#326: Personal Branding Penulis dan Tentang Apa yang Membuat Bukumu Dibeli

Dibaca 190 kali

1383818_10200838578759046_1581313272_n

Make foto lama karena keabisan foto. Kapan ini bisa hunting yaaaa? 

Semalam, saya uring-uringan.

Penyebab utamanya sih karena PMS. Hahahaaa…. :D Perut saya suka tegang dan sakit gitu. Badan pegel-pegel pulak. Makanya jadi badmood. Penyebab lainnya adalah: saya gak bisa ngelanjutin nulis karena … entah apa. Ya gak bisa aja gitu. Saya juga bingung. Mungkin juga karena pengaruh PMS sih. :mewek:

Jadi dari Tuan Sinung pulang kantor menjelang maghrib sampe hampir jam sembilan malem, saya kerjaannya ngomel ama cembetut muluk. Tapi di depan dia doang. Hahahaaa…. Kalo ada anak-anak mah, langsung berubah jadi Ibu yang manis. Kalo anak-anak lagi gak ada, langsung deh keluar itu semua keluhan. :D

Tapi kan, gapapa yaaa…. Ngeluhnya kan gak diumbar-umbar di sosmed. <– Iya, tapi ngumbar di blog. *plaaaak*

Saya dan Tuan Sinung itu beda banget. Dia gak ngerti dunia saya, saya gak ngerti dunia dia. Dia gak ngerti kenapa saya ngomel-ngomel dan ngeluh gak bisa nulis. Saya juga gak ngerti apaan yang lagi dia kerjain di laptopnya. Apalagi dia pake Linux dan saya pecinta Windows. Dia gak paham apa yang saya curhatin, saya juga kadang suka gak mudheng sama apa yang dia jelasin. Tapi kami saling melengkapi. :cutesmile: Blog saya ini adalah hasil kerjaan dia. Dia selalu mendukung saya semampu yang dia bisa. Dan saya selalu masak makanan yang dia suka. :D

Karena ngeliat saya ngomel muluk dan dia jadi ikutan puyeng, malem tadi tuh, sambil nemenin saya gegoleran, dia ngasih nasehat buat saya.

Tapi … dia tuh sebenernya gak paham mau ngomong apa. :D

Jadi, dia nge-search artikel bagus tentang kepenulisan yang dia bacain dari hapenya. Jadi kesannya kayak dia ngenasehatin langsung gitu, kayak ngerti banget gitu, padahal mah itu hasil googling. *plaaaak* Tapi saya sangat menghargai usahanya.

Artikel itu panjaaaang banget dan ngabisin waktu sampe menjelang tengah malam buat ngebacain semuanya. Saya juga udah lupa beberapa bagiannya, tapi ada yang saya inget banget karena kami mendiskusikannya. Yaitu tentang personal branding dan alasan kenapa seseorang membeli bukumu.

Ini saya ceritain ulang ya, mumpung masih anget. :D

Here’s the sad truth: most people who write a book will never get it published, half the writers who are published won’t see a second book in print, and most books published are never reprinted. What’s more, half the titles in any given bookshop won’t sell a single copy there, and most published writers won’t earn anything from their book apart from the advance.

Beruntunglah orang yang bukunya diterbitkan karena penerbit dan editor melihat potensi dari naskah itu. Banyak penulis yang menulis dan gak pernah diterbitkan. Setengah dari yang diterbitkan itu gak pernah dicetak ulang. Bahkan banyak juga yang gak terjual. Penerbitan buku itu adalah bisnis. Itu yang harus diingat penulis. Kalo hanya melihat dari sisi penulis, tentu yang keliatan hanya: naskah gue bagus. Tapi, banyaaak pertimbangan yang membuat penerbit menerbitkan naskahmu. Puluhan juta diinvestasikan. Tentu penerbit gak mau rugi.

Penulis yang hanya melihat sejauh idealismenya sendiri, bakalan kesulitan untuk memahami itu dan bertanya-tanya: “Kenapa buku gue yang bagus dan sarat pesan moral serta bergizi tinggi gak laku terjual? Gak dicetak ulang? Kenapa buku jelek itu malah dicetak ulang belasan kali?”

Dunia gak adil? Hahahahaaaa….

Bukan. Ini bukan tentang dunia yang gak adil. Ini tentang mencari tahu kenapa orang membeli buku tertentu.

