#332: Late Bloomers si Terlambat Panas

Dibaca 222 kali

Late Bloomers

Kayaknya saya dulu udah pernah menuliskan tentang late bloomers ini deh. Tapi cuma sempilan aja gitu. Sekarang saya akan menuliskannya lagi dengan lebih lengkap. :cutesmile:

Beberapa waktu belakangan, saya sukaaa … banget dengerin Lorde. Walaupun gak semua lagunya di album Pure Heroine. Betewe, heroine sama heroin itu beda ya. Yang satu, heroin itu masuk jenis narkotik. Yang satu lagi heroine, itu sebutan untuk hero atau pahlawan perempuan. Di beberapa komentar saya masih ngeliat ada yang mempertanyakan kenapa Lorde ngasih judul albumnya pake nama narkotik. Apa karena gaya menarinya di panggung yang mirip orang lagi high? :D

Awalnya saya gak tau kalau si Lorde ini masih 16 tahun ketika album itu dirilis dan sekarang dia udah 17 tahun. Saya kira–dari penampilannya–dia udah sekitar 20-an tahun. 25 atau 26 gitu. Gayanya juga beda banget dengan penyanyi remaja semacam Taylor Swift atau Selena Gomez. Yang dua terakhir itu biasa keliatan sangat stylish dengan make-up yang perfect. Tapi Lorde, dia malah tampil agak-agak gothic dengan lipstik warna merah gelap nyaris hitam. Cakep sih … tapi gak remaja banget gituh. :D

lorde-royals-at-grammys-2014

17 tahun? Really?

Terlepas dari kemasannya yang kayak gitu, Lorde benar-benar bisa menulis lagu. Dia bukan artis yang menyanyikan lagu yang ditulis oleh orang lain. Dia menulis sendiri lirik lagunya dan ikut membantu mengarasemen musiknya. Dan buat saya yang kadang sangat bosan dengan lagu-lagu pop yang lagi booming, Pure Heroine ini bener-bener terasa feel-nya. Apa yaaa … mungkin saya dan Lorde nyambung karena punya kebosanan yang sama–dia menyanyikan hal-hal membosankan, yang ingin dia lawan, dan kebetulan saya juga merasakan hal yang sama. :D

Misalnya? Hmm … misalnya ini:

We live in cities you’ll never see on screen Not very pretty, but we sure know how to run things Living in ruins of a palace within my dreams And you know, we’re on each other’s team

Lebih mudah memang menyukai sesuatu yang punya getaran sama dengan yang kita rasakan. Kita akan lebih mudah mengidentifikasi, memahami, karena … karena kita pernah ada atau sedang ada di posisi itu.

Itu yang saya rasakan tentang musiknya Lorde.

Kita bukan mau ngomongin Lorde dan musiknya sih ini sebenernya. Saya mau ngomongin orang-orang yang membuat karya luar biasa di waktu muda dan kita mengatakan kalau mereka genius. Satu lagi, saya juga akan membicarakan tentang lawannya: orang-orang yang baru menghasilkan karya di masa tua mereka, ketika mereka sudah matang. Mereka inilah si late bloomers alias si terlambat panas.

Kebetulan saya lagi suka Lorde, dia adalah contoh dari genius muda. Satu lagi misalnya Orson Welles sutradara Citizen Cane. Dia membuat film itu di usia 25 tahun dan sampai sekarang masih menjadi film terbaik sepanjang masa. Padahal itu dibuat sekitar tahun 50-an. Begitu juga dengan Picasso.

Siapakah lawannnya? Kita akan bicara tentang Cezanne, Alfred Hitchcock, Mark Twain, Daniel Defoe, dan mungkin juga–bisa jadi–saya. Hahahaaa…. *dilempar lemper*

Tulisan ini adalah rangkuman dari artikel Malcolm Gladwell di buku What the Dog Saw: Terlambat Panas. Artikel ini adalah salah satu yang saya suka dan memberikan pencerahan buat saya. :cutesmile:

Sekalian juga saya pengen belajar gimana caranya nulis artikel feature sekeren Gladwell. :D

* * *

Kita terlalu biasa memuji dan menyanjung orang-orang muda yang bisa menghasilkan karya di usia begitu dini. Misalnya aja seperti Lorde yang bisa menyanyi dan menulis lagu di sejak usia 13. Dia banyak dipuji bukan hanya karena lagu-lagunya yang emang bagus. Saya sendiri juga bilang bagus, bukan hanya kritikus musik. Di kuping saya, kedengerannya gak asal tulis gitu. Ada sisi personal yang dia bawa di setiap lagunya. Ini juga yang bikin lagu-lagunya jadi meledak di pasaran.

Tapi, dari sekian banyak artikel yang memuji, saya menemukan bahwa hampir di semua artikel itu, dia mendapatkan nilai plus karena menuliskan semua lagu itu dan merilisnya di umur baru 16 tahun. Kadang-kadang disertai dengan komentar atau pertanyaan: “Apa yang kamu lakukan sewaktu seusia Lorde?” 

