#325: Menjawab Pertanyaan tentang Kritik

Dibaca 102 kali

IMG_0896edit

Ini kapulaga dan gak ada hubungannya sama post ini. Saya kehabisan foto. :D

Beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya dengan sungguh-sungguh kepada saya: lo marah kagak kalo dikritik?

Saya udah jawab dan dia kayaknya dia belum puas sama jawaban standar ‘ya gapapa’ dan minta saya menjelaskan. Itu yang saya maksud dengan: bertanya dengan sungguh-sungguh. :D

Sebenernya ngejawab pertanyaan ini lumayan sulit juga buat saya. Pertama sih, karena: siapa sih yang suka dikritik? Kalo novel kamu baru aja terbit pastinya kamu pengen dipuji dong. Apalagi setelah berpuluh malam kurang tidur buat menyelesaikannya. :cutesmile: Tapi … di satu sisi, saya berusaha membedakan mana yang namanya apresiasi dan sekedar memaki-maki. Apresiasi gak selamanya berbentuk pujian loh. Ada kalanya bentuknya adalah pengingat dan pemberitahuan agar di kemudian hari kita bisa lebih baik lagi. Gak ada kebencian di sana. Walaupun mungkin kata-katanya bikin panas-dingin gak bisa bobok. :D

Setidaknya, kalau ada orang atau teman yang membaca tulisan saya dan memberikan komentar, biasanya saya membaca di kala hati saya lagi senang. Jadi saya gak terlalu terpengaruh dengan kata-kata yang mungkin diniatkan bukan untuk menyakiti saya, tapi kalau dibaca dalam keadaan lapar dan kurang tidur bisa memancing perang dunia. Hahahaaa….

Mungkin ini karena saya besar, tumbuh, dan belajar menulis di kemudian.com. Di sana, untuk nge-post satu karya kita, kita harus mengapresiasi setidaknya tiga sampai empat karya yang lain. Dan itu bukan pekerjaan mudah. Mudah sih, kalo kamu sekedar muji dan bilang: nice, gan! Tapi, kalo mau bener-bener belajar mengapresiasi dengan baik, kamu bakalan ngasih komentar lebih dari sekedar komentar ‘permen’–begitulah komentar puja-puji diibaratkan di sana. Selama saya nge-post karya di sana, saya lebih banyak nerima apresiasi berupa cabe dan ada loh tukang cabe yang terkenal. Saya dan para tukang cabe ini ada yang sampai sekarang berteman baik. Apa kami saling membenci? Ya gak lah! Hahahaaa…. Beberapa dari mereka sangat saya butuhkan kehadirannya ketika saya pengen ngeliat tengkuk saya sendiri. Istilahnya gitu. Saya gak bakalan bisa ngeliat tengkuk saya sendiri kalo gak pake cermin–itu pun kayaknya susah. Keberadaan mereka akan membuat pekerjaan melihat tengkuk ini jadi lebih enak.

Selain mereka memang bisa memberikan komentar dengan bahasa lugas dan alasan yang kuat, ditambah lagi mereka memang pembaca yang tekun. Paham sedikit-banyak tentang teknik menulis dan bagaimana seharusnya tulisan yang bagus itu dibuat. Saya percaya pada mereka. Kalo gak, saya gak bakalan berani ngasih draft mentah buat mereka baca. :D

Saya berusaha menulis. Mereka berusaha membantu saya agar saya bisa menulis dengan lebih baik lagi dengan menunjukkan bagian-bagian mana aja yang bisa saya perbaiki. Hubungannya jadi mutual. Dan saya sangat berterimakasih karena mereka melakukannya dengan bersungguh-sungguh. :cutesmile:

Lalu, bagaimana dengan komentar pedas di Goodreads atau blog review?

Ini juga sebenarnya gak terlalu saya masukin hati selama gak personal attack. Karya apapun, selama kreatornya mau berusaha, dia bisa membuat yang lebih baik dari yang sebelumnya. Dalam kasus saya misalnya novel saya yang udah terbit dikritisi ampe pedes banget. Ya saya gak bisa bilang apa-apa lagi buat pembelaan. Adanya begitu. Kalau mereka ngasih review begitu, yaaa … adanya emang begitu menurut mereka. Di orang lain, hasilnya bisa lain lagi. Karena membaca juga berhubungan dengan selera. Kalau kamu gak suka pete, sampe kapanpun kamu gak akan bisa bilang pete itu paling enak diapain, kan? Begitu juga dengan novel bergenre tertentu. Kalo kamu sukanya horor, pas baca yang cecintaan mungkin bakalan agak bete. Tapi … buat penggemar cerita semacam itu, pendapatnya akan lain lagi.

