#315: Hon

Dibaca 291 kali

IMG_3142edit

Hon.

Adalah penjelasan itu yang tidak tersampaikan. Kamu sudah tahu apa yang ingin aku katakan.

Hon.

Menulis itu menakutkan. Kalau kamu hanya di sepanjang garis aman, menuliskan yang orang akan baca dengan tenang dan senang, atau menuliskan sesuatu yang telah menjadi lumrah–tentang cinta, hujan, atau senja, kamu tidak akan pernah ketakutan. Tapi aku ingin menuliskan kembali kumpulan pedih yang selama ini hanya menyesak dada. Yang di antaranya bahkan akan membuatmu bertanya; kamu siapa? Kamu pun akan ketakutan membacanya.

Menulis itu menakutkanku. Bukan karena mereka akan membacanya, tapi karena aku menuliskannya. Karena mungkin tanda titik di tulisan itu dibuat dengan setetes kecil darah. Sedikit nyeri yang ditahan. Berapa banyak jejak kesakitan di sepanjang halaman tulisan itu nanti? Tidakkah itu membuatmu urung menulis dan akhirnya menyimpan kembali semua sakit itu di tempat yang tidak seorang pun tahu?

Hon.

Bersembunyi di balik tulisan riang-gembira tentang harapan dan benderang masa depan itu mudah. Tapi tidak akan membuatku pernah selesai dengan diriku sendiri. Kita membaca banyak pelarian orang-orang dari dunia yang katanya sudah meranggas seperti akasia di sepanjang jalan yang kamu foto ketika pergi ke Appatana tempo hari. Cerita tentang kesenangan yang terlalu manis dan berwarna-warni. Aku tidak pernah membeli permen dengan warna cerah dan rasa teramat manis karena tahu gigiku akan sakit. Aku mencurigai pewarnanya yang keras itu. Tapi kenapa kemudian aku sampai juga menuliskan cerita seperti permen itu? Tidakkah sebenarnya aku sedang berpura-pura saja? Kenapa?

Pertanyaan ini aku tanyakan dan kamu tidak mengerti. Membuat cerita, sama seperti membuat permen untuk orang lain. Memaniskan lidah mereka. Tapi untuk pembuatnya, rasanya mencicipinya saja tak bisa. Karena tahu bahwa yang dituliskan di situ tidak akan memberikan apa-apa selain sakit gigi di kemudian hari.

Hon.

Orang terus akan mengatakan apa yang mereka inginkan dariku. Selalu. Seakan semua hal yang mereka minta wajib hukumnya untuk dikabulkan. Seandainya aku peri dengan tongkat ajaib seperti Nirmala, mungkin aku akan melakukannya. Mungkin. Setelah mengabulkan banyak permintaanku sendiri tentu saja.

Aku ingin menulis apa yang aku percaya. Dengan kata-kata yang lapang, selapang hati dan pikiran ketika menuliskannya. Bukan untuk mengajarkan orang tentang apa yang seharusnya diketahuinya. Tapi untuk membawa mereka ke petualangan panjang pencarian diriku sendiri. Bukankah orang selalu merasa bisa memahami perasaan orang lain? Menurutku tidak. Bahkan perasaan mereka sendiri pun kadang mereka tak paham. Tidak berguna kemudian mengajarkan mereka untuk memahami. Tidak ada perlunya meminta untuk dimengerti. Petualangan itu akan panjang, mereka bisa memilih untuk serta atau tinggal saja. Itulah yang menakutkanku…. Bagaimana bila aku pergi sendirian saja? Tanpa teman? Atau berdua saja denganmu? Berdua saja tidak cukup. Kau tahu itu.

Hon.

Akan ada masanya di mana aku mempertanyakan keberadaan dan ketiadaan karena aku harus memahami hidup dan mati. Kalau bisa menjadi lebih hidup daripada hidup sendiri dan lebih dalam dibanding senyap-sepi liang kubur sendiri.

Lalu Hon, kalau setiap tanda titik itu dibuat dengan sedikit tetesan darah sampai akhirnya kering juga nadi … sebandingkah dengan apa yang dituliskan di situ? Kalau tidak, kenapa tetap menuliskannya?

Lalu Hon, ketika darahmu dipertanyakan dan kesakitanmu diabaikan, apa kamu akan terus menuliskannya? Tidakkah lebih baik kita duduk di pantai dan bermain air sambil makan permen seperti biasa?

Hon.

Aku takut pada mereka.

_____________________________________________________

Catatan ini saya buat untuk Tuan Sinung yang tidak juga paham apa yang saya ceritakan sejak kemarin … atau bulan kemarin, atau tahun kemarin. Atau mungkin sejak pertama kali kami bertemu. Semoga akhirnya dia bisa paham. :cutesmile:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)