#306: Writing: Ide dan Medium

Dibaca 157 kali

enhanced-buzz-18530-1383065430-21

Waktu kamu memutuskan untuk menulis, kamu harus punya “sesuatu” untuk dikatakan. Bukan hanya karena kamu harus mengatakan sesuatu. 

Sebenernya saya agak gimanaaa … gitu bikin tulisan yang nyeritain teknik menulis yang pernah saya pelajari atau sepanjang yang saya tahu. Alasannya dua. Pertama, karena gak banyak yang peduli untuk belajar teknik jadi tulisan saya (takutnya) bakalan sia-sia. Kedua, karena lebih banyak yang menginginkan cara instan untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Cara instan gak salah, toh mie instan juga banyak penggemarnya. Hanya saja, cara instan ini bakalan ngebikin kamu gak “aware” dengan banyak hal yang ada di sekeliling naskah yang lagi kamu kerjain. Maunya kamu naskahnya selesai, diterbitkan, udah. Gak ada keinginan untuk belajar mastering the writing craft. Nanti kalo novel kamu udah diterbitkan, kamu bisa ngeles deh, “Gue gak pake belajar teknik buktinya novel gue diterbitin. Bestseller lagi.”

Tapi, karena di luaran sana mungkin juga ada orang-orang yang semacam saya, yang sangat kesusahan ketika mencari materi teknik menulis yang ditulis dalam bahasa Indonesia, jadi saya akan menuliskan ini juga sebagai catatan untuk saya sendiri. Bukan untuk orang lain. Kebanyakan buku, ebook, atau pun artikel menulis yang pernah saya baca, semua berbahasa Inggris. Suatu kali saya pernah membaca tweet Maggie Tiojakin yang menceritakan tentang hal ini. Di luar sana, di sekolah menulis, hal pertama yang diajarkan adalah teknik. Kalau pun kamu gak sekolah menulis, hal pertama yang selalu dianjurkan untuk kamu adalah; belajar teknik. Makanya jangan heran kenapa Nobel Sastra gak pernah mampir di sini. Bukan karena di sini gak ada penulis yang bagus, toh Pramudya berhasil menjadi nominasinya. Tapi penulis baru yang benar-benar mencintai menulis dan selalu mencari tahu tentang dunia kepenulisan dan bagaimana menjadi penulis yang lebih baik dari waktu ke waktu itu yang jarang. :(

Belajar teknik itu sama dengan belajar gimana caranya biar bisa menulis dengan sistematik. Jadi, kamu nulis udah gak pake feeling lagi. Gak ngandelin mood lagi.

Setiap orang bisa loh bikin denah rumah satu atau dua lantai dan sekaligus membuat bangunannya. Tapi, ketika yang diminta itu membuat bangunan 40 lantai, gak semua orang bisa. Di dalam bangunan 40 lantai itu ada teknik yang harus dikuasai. Ilmu dan juga perhitungan yang tepat. :cutesmile:

Baiklah.

Tulisan saya tentang menulis ini akan saya samakan kecepatannya dengan menulis proyek saya yang namanya Decoupage. Ini masih nama proyek, bukan judul. Karena saya sendiri sampe sekarang belum tahu judulnya mau dikasih apa. :cutesmile: Jadi saya akan menuliskan tiap fase yang saya lewati dengan proyek ini dan bagaimana menyelesaikannya. Tulisan saya gak akan sempurna, saya tahu itu. Tapi saya akan berusaha agar tulisan saya menjadi catatan yang bisa saya baca kembali nantinya.

Pertama, kita akan bicara ide. Bagaimana mencari medium yang tepat untuk sebuah ide. Misalnya kamu punya ide tentang cerita yang begini-begitu, bagaimana caranya kamu tahu kalau cerita itu sebaiknya dijadikan cerpen, novel, novelet, atau bahkan flash fiction?

Atau … lebih luas lagi, bagaimana memutuskan untuk menggunakan medium; tulisan, lagu, film, atau bahkan teater? Semua bisa kan? Kamu bisa memilih. Seperti air yang bisa dituang ke bejana atau gelas. Pilih medium yang kamu tahu kamu bisa mengerjakannya. Untuk saat ini, medium yang saya pilih masih tulisan. Bentuknya adalah novel. Kamu gimana?

Kalau kamu emang datang dengan kesadaran bahwa kamu lagi nyari ide untuk genre tertentu, itu lebih mudah ya. Eh, gue lagi nyari ide buat novel nih! Selesai sudah masalah.

