#329: Look, Feel, and Her

Dibaca 109 kali

IMG_2479edit

Foto ini diambil sekitar jam 7 pagi pas lagi mendung. Terasa gloomy ya….

Sambil nunggu Tuan Sinung pergi beliin sarapan, saya mau nyeritain tentang “look and feel” dalam fim Her. Semoga dia gak lama-lama soalnya saya udah laper banget. :mewek:

Semalem saya abis nonton Her. Awalnya sih saya mau nunda nonton sampe weekend karena bawaannya suka gak konsen kalo nonton di hari biasa karena udah capek duluan. Tapi yah, karena penasaran saya akhirnya nonton juga. :D Saya pengen nge-review panjang-lebar tapi blog review saya masih belom beres juga sampe sekarang. Jadi saya gak mau nyeritain filmnya, tapi ada satu hal dari film itu yang ngebikin saya inget tentang unsur yang ngebikin sebuah karya yang perlu untuk diputuskan: look and feel.

Look and feel ini materi yang saya pelajari di kelas penyutradaraan. Intinya sih, filmmaker harus memutuskan bagaimana film itu tampak dan terasa dengan memilih warna yang bakalan kelihatan di layar. Misalnya aja film yang menceritakan tentang kisah sedih, look and feel-nya bisa gelap dan buram. Atau film yang setting-nya di padang pasir biasanya punya warna yang kekuningan sampai menjelang oren untuk membantu memperkuat feel panas dan gersangnya. Film sci-fi seperti Prometheus menggunakan banyak warna putih dan hitam untuk memperlihatkan simplicity dan hi-tech-nya.

Bisa dibalik dan ditabrakkan? Bisaaa….

Misalnya film yang sedih dan tragis tapi pake warna terang yang ceria sehingga ceritanya jadi menusuk–lebih menusuk dibanding kalo pakai warna yang gelap dan suram.

Warna-warna ini dipilih dengan pertimbangan penceritaan, bukan selera apalagi gaya. :D Gimana caranya warna yang dipilih bisa memperkuat impresi yang dirasakan penonton ketika menonton film itu. :cutesmile:

Di film Her, banyak banget warna oren, coklat muda, khaki, abu-abu, dan screen-nya sendiri warnanya agak kekuningan. Padahal setting-nya di masa depan (entah tahun berapa gak ada keterangannya). Feel-nya jadi romantis sih, tapi … gak berasa cerita itu mengambil tempat sekian tahun dari sekarang. Wardrobe si Theodore pun warna-warnanya cerah (kuning, oren, biru). Padahal jaman sekarang cowok kalo pake warna kayak gitu keliatannya aneh ya. Saya suka banget ngeliat wardrobe-nya karena kesannya futuristik, simpel, tapi apa ya–sepi? Sesepi perasaan tokoh utamanya.

Hal-hal seperti ini–warna screen sampe warna baju–didiskusikan dan diputuskan di tahap praproduksi film. Bahkan kadang model baju dan warnanya pun dibuat untuk memberikan bukan hanya penampilan yang believable ke tokohnya, tapi juga ngasih kepribadian, impresi, bahkan simbol. Sampe untuk fim Her ini, warna dan model pakaiannya, kalo mau, bisa jadi topik skripsi kalo kamu kuliah film. Heheheee…. :D

Pertanyaannya: saya tahu hal-hal kayak gini tapi kok belom juga memanfaatkannya untuk memperkaya tulisan saya ya? Hahahaaa…. *getok kepala sendiri*

Itulah yang selalu saya bilang bahwa karya yang bagus gak muncul karena kebetulan, tapi dikonstruksi. Pembuat karya itu haruslah punya kemampuan untuk menyampaikan sesuatu dengan medium yang dia pilih agar apa yang dia ingin sampaikan itu bukan hanya sampai dengan selamat, tapi juga sampai dengan membawa impresi yang dia inginkan. Hal-hal kecil pun diperhitungkan. Coba aja baca wawancara dengan aktor atau aktris, mereka akan mempelajari tokoh yang mereka perankan sampai hal yang terkecil. Gak kayak di sinetron lokal yang modal bulu mata anti badai, aermata palsu, sama akting sedih doang. Banyak hal lain yang mesti dipikirkan. Apa itu memberatkan? Gak. Karena memang itulah yang mesti dilakukan.

Kalo males mikir sampe hal-hal detail dan males belajar konstruksi, apa yang kita bikin jadinya mirip teori evolusi: ada karena kebetulan. Padahal Tuhan menciptakan manusia dengan sebaik-baik desain. Sebagai penulis, saya pun lebih suka mencontoh apa yang dilakukan Tuhan dengan memikirkan sampai hal terkecil karya saya, bukan “yaudahlah nulis dulu ntar liat aja jadinya gimana”. Ini mau nulis sesuatu yang diniatkan jadi masterpiece, kan? Ya harus bersusah-payah. Gak ada itu cara mudah menjadi penulis dalam sekian hari.

Memang itulah yang seharusnya dilakukan: bersusah-payah….

Walaupun saya juga masih menulis untuk bersenang-senang. :D Yaaa, gitu deh. Nulis untuk having fun, kayak nulis blog ini. Kayak nulis chicklit.

Maka benarlah kata Afifah Afra bahwa berkarya itu sama kayak hamil: harus dijaga, makan bergizi, dan melakukan banyak hal lain agar kandungannya bukan hanya selamat tapi juga sehat. Sehingga pada saat dilahirkan nanti, dia akan jadi bayi lucu yang menggemaskan. Seperti hamil yang perlu waktu membesarkan janin sampai siap dilahirkan, menulis pun demikian.

Balik lagi ke “look and feel”, sepertinya saya harus banyak belajar lagi, riset lagi, membaca lagi, sampai apa yang saya ingin tulis benar-benar siap untuk ditulis.

Sastra itu kan art juga, jadi mari bersikap seperti seorang artist.

Gak ada jalan pintas. Gak ada cara gampang. Yang ada itu usaha, belajar, membaca, terus-menerus, bertahun-tahun.

Tapi sepertinya setiap pekerjaan pun demikian sih. :cutesmile:

Baksonya udah dateng, saya makan dulu ya. :D

2 Comments

  1. andriani
    Feb 12, 2014

    Dan saya lebih jago menilai feel karya orang,daripada menulis wwkwkk.aku tahu menulis gak gampang,karena aku gak bisa menulis.lebih suka baca.tapi pembaca yg bagus biasane penulis bagus juga.

    • octanh
      Mar 4, 2014

      Tapi tukang makan gak harus jadi tukang masak yang bagus juga kan, ya? Hahahaaaa…. :D *nyari pembenaran*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)