#338: Apa yang Paling Melelahkan dari sebuah Perjalanan?

Dibaca 129 kali

IMG_2365edit

… kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan

dan kuyakin … kau tak ingin, aku berhenti.

“Tidakkah iri?” tanyamu.

Hari itu, ketika pertanyaan itu ditanyakan, bukan hari yang baik buatku. Matahari rasanya bersinar lebih terik dari biasa. Hati pun lebih lelah dari yang seharusnya. Tapi aku jawab–dan aku selalu menjawab, “Tidak.”

Bukan bohong. Bukan. Karena aku memang tidak iri.

Mungkin kamu tidak percaya kalau aku sudah mengubur lama rasa iri pada siapa saja. Benar-benar siapa saja. Bukan karena aku tidak punya rasa iri. Tapi, hanya saja, ketika aku merasakan itu–iri itu–seolah aku sedang membandingkan kasih sayang Tuhan padaku padahal aku tahu bahwa Tuhan selalu sayang dengan jumlah yang tak terkira banyaknya. Dengan kesabaran yang tak bisa dihitung lapangnya. Dan itu semua ada di sini, sekarang. Apa yang aku punya ini adalah wujud dari semua cinta. Kalau seandainya aku bilang aku iri pada orang lain, aku jadi merasa bersalah. Seakan kasih sayang itu tidak pernah cukup dan aku tamak. Seolah Tuhan tidak mengerti apa yang aku mau dan ada di sana untuk menyiksaku saja.

Karena itu, aku tidak pernah iri.

Aku tahu bahwa ini adalah ukuran yang paling baik, paling sempurna. Karena itu aku tidak pernah mempertanyakannya.

Tapi … ya, aku pengeluh.

Aku mengeluh tentang–kebanyakan–perjalanan. Bukan karena aku iri pada perjalanan orang lain. Tapi lebih sering karena aku lelah.

Lalu kamu pun bertanya lagi, “Apa yang paling melelahkan dari sebuah perjalanan?”

Apa ya….

Mungkin karena aku belum bisa melihat gambaran besarnya dan itu melelahkan karena seolah apa yang aku lakukan tidak ada gunanya.

Pernah melihat tukang pasang ubin? Dia memasang ubin satu per satu sampai sebuah ruangan menjadi bagus lantainya. Bayangkan kalau ruangan itu besarnya seratus meter persegi. Bayangkan pula kalau ubin itu harus dipasang sambil berjalan mundur. Setiap apa yang dia kerjakan akan terlihat tapi … berapa lama sampai semua ruangan itu selesai dipasang ubinnya? Berapa lama sampai semua bisa terlihat gambaran besarnya? Bagaimana kalau aku tidak punya cukup waktu? Bagaimana kalau aku memilih motif ubin yang salah? Tidak cocok dengan temboknya? Atau ubinnya kurang? Bisakah dipesan lagi?

Bayangan tentang gambaran besar yang nyata itu menghantui.

Walaupun aku tahu bahwa hidup itu tidak harus sempurna. Menjadi apapun tidak harus sempurna. Karena itu keistimewaan kita manusia. Kita tidak perlu menyempurnakan semuanya sampai menjadi tidak tercela. Yang kita perlukan hanya melakukan sebaik yang kita bisa. Kita pun tidak perlu menjadi versi sempurna dari diri kita. Kita hanya perlu menjadi real. You just need to be real.

Tapi aku tidak pernah iri.

Karena iri itu seperti menambahkan sekarung besar beban yang tidak perlu ada, tidak perlu kita pikul, karena memang bukan bagian kita.

Dan kalau harus berjalan sambil memikul iri, kamu gak akan pernah sampai. Kalaupun sampai, kamu akan kelelahan. Kalaupun sampai dan kelelahan, sekarung besar iri itu tidak akan membuatmu bahagia.

Jadi, kamu sendiri. Apa yang paling melelahkan dari sebuah perjalanan?

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)