#348: Nulis Tentang Parenting Ituh

Dibaca 141 kali

rak Buku

Keduanya belum lancar membaca tapi udah suka nongkrong di rak buku.

Kadang ada yang bertanya mengapa saya tidak menulis tema parenting padahal saya punya tiga anak. Menulis tentang bagaimana saya mengurus anak, menerapkan disiplin, dan hal-hal seperti itu.

Jawabannya sederhana saja; saya bukan ibu yang bisa ditiru cara membesarkan anaknya karena … karena mungkin saya belum bisa menjadi ibu yang baik.

Apa-apa yang saya lakukan dengan anak-anak itu, saya selalu mengkonsultasikannya pada ibu saya. Kadang saya memang membaca buku parenting atau yang sejenisnya, tapi di entah kenapa kadang itu malah membuat saya merasa sangat jauh tertinggal. Semua yang dituliskan di buku-buku itu terlalu sempurna. Sesuatu yang saya merasa gak mempu mengikutinya.

Misalnya saja tentang mendisiplinkan anak-anak menonton dengan menerapkan jam-jam di mana mereka boleh menonton televisi. Saya bingung melakukan hal seperti itu dan memilih untuk gak punya televisi aja sekalian. Jadi anak-anak itu nonton hanya di netbook dan film-film yang mereka tonton udah saya tonton sebelumnya. Di siang hari sepulang sekolah, mereka boleh bermain di sekitar rumah. Terserah mau ngapain aja.

kue tomat

Ini yang mereka kerjain kalo maen tanah; nyetak tanah trus buat kue-kuean.

Waktu saya kecil, saya suka sekali bermain dengan teman-teman saya di tanah lapang atau di dekat mesjid yang banyak ditumbuhi tanaman jali-jali. Saya bisa main dari jam empat sore setelah mandi sampai menjelang magrib. Kalau sudah mendengar adzan, saya harus pulang dan ganti baju untuk kemudian mengaji di masjid itu. Itu dua jam yang sangat berharga dalam hidup saya. Saya merasa bebas—bebas mencari biji jali-jali sebanyak yang saya suka. Soalnya ada persaingan banyak-banyakan biji jali-jali di antara teman-teman saya. Makin banyak, makin keren.

Saya juga merasa senang karena bisa menjelajahi tempat-tempat di sekitar tempat tinggal saya itu. Bukan yang hebat-hebat juga. Kadang saya hanya merasa takjub pada bunga-bunga kecil yang tumbuh di sekitar got dan bisa berada di sana sampai sore untuk melihat-lihat bunga itu. Dua jam di sore hari itu benar-benar waktu yang magical buat saya. Kalau diingat-ingat lagi sekarang, saya jadi mensyukuri bahwa saya bisa melakukan hal itu. Saya jadi pernah melihat banyak sekali rupa bunga-bunga liar, melihat matahari yang hampir tenggelam di tanah lapang, dan kadang kalau musim main karet tiba, saya bisa main di sana walaupun selalu saja kalah. Hahahaaa….

Saya ingin anak-anak saya merasakan hal yang serupa. Karena sekali lagi, itu adalah hal yang bisa mereka syukuri ketika mereka besar nanti.

Saya membiarkan anak-anak itu mengamati kepik, memetik daun-daunan, atau kadang main tanah. Yang penting setelahnya mereka mandi bersih-bersih. Makanya mereka semua kulitnya gak ada yang terang. Selain keturunan (hahahaaa …) itu juga karena mereka suka main di tempat yang panas. Misalnya di samping rumah untuk melihat kecebong. Kadang saya menemani mereka sambil menjelaskan bahwa kecebong ini anaknya kodok, nanti bakalan punya kaki, dan seterusnya. Mereka mendengarkan dengan takjub. Saya pun menjelaskan dengan tidak kalah takjubnya karena materi metamorfosis ini adalah bab yang paling saya sukai di sekolah dulu. Sayangnya, waktu itu saya belum pernah melihat langsung kecebong yang berubah menjadi kodok. Sekarang di sini, di samping rumah, saya malah bisa memperhatikan peristiwa itu.

