#307: Are You Smart Enough?

Dibaca 241 kali

Blog Emak Gaoel

Salah satu dialog dari film Mona Lisa Smile yang saya suka adalah ketika Betty mengunjungi Joan yang ternyata sudah menikah dan menanyakan kenapa dia tidak mengambil kesempatan untuk kuliah di Harvard Law School. Ketika itu Joan sudah diterima di sana karena dia memang sangat pintar. Joan menjawab kalau dia ingin membangun keluarga dengan orang yang dia cintai dan punya anak-anak. Jawaban berikutnya yang paling membekas buat saya adalah: “Kalaupun saya gak mengambil kesempatan itu (untuk kuliah di tempat sebonafit Harvard Law School), bukan berarti itu akan membuat saya jadi kurang cerdas.”

Joan memilih untuk membangun keluarga dan punya anak-anak. Betty yang dibesarkan dengan didikan untuk menjadi istri yang baik (bahkan dia sudah menikah ketika masih sekolah), malah memilih untuk bercerai dan masuk sekolah hukum. Betty memilih bercerai karena sejak awal dia menikah bukan untuk membahagiakan dirinya sendiri, tapi untuk membuat orangtua dan juga lingkungan sosialnya memandangnya dengan status lebih tinggi sebagai nyonya dari laki-laki kaya. Di jaman itu, mneikah itu seperti keharusan dan status menikah itu sangat dihargai. Tapi di film ini diceritakan sudut pandang lain. Menikah atau tidak menikah, tidak ada satu pun dari pilihan itu yang membuat mereka jadi less smart.

Smart buat saya adalah bisa memilih yang terbaik buat diri sendiri dan menjalaninya dengan penuh tanggung-jawab. Membuat keputusan untuk hal besar itu memakan waktu dan tenaga. Hidup dalam keputusan itu pun sama melelahkannya. Tapi, saya memilih untuk jadi smart dengan meng-cut waktu galau sebelum memilih (termasuk tanya sana-sini, minta nasehat sana-sini, dan lain sebagainya) dengan meminta pertimbangan dan pandangan pada orang yang benar-benar peduli pada saya dan juga memahami masalahnya lalu memutuskan dengan cepat. Tenaga untuk galau dan risau pun bisa dihemat. Dipindahkan untuk kemudian menjalani keputusan tersebut dan konsekuensi dari keputusannya. Karena tenaga yang dihabiskan untuk galau terlalu lama itu sungguh sia-sia. :D

Saya lebih memilih untuk lelah ketika berjuang dibanding lelah memutuskan untuk tinggal atau pergi perang. :D Karena ini sekarang saya ada di sini, dengan suami dan anak-anak yang merupakan hadiah untuk keputusan saya itu. :cutesmile:

Smart juga berarti berani untuk merawat dan menumbuhkan apa yang muncul dari keputusan; suami dan anak-anak. Karena itu saya terus belajar, banyak membaca, memisahkan mana yang penting dan mana yang tidak penting–untuk kemudian disisihkan. Punya suami yang semangat belajarnya tinggi dibutuhkan usaha lebih banyak untuk memahaminya. Saya gak mau kalau diajak ngobrol gak nyambung. Saya juga gak mau kalau ngobrol dengan anak-anak, saya gak ngerti tentang apa yang mereka pikir dan maksudkan. Saya harus terus mengisi diri, terus menjadi lebih baik seiring mereka bertambah besar dan bertumbuh.

Saya merasa smart kalau bisa mengerjakan hal-hal yang diperlukan untuk suami dan anak-anak saya; memasak, membuatkan mereka baju hasil jahitan sendiri, memastikan mereka selalu dalam keadaan sehat, baik, dan happy. Pertanyaan anak-anak kadang memang sederhana tapi sangat sulit dijawab. Saya merasa smart kalau bisa menjawab pertanyaan sederhana itu dengan cara sederhana pula–yang mana sepertinya mencari jawaban untuk pertanyaan sederhana tidak sesederhana kelihatannya. Misalnya baru-baru ini Isha (6 tahun) bertanya tentang hujan; dari mana datangnya? Saya berusaha menjawab dengan jawaban yang sederhana dan tidak mengkhianati sains–dengan menceritakan dongeng alih-alih tentang siklus air.