(Kalo pertanyaan itu emang perlu dijawab, saya pengen bilang: saya masih suka nyari encu di got umur segitu mah.)

Orang selalu mengaitkan kegeniusan dengan kecepatan berkarya. Semakin muda menghasilkan sesuatu, semakin baik–semakin genius. Benarkah begitu?

Ketika banyak orangtua menganggap bahwa anak-anak yang sudah bisa melakukan sesuatu di usia begitu muda adalah aset. Mereka lalu memasukkan anak-anak mereka ke berbagai les yang mengajarkan keterampilan tertentu, misalnya saja musik atau olahraga. Apa itu berpengaruh dengan kemampuan si anak? Jawabannya adalah: sangat!

Tapi, masih ingatkah dengan The Termites? Saya pernah menuliskannya di sini. Mereka adalah sekelompok anak yang punya IQ di atas rata-rata (beberapa bahkan gak bisa dihitung dengan test IQ standar) dan mereka dikumpulkan untuk diikuti perkembangannya. Lewis Terman, sang peneliti, awalnya menduga bahwa anak-anak genius dengan kemampuan di atas rata-rata dan IQ yang angkanya membuat siapapun melongo ini akan menjadi para pemimpin di masa depan. Mereka akan jadi “orang” kalo mau make istilah kita. Tapi itu gak terbukti. Beberapa dari mereka memang jadi “orang” tapi lebih banyak yang gak.

Walaupun pembahasannya bakalan agak beda, kalau di The Termites kan, yang dibahas anak dengan IQ tinggi dan orang semacam Lorde adalah genius di bidang tertentu di usia muda, tapi cara pandang kita kepada mereka biasanya sama: kita menganggap mereka genius. Kita menganggap mereka punya sesuatu yang lebih dibandingkan dengan orang biasa. Benarkah?

* * *

Dalam pandangan umum, kegeniusan dikaitkan dengan kecepatan berkarya (precocity)–kita cenderung berpikir bahwa melakukan sesuatu yang murni kreatif itu menuntut kesegaran, semangat, dan energi masa muda. Orson Welles membuat mahakaryanya, Citizen Kane, pada umur dua puluh lima. Herman Melville menulis satu buku per tahun ketika berumur akhir dua puluhan, dan puncaknya adalah yang ditulisnya pada umur dua puluh dua, Moby Dick. Mozart menulis karya besarnya, Konserto Piano No. 9 dalam Es Mayor pada umur dua puluh satu.

Dalam beberapa bentuk kreativitas, misalnya puisi liris, pentingnya kecepatan berkarya sudah menjadi hukum yang keras. Berapa umur T.S. Eliot ketika menulis “The Love Song of J. Alfred Prufrock” (“I grow old … I grow old”)? Dua puluh tiga.

“Para pujangga mencapai puncak pada usia muda”, kata peneliti kreativitas James Kaufman. Mihaly Csikszentmihalyi, penulis “Flow”, sepakat: “Baris-baris lirik paling kreatif ditulis oleh kaum muda.” Menurut ahli psikologi Harvard, Howard Gardner, pakar terkemuka dalam kreativitas, “Puisi liris adalah bidang di mana bakat ditemukan sejak awal, menyala terang, lalu cepat melemah.

Salah satu contoh yang paling menarik adalah: Picasso dan Cezanne.

Picasso dianggap “anak ajaib”. Karirnya dimulai dengan Evocation: The Burial of Casagemas yang dia buat ketika berumur dua puluh tahun. Dalam waktu singkat, Picasso membuat banyak karya lain yang masuk ke itungan karya besarnya dia. Termasuk Les Demoilselles d’Avignon di usia dua puluh enam. Picasso ini contoh tentang kegeniusan yang disepakati umum.

Bagaimana dengan Cezanne? Lukisan-lukisan Cezanne yang dianggap sebagai karya terbaiknya, baru dilukis di masa-masa akhir hidupnya. Mereka berdua ini terbalik. Lukisan Picasso yang dilukis di usia dua puluhan harganya bisa empat kali lipat yang dibuat di usia enam puluhan. Sementara Cezanne, lukisannya yang dibuat di usia enam puluhan, dihargai lima belas kali lebih tinggi dibanding dengan lukisannya yang dibuat di usia dua puluhan.

Karena kita terlalu percaya pada kecepatan berkarya sampai-sampai kita lupa bahwa kreativitas pun punya jalannya sendiri. Kita lupa tentang bagaimana para late bloomers seperti Cezanne bekerja. Kita terlalu menganggap hebat seseorang yang bisa berkarya di usia begitu muda. Kita lupa untuk memahami seniman semacam Cezanne dan menganggapnya tidak lebih hebat dibandng Picasso. Padahal, pada akhirnya ketika semua karya mereka–Picasso dan Cezanne–dikumpulkan, hasilnya sebanding saja.

* * *

Menurut Galeson, dalam penelitian “Old Masters and Young Geniuses: The Two Life Cycles of Artistik Creativity”, seniman seperti Picasso cenderung konseptual. Mereka memulai dengan tujuan yang jelas dan berusaha mencapai tujuan itu. Sementara kebalikannya, Cezanne lebih eksperimental. Tujuan mereka kurang jelas. Mereka bekerja dengan mencoba sedikit demi sedikit. Para seniman eksperimental ini membangun keahlian mereka pelan-pelan dalam waktu yang lama.

