#328: A Stolen Story

Dibaca 71 kali

IMG_2511edit

Udah lama gak Baloiya Resort nih saya. Jadi pengen kangeeen. 

But I really do think that human beings are very narrative creatures and even in mediums that are considered very formal and abstract, those mediums communicate to their audience, not just through the splashes of paint on the canvas, but very much through the narratives of the people that created them. (Diambil dari kutipan wawancara Alexandre Singh di sini.)

Gak. Saya gak mau ngomongin tentang pertunjukan teater The Human-nya Alexandre Singhs. Walaupun saya menanti-nanti kapan ya bisa ngeliat pertunjukan teater, konser, pameran lukisan, dan lainnya kayak gitu. :cutesmile:

Yang saya mau omongin sekarang salah satunya tentang kecenderungan manusia sebagai makhluk naratif. Mereka (termasuk saya juga) mencari sebab-akibat yang logis, cerita yang masuk akal, penjelasan tentang aksi-reaksi yang bisa diterima nalar. Padahal hidup itu sendiri sangat aneh–lebih aneh dari fiksi. Beberapa hal gak bisa dijelaskan dengan logis. Hal lainnya lagi banyak yang gak bisa dimasukkan ke akal atau diterima nalar. Tapi, keinginan untuk menjadikannya terjelaskan membuat manusia kemudian mencari tau dan mencari cara agar semua itu bisa dijelaskan.

Begitu juga tentang ketuhanan. Atau tentang makhluk gaib. Atau juga tentang perasaan remeh-temeh lainnya.

Bahkan kitab suci pun punya kecenderungan untuk menceritakan. Membuat hubungan sebab-akibat. Membeberkan aksi dan reaksi. Kalo kamu berbuat baik, kamu akan masuk surga (sederhananya gitu) dan itu masuk akal. Musa dihanyutkan ke sungai dan ditemukan oleh istri Fir’aun. Musa diangkat anak karena Fir’aun gak punya anak. Yusuf ditinggalkan saudara-saudaranya karena mereka iri. Dan sebagainya. Semua itu cerita.

Kadang saya membayangkan alangkah lebih mudahnya seandainya kitab suci seperti Al-Qur’an itu hanya menjelaskan hukum seperti KUHP. Tapi kebesaran Tuhan sebagai pemilik manusia yang tau dengan pasti (tentu aja) kalau manusia lebih mudah menerima pelajaran dalam bentuk cerita, membuat kitab suci itu menjadi penuh dengan cerita. Menjadi lebih mudah diterima walaupun gak lebih mudah untuk ditafsirkan. Sampai di sini saya punya kepercayaan bahwa memang untuk mendapatkan penafsiran dengan benar itu kita perlu orang yang paham tentang Al-Qur’an. Biar gak salah tafsir dan gak salah mengambil pelajaran. Tapi, kalau hanya untuk sekedar membuat hati kita tersentuh, menjadi tenang, menjadi lebih lapang, kita bisa dengan membacanya aja.

Walaupun ini bukan perbandingan yang seimbang, tapi bisalah saya umpamakan dengan saya yang dulu waktu SD membaca novel HAMKA dan gak paham isinya apaan. Tapi saya suka gaya bahasanya. Saya suka kelembutan ceritanya. Sekarang setelah saya gede begini, saya baru mengerti tentang setting kulturalnya, karakterisasinya, pesannya (yang jelas maupun yang samar dan mungkin cuma saya aja yang mikir begitu), dan hal-hal lainnya yang belum bisa saya pahami ketika pemikiran saya belumlah mampu mencernanya.

* * *

Beberapa waktu lalu, saya sempet empet banget gitu buka Facebook. :D

Kayaknya kok isinya kalo gak orang saling nyindir (pasif-agresif), kalo gak ya saling debat, atau saling yaaa … gitulah. :cutesmile: Jadi, saya jarang ngeliat newsfeed dan langsung aja balesin komen atau buat status yang sedapat mungkin saya bikin sedatar-datarnya. Hahahaaa….

