#322: Ngomongin Kepribadian Penulis

Dibaca 554 kali

 IMG_4553edit

Kelana tak bersejarah berjalan kau terus

Sehingga tidak gelisah begitu berlumuran darah

Mungkin Manteman gak percaya, tapi ketika saya SMP, saking saya suka banget sama Chairil Anwar, saya sampai hapal isi satu buku sajak Deru Campur Debu dan Yang Terampas dan yang Putus.

Saya juga baru ingat kalau saya hapal ketika saya akan memulai menulis tulisan ini. Saya mengutip dua bait puisi Chairil Anwar yang berjudul Kepada Penyair Bohang dengan mudahnya. Itu bikin saya berusaha mengingat beberapa puisi yang lain dan ternyata saya masih hapal. Berikut dengan rasa lain yang—kebetulan—nempel di puisi itu. Karena sewaktu SMP saya memang menghapal puisi-puisi ini bukan karena saya ingin menghapalnya, tapi karena saya terlalu sering membacanya … jadi tau-taunya hapal aja gitu. Rasa yang nempel di puisi itu adalah semacam cinta pertama, atau cinta monyet, atau yaaa … begitulah. Hahahaaa….

Hal yang sama juga terjadi pada hapalan surat Al A’laa. Surat ini gak saya hapal secara sengaja. Ketika saya berumur 2-3 tahun, Ayah saya jadi imam di sebuah mesjid di Dumai. Setiap pagi, kalau dia mengimami sholat subuh, dia selalu membaca surat ini. Saya yang masih kecil itu suka dibawa ke masjid dan ditidurkan di sebelah Ibu saya yang ikut sholat berjama’ah sehingga mau gak mau saya mendengarkan surat itu dibacakan setiap subuh. Sewaktu SD, menjelang kelulusan, ada ujian yang materinya adalah hapalan Al-Qur’an. Saya pun menghapal beberapa surat panjang agar nilainya lebih bagus. Termasuk surat Al- A’laa ini. Waktu itu saya sendiri merasa aneh karena saya seperti sudah pernah menghapalnya, dulu … tapi saya lupa di mana.

Waktu daya pulang kampung dan menceritakan ini kepada Ibu saya (dari SD sampai kuliah saya gak tinggal sama Ibu saya), dia kemudian bercerita kalau itu adalah surat yang biasa dibacakan Ayah saya di Dumai dulu. Jadi mungkin saya hapal dari sana. Buat saya itu jadinya aneh karena saya hapal surat ini lebih dulu dibanding Al-Fatihah dan surat lain yang lebih pendek.

Errr … saya gak mau nyeritain tentang hapalan.

Saya mau nyeritain yang lain, yang kebetulan hari ini lagi heboh jadinya saya kepengen ikutan merusuh. *plaaak* :D

Dua hari belakangan saya jarang ngelongok sosmed karena sedang sangat berkonsentrasi mendonlot sesuatu. Hahahaaa…. Semua bandwith saya kerahkan untuk itu. Siang tadi, ketika saya ngelongok sebentar, ada obrolan tentang penulis, arogansinya, dan karya yang ditulisnya. Sebenernya ini bisa ada hubungannya, bisa gak. :cutesmile:

Sebenarnya, adalah aneh kalau pembaca menilai kepribadian penulis dari apa yang dia tulis walaupun memang benar adanya bahwa apa yang dia tulis itu mencerminkan bagaimana dia sebenarnya. Tapi … ada kalanya, penulis sendiri sama dengan aktor yang berakting atas nama naskah dan peran. Maksud saya, tulisan penulis itu—apalagi tulisan fiksi—gak bisa dijadikan ukuran kalau penulis tersebut seperti tulisan dan tokoh-tokoh dalam tulisannya.

Alasan sederhananya sih menurut saya, karena penulis juga seperti manusia normal lainnya: mereka menulis untuk mencari. Bisa mencari diri mereka sendiri, mencari makna hidup mereka, mencari nafkah, mencari pacar, atau mencari yang lain. Selalu ada MO. Selalu ada alasan di balik pekerjaan yang mereka lakukan.

Jadi, jangan kaget ketika menemukan penulis yang karyanya begitu religius dan mengharu-biru-mendayu ternyata aslinya, orangnya sangat keras dan kalo berpendapat terkesan arogan. Jangan heran pula kalau menemukan yang sebaliknya.

Manteman yang belum pernah bertemu dengan saya pasti membayangkan saya adalah perempuan keibuan yang kalau ngomong begitu lembut, bukan? Coba tanya sama yang pernah bertemu sama saya dan tanyakan apa saya benar seperti itu? Hahahaaaa….