Saya kadang marah kalau mereka melakukan hal-hal yang bikin capek atau repot. Selalu ada air tumpah di rumah setiap hari. Selalu ada makanan berantakan. Selalu ada mainan di mana-mana. Dan saya selalu aja sebel ngeliatnya. Saya tahu bahwa itu adalah bagian dari perkembangan mereka, tapi saya banyakan gak sabarnya. Kalau saya udah bener-bener gak sabar, biasanya itu semua saya diamkan aja. Atau saya menyuruh mereka beres-beres sendiri. Tapi namanya anak-anak mah ya…. Pernah suatu kali saya menyuruh anak-anak itu mengeringkan lantai yang kena tumpahan air, bukannya mengambil kain lap, si Thaariq malah mengambil baju saya di keranjang cucian bersih. Hahahaaa…. Gak jadi deh sebelnya. Saya langsung ketawa ngakak.

Saya gak benar-benar paham ilmu parenting mana yang bisa diterapkan untuk anak-anak itu sehingga saya lebih banyak menggunakan kata hati saya dan juga apa kata ibu saya. Saya juga bukan orang yang sabar. Tuan Sinung jauh lebih sabar dan juga lebih punya metode bagaimana menerapkan disiplin pada anak-anak itu. Tapi satu hal yang saya dan Tuan Sinung sepakat; kami harus selalu kelihatan punya keputusan yang sama pada mereka walaupun mungkin aja sebenernya gak. Misalnya kalau saya menghukum salah satu dari mereka membersihkan lantai karena menumpahkan air, Tuan Sinung harus setuju. Gak boleh membantah apa yang saya sudah putuskan di hadapan mereka. Nanti, kalau seandainya keputusan saya itu tidak disetujuinya, kami bisa membahasnya ketika anak-anak itu sudah tidur. Prinsip sederhana ini saya dapatkan dari ibu saya. Anak gak boleh dibiarkan bingung dengan keputusan orangtuanya sehingga kalau ada masalah mereka akan mencari salah satu orangtua yang lebih lunak. Yah pokoknya kalau untuk keputusan-keputusan seperti itu, ke manapun mereka tanya, keputusannya sama aja. Gitu lah sederhananya.

Beberapa keputusan yang lebih besar, saya dan Tuan Sinung diskusikan dulu sebelum dibawa ke hadapan anak-anak itu. Misalnya saja tentang sekolah mana yang kami pilihkan untuk mereka.

Menuliskan tentang anak-anak itu sudah bisa ini atau itu, biasanya saya hindari karena saya sendiri mengalami masa-masa yang sulit ketika melihat anak-anak teman saya sudah bisa membaca di usia kurang dari lima tahun sementara anak-anak saya tidak. Di sekolah TK yang kami pilihkan untuk mereka, memang ada pelajaran membaca dan berhitung, tapi bukan pelajaran utama. Mereka di sana lebih banyak bernyanyi, bermain, dan membuat prakarya. Tidak ada nilai. Laporan kegiatan di sekolah dan juga bundelan prakarya yang mereka buat selalu datang dengan komentar manis dari guru mereka. Walaupun yang mereka buat itu aneh. Hahahaaa…. Waktu Isha masuk SD, gak ada tes membaca dan menulis juga. Kalau persyaratan umur dan administrasi lengkap, dia bisa masuk begitu aja. Jadi bisa dibilang sampai sekarang saya pun belum mewajibkan mereka bisa membaca dengan lancar.

belajar bersama

Kalo lagi akur dan gak ada yang usil, bisa belajar bareng. 