Tapi, pas kemaren lagi rame pada nge-share Facebook Look Back, saya jadi suka ngeliat video punya temen-temen saya. Saya juga suka sih ngeliat video saya sendiri, tapi kan, kalo punya sendiri saya udah tau ceritanya. :D Kebanyakan video itu emang keliatan bercerita. Memperlihatkan sedikit-banyak tentang beberapa tahun cerita hidup orang itu. Saya juga suka konsepnya yang menampilkan foto dan status yang paling banyak di-likes. Tentu ada sesuatu dengan foto dan status itu makanya banyak di-likes, kan? :cutesmile: Itu pasti sesuatu yang kalo gak penting, menarik.

Trus, saya juga baru tau tentang Facebook Stories. Ini proyek Facebook yang mengumpulkan cerita-cerita menarik penggunanya di seluruh dunia. Sudah ada beberapa cerita yang dibagikan dalam bentuk video dan ada sepuluh cerita yang dibagikan dalam bentuk tulisan. Saya baca semuanya dan saya juga suka. Saya makhluk yang sangat suka cerita kayaknya. :D

Facebook sepertinya paham bahwa setelah sekian lama, dengan segitu banyak pengguna, dia bisa mengumpulkan cerita. Dan cerita itu bisa dibagikan untuk menginspirasi pengguna lainnya. :cutesmile:

* * *

Saya udah gak tau berapa persisnya buku yang udah saya baca. Ada masanya ketika saya SMP dan masuk ke perpustakaan sambil bilang, “Kayaknya gue udah baca semua buku fiksi yang ada di sini.” *toyor kepala sendiri karena belagu* Tapi emang bener. Waktu itu perpustakaan SMP saya buku fiksinya dikit banget jadinya saya sampe bisa ngebaca semuanya. :D

Dari segitu banyak cerita yang saya baca, gak semuanya saya inget. Hanya beberapa yang benar-benar bagus, luar biasa menarik, terlalu jelek, atau biasa aja sebenernya tapi kebetulan saya ngebacanya di waktu yang tepat jadinya saya inget. Semuanya itu melibatkan emosi dan selera emang. :D

Kalo misalnya hidup seseorang itu adalah kesempatan untuk membuat cerita, saya suka mikir: saya mau buat cerita apa ya?

Tentang seorang istri yang punya love and hate relationship dengan jerawat, atau tentang seorang ibu yang membesarkan tiga orang anak, atau tentang seorang anak yang punya Ibu ngefans berat sama HAMKA, atau seorang kakak yang adiknya luar-biasa cerewet, atau apa?

Saya ingin dikenang seperti Maryam, Musa, Fir’aun, Ibrahim, Khidr, atau siapa–yang tertulis di Al-Qur’an. Saya ingin dibaca sebagai Harry Potter, Ned Stark, Nobita, Cinderella, atau siapa–yang fiksi? Saya ini mau jadi apa?

Ini pertanyaan setiap orang kali ya….

Saya juga tau kalau saya bisa membuat dua, tiga, atau beberapa puluh cerita di sepanjang hidup saya, tapi saya mau cerita itu bagaimana? Yang pasti saya ingin cerita yang bagus dengan karakter yang kuat dan menyenangkan karena saya sendiri sebel banget kalo baca cerita dengan karakter jahat atau lemah.

Sebagai tukang tulis cerita, saya akan selalu berusaha agar karakter utama saya kuat, punya kelebihan (walopun awalnya dia gak sadar tapi di tengah cerita setelah masalah datang dia akan sadar), punya sesuatu yang akhirnya bisa dijadikan pelajaran. Ini saya loh, dengan karakter bikinan saya. Kalau saya aja menetapkan standar tinggi untuk ngebikin karakter, gimana dengan saya sendiri sebagai karakter utama di cerita hidup saya? *retoris* *plaaaak*

Setelah membuat karakter, saya akan mulai memikirkan masalah untuk si karakter itu. Lebih besar, lebih baik. Saya pengen ngeliat dia kecebur ke lubang neraka dan berusaha merangkak keluar sekuat yang dia bisa. Saya pengen ngeliat dia berhasil. Bukan malah bunuh diri. Ini saya loh. Saya kalo lagi bikin cerita. Apalagi Tuhan, ya? :cutesmile:

