#319: Peacetime Resistance (Judulnya Nebeng Judul Lagu Gitu)

Dibaca 172 kali

IMG_2863edit

Peacetime Resistance

feeling the comfort of eyes is your sole intention we all want to be understood unconditionally but you have to realize that a viewer needs distance and the moment your wall melts down the inside is outside

maybe way back in the past, when people were different shortening bonds made them last now we emphasize our difference we have been enrolled one by one for the peacetime resistance and we’re fighting our battles alone

we’ve got four eyes, so why yearn for one perspective? we’ve got colours with shades erased when blended we’ve got four eyes, so why yearn for one perspective? we’ve got colours, but they disappear when blended

Udah beberapa hari belakangan saya ngedengerin lagunya Kings of Convenience yang Peacetime Resistance. Lagu ini ada di album Declaration of Dependence, udah lama juga sih. Tapi entah kenapa pas kemaren itu saya ngerasain lagunya jadi nampol banget gitu. Padahal selama ini, saya paling suka lagu yang Me in You kalo di album itu. :cutesmile:

Saya bukan mau nyeritain lagu. Walopun saya emang suka banget sama KoC.

Sepertinya saya emang penggemar duo cowok cucok gitu, ya…. Kayak ini:

KoC

Erlend dan Eirik

… dan juga ini:

TV Sherlock 4

Sherlock and Watson

Errr … yang ini juga:

leonard-and-sheldon-10812-2560x1600

Leonard and Sheldon. Yang ini gak terlalu sih, tapi mereka cukup keren…. :D

Mereka semua bukan pasangan gay loh, ya! :D

*lost focus*

*puyeng*

Tadi mau ngomongin apaan, ya?

Oh, lagu Peacetime Resistance. Iya, iya … tentang itu. Kalo ada yang belum pernah dengerin lagunya, silakan ini di-play:

Jadi sambil dengerin lagu ini, saya kepikiran: kenapa kita gampang banget kesel atau kesulut marah hanya karena hal-hal tertentu–yang kadang remeh-temeh–yang beda sama temen kita. Apalagi kalo hal itu hubungannya sama selera. Kenapa kita dengan mudahnya bisa bilang orang lain yang gak sepaham dan seselera sama kita itu perlu “diluruskan” pandangannya. Apa yang salah dengan mereka kalau hal itu gak prinsipil?

Misalnya pada suatu ketika, saya pernah cerita kalau saya emang sengaja tidur jam 8 malam untuk kemudian bangun jam 1-2 dini hari, dan menulis sampai pagi. Lalu setelah anak-anak sekolah, saya tidur lagi. Kebiasaan ini gak berlangsung lama dan itu memang sedang ada perlunya. Ada yang harus ditulis dan harus selesai. Lalu ada yang memberikan banyak nasehat tentang keburukan begadang dengan segala efek minusnya. Saya udah bilang kalau ini gak akan selamanya, tapi … dia tetep menyarankan saya untuk berhenti. Kalau seandainya saya mau, saya bisa bilang: oke, saya berhenti mulai malam besok. Kalo saya kemudian malam besoknya tetep tidur cepet, bangun tengah malem, dan nulis sampe pagi, dia pun gak bakalan tau karena dia gak deket lokasinya sama saya. Dia gak bisa ngecek juga.

Ini juga yang kadang ngebikin saya agak berpantang nge-share pemikiran pribadi di sosmed. Kadang saya lakukan juga sih, tapi lebih hati-hati dan sebelumnya ditimbang dulu. Kalau bisa, hal itu juga sedapat mungkin bukan hal yang bisa memancing perdebatan karena … saya rada gak suka debat. Saya suka diskusi, tapi saya gak nyaman kalau harus disuruh berdebat. Karena saya tahu, perbedaan kadang memunculkan ketidaknyamanan. Kita gak nyaman kalau ada yang beda sama kita setelah kita merasa bahwa hal yang kita anut itu benar dan cocok kalau diterapkan di kehidupan kita. Tapi masalahnya, hidup tiap orang kan beda-beda….

Kalau di blog kayak gini, saya ngerasa lebih bebas. Walaupun saya masih menimbang sih, kadang.