Setelah memikirkannya berulang kali, saya akhirnya memutuskan untuk menceritakan tentang perjalanan air dari aliran sungai yang menuju laut, lalu air laut yang menguap seperti uap yang muncul ketika saya sedang merebus sesuatu, dan uap itu berkumpul menjadi awan yang seperti harum-manis. Awan itu akan semakin padat (seperti harum-manis yang ditekan) dan itu membuatnya menjadi berat. Sampai di sini dia bisa memahami penjelasan saya, untungnya. Awan yang berat dan padat itu kembali menjadi air dan turun sebagai hujan. Langit tidak pernah menangis dan hujan bukan air mata yang jatuh karena langit menangis. Hujan adalah kekuasaan Tuhan yang menjadi rezeki untuk tanaman, pohon pisang kita, kucing tetangga, ayam tetangga, dan kodok yang kalau sehabis hujan bernyanyi di samping got. (Errr … yang punya kucing sama ayam cuman tetangga soalnya.)

Isha mengerti dan memahami jawaban itu dan saya merasa senang–dan smart tentu saja. :cutesmile:

Mudah menjelaskan siklus air ini pada anak SMP atau SMA, tapi sangat sulit untuk anak SD kelas 1. Seandainya saya tidak terus-menerus meng-upgrade pengetahuan saya dan juga kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan itu dengan mudah dan sederhana, bagaimana dengan tanggung-jawab saya pada mereka? Pada setiap pertanyaan yang menjadi hutang untuk dijawab? Itulah yang saya takutkan. Membesarkan anak itu ternyata bukan hanya perlu memastikan mereka bertumbuh dengan baik, tapi juga membuat kita sebagai orangtua tumbuh seiring pertumbuhan mereka. :cutesmile:

IMG_4213edit

Smart itu bukan hadiah dari Tuhan yang diejawantahkan lewat nilai (seperti nilai di raport) dan pengakuan. Tapi tentang keberanian mengambil keputusan, hidup dan merawat keputusan itu serta konsekuensinya … karena pada akhirnya, itu semua adalah tentang waktu yang kita punya dan juga tentang syukur akan anugrah waktu itu untuk kita. :cutesmile:

Are you smart enough? :cutesmile:

“Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel”

6 Comments

  1. Uniek Kaswarganti
    Jan 3, 2014

    mau donk Les Miserable-nya *lospokus :>

    saya koq minder sendiri ya baca tulisan mak Octa, ngerasa belum jadi ibu yg smart krn ga bisa masak, ga bisa jahit, gak bisa apa2 lah pokoknya. mana sering ninggalin anak pulak :cry:

    but eniwei, thks utk sharenya Mak Octa, semoga sukses di perhelatannya Emak Gaoel ini

    • octanh
      Jan 9, 2014

      Heheheee … ini pan smart menurut eikeh. :D Hahahaaa…. Bisa jadi ada definisi smart lain yang lebih ketjeh, Mbak Uniek. :D

  2. belalang cerewet
    Dec 25, 2013

    Smart berarti merawat suami dan anak–alias bertanggung jawab. Sepakat, sorang ibu adalah orang paling smart di dunia dengan banyak tugas dan kewajiban yang mengiringinya demi melahirkan tokoh-tokoh hebat atau anak yang membanggakan. Salut! :music:

    • octanh
      Dec 25, 2013

      Iya, semacam itu. Tapi intinya sih tentang proses memilih keputusannya jangan lama-lama dan kalo udah mutusin, kudu dijalanin tanpa mengeluh. :D

  3. Helda
    Dec 24, 2013

    Setujuu, itulah smart ala emak :>

    • octanh
      Dec 25, 2013

      Hehehe, iya Mbak Helda. Ini emak-emak banget urusannya. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)