Selera gak bisa dinilai. Tiap orang punya selera. Tapi … kita tetep bisa menilai yang diselerai itu bagus atau gak dari unsur-unsurnya, kan? Di sinilah reviewer sebenernya bisa sangat objektif. Plot, karakter, setting, penceritaan … itu bisa dinilai. Sangat bisa dinilai.

Kalo make logika umum, tentunya cerita fantasi itu bakalan masuk cerita gak layak baca dan gagal logika. Tapi ketika kamu udah tahu kalo ceritanya fantasi, tentu kamu bakalan bersiap dengan logika cerita yang penulisnya buat. Logika cerita ini yang harusnya dipakai. Makanya menghadapi bacaan demi bacaan itu perlu pendekatan beda. :D

Trus gimana saya reaksi saya kalo membaca komentar pedes?

Kalo saya sih, sejujurnya melihat apa yang dikomentari. Misalnya komentarnya tentang ending yang menurut dia jelek. Itu gak saya masukin hati karena: itu kan cerita gue, suka-suka gue dong ending-nya. Hahahahaaaa…. :D Ke mana cerita itu mau dibawa, itu adalah hak prerogatif penulis. :cutesmile:

Kalo ada yang mengomentari: buku ini jelek karena gak sesuai selera saya. Ini juga saya gak masukin hati karena kita gak bisa maksa orang makan pete. :D Kita juga gak bisa maksa orang makan seafood karena bisa jadi doi emang alergi.

Komentar lain semacam: kok tokohnya gak ganteng sih? Itu juga sangat gak perlu dimasukin hati karena ganteng itu relatif tapi Benedict Cumberbatch itu mutlak gantengnya. (Kalo ada yang gak setuju, berarti kalimat saya sebelum ini benar: ganteng itu relatif.)

Sebagai penulis, kita tau kok siapa yang membaca tulisan kita dengan tekun, siapa yang membaca dengan hati, siapa yang membaca sekilas lalu, siapa yang emang gak pengen membaca. Sayangnya, itu semua bukan salah siapa-siapa. Tinggal kitanya aja bisa gak buat ngeliat mana yang mengomentari karena dia melihat bahwa kita bisa membuat sesuatu yang lebih baik di kemudian hari dengan yang mengomentari hanya untuk memperlihatkan kalau dia lebih banyak tahu dibanding kita.

Menunjukkan kesalahan orang lain itu emang bisa ngebikin kita merasa sedikit lebih pintar karena: gue tau kalo itu salah sementara lo gak tau, ya berarti gue lebih pinter dikit dong? :D

Kita bakalan tau itu kok. Begitu juga dengan pujian dan permen-permen. Kita tahu mana yang pake pemanis buatan kayak saccarine dan mana yang emang organik–datang dari hati yang tulus. :cutesmile:

Jadi, jawaban untuk pertanyaan itu adalah: saya gapapa dikomentarin macem-macem, dikritik atau pun dipuji. :cutesmile:

Karena sebagai penulis, tugas saya ya menulis. Bukan menanggapi komentar apalagi berdebat tentang apa yang saya tulis. Beberapa pujian memang bisa jadi pembakar semangat yang ampuh kalo diberikan dalam porsi yang tepat. Beberapa kritik bisa membuat saya belajar lebih banyak dan giat. Jadi saya menerima keduanya. Yang penting buat saya bukan apa yang disampaikan tapi gimana saya bisa mengambil pelajaran dari situ dan menjadi lebih baik di tulisan berikutnya. Itu aja. :D

Karena kalau saya lagi down banget dan males nulis, saya tau ke mana harus meminta pujian. Jadi saya terang-terangan minta pujian dan dukungan. Kritik itu juga perlu biar dagu saya gak jadi tinggi.

Yang penting buat saya … saya harus menulis. Terus dan terus. Lebih baik setiap kali.

Tapi ketika saya di posisi sebagai pembaca dan sedang membuat review, saya pastikan kalaupun saya terpaksa harus mengkritik … itu adalah sesuatu yang bisa diperbaiki dan bisa dijadikan pelajaran. Karena sebagai penulis, saya mengharapkan kritik membangun semacam itu. Dan gak personal attack. Apalagi sampai mempertanyakan moral penulisnya.