Saya sendiri sebenernya gak kenapa-kenapa sih kalo liat ada temen yang nge-share sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran saya, selama hal itu bukan hal buruk. Tapi saya menahan diri untuk gak melakukan hal yang sama untuk hal-hal tertentu karena saya takut ada yang terganggu.

Jangankan di sosmed ya, di rumah pun saya dan Tuan Sinung sering tidak sepaham. Itu bikin gak nyaman. Misalnya aja waktu saya mengusulkan agar anak-anak dipanggilkan guru les membaca dan menulis. Tuan Sinung gak sepakat karena dia pengen anak-anak belajar tanpa harus tertekan. Apalagi sampai dipanggilkan guru seolah-olah kami orangtuanya gak bisa menyisihkan waktu untuk menemani mereka belajar. Butuh waktu panjang untuk mendiskusikan hal ini sampai akhirnya kami berhenti mendiskusikannya bukan karena sudah menemukan keputusan, tapi karena kamu sepakat menunda aja. Jadi anak-anak masih kami ajarkan sendiri sampai batas waktu tertentu dan kalo cara ini gak berhasil, mungkin kami akan mendiskusikan lagi tentang masalah ini.

Dan itu baru satu contoh…. :cutesmile:

Beda perspektif itu gak salah selama yang dituju adalah hal yang sama. Kalau kita melihat bintang yang sama, posisi melihatnya akan membuat perspektif kita jadi beda. Tapi toh kita melihat hal yang sama. Jadi apa salahnya? Kira-kira begitulah kadang saya dan Tuan Sinung menyelesaikan diskusi yang kebanyakan gak berujung di satu keputusan. :D

We’ve got four eyes, so why yearn for one perspective?

 

Tapi karena masih banyak dari kita yang gak nyaman ketika ada orang lain yang menjelaskan perspektifnya, cara pandangnya, pemahamannya, dan hal lainnya, saya pun menahan agar gak menjadi penyebab orang lain merasa gak nyaman. Walaupun kalau dipikir-pikir, selama kita gak mengganggu keamanan dan ketertiban umum, melanggar aturan dan norma, ya gapapa. :cutesmile:

Gak semua hal itu harus diungkapkan. Gak semua tindakan kita harus dijelaskan. Karena gak semua orang ingin mendengarkan dan memerlukan penjelasan.

Errr … jadi begitu.

Makanya untuk beberapa hal sensitif, saya lebih suka diam. Bukan berarti gak punya pendapat, kalopun saya mengungkapkan pendapat saya, saya juga gak yakin bakalan bisa mengubah pandangan orang lain. Karena itu saya memilih diam. Tapi … kalau sebaliknya, kalo saya sekiranya bisa memberikan penjelasan yang bermanfaat, saya akan menjelaskannya. :cutesmile:

Tentang money games, MLM, ponzi scheme, Priyadi udah pernah menjelaskannya di sini, di sini, dan di sini. Jadi, jangan tanya saya lagi ya. Hahahaaaa…. Sensitif soalnya beginian mah. :D

Udah, ya. Gitu aja. Hahahaaa…. :D

*kembali fangirling Sherlock Holmes*

2 Comments

  1. Milo
    Jan 9, 2014

    Mendadak pikiran saya buyar gegara liat foto mamas Benedict *menahan diri buat gak nge-sun layar laptop

    Saya termasuk yang reaktif kalau ada pendapat yang nggak sesuai dengan pendapat saya. Tapi, gara-gara statusnya Tere Liye yang sering banget menyarankan orang untuk menyampaikan “bantahan” di status sendiri (bukan komen di status orang) atau di blog sendiri, saya jadi lebih sering nulis ketidaksetujuan saya di blog atau status. Apalagi kalau statusnya masih pendapat, bukan sesuatu yang sifatnya benar-salah.

    • octanh
      Jan 9, 2014

      Ada yang lebih cihuy lagi gambarnyaaa…. :> *jadiin wallpaper*

      Ini juga salah satu usaha biar gak berdebat di sosmed dan status, Milo. Kan lagi rame tuh soal beginian. Kalo aku sih sebenernya terserah ya, mau ikut ya silakan. Gak ya silakan. Selama itu gak melanggar hukum. Tapi karena ada yang nanyain masalah itu kemaren, jadinya dikasih link ke orang yang bener paham aja dah. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)