#343: Jatuh ke atas Jantung

Dibaca 55 kali

IMG_4500edit

Suatu hari saya mendapatkan kabar tentang meninggalnya salah satu dari saudara kandung nenek saya. Berita itu disampaikan di hadapan kakak dari nenek saya (beliau sedang ada di Jakarta waktu itu sementara nenek saya sendiri ada di Payakumbuh). Kakak nenek saya itu, saya memanggilnya Nenek Rasyidah, diam aja mendengar berita itu. Sesekali dia keliatan beristigfar, trus tangannya mengusap-ngusap dada. Tapi dia gak nangis. Trus saya tanya, “Nek, kok gak nangis? Gak sedih?”

Pertanyaan saya itu dudul sih sebenernya. Gimana ceritanya beliau bisa gak sedih mendengar berita adiknya meninggal. Tapi cara beliau menerima berita itu yang seolah dibiarkan meresap ke dalam dada dan tenang itu bikin saya penasaran juga.

Nenek Rasyidah menjawab pake bahasa Minang. Tapi saya terjemahkan aja ya. Kira-kira jawabannnya begini, “Aku sedih. Aku menangis. Tapi airmataku jatuh ke atas jantung.”

Saya ngedenger jawaban itu jadi bengong. Waktu itu saya gak paham. Kenapa pula airmatanya harus dijatuhkan ke atas jantung? Bukan seperti airmata standar yang jatuh mengalir di pipi?

Melihat saudara-saudara nenek saya berumur panjang, sehat sampai tua, dan meninggal satu per satu di keadaan yang alhamdulillah baik, bukan karena sakit keras atau yang sejenisnya, membuat saya akhirnya mengerti bahwa mereka semua bersaudara itu seolah memang seperti sekumpulan orang yang sedang menanti kematian. Kalau ada salah satu dari mereka yang meninggal, mereka akan saling mendo’akan. Tapi tidak menangisi yang sampai histeris atau apa gitu. Dan untuk Nenek Rasyidah, sebagai kakak tertua, beliau sudah melihat beberapa kematian sebelumnya. Tidak ada yang ditangisi. Kesedihan itu berubah menjadi do’a dan airmata pun dijatuhkan dengan sabar dan iklas ke atas jantung sehingga orang lain gak melihatnya.

Tapi kata-kata itu: airmataku jatuh ke atas jantung…. Itu ngebikin hati saya rasanya sedih banget kalo inget sekarang-karang ini. Waktu saya pulang kampung, Nenek Rasyidah ini udah tua sekali (lebih 70 tahun) dan beliau udah gak bisa melihat dengan jelas matanya. Udah gak bisa jalan ke mesjid juga untuk shalat berjama’ah. Waktu saya dateng sama adik saya, Hafzhil, beliau juga udah gak bisa mengenali mana yang saya mana yang Hafzhil. Keliatan sama aja katanya. Tapi dia sempet bilang kalau dia senang ada cucu-cucu yang kalau pulang kampung nyariin dia. Walaupun dia sendiri kadang udah gak inget itu cucu yang mana, namanya siapa. :cutesmile:

Waktu Nenek Rasyidah meninggal, saya baru bener-bener paham rasanya gimana airmata yang jatuh ke jantung itu. Kamu kayak mau nangis, tapi gak bisa. Kayak mau mencurahkan kesedihan dan membiarkan tubuh memeras airmata, tapi gak ada yang keluar. Setitik pun gak. Tapi kamu juga belom bisa pasrah, belom ikhlas. Belom bisa menerima tapi juga gak bisa merelakan.

Rasanya waktu itu airmata saya jatuh ke atas jantung … yang luka. Pedih.

Dan seperti yang dilakukan Nenek Rasyidah ketika mendengar berita adiknya meninggal, saya pun mengelus-elus dada. Melapangkan hati, membebat jantung. Beristigfar. Karena kematian yang datang itu–sampai di sini–saya mengerti, kalau pada titik tertentu kita udah gak bisa menangisinya lagi. Yang kita bisa hanya berdo’a.

Sekarang dari saudara-saudara nenek saya itu, tinggal nenek saya yang masih hidup. Masih sehat. Menjelang 70 tahun. Masih kuat berjalan ke mesjid untuk sholat berjama’ah. Wajahnya semakin pias, memutih–kadang, tapi makin lama makin teduh. Dan di keadaan seperti itu, dengan wajah seperti itu, kadang saya membayangkan di balik mukenanya, di dalam lapang rongga dadanya, ada airmata yang selalu jatuh. Satu-satu. Mungkin berbunyi tik-tak-tik-tak. Jatuh ke atas jantung.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)