Apalagi … Tuhan juga udah bilang kalau Dia melihat seseorang dari usahanya, bukan hasilnya. Dari apa yang dia niatkan, bukan apa yang akhirnya dia dapatkan. Saya juga begitu sih sama karakter yang saya bikin. Walopun, sedapat mungkin saya akan membuat dia berhasil. Tuhan juga sepertinya sedapat mungkin membuat kita berhasil loh. Gak mungkin Dia sengaja ngebikin kita gagal kalo gak karena ada yang pengen Dia ajarkan dan kita pahami untuk cerita berikutnya.

Saya gak suka karakter bikinan saya sering mengeluh, membalas kejahatan antagonis dengan kejahatan pula–apalagi kalo sampe kejahatan yang serupa. Saya gak suka karakter bikinan saya lembek, lemes, gak bersemangat, pikirannya negatif muluk, apalagi kalo sampe memandang cerita dan masalah yang saya bikin buat dia itu sebagai tanda kalo saya gak cinta ama dia. Kalo saya gak cinta mah, dia saya jadiin side-kick, supporting character, atau gak figuran. :D Selalu yang paling kece dan keren yang jadi tokoh utama.

* * *

Trus hubungannya dengan judul? Hahahaaa….

Manteman tau gak, kalo saya suka baca-baca blog atau status sosmed itu untuk mencuri cerita? Beberapa orang yang saya ikuti ceritanya dan saya suka, kebanyakan adalah orang dengan karakter kuat. Saya tau mereka punya masalah, mungkin besar dan gawat, tapi mereka kuat. Mereka menginspirasi.

Tapi kebanyakan gak terlalu menarik buat saya. Kebanyakan membosankan. Seperti melihat film dengan karakter yang hanya duduk diam dan gak mau melakukan apapun. Ada juga yang di tengah-tengah. Antara berusaha menjadi kuat dan galau. Nah, kalo yang ini golongannya saya. Hahahaaa…. :D

Saya selalu suka dengan orang-orang yang ceritanya bisa saya curi. Kadang gak untuk diceritakan kembali, tapi cukup untuk diri saya sendiri aja gitu. Mungkin mereka gak sadar, tapi apa yang mereka lakukan benar-benar membuat saya seperti melihat film atau membaca novel dengan cerita yang luar biasa bagus dan karakter yang memikat. Mungkin juga bukan saya aja yang kayak gini. Mungkin juga banyak orang di luaran sana yang melakukan hal serupa.

Jadi … kuatlah.

Jadilah karakter yang kuat, menarik, menyenangkan, dan menginspirasi. Karena gak mungkin jalan hidupmu itu mulus dan ringan. Pasti setiap orang punya masalahnya sendiri. Lalu perlihatkan kalo kamu seperti karakter fiksi yang “merangkak keluar dari lubang neraka” dengan sekuat tenaga. Banyak yang ingin melihat itu.

Kebanyakan pembaca buku dan penonton film juga menginginkan hal yang sama ketika membeli buku dan masuk ke gedung bioskop atau mendonlot film di situs donlot kesayangan kita. Kami ingin cerita yang bisa dijadikan pelajaran, menyemangati, menginspirasi, membuat hari terasa lebih indah, masalah menjadi lebih ringan.

Jadi, buat ceritamu menjadi sebagus yang kamu bisa. Karena saya dan banyak orang lain akan dengan senang hati mencurinya. :cutesmile:

Make your story as great as you can and let us steal it. Make it a story worth stolen.

A stolen story.

* * *

Tulisan ini dibuat untuk teman-teman Facebook saya yang video Look Back-nya saya tonton dan ceritanya saya curi. Saya juga ngikutin status, tweet, dan blognya. Makasih banyak ya. *menjura*

2 Comments

  1. Milo
    Feb 11, 2014

    Sama-sama :music: *seolah2 cerita saya worth stolen gitu :lol:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)