Yang perlu kamu ketahui tentang ide adalah: potensi ide itu untuk dikembangkan. Ketika satu ide bisa dikembangkan menjadi cerita dengan tiga babak (pembukaan, tengah, dan akhir–untuk struktur klasik tiga babak), kamu bisa menjadikannya novel. Tapi, ketika ide itu cukup pendek dan sepertinya (menurut kamu) kalau dikembangkan sampai tiga babak gak akan cukup panjangnya, bisa dipikirkan untuk menjadi novelet. Novelet adalah novel pendek yang panjang halamannya bisa sekitar 20-60 halaman saja. Bisa dimasukkan struktur tiga babak di dalamnya tapi dengan catatan, ceritanya memusat dan karakternya tidak banyak. Ide yang hanya menceritakan satu kejadian saja, bisa dipertimbangkan untuk menjadi cerpen atau untuk bentuk yang lebih pendek lagi, flash-fiction.

Bagaimana bisa tahu kalau kamu lebih cocok nulis cerpen atau novel?

Hmm … buat saya, selain ide, ini juga berkaitan dengan karakter. Kalau kamu bisa bersabar, bisa menyempatkan waktu dan rajin riset, punya napas panjang untuk menulis minimal 100 halaman cerita, berarti kamu bisa menulis novel. Kalau gak, coba pertimbangkan untuk menulis yang lebih pendek. Antara novel dan cerpen gak ada status yang lebih tinggi loh ya. Bukan berarti kamu menulis cerpen lalu bisa dianggap sebagai latihan untuk menulis novel. Untuk menulis cerpen dan novel diperlukan skill-set yang beda. Menulis cerpen membuat kamu harus bisa masuk tiba-tiba, mencecarkan masalah dengan cepat, menceritakan perkembangannya dengan cepat pula, dan menyelesaikannya dengan cepat. Di sini gak ada perkembangan karakter, gak ada kedalaman hubungan antarkarakter yang bisa dieksekusi. Pokoknya cepet dan nampol, itu yang diperlukan dalam membuat cerpen. Tapi kalau kamu sabar, kamu suka perkembangan cerita, perkembangan karakter, suka dengan kedalaman cerita, suka riset … pertimbangkan untuk menulis novel.

Penulis gak harus bisa semuanya kok. Kamu perhatiin deh, penulis itu memang terbagi. Ada yang lebih bagus dan banyak menulis novel, ada yang lebih bagus dan banyak menulis cerpen. Jadi, kamu gak perlu harus bisa semuanya. Pilih yang mana yang paling bisa kamu kerjakan dengan nyaman.

Sekarang anggap saja kamu udah memutuskan untuk menulis novel dan udah dapet idenya, lalu?

Lalu … berikutnya kita akan mem-breakdown ide itu. Waktu kamu mem-breakdown ide, jangan sampe kamu juga ikutan mental breakdown. Santai saja. Semua akan baik-baik saja dan kamu keren. Camkan itu! Gak usah nunggu orang lain yang bilang kamu keren. :D

Ide ini akan kita pecahkan jadi kepingan: karakter, setting (ruang dan waktu), POV, terakhir … style. Ya, style kamu dalam menuliskannya. Penting itu. :D

Setelah dipecah, kita akan menyusunnya kembali dengan struktur yang baik. Sehingga ide kamu itu bukan hanya akan menjadi cerita yang enak dibaca, tapi juga keren dan tidak mudah dilupakan pembacanya.

Dan inget: ide itu bisa apa aja dan berawal dari mana aja. Misalnya nih, kamu udah tahu gimana ceritanya akan berakhir tapi belum tahu gimana mau memulai … tenang aja. Kita akan sampai ke sana. Gak ada ide yang jelek. Ide itu semua sama aja. Gak ada yang baru di kolong langit sini. Yang bisa ngebikin ide itu bagus atau luar biasa bagus adalah: cara pandang dan cara eksekusi penulis akan idenya. Makanya kalau kamu mau jadi penulis beneran, kamu harus rajin baca. Bukan untuk nyari ide atau apa, tapi untuk mematangkan cara pandang kamu. Cara pandang yang matang dan juga jiwa penulis yang matang, akan tercermin dalam tulisannya. Tokoh kamu boleh labil, tapi kamu gak. Tokoh kamu boleh galau, tapi kamu gak. :D

Jadi kamu udah punya idenya? Catet ya. Berikutnya siapkan alat tulis. Kalau saya sih biasanya langsung nulis di kertas orat-oret gitu baru dipindahkan ke word processor.

Sampai catatan ini dibuat, saya udah memutuskan ide untuk proyek Decoupage ini. Sudah memutuskan ending-nya juga. Yang belom fix: karakter dan setting-nya. Itu semua bakalan diurus pelan-pelan…. :cutesmile:

Sampai jumpa di catatan berikutnya, ya. :cutesmile:

Sumber bacaan:

1. How to Develop Any Idea into a Great Story

2. Deciding on an Idea: 4 Question Every Romance Writer should Ask Themselves

3. 13 Ways to Know You have the Right Idea for Your Book

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)