#311: Mari Optimalkan Pemanfaatan E-Learning untuk Guru dan Siswa

Dibaca 378 kali

banner

Manteman masih ingat bagaimana cerita Lintang di Laskar Pelangi yang harus mengayuh sepeda sejauh 40 kilometer demi untuk datang ke sekolah? Atau cerita Ma Yan yang harus menahan lapar selama dua minggu hanya untuk membeli sebatang pensil untuk sekolah? Beberapa dari kita mengejar ilmu dengan kesungguhan luar-biasa. Beberapa dari kita bisa mendapatkannya dengan mudah. Tapi satu kesamaannya: untuk mendapatkan ilmu kita harus menyediakan waktu. Belajar tidak sama dengan membeli buku walaupun di buku itu isinya ilmu yang sangat banyak. Untuk membeli buku, kita hanya perlu mengeluarkan uang. Untuk mendapatkan ilmu di dalam buku itu, kita harus menyediakan sebanyak waktu yang diperlukan–dan itu tidak sebentar. Punya alat, fasilitas, dan akses tidak kemudian membuat seseorang lebih berilmu dibanding yang lainnya.

Tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang bagaimana menuntut ilmu yang baik dan benar. Saya ingin membahas tentang e-learning yang akhir-akhir ini mulai digalakkan pemerintah dan di dunia sendiri, sudah menjadi metode belajar yang bisa meminimalkan biaya. Biaya loh ya, bukan waktu dan kerja keras untuk belajarnya sendiri. :cutesmile:

E-Learning itu Apa?

E-learning sering dipahami sebagai metode pengajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi internet. Sebenarnya, secara harfiah e-learning bisa diartikan sebagai belajar dengan bantuan perangkat elektronik. Sehingga e-learning sebenarnya tidak harus berupa pengajaran jarak jauh melalui bantuan internet. E-learning juga mencakup pembelajaran multimedia baik berupa teks, animasi, audio, dan video yang didistribusikan melalui berbagai medium elektronik baik berupa CD/DVD, radio, televisi, ponsel, dan internet. Materi yang diajarkan bisa disediakan dalam bentuk Powerpoint, PDF, animasi, maupun video. Di negara kita, e-learning sudah mulai digunakan sebagai pelengkap pengajaran tatap muka konvensional. sedangkan di luar negeri, lebih jauh lagi, sudah ada yang dirancang sebagai pengganti kelas tradisional yang dilengkapi dengan silabus, forum tanya jawab, quiz, homework, dan ujian yang semuanya dilakukan secara online.

E-Learning dan Tujuan Pendidikan

Mari sejenak kita berpikir futuristik. Saya kira bukan tidak mungkin nantinya sistem e-learning akan mampu menggantikan sistem pendidikan formal konvensional. Sebagai contoh, email saat ini sudah lumrah digunakan untuk mengirim surat resmi sebagai pengganti surat resmi yang dikirim via pos. Namun tentunya ada banyak proses yang harus dilalui untuk menuju ke sana. Untuk kasus di Indonesia, hambatan dalam penerapan e-learning ini adalah budaya dan infrastruktur.

Tujuan dari pendidikan yang sebenarnya adalah transfer pengetahuan. Cara apa saja yang digunakan untuk memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa adalah metode atau alat. Jadi metode atau alat itu seharusnya bukan hal yang baku. Seiring perkembangan zaman, metode pengajaran terus-menerus direvisi. Akan tetapi tujuannya sama, yaitu menyampaikan pengetahuan. Menurut sejarah, ada lima tahap penting dalam teknologi transfer pengetahuan, yaitu smoke signal, carrier pigeon, telegraph, Gutenberg’s printing press, dan terakhir adalah internet.

Kedua, tujuan akhir pendidikan seharusnya merangsang para peserta didik untuk ingin tahu lebih lanjut. Dengan demikian, para peserta didik terdorong untuk menelaah dan meneliti lebih lanjut bidang yang digemari pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tidak sekedar menelan mentah-mentah apa yang disampaikan gurunya. Hal ini seringkali dikesampingkan oleh sebagian besar pendidik maupun peserta didik di negara kita.  Kebanyakan siswa merasa cukup dengan mengikuti materi dari gurunya dan mendapatkan nilai baik karenanya. Jarang sekali ada siswa yang merasa tertarik menggali lebih dalam apa yang disampaikan gurunya. Kenyataan ini adalah salah satu hambatan penerapan e-learning di Indonesia. Karena dalam e-learning siswa dituntut lebih aktif. Tidak menunggu diperintah oleh gurunya.

Ketiga, masih ada yang menganggap bahwa sekolah bertanggung jawab penuh untuk mengajarkan sopan santun kepada siswa. Hal ini menjadi salah satu hambatan kultural karena seharusnya pelajaran sopan santun itu dimulai dari rumah.