Saya bisa membaca di usia empat tahun dan saya tidak masuk TK karena gak mampu. Kedengarannya agak mustahil ya. Tapi itulah kenyataannya. Untuk membiayai sekolah TK saya, orangtua saya waktu itu gak mampu. Jadi waktu teman-teman di sekitar lingkungan rumah saya pergi sekolah, saya tinggal di rumah. Tapi saya punya beberapa buku dan majalah anak yang saya dapat dari orang-orang yang tahu kalau saya suka pada hal itu. Ada seorang saudara yang memberikan buku dongeng bergambar yang sangat saya suka. Padahal waktu itu saya belum bisa membaca. Agar bisa membaca buku-buku itu, saya belajar di rumah. Gak ada metode mengeja atau metode apapun untuk mengajarkan saya membaca. Ibu saya hanya menunjuk kata dan melafalkan bunyinya. Setelah itu saya mengingat bentuk dan bagaimana bunyi atau cara mengucapkannya. Cara seperti ini saya lakukan sampai saya lancar membaca. Sewaktu kelas satu SD teman-teman saya mengeja kata di kelas, saya mengingat bentuk dan bunyinya. Itu juga yang membuat saya menjadi pembaca yang cepat seperti sekarang.

Cara ini berusaha saya terapkan di rumah kepada anak-anak. Walaupun hasilnya berbeda di tiap anak. Mungkin masalah kecocokan metode juga kali ya.

Sebelum anak-anak itu bisa membaca, satu hal yang ingin saya ajarkan adalah tentang kebaikan dan kelembutan hati. Setiap hari, saya mengingatkan bahwa mereka harus saling menyayangi. Walaupun setiap hari mereka berantem rebutan ini-itu, atau nangis karena ada yang usil, tapi mereka gak terima kalau ada satu anak yang menurut mereka diperlakukan kurang adil atau kurang disayang. Misalnya kalau Isha dan Inda boleh makan kue, Thaariq juga—menurut Isha dan Inda—seharusnya boleh makan kue. Waktu Thaariq sakit tempo hari, Isha gak mau masuk sekolah karena mau menjaga adiknya. Dia bener-bener stand by di kamar, tidur di sebelah adiknya sambil sesekali ngecek panas Thaariq udah turun atau belum. Kalau ada apa-apa, dia bakalan panggil saya. Dan karena Isha gak mau sekolah, Inda juga gak mau sekolah. Walaupun dia gak kayak Isha yang menjaga Thaariq sepanjang hari—dia main di luar dan kadang-kadang datang ke kamar buat ngeliat kondisi Thaariq—tapi saya tahu sebenernya dia kuatir. Kalau Thaariq nangis, dia langsung lari masuk dan ngeliat apa yang terjadi sama Thaariq.

Mereka harus saling menyayangi karena mereka ya cuma bertiga itu. Kalau orangtuanya sudah gak ada, mereka harus saling membantu dan melindungi.

Tentang penggunaan gadget sendiri, saya dan Tuan Sinung gak punya banyak gadget. Gak punya tablet dan ponsel ya cuma dua itu aja, sarang-satu. Jadi anak-anak itu juga gak diajarkan untuk main di gadget. Saya memang gamers yang bisa main seharian nonstop. Tapi saya kebanyakan main di saat mereka udah tidur. Saya membuka pintu, menyuruh mereka main di luar dan mencoba mengajarkan kalau main di luar itu super asyik. Itu bisa dijadikan pengganti gadget. Netbook hanya dipakai untuk menonton pelajaran membaca dari Pipi Panda dan film yang sudah lulus sensor saya, bukan buat main games. Memang banyak games edukasi sekarang ini, tapi saya masih lebih suka menemani mereka di luar. Lebih asyik, lebih banyak yang bisa dilakukan, dan juga lebih banyak yang bisa dilihat. Mumpung masih tinggal di kepulauan yang indah kayak Kepulauan Selayar ini. Tapi mereka boleh nongkrong membaca buku selama yang mereka inginkan. Boleh memainkan buku; dijadikan pintu rumah atau disusun jadi—ceritanya—istana. Semua itu boleh karena saya pun dulu melakukan itu dan gak ada niatan untuk merusak bukunya. Saya cuma ngeliat buku itu kan bentuknya kotak ya, itu enak disusun-susun. Hahahaaa…. Anak-anak ini pun sepertinya begitu.

