#333: Saya Ibu Insecure

Dibaca 343 kali

Kacamata

Ini kenapa fotonya pake buku Murder on the Orient Express ya? 

Mei 2010, saya datang ke Selayar seorang diri. Ketika itu anak-anak dititip ke Simbahnya karena saya ingin menyiapkan dulu rumah untuk mereka tinggal di sini. Tuan Sinung sepertinya gak punya banyak waktu buat sekedar ngurus beli kasur atau peralatan dapur. Ketika saya datang, dia bahkan hanya tidur dengan alas kain sarung dan gak pake bantal di kamar kosnya. :mewek:

Alasan lainnya saya datang sih karena lagi Sensus Penduduk waktu itu. Setelah ngobrol-ngobrol sama Tuan Sinung, saya pun pengen ikutan keliling Selayar nemenin dia pengawasan SP. Bukan buat hepi-hepi doang, tapi saya beneran penasaran Selayar ini kayak apa.

Banyak cerita dari Sensus 2010. Temen-temen yang kerja di BPS juga pasti punya banyaaak banget cerita. Tapi ada satu cerita yang sangat membekas di kepala saya.

Waktu itu saya lagi ikut nemenin si Tuan sampai ke Appatana. Ini adalah desa kecil di ujung bawah Pulau Selayar. Kami naik motor. Pinjem motor dinas Kepala Seksi lain karena motor dinas Tuan Sinung gak bakalan kuat ngelewatin medan. Jadi kami pakai Megapro. Medannya baru terasa berat setelah menjelang Desa Appatana. Tanjakan, turunan, dan juga jalan rusak. Jaraknya sekitar 140 km dari ibukota kabupaten. Karena kami jalannya pelan-pelan, tiga jam baru sampai.

Di sana, ada rumah responden yang menurut petugas sensus, kosong sejak bulan lalu. Untuk memeriksa kebenarannya, kami pun datang ke rumah itu. Rumah berdinding setengah kayu dengan anyaman bambu. Lantai tanah. Gelap. Setelah saya tanya, rumah ini memang tidak ada aliran listrik ke rumah ini. Rumah itu tepat berada tidak jauh dari bibir pantai. Saya bisa membayangkan kalau pagi akan sangat dingin dan anginnya kencang.

Pemilik rumah ini seorang perempuan berusia sekitar dua puluh tahunan yang punya dua orang anak. Yang paling tua usianya hampir empat tahun dan yang terakhir, yang kecil, sekitar enam bulan. Mereka tidak ada di rumah karena ikut ibunya menangkap ikan.

“Menangkap ikan di kapal besar?” tanya saya.

Ternyata bukan. Mereka menangkap ikan di kapal kayu yang tidak terlalu besar.

Dulu, sewaktu suaminya masih ada, dia di rumah saja. Tapi ketika suaminya menikah lagi dengan perempuan lain dan meninggalkannya dalam keadaan hamil, dia terpaksa bekerja di kapal penangkap ikan karena memang tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan di desa itu. Anaknya dibawa setiap kali melaut. Lamanya bisa sekitar empat sampai enam bulan sepanjang cuaca bagus. Saya lupa tidak bertanya apakah dalam jangka empat sampai enam bulan itu kapalnya akan menepi setelah beberapa lama karena kan, tidak mungkin juga kapal itu ada di laut sepanjang waktu itu kalau bukan kapal penangkap ikan yang besar dengan segala perlengkapan dan perbekalannya.

Ibu muda dengan dua anak dan anak-anaknya dibawa melaut. Dia tidak punya pilihan lain.

Cerita-cerita seperti ini sering saya dengar.

Yang paling dekat ceritanya dengan saya adalah seorang saudara yang suaminya meninggalkannya setelah dia melahirkan. Ceritanya cukup rumit sampai saya sendiri bingung harus bagaimana menceritakannya. Intinya sih, suaminya tidak bekerja. Jadi dia harus mencukupi kebutuhan rumah tangganya sendiri. Sampai sekarang dia masih bekerja di pabrik dengan tiga shift dan suaminya masih suka meminta uang walaupun sudah tidak serumah lagi.

Banyak perempuan di luar sana yang kehidupannya tidak seberuntung kita–saya dan mungkin pembaca blog ini. Jangankan untuk berdebat apakah harus memakai ASI atau susu formula, untuk menyusui saja kadang sulit karena harus bekerja di pabrik, ASI tidak keluar karena kelelahan. Jangankan mau berdebat tentang MPASI, tentang imunisasi (walaupun saudara saya itu tetap rutin imunisasi sesuai jadwal dan datang ke Posyandu kalau dia bisa), tentang stay at home mom dan working mom.