Sedangkan hambatan dari segi infrastruktur adalah peralatan komputer dan internet yang belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, kemampuan para guru juga perlu ditingkatkan untuk bisa mengajar dengan memanfaatkan komputer dan internet. Untuk membantu mengatasi hambatan infrastruktur tersebut PT XL Axiata mengadakan program yang disebut KUSI (Komputer Untuk Sekolah Interaktif).

XL kusi

Komputer untuk Sekolah interaktif merupakan program pemberian bantuan perangkat komputer untuk sekolah yang dirancang sebagai skema lima tahun terpadu dan berkelanjutan. XL Axiata yang memiliki komitmen untuk mendemokratisasi teknologi merasa wajib menyediakan peluang akses ke teknologi yang baik bagi mereka yang tinggal di daerah.

Program ini mulai digelar sejak tahun 2009 dan saat ini telah memasuki tahun ke-4. Hingga saat ini XL Axiata telah menyalurkan perangkat komputer ke 186 sekolah di seluruh Indonesia.

Kegiatan Komputer untuk Sekolah Interaktif (KUSI), meliputi :

1. Pemberian komputer ke 60 sekolah tiap tahunnya.

• Pemberian modem internet

• Gratis akses internet selama 1 thn

2. Pelatihan komputer bagi guru, pengenalan dasar komputer serta pembelajaran penggunaan internet.

3. Pelatihan via internet atau elearning, pembelajaran bagi guru dan siswa untuk semakin mengenal dan mampu memaksimalisasikan kegunaan internet.

4. Pengenalan Internet sehat, pedoman pengunaan internet yang baik dan tepat guna. Internet sehat merupakan kerjasama XL dengan ICT Watch.

5. Aplikasi Sifoster (Sistem Informasi Sekolah Terpadu), yang merupakan aplikasi untuk sekolah yang berguna untuk menunjang proses komunikasi guru, murid dan orang tua murid.

Khan Academy dan Coursera

Baiklah, sekarang mari kita lihat wujud e-learning itu seperti apa. Untuk lebih jelasnya, mari kita ambil contoh kesuksesan Khan Academy. Kalau ada yang belum tahu, silahkan kunjungi http://khanacademy.org. Khan Academy adalah website tutorial video yang dibuat oleh Salman Khan (ini  bukan Salman Khan yang bintang film India itu yaaa, errr …), alumni MIT dan Harvard Business School. Awalnya, ia berupaya membantu keponakannya belajar matematika secara jarak jauh. Namun kemudian, anggota keluarga yang lain dan teman-temannya tertarik juga. Akhirnya dibuatlah dalam bentuk video yang disimpan di Youtube. Kini, KhanAcademy dikunjungi 10 juta siswa dari seluruh dunia setiap bulannya dan mempunyai moto: to provide ‘a free world-class education for anyone anywhere’. Bahkan sebagian materi di KhanAcademy sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Silahkan kunjungi https://id.khanacademy.org untuk melihat konten yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

khan id

 Khan Academy is a non-profit educational website created in 2006 by educator Salman Khan, a graduate of MIT and Harvard Business School. The stated mission is to provide ‘a free world-class education for anyone anywhere’.

The website features over thousands of educational resources, including a personalized learning dashboard, over 100,000 exercise problems, and over 4000 micro lectures via video tutorials stored on YouTube teaching mathematics, history, healthcare, medicine, finance, physics, general chemistry, biology, astronomy, economics, cosmology, organic chemistry, American civics, art history,macroeconomics, microeconomics, and computer science. All resources are available for free to anyone around the world. Khan Academy reaches about 10,000,000 students per month and has delivered over 300,000,000 lessons.  

college-writing1

Menyusul kesuksesan KhanAcademy, muncullah Coursera. Coursera didirikan oleh dua orang professor dari Stanford University, Daphne Koller dan Andrew Ng. Sedikit berbeda dengan Khan Academy yang berbentuk tutorial saja, Cousera menawarkan semacam kursus singkat. Kursus singkat ini layaknya mengikuti satu mata kuliah di perguruan tinggi. Fitur yang disediakan Coursera meliputi silabus, materi presentasi dan rekaman video, forum tanya jawab, tugas, pekerjaan rumah, dan kuis. Tidak tanggung-tanggung, berbagai kursus singkat tersebut disediakan oleh para professor yang ahli di bidang masing-masing. GRATIS!

college-writing2

Kita bisa memilih apakah hanya ingin belajar saja atau ingin sekaligus mendapatkan sertifikat digital (kita print sendiri nantinya). Jika ingin mendapatkan sertifikat digital tersebut, kita harus mengerjakan tugas-tugas dan kuis yang diberikan. Saat ini malah sudah tersedia juga pilihan sertifikat resmi yang bisa dilampirkan untuk melamar pekerjaan atau mendaftar ke kampus dengan biaya 50 USD saja (sekitar 600 ribu rupiah).

