#312: Writing: Premis, Konflik, dan Outline

Dibaca 307 kali

enhanced-buzz-16049-1383068282-0

From Buzzfeed

Hal yang paling sulit dan nyebelin untuk dijawab buat saya adalah ketika ada yang menanyakan: cerita ini terinspirasi dari mana? Atau; karakternya terinspirasi dari mana? Atau; apa yang menjadi inspirasi Anda dalam menuliskan cerita ini?

Rawr~!

Bukannya gak menghargai Manteman yang udah nanya hal itu, tapi itu pertanyaan sulit. Beberapa penulis mungkin terinspirasi dari keadaan sekitarnya, beberapa yang lain dari apa yang dialaminya, dan beberapa yang lain lagi mungkin hanya ingin mengeluarkan inner voice-nya. Menceritakan luka hatinya untuk menyembuhkan dirinya. Atau menceritakan tentang apa yang ada di dalam hatinya dan tidak pernah dia ceritakan pada siapapun juga karena memang tak mampu dan tak ingin. Lalu tiba-tiba ketika semua sudah dituliskan, pertanyaan itu datang: inspirasinya dari mana?! :mewek:

Kadang saya pengen balikin lagi. Misalnya dengan nanya: haruskah saya terinspirasi oleh sesuatu? Dan kalaupun iya, haruskah saya mengatakan inspirasinya dari mana? Tidak bolehkah saya mencuri-pinjam keadaan, kejadian, karakter tanpa ada seorang pun yang tau? Tidak bisakah pembaca membaca tanpa harus menanyakan dari mana saya mendapat “inspirasi”? Bukankah dengan melihat latar belakang saya, kesukaan saya, apa yang saya kerjakan, itu juga sudah memberikan banyak clue tentang urusan “inspirasi” ini?¬†Emang “inspirasi” itu apaan sih? Kalau saya bilang, saya mengkonstruksi cerita–bukan nunggu inspirasi–kamu percaya gak?

Tapi mungkin ini saya aja sih. Soalnya saya selalu kesusahan dan merasa kesulitan menjawab pertanyaan kayak gini. Saya bisa ngasih list riset yang saya lakukan untuk menuliskan cerita, tapi kalau harus menjelaskan “inspirasi” rasanya lebih sulit dari itu. :mewek:

Jadi, kalau misalnya Manteman pengen nanya sesuatu ke penulis, tanyakanlah hal yang lain. Dua pertanyaan ini agak sulit dijawab. Pertama: gimana sih caranya nulis. Yang kedua: dapet inspirasi dari mana. Jangan ditanyakan lagi ya. :cutesmile:

Kan bisa nanya yang lain, yang lebih deep dan penulis pun akan tertantang untuk menjawab. Misalnya: seberapa besar atribut fashion mempengaruhi pemikiran tokoh dalam novel kamu ketika melihat orang lain? Apa dia akan melihat orang yang gak fashionable sebagai orang yang gak asyik? Atau pertanyaan apalah gitu. :D

Errr … udah deh curcolnya. :D

Baiklah. Kemaren kita udah ngebahas tentang ide ya. Ide ini bentuknya masih abstrak dan bahkan bisa hanya berupa potongan kalimat, keinginan tentang apa yang mau ditulis, atau bahkan kadang cuma berupa satu hal yang gak jelas-jelas amat bentuknya. Misalnya: saya pengen nulis tentang cewek yang suka makan bakwan. Atau, saya pengen nulis tentang cowok yang akhirnya ketemu jodohnya lewat online-date. Atau, pokoknya gue mau nulis tentang perjuangan dengan cara yang gak biasa! Itu kita masukkan dalam kategori ide.

Kamu udah dapet kan, idenya mau nulis apa? :cutesmile:

Nah, ide ini harus kamu bentuk. Harus jelas penampakannya kayak apa. Kita akan ngebikin bentuk awalnya berupa: premis.

Premis ini adalah satu kalimat yang menjelaskan tentang tokoh utama kamu dan konfliknya.

Ambil contoh ide tentang “pokoknya gue mau nulis tentang perjuangan dengan cara yang gak biasa!” tadi dan kita jadikan premis. Kata kuncinya adalah: perjuangan yang gak biasa. Harus cetaaaar membahana dong, ya. Harus unik perjuangannya. Hmmm….

Bagaimana kalau kita buat itu jadi: perjuangan untuk membuktikan cinta? Masih biasa ya…. Belom unik. Oke. Sekarang saya tambahkan unsur uniknya: obat nyamuk! :D

Premisnya jadi kayak gini:

Seorang cowok yang ingin membuktikan cintanya kepada istrinya yang sedang hamil tua dengan membelikan obat nyamuk di malam buta karena obat nyamuk di rumahnya habis.

