#316: Selesai Dulu dengan Dirimu Sendiri

Dibaca 340 kali

IMG_2356edit

Suatu ketika, saya pernah mendapat cerita dari seorang kawan tentang pertengkaran orangtuanya. Mungkin itu ketika saya SMA, saya lupa tepatnya. Pertengkaran orangtua kawan saya ini, saya juga lupa sebabnya. Yang masih saya ingat betul adalah ketika kawan saya ini bercerita bahwa dia dipanggil keluar dari kamarnya ketika pertengkaran itu terjadi. Disuruh memilih akan ikut siapa seandainya mereka bercerai. Lalu dia dicecar dengan pertanyaan; lebih sayang pada siapa. Belum selesai sampai di situ, dia pun mendapat cerita tentang betapa kedua orangtua itu kecewa satu sama lainnya.

Yang saya ingat adalah kata-kata kawan saya itu; dia hanya seorang anak. Dia tidak ingin ikut campur dengan masalah orangtuanya karena seharusnya orangtua itu tahu bagaimana menyelesaikannya. Seharusnya anak tidak dilibatkan. Seharusnya dia tidak diberikan beban masalah yang bukan jadi tanggung-jawabnya. Dia hanya seorang anak. 

Pagi ini, saya teringat lagi cerita itu setelah semalam saya dan Tuan Sinung bercerita tentang kegalauan hati saya. Saya memang sering galau. Lebih sering daripada yang diketahui banyak orang dan saya ceritakan di sini. Tapi satu hal yang saya dan Tuan Sinung selalu ingat: kita sebagai orangtua harus selesai dengan diri kita sendiri sebelum kita mengurus anak-anak kita.

Maksudnya, saya dan Tuan Sinung gak boleh keliatan galau, resah, apalagi bertengkar di hadapan mereka.

Saya dan Tuan Sinung sebaya. Dia hanya enam bulan lebih tua daripada saya. Saat ini bahkan usia kami belum lagi tiga puluh tahun dan kami sudah punya anak usia enam tahun. Sebuah amanah yang berat tapi menyenangkan. Kadang saya melihat beberapa teman yang belum menikah atau baru saja menikah dan merasa bahwa sepertinya saya melewatkan begitu banyak waktu bersenang-senang sendirian. Itu juga satu hal yang membuat saya resah. Saya ingin ini, ingin itu. Kadang anak-anak itu membuat saya lelah. Bukan hanya fisik, tapi juga pikiran.

Rumah yang tidak pernah bersih. Mainan yang berhamburan di mana-mana. Waktu menulis yang tidak bisa panjang. Bahkan saya sekarang sudah membiasakan diri untuk mandi sehari sekali saja karena tidak sempat.

Setiap hari, sekitar tengah hari ketika anak-anak itu tidur siang–kadang mereka juga gak mau tidur–saya menelepon Ibu saya. Hanya untuk bercerita tentang kejadian hari itu. Sebagai imbalannya, saya akan menceritakan tentang berita artis atau politik yang ditanyakan Ibu saya.

Sebab lain saya menelepon, bukan hanya karena saya kangen atau yang sejenis itu, tapi karena saya ingin menyelesaikan masalah dengan diri saya. Paling sering tentang anak-anak itu. Saya akan bercerita tentang Thaariq yang memasukkan handphone saya ke dalam gelas seperti Oreo dan Ibu saya akan menganggap hal itu sangat lucu.

Kata-katanya ketika itu: “Untunglah Hasnah–panggilan saya–punya anak sehat seperti Thaariq. Cepat meniru dan usil. Kalau dia diam aja kayak daging mau dikilo, susah juga kita.”

Lalu saya bercerita tentang Thaariq yang kena omelan saya dan langsung lari ke ruang tamu dan tersungkur di sana (dia beneran berpose kayak orang lagi sujud) beberapa lama.

Ibu saya menanggapi: “Itu dia merasa bersalah. Dia akhirnya juga tahu kan, kalau perbuatan dia salah. Sebenarnya gak dimarahin pun dia bakalan tahu. Dia kan, pintar.”

Saya pun jadi merasa bersalah sama Thaariq. Dia lalu saya panggil dan dengan muka ceria kayak biasanya, dia datang dan saya gendong. Tentang handphone yang rusak itu, terlupakan begitu saja. Tuan Sinung akhirnya membelikan saya handphone dari uang tabungannya. :cutesmile:

Saya memang meminta bantuan Ibu saya untuk merasa “selesai” dengan diri saya setiap hari, setiap kali.

Pernah suatu kali, saya merasa capek sekali membereskan rak buku. Anak-anak itu suka sekali menurunkan buku dan dijadikan mainan. Saya menelepon Ibu saya dan dia bilang: “Bukannya itu bagus kalau mereka suka dengan buku-buku? Siapa tahu nanti salah satu dari mereka bisa jadi penulis hebat?”

Saya pun merasa “selesai” dengan urusan itu. Saya mulai terbiasa membiarkan mereka bermain dengan buku selama tidak digigit atau dimakan.

Setiap hari, yang saya usahakan adalah selesai dengan diri saya sendiri. Menghadapi anak-anak itu tanpa beban. Kalau bisa tanpa masalah. Kalaupun ada masalah, mereka sebisa mungkin tidak tahu. Mereka hanya anak-anak.