Mulai sekitar tahun lalu, saya mengambil beberapa kursus di Coursera ini. Kebanyakan di bidang yang saya minati seperti kepenulisan, budaya, dan yang terakhir (seperti terlihat di gambar di atas) saya mengambil kursus bahasa Inggris. Untuk Ibu rumah tangga seperti saya, Coursera ini sangat memudahkan saya untuk mempelajari beberapa hal yang rasanya jarang bisa ditemukan di kursus biasa dan semua bisa dilakukan dari rumah. Memang ketika kursus berlangsung, saya harus menyiapkan waktu untuk mnyelesaikan tugas, membaca materi (dan materinya kadang disediakan dalam bentuk handout dan ebook), dan menonton video pengajar yang menjelaskan materinya. Untuk mendapatkan ilmu, kita memang harus menyediakan waktu. Bukan berarti dengan bentuk e-learning lantas membuat kita lebih santai. Setidaknya dibutuhkan sekitar delapan jam perminggu untuk mengerjakan tugas dan membaca materi.

Mengikuti kursus dengan cara e-learning seperti ini menurut saya lebih memudahkan dibanding sekedar riset materi yang saya butuhkan di internet secara mandiri. Alasan utamanya sih, karena pengajar akan dengan senang hati menjawab pertanyaan yang saya ajukan di sesi diskusi. Saya akan mendapatkan jawaban langsung dari ahlinya. Yang kedua karena saya punya “teman-teman sekelas” yang membuat suasana kursus ini menjadi menyenangkan. Di forum yang disediakan untuk membahas materi, saya bertemu dengan teman-teman lain yang mengambil kelas yang sama dan kemudian mendiskusikan materi bersama. Karena perbedaan negara, budaya, dan gaya hidup, materi yang sederhana pun menjadi sangat luas cakupannya. Saya juga mendapat tambahan informasi yang luar biasa banyaknya. Hal ini mungkin tidak akan saya dapatkan kalau saya hanya melakukan riset mandiri. Terakhir karena materinya sudah diukur dan dipecah menjadi beberapa pertemuan dan tugas, saya bisa melihat bagaimana progres belajar saya. Itu memudahkan saya untuk mengukur sejauh apa saya harus mengejar ketinggalan atau sebanyak apa saya harus menyediakan waktu untuk kembali mempelajari materinya.

E-Learning Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga tidak ketinggalan dalam upaya pemanfaatan e-learning ini. Sebelum menghabiskan waktu dan biaya untuk mengembangkan sendiri, sebaiknya sekolah, guru, dan siswa terlebih dahulu memanfaatkan teknologi buatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini. Beberapa rintisan dari Kemdikbud RI antara lain:

1. Buku Sekolah Elektronik http://bse.kemdikbud.go.id/

bse

BSE menyediakan semua buku teks dalam bentuk file PDF yang bisa diunduh secara gratis. Buku yang tersedia adalah mulai dari SD sampai SMU. Kemdikbud telah membeli hak cipta dari buku-buku tersebut sehingga dapat digandakan dan disebarluaskan hanya dengan menghitung biaya penggandaan.

2. TV Edukasi http://tve.kemdikbud.go.id/

tve

TV-e alias TV Edukasi menyediakan streaming televisi dengan beragam konten pendidikan mulai dari SD sampai SMU. Jam tayangnya mulai dari pukul 05.00 pagi sampai pukul 00.00 malam.

3. Rumah Belajar http://belajar.kemdiknas.go.id

belajar.kemdiknas

Untuk belajar mandiri di rumah, juga tersedia rumah belajar. Rumah belajar ini terdiri dari sumber belajar, kelas maya (Akses lebih dari 12934 materi belajar secara lengkap dan gratis!), wahana jelajah angkasa, dan fitur menarik lainnya.

4. Mobile Learning http://m-edukasi.kemdikbud.go.id/#awal

m-edukasi2

Sedangkan m-edukasi berisi berbagai konten berupa aplikasi mobile dalam format Shockwave Flash (swf) yang dapat diunduh gratis dan digunakan untuk belajar di mana saja dengan ponsel, tablet, maupun laptop.

Kenapa Harus E-learning? (Keuntungan dan Kelemahan E-Learning)

Sebagai sebuah alat, tentu ada kelebihan dan kekurangan. Berikut ini beberapa keuntungan dari eLearning:

1. Lebih Fleksibel. Siswa dapat belajar pada waktu yang lebih cocok baginya. Tidak perlu menyesuaikan dengan jadwal tatap muka resmi di sekolah.