Personal attack itu kayak apa sih? Misalnya nih: kamu sih kurang baca referensi. –> tau dari mana kalo si penulis kurang riset? Harus kasih bukti di mana letak fakta yang salah. Kalo gak, itu asumsi aja namanya. :D

Atau: yah, penulisnya emang bego aja. –> Pernah loh, saya membaca review kayak gini dan saya langsung mempertanyakan kepintaran reviewer-nya. Ketemu aja belom pernah, kok bisa-bisanya bilang bego. Oh, ini bukan kritik buat saya. :D Bukaaaan….

Biar gak personal attact, ya harus ngeliat karya sebagai karya aja. Menilai dari apa yang ada di depan mata. Bukan berasumsi.

Kalo ada kritik yang gak membangun dan itu diniatkan buat menjatuhkan–dan saya merasakan itu–saya mungkin bakalan langsung menghubungi orangnya secara personal kalo mungkin. Kalo gak, ya gak saya denger. Toh saya menulis gak hanya untuk satu orang. Saya menulis bukan untuk memuaskan beberapa orang. Saya bukan alat pemuas. :D

Tapi sejauh ini, belom ada sih yang sampe kayak gitu. Semoga juga gak bakalan ada.

Dan sebagai reviewer, ingatlah, apresiasi itu bukan hanya memuji penampilan depannya, tapi juga bisa menunjukkan apa yang salah dengan tengkuknya (kalo ada). Karena kadang, pujian palsu yang dibuat hanya atas dasar ‘gak enak sama temen sendiri’ itu jauh lebih menyakitkan.

Demikian.

Udah dijawab ya. :cutesmile:

Jadi, jangan takut mengkritik saya. Jangan takut juga memuji. Selama kritiknya membangun dan pujiannya gak kemanisan. Selama semuanya dilakukan karena kamu pengen saya lebih baik lagi. :cutesmile: Kalau berharap semua review isinya adalah tulisan hangat nan menyemangati lagi menggembirakan … itu sangat gak adil loh jadinya. Karya bagus akan dapat hal yang sama dengan karya kurang bagus. Lalu, gimana caranya mau memajukan dunia literasi Indonesia? *sok serius* Sementara kritik yang ditulis dengan tekun dan sungguh-sungguh itu adalah salah satu yang bisa membantu penulis meningkatkan mutu karyanya.

Lagipula … kamu gak tau aja kalo penulis itu adalah pengkritik paling keras untuk karyanya sendiri. :D

9 Comments

  1. Muhammad Rasyid Ridho
    Jan 28, 2014

    keren, makasih mba sharingnya :)

  2. kalo udah selera emang susah, mba octa. tapi yang paling penting gimana cara penulis memikat pembaca di awal paragraf. kalo udah suka pasti dibaca sampe kelar. kalo ga kemungkinannya cuma dua : dibaca skip2, sama ditutup aja ga dibaca lagi. aku kalo masih penasaran sama endingnya bakalan tetep lanjutin :D dan seringnya emang reviewer yang paling pedes di kemudian.com itu kritiknya ga pake basa basi :D pernah liat punya temenku dikritik abis-abisan. tapi hasilnya sekarang karya dia jadi lebih halus dan cantik.

    • octanh
      Jan 28, 2014

      Berarti kritik itu perlu juga, kan? Gak harus dihindari. :D Kalo saya pikir ada yang lebih besar dibanding “memikat pembaca di awal”. Sesuatu yang ada hubungannya dengan nama besar, ekspektasi, personal branding…. *elus-elus dagu*

  3. Nurin Ainistikmalia
    Jan 28, 2014

    Okeh,, saya siap menjadi kritikus yang membangun,,, *singsing lengan baju,,, :cutesmile:

  4. Haeriah
    Jan 27, 2014

    keren nih pembahasannya terutama kalimat saya gak bisa memuaskan semua orang karena saya bukan alat pemuas…..ternyata penulis juga butuh kebesaran jiwa dan kelapangan dada jika suatu saat tulisannya di”obok-obok” para reviewers.

    • octanh
      Jan 28, 2014

      Yah gimana yaaa…. Hahahaaaa. Kerjaannya reviewer itu kan emang ngereview. Kalo kerjaannya muji doang, namanya jadi mujier…. :D

  5. milo
    Jan 27, 2014

    Saya komen lagiiiiiii…

    Kalo saya, termasuk permen, sakarin, aspartam, apa sambel? Permen jahe aja kali ya, manis-manis pedes :music:

    • octanh
      Jan 28, 2014

      Dikau sambel terasi yang dimakan pake daon singkong dan telor asin; enak dan nagih. Makin pedes makin maknyoooos! :D Duh, pengen telor asiiiiin!

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)