Menulis Itu Gak Mudah

Writing isn’t easy and, even after you’ve been doing it for a few years, you’re still a novice. If you want to be a successful writer, be prepared to work as hard, and as long, as if you wanted to be a violinist in an orchestra, a professional cricketer or, God forbid, a lawyer. Rarely, someone will write a book and get it published straight away, but that’s pretty unusual. I was once in a roomful of writers when that question was asked, and only three writers raised their hands. Most writers work for 5-10 years before getting their first book published (my first took 9 years.)

Menulis itu gak mudah. Kalo ada orang yang menulis buku “Menulis itu Gampang”, tanyakan: yang dia maksud nulis apa dan gampangnya itu seberapa?

Kalo menulis itu gampang, pastilah sekarang dunia ini dipenuhi oleh jutaan penulis sekelas Victor Hugo, Pramudya, atau Shakespeare. Tapi ternyata gak gitu, kan? :D

Menulis itu sama dengan pekerjaan lain yang butuh waktu tahunan untuk bisa melakukannya dengan baik. Inget rumus 10.000 ribu jam? Untuk bisa melakukan pekerjaan dengan baik, kamu perlu latihan selama 10.000 jam. Kalau kamu melakukannya selama delapan jam sehari, kamu bakalan butuh waktu sekitar delapan tahun. Sepanjang itulah kamu harus berusaha memperbaiki craftmanship kamu. Penulis yang mengimpikan jadi terkenal dan jadi kaya dari menulis, kalo gak terus-terusan belajar, ya akan sangat sulit sampai ke sana.

Jadi, untuk penulis yang baru menerbitkan buku kayak saya, sadarilah … ini baru awal. Ini bukan pencapaian. Ini baru satu langkah dari ribuan langkah yang harus kamu tempuh kalo kamu beneran pengen jadi penulis.

If you’re continually being rejected, it’s time for ruthless self-analysis. These are the most common reasons that fiction manuscripts are rejected:

  • The writer simply can’t write;
  • The writer has written a first draft and submitted it without bothering to edit it. No professional would submit a first draft;
  • The storyline and characters are directly recycled from well known novels, TV shows, movies or computer games;
  • It’s not a story, just a series of unrelated events; or it’s a polemic or rant, or a poorly disguised religious tract
  • It’s grossly violent, libellous, pornographic, depraved or offensive, or off-the-planet weird;
  • It’s not appropriate for the publisher you sent it to, or their publishing schedule is already full; or
  • The public simply aren’t buying that kind of stuff at the momen

Buat Penulis Naskahnya Udah yang Paling Keren dan Ketjeh

Buat penulis, naskahnya udah keliatan yang paling keren dan kece sehingga dia akan dengan senang hati membalikkan semua kritik (semua kritik dianggap menyerang dan tanda kebencian). Hal kayak gini tuh ngebikin penulis jadi defensif dan gak mau belajar. Kita udah ngeliat buktinya kok kalo seorang artis yang defensif dan anti-kritik gak pernah maju dan karirnya tersendat-sendat. *no mention* Jangan sampe kita jadi contoh untuk kasus serupa.

Walopun ini gak akan terlalu mempengaruhi, tapi seperti profesi yang lainnya juga, penulis itu perlu attitute. Kamu gak suka kan sama penulis keras kepala dan sombong? Ya jangan jadi salah satu yang kayak gitu. :D

Tapi … taukah kamu kalo sebenarnya ada hal yang sebenarnya membuat buku kamu terjual? Dan kadang itu gak ada hubungannya dengan bagus atau gaknya naskah itu?

Personal Branding

Promotion doesn’t increase the size of the market–all it can do is influence people to spend their money on your book rather than someone else’s.

To become a successful author, you have to establish your name as a brand that the reading public can trust. If they spend twenty bucks on your book, they expect to get their money’s worth of entertainment. If they don’t, your readers will feel ripped off and tell their friends what a rotten book it was.

Promosi itu gak bikin pembeli bertambah banyak, itu cuma bisa mempengaruhi orang untuk beli buku kamu dibanding buku lainnya. Untuk jadi penulis yang sakseis itu, kamu perlu punya personal branding, nama yang dikenal, dan sesuatu yang bisa membuat orang dengan mudah mengenali kamu dan karyamu.