Penulis menulis sesuatu yang mereka sukai, harapkan, impikan, dan inginkan. Mereka memasukkan sesuatu yang masih menjadi bagian dari dunia ideal menurut mereka. Karena itu, banyak sekali novel yang punya tokoh terlalu sempurna. Biasa disebut dengan Mary Sue atau Gary Sue. Karena menurut penulisnya, itulah yang baik dan benar. Tapi, Mary Sue dan Gary Sue ini biasanya ada di hasil tulisan penulis yang masih belum lelah mencari dan mempercayai bahwa dunia ini bisa sempurna seperti yang mereka harapkan.

Tahap selanjutnya, ketika mereka sudah mendapatkan pencerahan bahwa menulis bukan lagi tentang mimpi dan sesuatu yang ideal, tapi tentang memahami dan memaknai, mulai bermunculan tokoh-tokoh tidak sempurna yang manusiawi di karya mereka. Tokoh-tokoh ini kemudian membuat tulisan tampak seperti apa-adanya dunia ini. Tapi, itu pun masih dipengaruhi oleh “isi bagasi” lain penulis tersebut. Dorongan tentang dunia ideal itu masih ada, hanya saja dorongannya juga dipengaruhi oleh ideologi, filosofi, bahkan masa lalu mereka.

Penulis perempuan yang berkeyakinan bahwa tubuh itu tidak pantas disembunyikan di balik pakaian mulai menuliskan detailnya di tulisannya. Menelanjangi tubuhnya sendiri dan menganggap itu adalah pembebasan. Tapi, bisa jadi kalau kita bertemu dengan mereka langsung, dia tidak sekeras tulisannya. Bisa jadi pula sebaliknya. Tapi bisa jadi pula seperti tulisannya itu. Gak bisa diperkirakan memang. Akan banyak bias juga.

Jangankan tulisan fiksi yang panjang. Di status sosmed aja tanpa sadar kita melakukan pencitraan kok. Ya, kan? :cutesmile: Menyembunyikan siapa diri kita di balik tulisan kita. Menulis sesuatu karena ingin dipandang dengan cara beda yang bukan seperti siapa diri kita sesungguhnya. Kita bersembunyi karena takut pada diri kita yang sebenarnya. Atau … jangan-jangan kita gak pernah tahu siapa sebenarnya diri kita? Kita mendefinisikan diri kita dengan apa yang kita harapkan, inginkan, dan impikan. Yang pada akhirnya ada jarak antara apa yang diri kita kenal dengan diri kita yang orang lain kenal.

Nah looo…. :D

Itu salah satu alasan juga kenapa saya menulis. Saya ingin mengetahui tentang diri saya sendiri, lebih banyak dari yang orang lain tahu.

Karena … ketika kamu sudah mengetahui siapa dirimu, maka kamu akan tahu siapa Tuhanmu.

Jadi, jangan pernah menilai penulis dari tulisannya. Mungkin kamu akan menilai dengan benar. Mungkin juga tidak. Jangan pula mengidolakan penulis seperti mengidolakan artis. Soalnya kayaknya sekarang penulis udah sama kayak artis: diidolakan dan dianggap keren. Padahal mereka orang biasa aja. Gak ubahnya seperti orang-orang lain juga. Jadi lihatlah mereka seperti biasa saja.

Karena kalau penulis lain sama seperti saya, maka yang saya kerjakan adalah menuliskan catatan perjalanan pencarian diri saya sendiri. Ketika ada yang membacanya, yang mereka baca adalah kegelisahan, harapan, dan impian saya. Beberapa adalah kenangan yang ingin saya kubur tapi sebelumnya ingin saya pahami dan maknai dulu. Kalau saya menulis tentang kejujuran, maka itu adalah kejujuran yang sudah dibentuk, dibiaskan, dan kadang disembunyikan. Karena saya pun—dan mungkin sama seperti yang lain—ketakutan dengan kebenaran yang saya temukan tentang diri saya.

Seperti beberapa waktu belakangan, saya menemukan kebenaran tentang kematian. Bahwa saya akan mati dan itu bukan “mati” seperti yang biasa kita lihat ketika membaca novel atau menonton film. Saya akan benar-benar mati. Akan benar-benar pergi dari dunia yang katanya tidak berharga ini ke alam akhirat yang luar biasa. Yang di sana saya akan menemukan pencipta saya. Lalu, tidakkah sebaiknya saya sudah mengambil pelajaran dari kehidupan di dunia ini sebelumnya? Saya tidak ingin mati dalam keadaan tidak mengerti tentang kehidupan dan tentang kematian. Karena itu saya menulis.

Karena itu pula, jangan nilai saya dari tulisan saya. Dari tulisan ini juga jangan. Karena saya bukan tulisan-tulisan saya. Memang ada hati dan jiwa yang tertinggal di setiap huruf yang ada di sini. Tapi itu hanya sebagian kecil dari saya.