Mungkin menjadi ibu itu bakalan mudah banget kalau urusannya hanya tentang ASI, MPASI, imunisasi, dan perintilan hal kecil-kecil yang bisa diperdebatkan kayak gitu. Sayangnya, hidup lebih luas dan besar dibanding itu semua. Dan membesarkan anak itu bukan hanya seputar masalah itu. Kita akan membesarkannya dari mulai lahir sampai entah kapan–karena Ibu saya sampai hari ini pun masih merasa sedang “membesarkan dan mengurus” saya gitu. :cutesmile:

Kadang, saya pikir hal-hal yang diperdebatkan dan membuat kita seolah bisa mengkotak-kotakkan para ibu menjadi good mom atau bad mom itu–yang kadang di akhir debatnya ditutup dengan kalimat; bagaimanapun seorang ibu ingin yang terbaik bagi anaknya itu–selalu saja tentang ego kita sendiri. Misalnya aja saya ketika memutuskan untuk memberi Kalinda susu formula di usia 6 bulan karena saya harus kuliah lagi dan ASI saya juga udah gak mau keluar, sebagian dari keputusan itu saya rasakan meruntuhkan ego saya. Membuat saya setengah yakin bahwa saya bukan ibu yang baik. Membuat saya enggan mengakuinya pada teman-teman yang bertanya karena begitu beratnya tekanan ASI ekslusif, ASI S1 sampai ASI S3. Seolah kalau saya gak bisa ngasih ASI sampai S3, saya bakalan jadi ibu yang gagal.

Saya memang memberikan ASI untuk kebaikan anak saya, tapi ada bagian lain dari diri saya yang melakukannya karena saya ingin dilihat orang lain sebagai ibu yang baik. Karena itu saya mempublikasikannya di sosial media betapa saya menikmati memberikan ASI untuk anak saya (walaupun puting saya lecet-lecet dan sakit), betapa ini semua keputusan terbaik untuknya. Sekarang saya baru sadar bahwa ketika itu, saya insecure.

Saya ingin orang lain yang menilai saya ibu yang baik atau gak. Bukan anak-anak saya, bukan suami saya.

Setelah saya berusaha keluar dari rasa insecure itu, saya pun mulai berdamai dengan banyak hal. Misalnya gak menghakimi ini ibu yang baik, ini ibu yang gak baik. Saya juga gak mau seketika menilai seorang ibu hanya dari sekelebat cerita di sosial media atau obrolan. Karena kalau begitu caranya, ibu yang menangkap ikan itu bukan hanya sekedar bad mom, tapi bisa jadi ibu malpraktek. Saudara saya itu, bukan lagi hanya working mom yang kerja di pabrik, tapi juga ibu yang gak beres karena gak bisa ngasih ASI, gak bisa ngasih homemade MPASI.

Saya setuju dengan pendidikan, penyebaran informasi yang benar, memudahkan akses ke Posyandu (di RT saya dulu, kalo misalnya kondisi ibu memang gak memungkinkan, petugas Posyandunya mau loh dateng ke rumah), dan hal-hal baik yang bisa membantu kita menjadi ibu yang lebih baik. Tapi saya gak suka ngeliat perdebatan, show off kalau yang kita lakukan lebih baik dari yang orang lain lakukan, judging. Tanpa kita sadari, hal itu bisa menurunkan semangat ibu-ibu lain yang juga sedang berjuang. Saya merasakan begitu soalnya dulu.

Saya menilai diri saya bukan ibu yang baik bukan karena apa yang saya lakukan, tapi apa yang teman-teman saya dan orang di sekeliling saya lakukan dan saya gak bisa lakukan. Saya juga waktu itu ngerti kalau kondisi orang yang satu dengan lainnya beda, tapi saya gak mau kalah. Bahkan ketika tenaga saya udah gak ada, waktu saya udah gak ada, saya gak mau mengalah untuk diri saya sendiri.

Saya bukan hanya insecure. Saya juga egois. Saya gak bahagia.

Akhirnya, saya berhenti. Setelah beberapa waktu lewat dari Sensus 2010, saya ngeliat banyak banget orang dan cerita hidup, saya juga mulai kasihan sama diri saya sendiri yang kelelahan melawan standar yang gak bisa saya capai, saya berhenti. Saya berhenti melaporkan tumbuh kembang anak saya kecuali pada petugas Posyandu, orangtua, kakek-nenek-simbah-simbah putrinya, saudara dan teman yang memang bertanya. Saya mulai menerima bahwa antara saya dan anak-anak ada hal yang hanya kami aja yang tahu, yang paham, yang mengerti bagaimana menjalaninya.