Banyak malam-malam yang saya habiskan dengan Tuan Sinung untuk membicarakan masalah kami. Berusaha menyelesaikannya sedikit demi sedikit. Tapi satu hal yang saya dan Tuan Sinung usahakan; jangan sampai ada masalah antara saya dan dia. Masalah yang bukan dari kami berdua saja sudah banyak. Tidak perlu ditambah dengan masalah baru.

Tapi memang masalah yang sebenarnya bukan masalah itu datang kebanyakan dari saya. Tentang kekuatiran, ketakutan, kegalauan, keresahan … semua tentang perasaan. Semua itu berusaha saya selesaikan. Kalau saya tidak bisa selesai dengan diri saya sendiri, saya tidak akan pernah bisa menyelesaikan urusan lain, termasuk urusan anak-anak itu.

Kalau saya tidak bisa damai dengan diri saya sendiri, bagaimana saya bisa mengajarkan anak-anak itu tentang diri mereka? Bagaimana saya bisa menyayangi mereka dengan tenang? Menyayangi tanpa pernah melukai.

Sudah menjadi tugas orangtua untuk membesarkan anak-anaknya dengan penuh ketenangan. Karena bagaimanapun, anak-anak akan tumbuh dan punya masalahnya mereka sendiri. Sedapat mungkin saya sebagai orangtua tidak akan pernah menjadi masalah mereka. Jadi saya bisa membantu mereka melewati masalah, seperti yang Ibu saya lakukan.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga sempat curhat dengan Ayah saya tentang anak-anak yang kadang membuat saya lelah itu. Ayah saya mengatakan kalau saya harus mengubah cara berpikir saya tentang mereka. Kalau selama ini saya merasa bahwa anak-anak itu adalah milik saya, saya harus mengubahnya. Saya harus mulai berpikir kalau mereka itu bukan milik saya. Seperti badan dan roh saya sendiri yang juga bukan milik saya. Jadi, ketika anak-anak itu membuat saya marah atau lelah, saya seharusnya mengembalikan rasa marah dan lelah itu kepada pemilik mereka. Bisa dengan banyak-banyak beristigfar dan meminta pertolongan, atau bisa juga dengan meminta agar hati ditenangkan.

Semacam: “Ya Allah, ini anak-anak milik-Mu yang sedang saya urus dan besarkan. Mereka membuat saya lelah. Saya minta hati saya ditenangkan agar saya bisa tetap mengurus tanpa harus menyakiti mereka dengan lelah yang saya rasakan itu.”

Itu do’a yang diajarkan Ayah saya. :cutesmile:

Do’a semacam itu memang bisa membuat saya “selesai” dengan diri saya sendiri. Setidaknya, saya merasa bahwa saya masih bisa minta tolong kepada pemilik anak-anak itu.

Karena anak-anak itu sudah dititipkan kepada saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk memberikan ketenangan kepada mereka ketika tumbuh. Tidak mendesak, tidak membandingkan–karena setiap mereka punya potensi sendiri yang tidak bisa dibandingkan–dengan siapapun, tidak menuntut, dan juga tidak menekan. Mereka harus tumbuh. Saya pun harus tumbuh. Saya ingin menumbuhkan mereka di samping saya yang sudah selesai dengan masalah saya–selesai dengan diri saya sendiri. Seperti saya juga tumbuh di samping orangtua yang sejauh yang saya ingat, mereka sudah selesai dengan diri mereka sendiri ketika membesarkan saya.

Agar ketika saat yang paling sulit datang, saya tidak akan pernah memanggil anak saya yang sedang bersembunyi dari pertengkaran orangtuanya untuk keluar dari kamar dan menanyakan siapa yang lebih dia sayang. Atau ingin ikut siapa dia ketika kami bercerai. Karena kawan saya itu dulu tidak memilih salah satu. Dia memilih untuk ikut dengan nenek dan kakeknya.

8 Comments

  1. Fenny Ferawati
    Jan 4, 2014

    Maaaak, meleleh deh. Sering banget juga Al jadi limpahan kalau BT sama papahnya :(

    • octanh
      Jan 9, 2014

      Saya juga masih suka kayak gitu sama anak-anak, Mbak Fenny. Tapi udah mulai berusaha dikurangi. Kesian soalnya mereka. :D

  2. pujia achmad
    Jan 2, 2014

    Sangat inspiratif Mb. Saya juga gitu. Kalau masalah lain saya (cenderung) bisa menyelesaikan dengan cepat, tapi kalau masalah dengan suami, saya butuh waktu lebih lama menyelesaikannya. Misalnya suami komplain saya kurang perhatian padanya (lha gmn mau perhatian, punya 2 balita sudah menguras seluruh energi dan pikiranku).
    Oh ya Mbak, temannya itu usia berapa saat ditanya seperti itu?
    Dan kalau boleh tahu Tuan Sinung itu panggilan cintah ke suami ya? hehehe so sweeettttt

    • octanh
      Jan 9, 2014

      Usia berapa ya? Yang jelas waktu itu saya udah SMA, dia adek kelas saya yang masih SMP. Mungkin masih sekitar 13-14 gitu kali ya. :D Iya, Mbak Pujia. Saya manggilnya “Pohon”, disingkat jadi “Hon”. :D

  3. linda satibi
    Jan 1, 2014

    itu yg anaknya baru 1 ya.. lha, ane anaknya 4.. :>

  4. puji hamzah
    Dec 31, 2013

    sukaaaa… :cutesmile: dan bikin mewek :T.T:

    • octanh
      Jan 15, 2014

      Ja-jangan mewek, Mbaaaaaak…. *kasih kue*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)