Kalau ingin benar-benar ingin tahu tentang seseorang, gunakanlah cara yang biasa: bertemanlah dengan mereka. :cutesmile:

Jadi kalau ternyata penulis yang kamu sukai itu arogan, yah … itu manusiawi karena dia manusia sama seperti kita. Tulisan-tulisannya hanya sebagian kecil dari dirinya yang bahkan mungkin berupa harapan dan impian, bukan kebenaran apalagi kejujuran tentang dirinya. :cutesmile:

Trus gimana, dong? Hmmm … gimana ya. Baca tulisannya. Ambil yang baik, buang yang gak baik. Gitu aja. :D

Dan kalau saya sekarang bisa berteman dengan Chairil Anwar, mungkin saya akan memusuhinya karena kepribadiannya—yang dituliskan menurut pendapat teman-temannya—gak saya suka. Hahahaaa…. :D

14 Comments

  1. Isnuansa
    Jan 21, 2014

    Gara2 huru-hara itu, jadi kenal Darwis, yang sebelumnya belom pernah denger namanya. :D

    :music:

    • octanh
      Jan 28, 2014

      Ada hikmahnya juga deh, jadinya. Hahahaaaa…. :D Bukunya bagus-bagus dia, Mbak Isnuansa. :D

  2. Bint@
    Jan 16, 2014

    suka dan sepakat sm tulisan ini.. sy share di wall fb saya mbak :)

  3. Bint@
    Jan 16, 2014

    kenalilah dirimu maka kau akan mengenal tuhanmu… suka banget dan sepakat dgn isi postingan ini :)

    • octanh
      Jan 28, 2014

      Kira-kira begitulah yang saya paham. Kalo misalnya kita kenal diri kita, tentu kita paham kalo kita cuman hamba. :cutesmile:

  4. Mugniar
    Jan 15, 2014

    Setuju … biasa2 saja lah …

    Dan

    Saya mau mengutip dari tulisan mbak Octa: eh gak bisa ding dicopas hihi

    Sy juga mungkin banyak yang akan keliru menilai saya dari foto/tampang maupun dari tulisan. Aslinya sih gak begitu2 amat. Coba tanya anak2 saya … mereka pasti jujur dan akan bilang kalo ibunya galak hahaha

    Sudah ah … pokoknya setuju deh sama isi postingan ini … :-P

    • octanh
      Jan 28, 2014

      Fotonya Mbak Mugniar gak keliatan galak emang. Aslinya galak ya? Hahahaaaa…. Saya ama foto saya juga keliatan beda. Mungkin karena foto gak bisa menangkap gesture. Jadinya kalo ada yang ketemuan ama saya buat pertama kali, suka bingung gitu ngeliat saya. Kapan-kapan kopdar yuk, Mbak Mugniar. :D

  5. Arum
    Jan 15, 2014

    Hmmm…saya sebagai pembaca kok nggak membayangkan Octa sebagai “perempuan keibuan yang kalau ngomong begitu lembut”, ya? Hmmm… 8)

    • octanh
      Jan 28, 2014

      Ih, aku begitu kaleeee…. Lembut, keibuan, penuh dengan senyum, dan sangat ketjeh! *dikeplak*

  6. Milo
    Jan 15, 2014

    Apa ini terinspirasi penulis yang sering nge-ban orang yang beda pendapat dengan dia di fanspage-nya?

    Dulu ekspektasi saya terhadap salah seorang penulis fiksi, yang karya-karyanya sangat menginspirasi, tapi penulisnya sendiri ya gitu. Tipikal orang yang susah menerima pendapat yang bertentangan. Tapi, akhirnya memutuskan untuk tetap menghargai karyanya, biarpun nggak respect sama penulisnya. Anggap aja tulisan itu kaya mutiara di mulut anjing. Ambil mutiaranya, cuekin anjingnya. Umm, oke, penulis itu bukan anjing. Sorry.

    Soal pencitraan, kayaknya semua orang melakukan pencitraan deh. Tapi ada yang disadari, ada yang “kelihatannya” spontan. Waktu memutuskan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan, seringkali ada motif pencitraan. Misalnya saya, memutuskan untuk nggak bikin status galau padahal lagi galau berat biar kelihatannya tegar.

    *roman2nya saya bakal jadi top commentator lagi di blog ini

    • Milo
      Jan 15, 2014

      ralat

      *Dulu ekspektasi saya berlebihan terhadap salah seorang penulis fiksi …

    • octanh
      Jan 28, 2014

      Iya, dari Tere Liye. :D

      Tapi, setelah aku liat-liat lagi, dia ngelakuin itu karena emang gak pengen ngabisin waktu dalam perdebatan gak gak ada ujungnya. Udah ditulis juga pan, di “about” FP-nya. Aku udah lama berusaha gak terlalu nge-fans ama penulis. Cukup karyanya aja. Begitu juga dengan artes, cukup ngefans ama tampangnya aja. Kalo sampe ngubek-ngubek kehidupan pribadinya, pasti ntar adaaaa … aja yang kita gak suka. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)