitas alam, syariat ialah realitas sosial. Allah bikin kenyataan-kenyataan alam, termasuk manusia di dalamnya, sambil menyodorkan ragam aturan main bagaimana membangun kenyataan sosial. Aturan nilai itu menentukan apakah perkimpoian antara keduanya akan menjadi malapetaka atau rakhmat, bagi hidup manusia itu sendiri. Sekali lagi, Tuhan sendiri sih bersikap lumrah-lumrah saja. Kalau teater di bumi ini gagal karena aktor aktris manusianya ngaco semua, ya Dia bikin yang lain.”

“Paha wanita adalah realitas alam. Bagaimana memperlakukan paha wanita, itu bernama atau menghasilkan realitas sosial. Kalau seorang suami mengelus-elus dan mengendus-endus paha istrinya di kamar pengantin sampai sesak nafas, tidaklah terjadi peristiwa pornografis apa pun. Pornografi baru terjadi kalau engkau mengintip mereka, sebab syariat mengintipmu itu melanggar hakikat ketelanjangan kasih mereka. Pornografi juga terjadi ketika paha itu dibukakan bagi lelaki yang bukan suaminya, baik di jalan umum, di depan kamera film, maupun di ranjang prostitusi.”

Si lelaki penanya memotong, “Mengapa hanya wanita yg sebaiknya tidak memamerkan pahanya, sedangkan kalau ada lelaki telanjang, orang malah lari semua.”

The Brodin terus bersemangat karena tampaknya ia memang selalu asyik untuk memperbincangkan wanita. Jawabnya, “Karena wanita mewakili keindahan Allah, sedangkan lelaki hanya bertugas menterjemahkan dan menafsirkan keindahan itu.”

“Dengarlah, Allah meminjamkan keperkasaan kepada lelaki dan menitipkan kelembutan kepada wanita. Di sinilah letak kunci soal rok mini. Cobalah daftarkan apa saja yang lembut di alam ini, misalkan cahaya dan suara. Cahaya itu tidak tampak, sebab yang dengar hanya perwujudan suara. Hakikat suara justru kau temukan dalam sepi, dalam sunyi, dalam keadaan tanpa raga suara.”

“Apa artinya itu, Nak? Kelembutan senantiasa tersembunyi. Cahaya tidak kelihatan dan suara tak terdengar. Juga keindahan. Seonggok patung di depanmu hanya pengantar keindahannya. Sebait puisi sekedar mewadahi rahasia keindahan di baliknya. Sealunan lagu kau tangkap nada dan iramanya, tetapi keindahannya bersemayam di batinmu sebagai rahasia yg amat susah kauucapkan.”

“Demikian sejatinya. Allah, kelembutan, keindahan dan wanita, senantiasa menyembunyikan diri dalam rahasia, karena memang itulah syarat keagungan-NYA.”

“Karena hendak menyingkap wajah Allah, Musa pingsan di bukit Tursina. Dan karena wanita menyingkap sendiri pahanya, pingsanlah kehormatannya, digantung kepribadiannya dan tersembelihlah ketinggian harganya.”

* * *

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)