2. Mobile. Artinya siswa dapat belajar di mana saja. Siswa tidak harus berada di tempat tertentu (kelas) untuk belajar. Belajar dapat dilakukan dengan laptop, tablet, dan ponsel, sehingga bisa dilakukan misalnya ketika dalam perjalanan di dalam bus atau kereta api.

3. Lebih hemat. Banyak pengeluaran yang bisa dihemat dengan penerapan e-learning ini. Antara lain, biaya pulang pergi ke lokasi belajar, biaya pembelian buku, biaya pembelian baju/seragam, dan lain-lain.

4. Menyesuaikan kebutuhan siswa. Ada siswa yang mampu belajar cepat dan ada yang perlu mengulang materi beberapa kali sampai akhirnya paham. Dengan e-learning, setiap siswa dapat belajar dengan kecepatan masing-masing. Jadi yang mampu belajar lebih cepat dapat langsung melanjutkan ke materi berikutnya tanpa menunggu temannya yang belum paham. Sedangkan yang ingin mengulang pelajaran dapat melakukannya dengan tenang.

5. Perkembangan teknologi yang terus berlangsung akan memungkinkan adanya perbaikan terhadap teknologi e-learning yang lebih mudah lagi untuk diterapkan.

Sedangkan beberapa kekurangan dari e-learning antara lain:

1. Kurangnya kendali mutu. Siswa yang kurang mempunyai motivasi belajar akan ketinggalan dan punya kemungkinan gagal. Karena siswa dituntut lebih aktif dan mandiri dalam belajar.

2. Kemampuan menggunakan komputer. Guru dan siswa dituntut untuk mampu mengoperasikan komputer. Sehingga diperlukan pelatihan sebelumnya.

Mengoptimalkan Teknologi E-Learning

Sebagai orang tua, kita perlu menyiapkan diri menyambut gelombang metode belajar e-learning ini. Pertama-tama, kita harus menanamkan kepada anak bahwa gadget yang dibelikan untuk e-learning ini hanyalah alat yang membantu anak untuk belajar. Jangan sampai anak kecanduan untuk bermain dengan gadgetnya. Lantas tidak bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Kedua, orang tua perlu terlebih dahulu mempelajari berbagai hal terkait dengan e-learning. Karena orang tua harus mampu mendampingi anak nantinya untuk dapat memanfaatkan teknologi e-learning dengan optimal. Selain itu, tugas orang tua juga tidak berhenti pada membelikan gadget untuk kebutuhan belajar secara elektronik. Orang tua juga harus mampu memilihkan aplikasi yang terbaik untuk digunakan dalam gadget tersebut dan memantau penggunaannya. Mau nyoba ikut online course dulu di Coursera kayak saya juga boleh. :cutesmile: Ada kelas gizi dan masak-masak juga loh, di sana. :D

Semoga tulisan ini bermanfaat ya, Manteman. :cutesmile:

Referensi:

1. Tentang Metode Pengajaran http://en.wikipedia.org/wiki/Teaching_method
2. Tentang 5 Tahap Penting dalam Sejarah Transfer Pengetahuan http://bigthink.com/think-tank/5-big-moments-in-the-history-of-knowledge-transfer
3. Buku Sekolah Elektronik http://bse.kemdikbud.go.id/
4. TV Edukasi http://tve.kemdikbud.go.id/
5. Rumah Belajar Maya http://belajar.kemdiknas.go.id/
6. Mobile Learning http://m-edukasi.kemdikbud.go.id/#awal
7. Tentang Program Indonesia Berprestasi dari XL
http://indonesiaberprestasi.com/kusi
http://indonesiaberprestasi.com/futureleader/
8.  Tentang Khan Academy:
https://www.khanacademy.org/
http://www.forbes.com/sites/michaelnoer/2012/11/02/one-man-one-computer-10-million-students-how-khan-academy-is-reinventing-education/
http://www.theguardian.com/education/2013/apr/23/sal-khan-academy-tutored-educational-website
http://en.wikipedia.org/wiki/Khan_Academy
9. Tentang Coursera dan MOOC (Massive Open Online Course)
http://www.forbes.com/sites/susanadams/2012/07/17/is-coursera-the-beginning-of-the-end-for-traditional-higher-education/
http://www.nytimes.com/2012/07/17/education/consortium-of-colleges-takes-online-education-to-new-level.html?_r=0
10. Definisi E-Learning
http://en.wikipedia.org/wiki/E-learning
11. Kelebihan dan Kekurangan E-Learning
http://www.businesszone.co.uk/blogs/scott-drayton/optimus-sourcing/advantages-and-disadvantages-elearning

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)