Mari kita breakdown:

Tokoh kita, si protagonis: cowok beristri yang istrinya sedang hamil tua.

Hal yang diinginkan tokohnya: obat nyamuk.

Kalo dia gak dapet obat nyamuk gimana? Ini harus mengerikan akibatnya. Kalo ini gak mengerikan dan biasa aja, ceritanya gak akan seru. Bagaimana kalau kita buat: kalo dia gak dapet obat nyamuk nanti istrinya marah. Trus dia dicubitin. Errr … jangan deh. Nanti istrinya marah trus istrinya mengancam buat nginep di rumah orangtuanya aja yang gak banyak nyamuknya. Ini akan jadi pendorong agar protagonis kita terus berjuang. Semakin mengerikan akibat dari dia berhenti berjuang, semakin bagus.

Dalam usaha mendapatkan obat nyamuk, dia harus menghadapi halangan. Ini yang disebut KONFLIK. Konfliknya harus besar, biar si tokoh berjuang mati-matian juga. Konflik juga bisa dari luar atau dari dalam diri protagonisnya. Konflik dari dalam, biasanya lebh sulit dieksekusi karena ngeliatinnya juga agak susah. Untuk contoh di tulisan ini, saya ngasih konflik yang dari luar aja, ya. Kalau kamu kamu cerita kamu lebih berlapis konfliknya, silakan pikirkan untuk memberikan konflik yang lebih rumit: dari luar dan dalam. :cutesmile:

Segala sesuatu yang menghalangi tokoh kita dari goal-nya, disebut antagonis. Antagonis gak perlu manusia, gak perlu jahat, gak perlu serem. Asal dia punya kemampuan menghalangi si protagonis, jadi antagonislah dia. :cutesmile: Di beberapa film bahkan antagonis bisa berupa: meteor (Armageddon) atau zombie (World War Z).

Konfliknya: ternyata pas dia keluar rumah, di depan gang lagi dangdutan. Gak bisa lewat. Dia harus muter.

Masih kurang, tambahin: dia harus muter lewat kuburan yang ternyata pas nyampe di deket kuburannya, ada gerobak sate mangkal di situ dan si Abang satenya gak keliatan. Ini bakalan jadi misteri karena bisa aja Abang satenya lagi nganterin sate 100 tusuk ke penghuni kuburan situ. Protagonis kita harus mengalahkan semua ketakutannya untuk melewati kuburan.

Masih kurang? Tambahin: ternyata setelah lewat kuburan dan berjalan beberapa lama, eeeh … warungnya tutup karena yang punya warung lagi asyik dangdutan. Sampai di sini, acara dangdutan di depan gang yang diceritakan di awal itu jadi penjelas dan alasan kejadian berikutnya. Jadi gak ada kebetulan. Protagonis kita pun harus muter nyari warung yang lain.

Masih kurang! Warung yang lain ternyata gak jual obat nyamuk. Protagonis kita pun harus jalan kaki yang jauh, ke warung berikutnya. Kasih deh tuh bayang-bayang wajah serem istrinya dan ancaman untuk nginep di rumah orangtua si istri. Biar keliatan betapa bahayanya kalau goal gak tercapai.

Masih kuraaang! Tambahin: protagonis kita jatoh kecebur got karena ada cabe-cabean ngebut di jalanan. Ini udah bisa didorong buat klimaks nih. Dengan badan belepetan lumpur, dia jalan ke warung berikutnya. Ternyata sampai di sana, ada obat nyamuk. Dia seneng banget dong ya! Dengan tangan bergetar dia gambil obat nyamuk dari penjualnya dan … ternyata dompetnya hanyut di got pas dia jatoh tadi. Jadi dia gak bisa bayar. Huahahahaaaa…. Pedih, Jendral! Trus dia menawarkan untuk pulang dulu ngambil uang (wajah sang istri terbayang-bayang lagi). Tapi penjaga warungnya bilang: besok aja, ngutang dulu aja. Itu penyelesaian klimaksnya.

Dan perjalanan pulang pun jadi anti-klimaks cerita kita. :D Bisa juga pas di perjalanan pulang diliatin Abang sate dengan tatapan kosong bawa 100 tusuk sate. Kan sayang juga itu si Abang sate gak dikasih penjelasan ke mana perginya dia. :D

Kalau kamu udah bisa ngebayangan susunan plot dengan cara kayak gitu, kamu sebenernya lagi ngebikin yang namanya outline. Yang diperlukan di outline adalah: kejelasan konflik dan konflik harus dibuat makin naik, tokohnya siapa aja, juga time and space-nya: kejadian ini terjadi di mana dan kapan.