Kalo ada dua buku di toko buku dengan genre yang sama, misalnya fantasi, saya tentu lebih milih Tolkien dibanding entah-siapa-yang-namanya-aneh-dan-saya-belom-pernah-denger. Ngebikin nama kamu itu dikenal, bisa membantu penjualan buku kamu. Caranya banyak dan aktif di sosial media hanya salah satu di antaranya.

Cara yang paling foolproof adalah dengan terus menulis di genre yang sama. Tapi gak hanya nulis-nulis doang. Pastikan kamu menulis cerita yang good story and well told. Sehingga besarnya nama dan kualitas itu sejalan. Jangan pernah percaya dengan ungkapan bahwa nulis itu yang penting “nulis-nulis aja”. Belajar. Cari tahu gimana cara bercerita yang baik. Jangan terpaku pada besarnya ide karena ide sebagus dan semegah apapun bakalan hancur juga kalo gak ditulis dengan baik. Jangan terlalu percaya bakat.

Salah satu personal branding yang saya lakukan adalah dengan blog ini.

Saya punya beberapa blog dan emang sengaja dipisah bukan biar keliatan kece. :D Tapi, biar branding-nya keliatan. Soalnya pembaca blog craft saya itu beda dengan pembaca blog ini. Tiap blog punya pembacanya sendiri. Pembaca blog craft saya kayaknya kebanyakan gak tau kalo saya nulis novel. Pembaca blog ini kadang gak tau kalo saya suka nge-craft. 

Tapi blog personal inilah yang saya besarkan dengan usaha lebih. Butuh waktu panjang dan energi gak sedikit untuk ngebikin blog yang awalnya sepi dan yag ngebaca paling temen-temen doang untuk menjadi blog yang pengunjungnya lumayan banyak. Butuh sekitar tiga tahun buat menaikkan pengunjung dari sepuluhan orang sehari sampai jadi minimal 500-an orang per hari. Dan ini juga belum sampai akhir. Masih banyak yang mesti saya lakukan agar pengunjung blog ini juga semakin ramai. Dan itu lebih sering gak melibatkan “nulis-nulis aja”. Tapi beneran riset, membaca, dan menulis dengan baik.

Begitu pula dengan novel. Menulis satu novel dan langsung berharap jadi penulis terkenal sangat itu beneran jarang terjadi. Ada tapi jarang. Itu pun outlier yang didukung hal-hal tertentu. Menulis terus dan membesarkan nama kamu sendiri bakalan sangat membantu penjualan. Orang yang udah ngebaca satu buku kamu dan suka, kemungkinan bakalan ngebeli buku kamu yang selanjutnya. Orang yang ngebeli buku kamu yang terbaru dan suka, mungkin akan mencari buku kamu yang terbitan lama. Kamu sendiri juga kalo ke toko buku lebih suka beli buku yang penulisnya udah kamu tahu kualitasnya, kan? :cutesmile:

Karena penerbitan buku itu bisnis dan bisnis melibatkan brand daaan … nge-branding itu butuh waktu, bersabarlah. Menulislah sebaik yang kamu bisa dan terus-menerus. Jangan berharap jadi superstar di dunia kepenulisan ini kalo kamu emang gak briliant banget dengan nama yang udah dikenal. Jangan berharap pada review yang bakalan menaikkan penjualan karena sedikit sekali review yang bisa melakukan itu.

Coba aja liat salah satu buku yang dapet rating gak begitu bagus di Goodreads tapi sampai delapan kali dicetak. Ada yang salah dengan itu? Kalo menurut saya sih, gak. Nama besar penulisnya lah yang bicara.

Tapi sejarah membuktikan kalo nama besar dengan kualitas bagus itu bakalan hidup melintasi jaman. Gak ada yang bakalan bisa menghalangi itu. Bahkan kematian sekali pun. Maka, belajarlah dari penulis yang kayak gitu. :cutesmile:

The good news is that one review, even a big, glowing one, won’t make a big difference to your book sales (and neither will a really bad one). To significantly bump sales up, you need reviews and articles in a good cross-section of the media, and that’s unlikely before you’ve sold a truckload of books. One average-sized review in a big city paper might sell twenty or thirty books – a hundred if you’re lucky. Besides, most people who read popular fiction don’t read reviews. And don’t expect to get glowing reviews – they’re very rare. Don’t get too upset about the stinkers, either. Ignore them and use the good ones–quotes on book covers do make a difference.