Saya gak mau kelamaan sedih. Saya merasa berhak berbahagia. Walaupun beberapa kali saya denger pertanyaan tentang kenapa saya gak bekerja padahal saya punya kemampuan bla bla bla … saya katakan dengan sopan bahwa saya punya cita-cita lain yang hanya bisa dicapai dari rumah; saya pengen jadi penulis. Dan saya gak cuman ngomong, saya membuktikannya.

Saya mulai merancang gimana caranya agar pernikahan saya berjalan dengan bahagia, begitu pula dengan keluarga saya. Jangan sampai ada yang dikorbankan. Anak-anak bahagia dan tercukupi, Tuan Sinung juga, saya juga. Sulit memang awalnya, tapi semakin ke sini, saya merasa melepaskan diri dari standar yang gak bisa kita capai itu lebih baik. Menetapkan standar sendiri yang masuk akal, itu jauh lebih baik. Walaupun untuk semua ini, saya masih bergantung pada beberapa grup pengasuhan, grup masak-masak, grup imunisasi, dan lainnya yang saya ikuti di Facebook, tapi saya merasa lebih bebas.

Saya melakukan hal-hal yang saya sukai just for the sake of being happy. Termasuk menjahit, nulis, nge-craft. Ketika saya bahagia, lebih rileks, lebih banyak ketawa, saya pun lebih santai menghadapi anak-anak. Anak-anak juga keliatan lebih santai juga karena dia tau ibunya gak stress. Yah, kayak kalo kita hidup di deket orang yang stress deh, pasti sedikit-banyak kita ikutan stress juga. :D

Saya juga lebih bisa berempati. Itu yang penting.

Jadi, kalau saya ngeliat misalnya ada ibu yang ngasih anaknya sufor karena alasan tertentu trus dia diserang, saya malah kadang kasian sama yang nyerang. Kalo untuk ibu tadi sih, cukup diinformasikan aja sebenernya. Kalo buat penyerangnya, saya bilang aja ya di sini, itu malah ngeliatin kalo mereka insecure sama pilihan mereka.

Kalo buat temen-temen yang gak pengen di-judge, sederhana aja sih sebenernya: ya jangan meperlihatkan hal-hal yang bisa ngebikin kamu di-judge. Kamu gak pengen di-judge pake sufor, ya jangan bilang. Kecuali kamu kuat dan siap dengan alasannya–mungkin kamu perlu menunjukkan hal itu karena sebab tertentu.

Berempatilah. Seandainya dunia ini hanya hitam, putih, dan abu-abu, pasti mudah banget buat kita hidup. Sayangnya, dunia ini warna-warni … pasti indah banget buat kita hidup. :cutesmile:

3 Comments

  1. Rini Uzegan
    Feb 28, 2014

    kayaknya saya baru menemukan perdebatan, dan saling menjudge antara sufor, asi ekslusif, ato cesar ato masalah imunisasi dan lain-lain itu ya di dunia maya atau televisi mbak dan hal itu udah bikin saya ngerasa jadi ibu yg gagal dan tersudut. Sementara di dunia nyata (sekitar saya) belum atau nggak saya temukan hal-hal seperti itu, dan itu bikin saya ngerasa lebih nyaman.

  2. §
    Feb 26, 2014

    Aaah..tulisan yang menarik. Ketika kita sibuk menilai orang lain, secara tdk langsung kita berusaha terlihat lebih sempurna dari yang lain.

  3. rebellina
    Feb 26, 2014

    benar sekali Mbak. saya juga pernah mengalami fase seperti itu. lahiran caesar, Asi tidak eksklusif, dan memilih jadi full time mom. dan semuanya selalu menjadi perdebatan yang rame, padahal ada masa saya benar-benar tidak bisa memilih, dan kalau pun memilih, saya memilihnya dengan banyak pertimbangan dan kesadaran penuh. ada kondisi yang orang lain tidak akan mengerti, karena tidak berada dalam situasi yang sama. itulah sebabnya saya juga tidak berkeinginan menghakimi suatu pilihan yang dilakukan ibu-ibu lain diluaran sana, karena kita tidak tahu situasi yang dialaminya. dan syukurlah, sekarang saya merasa jauh lebih bahagia, setelah mengalami masa-masa depressi yang lumayan menguras emosi. tulisannya, sangat menginspirasi sekali.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)