Ketika Picasso mengatakan bahwa dia ingin menemukan, Cezanne sebaliknya: dia mencari.

Gagasan Galeson bahwa kreativitas punya dua bentuk, konseptual dan eksperimental, membuat kita berpikir bahwa orang yang membuat karya-karya terbaiknya di usia matang sebagai orang yang karyanya kurang dihargai di masa muda mereka. Atau mereka yang baru mencoba bidang tertentu ketika usia mereka sudah matang. Tapi, ini gak sepenuhnya benar. Cezanne juga mulai melukis di usia yang sama dengan Picasso. Hanya saja, dia memang baru bisa membuat karya yang bagus menjelang akhir. Cezanne memang tidak bisa melukis dengan baik di usia ketika Picasso sudah membuat lukisan mahakaryanya. Cezanne punya visi tentang lukisannya yang tidak bisa dibuat dengan kemampuan melukisnya ketika itu. Bahkan bisa dibilang, Cezanne muda tidak bisa menggambar. :D

Sementara itu, Picasso hanya membuat karya-karya yang tidak bisa menandingi karya sebelumnya di akhir karirnya. Dia hanya mengulang-ulang apa yang sudah dia temukan karena dia sudah menemukannya.

Mungkin ini seperti yang dikatakan oleh Chairil Anwar: “Sekali berarti, setelah itu mati.”

* * *

Jadi, kita udah tau nih, ada dua jenis seniman: tipe Picasso dan tipe Cezanne. Mau jadi yang mana? :D

Saya sendiri menganggap bahwa saya bukan young genius seperti Picasso. Memang ada beberapa orang di sekeliling saya (kenal maupun tidak) yang masuk tipe ini. Mereka bisa membuat karya yang luar biasa di usia begitu muda. Kita memberikan nilai plus karena usia. Ini juga yang menjadi bagian paling sulitnya karena mereka kemudian (kebanyakan) tidak bisa membuat karya yang sebaik karya di usia muda ketika mereka beranjak dewasa. Karya itu menjadi monumental, lalu kemudian tidak ada karya berikutnya yang bisa menyamainya.

Kamu selalu bisa memilih untuk belajar sehingga membuat karya-karya yang bagus. Seperti Cezanne yang serius belajar melukis dan bersabar sampai pada akhirnya kemampuannya bisa menyamai visinya.

Karena … seniman semacam Picasso atau Lorde itu sedikit. Mereka gak dilahirkan setiap tahun. Tapi, ada banyaaak orang di luar sana yang terintimidasi melihat betapa di usia semuda itu mereka bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Mereka seperti ledakan yang menyentak.

Ketika kamu tau kalau kamu bukan young genius, bersiaplah dengan proses panjang untuk berlatih. Gak ada yang namanya gak bisa kalo berusaha. Gak ada juga yang namanya gak bakat. Para young genius itu hanya menyadari bakatnya sedari awal dan tau apa yang harus dilakukannya. Mereka sudah punya konsepnya, hal yang dicapai, dan bagaimana mencapainya. Kalo kamu gak begitu, kamu harus ganti strategi. Jangan pakai cara “nulis-nulis aja” kalo kamu tau kamu bukan young genius. Ini malah bisa membuat proses belajar kamu jadi makin lama. :cutesmile:

But, if you can’t be a young genius, you still can be an old master.

Dan yang namanya master, keliatan lebih arif karena jam terbang dan banyaknya pengalaman, kan? :cutesmile:

Di akhir tulisan ini saya cuma mau bilang: hidup itu mirip dengan main poker. Dua kartu yang ada di tangan kita adalah apa yang Tuhan berikan pada kita dan juga yang kita tau. Tapi, ada lima kartu lagi yang kita gak tau dan baru akan dibuka satu per satu seiring waktu. Kalau dua kartu di tangan kita angkanya jelek, bukan berati kamu gak bisa menang. Punya dua kartu As aja belum tentu bisa menang kok, tenang aja. Yang paling penting adalah gimana cara memainkan kartunya dan membuat keputusan. Kalo kamu tau kamu gak akan bisa menang di satu sesi, kamu bisa mencoba di sesi lain. Begitu seterusnya.

Kalo kamu bukan young genius yang punya dua As, kamu harus tau gimana cara memainkan kartumu. :cutesmile:

6 Comments

  1. wuri
    Feb 21, 2014

    artikel menarik, bacanya pelan-pelan :)

  2. rinasusantiesaputra
    Feb 19, 2014

    inspiratif mak….

  3. HM Zwan
    Feb 18, 2014

    Jelang malam disuguhi artikel yang menarik,wah jadi penasaran sama Lorde… ^^

    • octanh
      Mar 4, 2014

      Bagus suaranya, Mak. Lagunya tapi remaja gitu temanya. :D

  4. Milo
    Feb 18, 2014

    Saya nggak bisa main poker…

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)