Sebagus-bagusnya review, bakalan kalah dengan nama besar. :D

Bangunlah nama itu. Lekatkan dengan genre dan image yang mau kamu buat. Menuliskah terus. Lebih baik setiap kali karena …

Tastes change and styles date. What’s quaint and quirky, or dazzlingly original, one year will be pass the next. Even genres boom and bust: westerns have practically disappeared, horror goes up and down like a roller coaster from decade to decade and SF seems to be in long term decline. And it’s remarkable how few of the really big names of 20 years ago are still big today.

Luckily, one kind of writing never goes out of fashion–a good story well told, with well-drawn characters that the reader can identify with (if not necessarily like). But always remember that you’re competing with all the other writers in your genre, in the world, and you’re only as good as your last book.

… you’re only as good as your last book.

Kamu adalah–menurut pembacamu–sebaik buku terakhirmu. Kalo kamu merasa kamu lebih baik, kamu harus menuliskan lagi yang lebih baik. Terus begitu. :cutesmile:

Dan setelah saya dibacain artikel ini sama Tuan Sinung, saya pun jadi ngerasa tercerahkan. Eaaa…. Setidaknya, saya jadi tahu ke mana harus melangkah. Hahahaaa….

Untuk artikel lengkapnya, silakan baca di sini ya, Manteman: The Truth about Publishing

Dan kalo pengen ada yang bacain artikel itu sambil diterjemahin dan nemenin kamu gegoleran melewati malam yang galau, carilah suami seperti Tuan Sinung. *gapapa lah muji sekali-sekali* :D

12 Comments

  1. Fauzt
    Dec 1, 2014

    salam kenal,
    sudah lama main-main ke sini namun baru ini komen karena pengen belajar banyak lagi dari postingan-postingan di blog ini… XD
    saya seorang “writer wanna be” yang akhir-akhir ini dipusingkan dengan masalah pemasaran karena gatel pengen nerbitin buku di jalur indie…
    tapi, ya itulah…
    memulai personal branding itu benar-benar butuh kesabaran dan keuletan yang ekstra… :cry:

    keep posting,
    bila sudi mampir di gubuk saya,
    http://www.lingkaransegitiga.com

    • octanh
      Dec 3, 2014

      Halo Bang Fauzt~ :D

      Kenapa gak nyoba di jalur mainstream aja dulu? Biar merasakan rasanya dibimbing dan dikoreksi editor profesional. Soalnya itu pengalaman yang berharga banget sebelum masuk ke jalur indie. Tapi ini menurut saya aja, sih. :D

      Aku udah mampir ke sana. Tapi beloman komen. :D

  2. Heru
    Mar 12, 2014

    Ahai~
    10.000 jam, yak? Kalau ini soal banyak waktu yang digunakan untuk main game, rasanya sih udah lewat dari 10.000 jam *tepokjidatkuadrat*

  3. Ety
    Feb 4, 2014

    Dan buat saya yang belum nerbitin buku, harus nyadar kalau belum melangkah..jadiiii usaha yang ekstra ya..*edisinasehatindirisendiri* :ngikik:

    • octanh
      Mar 4, 2014

      Yang udah nerbitin beberapa buku pun masih harus berusaha, Mbak Ety. Ini usaha seumur hidup sepertinya. :D

  4. Eni Martini
    Jan 30, 2014

    tes dulu komen sebelum emosi ilang komen banyak-banyak :music:

  5. Eni Martini
    Jan 30, 2014

    tes dulu komen sebelum emosi ilang komen banyak-banyak :music:

  6. Fardelyn Hacky
    Jan 30, 2014

    mbak octa, kayaknya paragraf-paragrafawal yang nyeritain tentang PMS dan rumitnya hubungan antara mba octa dan suami, kayaknya bisa jadi postingan lain deeeh, yang khusus ngebahas tentang itu :p soalnnya..soalnya…aku ikut-ikutan jadi ga fokus membaca tema yang menarik ini

    • octanh
      Feb 3, 2014

      Yah, itu kan background ceritanya. Kalo aku pengen nulie artikel serius, tentunya bagian kayak gitu gak bakalan dimasukin. Tapi kan, aku gak lagi nulis essai atau artikel serius. :D

  7. leyla hana
    Jan 29, 2014

    betul banget itu.. aku juga lagi susah payah branding nama hehe… tapi keliatan bedanya, sekarang banyak anggota BAW dan KEB yang baca novelku hehe

    • octanh
      Feb 3, 2014

      Saya mau branding dan agak kesusahan sebenernya mau nge-branding apa. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)