Itulah … saya gak sepenuhnya paham dengan ilmu parenting walaupun saya berusaha membaca buku-bukunya dan mencari tahu lebih banyak. Kebanyakan saya melihat ke masa kecil saya dan ingin mengulang hal-hal menyenangkan yang dulu pernah saya lakukan. Saya tahu masanya sudah beda. Tapi yang namanya kegembiraan bermain tetap rasanya sama aja. Setelah mengajarkan kebaikan dan kelembutan hati itu, saya baru ingin masuk ke sesuatu yang benar-benar dari masa sekarang ini; dunia digital. Karena gadget, akses internet, software, dan sebagainya itu buat saya hitungannya netral. Saya tahu internet itu gak aman, banyak hal buruk di sana. Tapi saya juga berkeyakinan bahwa anak-anak bisa memfilter diri mereka sendiri kalau pondasinya sudah kuat. Filter yang lebih baik dibanding Nawala yang saya pasang di rumah.

Saya ingin membuat mereka jadi orang baik dan melakukan banyak hal-hal baik.

Muhammad Rosulullah juga mengajarkan tauhid selama tiga belas tahun sebelum akhirnya ada perintah sholat. Apakah kita juga sudah mengajarkan tauhid sebelum mengajarkan sholat pada anak-anak kita? Dengan cara sederhana misalnya ketika melihat bunga yang cantik lalu mengatakan bahwa bunga ini juga diciptakan oleh Allah yang menciptakan mereka?

Karena itulah, kadang saya merasa belum menjadi orangtua yang baik. Mengajarkan kebaikan dan kelembutan hati itu jauh lebih sulit dibanding mengajarkan membaca atau membereskan mainan. Kebaikan dan kelembutan hati itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan kebiasaan, tapi sesuatu yang ditanamkan benihnya agar mereka menumbuhkannya. Seperti saya yang sampai sekarang masih menumbuhkan bibit yang dulunya ditanamkan orangtua saya.

Kalau sudah begini, rasanya gak ada pekerjaan yang lebih sulit dibanding menjadi orangtua…. *lalu puyeng sendiri*

4 Comments

  1. HM Zwan
    Apr 19, 2014

    ini persis kayak bulekku,No tv,buku setumpuk,koran tiap hari,sama komputer,dan radio.Alhamdulillah juara2 anaknya,setidaknya kelak*tsah* kalao saya dikasih rizki anak pingin mengcopy hal2 yg positif itu mbk….
    itu yang pasir,kirain kue beneran lo ternyata hahaha

    • octanh
      Apr 19, 2014

      Aku gak punya tivi juga karena siaran di sini kudu ditangkep pake parabola, Mbak Hanna. :mewek: Atau gak, langganan tivi kabel. :D Itu tanah bercampur pasir, Mbak. Enak dibentuk menurut anak-anak.

  2. rahmi
    Apr 19, 2014

    aku suka menuliskan perkembangan ank-anakku mak, buat kenang-kenangan, tapi kalo soal parenting juga berat. Jadi ya cuma cerita2 bbiasa aja seputtar anak, usia segini dia udah bisa ini, dsb

    • octanh
      Apr 19, 2014

      Iya, soal ilmu dan teori parenting itu berat rasanya kalo bukan ditulis sama orang yang benar-benar ahli. Walopun saya juga nemu tulisan parenting yang bagus-bagus ditulis oleh ibu biasa (bukan psikolog anak atau memang yang berkompeten di bidangnya). Sampe sekarang, saya cuman berani mbaca aja, Mbak. Belom berani nulis. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)