Sekarang menjawab pertanyaan: gunanya premis apa? Untuk ngebikin kamu stay in line sama cerita kamu. Permisnya kan tentang seorang cowok yang nyari obat nyamuk, di sepanjang cerita inilah yang harus diceritakan. Jangan malah belibet nyeritain tentang dangdutan, atau cabe-cabean, atau malah nyeritain cinta lama belom kelar antara penjual obat nyamuk dan tokoh kita. Kalau pun kamu mau masukin itu semua biar ceritanya makin depth dan kaya, itu hanya sub-plot, gak lebih! Dengan premis ini, kamu jadi selalu siap buat mangkas apa-apa yang gak perlu.

Jadi, sampe sini udah keliatan kan gimana caranya bikin premis, konflik, dan outline? Kalau pas masih dalam tahap outline kamu udah ngerasa konfliknya gak nendang, bisa jadi karena: satu, pendorongnya kurang besar. Atau dua, antagonisnya kurang jahat. Gak usah kasian sama protagonis kamu. Kasih dia konflik yang gede, yang bikin dia nangis darah. Semua orang suka kok ngeliat orang lain berjuang untuk mendapatkan impiannya selama … itu bukan mantan orang yang kamu benci. Untuk itulah makanyaaa … protagonis itu harus loveable. Protagonis bisa jahat, tapi pembaca harus menyukai dia karena satu atau dua alasan yang membuat dia kelihatan manusiawi. Contohnya Robin Hood. Di tahap lebih lanjut, harus ada identifikasi (perasaan mengalami hal serupa) dari pembaca ke protagonis kita. Misalnya dengan ngasih liat latar belakang yang sama, hobi yang sama, pemikiran yang sama tentang suatu hal. Kalau proses identifikasi gagal, kemungkinan protagonis kita gak akan dicintai. Pembaca jadinya gak peduli dengan apa yang dia alami dan itu juga ngebikin cerita kita gagal.

Pernah denger kan, ada pembaca yang bilang: ceritanya kayak kisah hidup akuuu…. Atau, ceritanya ngingetin aku sama temen aku. Dan yang semacam itu? Itu tandanya proses identifikasinya udah berhasil. :cutesmile:

Ingat ya: buat pembaca peduli. Kamu bisa bikin protagonis kamu senyebelin apapun, asal pembaca peduli. Mungkin ini pulalah yang membuat banyak novel dan film menggunakan penampilan fisik yang rupawan untuk protagonisnya: kita selalu suka orang cakep. Sesuatu dengan “bentuk” menyeramkan, selalu kita anggap jahat. Misalnya monster.

Hmmm … sampe di sini, mungkin kamu juga bakalan ngerti kenapa kamu harus belajar teori. Pas saya bilang: “Mungkin ini pulalah yang membuat banyak novel dan film menggunakan penampilan fisik yang rupawan untuk protagonisnya: kita selalu suka orang cakep. Sesuatu dengan “bentuk” menyeramkan, selalu kita anggap jahat. Misalnya monster.”¬†Akan ada dari kamu yang pengen meng-counter: kalo gitu saya mau bikin protagonis yang jelek, nyeremin, tapi loveable. Ya, kan?

Counter itu datang setelah kamu tahu dasar teorinya, kan? :D Sebelum saya bilang gitu, apa kamu kepikiran?

… itulah yang harusnya jadi alasan kenapa kamu belajar teknik. Suatu saat kalau kamu udah ngerti banget, kamu punya kesempatan untuk memporak-porandakannya. Atau menyempurnakannya. Atau … apapunlah yang pengen kamu lakuin. Tapi untuk awalnya, kamu harus tahu dulu yang mau kamu counter itu kayak apa. :cutesmile:

Sampe di sini, udah jelas ya tentang premis, konflik, dan outline? Berikutnya kita akan ngomongin cara menyusun plot. Lalu berikutnya tentang “bentuk” cerita kamu, ini tentang rasa, makna, dan sebagainya. Baru setelah itu masuk ke setting, karakter, POV, dan seterusnya…. :D

Boleh juga loh kalo kamu mau ngerjain proyek kamu bareng sama saya biar kita bisa diskusi. Sampai saat ini, Decoupage udah ngelewatin proses ini. Udah sampe nyusun plot. :cutesmile:

Sampe di catatan selanjutnya, ya. :cutesmile:

2 Comments

  1. Astrid
    Dec 27, 2013

    Mbak aku seneng bgt follow dirimu, yuk mbak keluarkan terus ilmunya biar aku sediain sepuluh ribu ember buat nampungnya. hehe :)

    • octanh
      Dec 30, 2013

      Begini-begini doang saya taunya, Mbak Astrid. :D Gak sampe berember-ember. Hahahaaaa…. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)